Nama yang tercetak di bagian atas dokumen itu bukan nama Bambang.
Bukan pula nama Ratih.
Namaku.
ARMAN WIRATAMA.
Aku membungkuk dan mengambil lembar tersebut.
Di bawah namaku tertulis sederet kalimat hukum mengenai pengalihan kepemilikan saham, kuasa pengelolaan aset, serta persetujuan pelepasan sebuah bidang tanah yang selama ini kusimpan atas nama Nadia.
Tanganku berhenti.
Tanah itu.
Jadi ini alasannya.
Belasan tahun lalu, ketika aku dan Ratih resmi berpisah, aku membeli sebidang tanah di kawasan Sleman. Waktu itu nilainya belum seberapa. Hanya lahan luas yang diapit kebun dan beberapa rumah warga.
Aku membelinya atas nama Nadia.
Bukan karena aku sedang bermain rahasia-rahasiaan.
Aku hanya ingin putriku punya sesuatu yang benar-benar miliknya sendiri.
Tahun berganti.
Daerah itu berkembang.
Hotel berdiri. Perumahan muncul. Jalan diperlebar. Harga tanah melonjak berkali-kali lipat.
Beberapa bulan sebelumnya, sebuah perusahaan pengembang pernah menawar tanah tersebut dengan angka yang membuat Nadia meneleponku sambil tertawa.
“Pak Bos, aku mendadak jadi orang kaya.”
Aku masih ingat jawabanku.
“Jangan senang dulu. Pajak belum dihitung.”
Dia tertawa begitu keras sampai teleponnya menjauh dari telinga.
Sekarang tawanya tidak ada.
Yang ada hanya Nadia di lantai gudang, tubuh gemetar, bibir pecah, dan dokumen-dokumen yang seharusnya tidak pernah berada di sana.
Aku berjongkok.
“Nad.”
Dia menggeleng cepat.
“Jangan tanda tangan apa pun, Pak Bos.”
Aku menatapnya.
Kalimat itu membuatku semakin bingung.
“Apa maksudmu?”
Nadia mencoba berbicara, tetapi langkah kaki terdengar dari belakang.
Bambang.
Ia berdiri di ambang pintu gudang dengan wajah yang sudah berubah total. Senyum ramahnya hilang.
Ratih berdiri beberapa langkah di belakangnya.
Wajahnya pucat.
“Arman,” katanya. “Dengar dulu.”
Aku tidak menoleh kepadanya.
Aku membuka ikatan Nadia.
“Nanti.”
“Arman, ini tidak seperti yang kamu pikirkan.”
Kali ini aku tertawa.
Entah kenapa.
Mungkin karena kalimat itu memang selalu muncul pada saat seseorang tertangkap melakukan sesuatu yang persis seperti yang dipikirkan orang lain.
Aku melepaskan tali terakhir.
Nadia langsung memelukku.
Tubuhnya dingin.
Sangat dingin.
“Pak Bos…”
“Sudah. Aku di sini.”
“Aku takut.”
Empat kata.
Hanya empat kata itu.
Tetapi ada sesuatu di dalam dadaku yang seperti ditarik keras.
Nadia bukan anak yang gampang mengatakan takut.
Saat umur delapan tahun dia pernah jatuh dari pohon mangga dan lengannya retak. Dia menangis bukan karena sakit, melainkan karena takut aku menebang pohonnya.
Saat kuliah dan gagal dalam wawancara pertamanya, dia malah mengajakku makan bakso.
“Gagal satu, makan dua mangkuk.”
Begitu katanya.
Anak itu sekarang menggigil di pelukanku.
Aku berdiri.
Bambang mundur setengah langkah.
“Jangan membuat keadaan lebih besar daripada yang sebenarnya,” katanya.
Aku menatapnya.
“Lebih besar?”
“Nadia sedang emosional.”
Aku hampir tidak percaya.
Bambang menunjuk dokumen di tanganku.
“Kami hanya meminta dia menyelesaikan masalah keluarga.”
“Dengan mengikatnya?”
“Dia mencoba kabur.”
Kalimat itu keluar begitu saja.
Ratih langsung menoleh kepadanya.
Aku diam.
Bambang pun sadar.
Terlambat.
Aku mengeluarkan ponsel.
Wajahnya berubah.
“Siapa yang mau kamu telepon?”
Aku tidak menjawab.
Sebenarnya aku sudah menelepon seseorang bahkan sebelum memecahkan gembok.
Saat berlari kembali ke mobil mengambil batang besi tadi, aku menekan satu tombol pada layar ponsel.
Satu tombol.
Lokasi terkirim.
Rekaman otomatis aktif.
Dan pesan singkat menuju nomor yang selama bertahun-tahun hanya kugunakan ketika keadaan benar-benar buruk.
Aku melihat jam.
Sudah sembilan menit.
“Arman.”
Suara Ratih terdengar pecah.
“Bisa kita bicarakan baik-baik?”
“Empat hari.”
Dia membeku.
“Anakku hilang empat hari. Kalian bilang dia sedang liburan.”
Tidak ada jawaban.
Aku menunjuk Nadia.
“Ini yang kalian sebut liburan?”
Ratih menutup mulutnya.
Air matanya mulai jatuh.
Aku tidak tahu apakah itu penyesalan atau ketakutan.
Saat itu aku juga tidak peduli.
Nadia menarik lengan bajuku.
“Pak Bos, kita pergi saja.”
Aku langsung mengangguk.
“Ya.”
Bambang bergerak menutup pintu.
Kesalahan kedua.
Aku bahkan belum sempat melakukan apa pun ketika suara kendaraan terdengar dari halaman depan.
Bukan satu.
Beberapa.
Bambang menoleh.
Suara pintu mobil dibuka dan ditutup terdengar hampir bersamaan.
Lalu seseorang berteriak dari luar.
“Pak Arman!”
Bambang memucat.
Aku mengambil jaketku dan menyelimutkannya ke tubuh Nadia.
“Kita pulang.”
“Apa itu orang-orangmu?”
Aku menatap wajah putriku.
Untuk pertama kalinya sejak aku menemukan dia, ada sedikit cahaya di matanya.
Aku mengangguk.
“Bukan pasukan rahasia, kalau itu yang kamu pikirkan.”
Nadia malah tertawa kecil.
Sakit rupanya, karena dia langsung memegang bibirnya.
Aku tersenyum tipis.
“Tim hukum perusahaan. Dua orang keamanan. Dan polisi yang mereka hubungi dalam perjalanan.”
Wajah Bambang benar-benar kehilangan warna.
Beberapa orang memasuki halaman belakang.
Dua petugas mendekat terlebih dahulu. Setelah itu muncul Dimas, kepala divisi hukum perusahaanku, masih mengenakan kemeja kantor dengan lengan digulung.
Ia melihat Nadia.
Rahangnya mengeras.
“Ya Allah…”
Aku menyerahkan dokumen kepadanya.
“Jangan komentar dulu. Simpan semuanya.”
Dimas mengangguk.
Tidak ada adegan orang berteriak.
Tidak ada pukulan.
Tidak ada meja yang dibalik.
Aneh memang.
Dalam kepalaku, selama perjalanan menuju Yogyakarta tadi, kalau benar seseorang menyakiti Nadia, aku membayangkan diriku akan melakukan berbagai hal bodoh.
Ternyata ketika benar-benar melihat anakku terluka, aku hanya ingin satu hal.
Membawanya keluar.
Itu saja.
Petugas mulai berbicara dengan Bambang dan Ratih.
Aku tidak mendengarkan.
Aku membawa Nadia menuju mobil.
Baru beberapa langkah, dia berhenti.
“Pak Bos.”
“Hm?”
“Ponselku.”
“Di mana?”
Dia menunjuk rumah.
“Di ruang kerja. Mereka mengambilnya.”
Dimas yang mendengar langsung berkata, “Biar kami yang urus.”
Nadia mengangguk.
Kami pergi ke rumah sakit.
Sepanjang perjalanan, dia tidak banyak bicara.
Aku juga tidak memaksanya.
Tangannya menggenggam ujung jaketku.
Sesekali aku melirik.
Matanya tertutup.
Lima menit kemudian terbuka lagi.
Lalu tertutup.
“Nad.”
“Hm?”
“Jangan tidur dulu.”
“Aku capek.”
“Aku tahu.”
“Kalau aku tidur?”
“Dokter saja yang bilang nanti.”
Dia mendengus.
“Masih suka mengatur.”
“Nanti kalau sehat boleh protes.”
Untuk pertama kalinya, sudut bibirnya bergerak.
Sedikit.
Cukup untuk membuatku bisa bernapas lagi.
Di IGD, semuanya berjalan cepat.
Pemeriksaan.
Pertanyaan.
Perawat.
Dokter.
Aku berdiri di lorong seperti orang yang tidak tahu harus meletakkan kedua tangannya di mana.
Aku bisa menghadapi rapat akuisisi bernilai miliaran rupiah tanpa berkeringat.
Tetapi ketika seorang perawat keluar dan berkata, “Bapak keluarganya Mbak Nadia?”
Aku langsung berdiri terlalu cepat sampai lututku membentur kursi.
“Iya.”
“Silakan masuk.”
Dokter menjelaskan kondisinya.
Memar.
Dehidrasi.
Luka pada bibir.
Tidak ditemukan cedera yang mengancam nyawa.
Kalimat terakhir itu membuat bahuku turun.
Aku baru sadar sejak membuka gudang tadi aku seperti tidak pernah benar-benar menarik napas penuh.
Nadia berbaring di ranjang.
Saat aku masuk, dia menatapku.
“Pak Bos.”
“Apa?”
“Lapar.”
Aku menatapnya beberapa detik.
Lalu tertawa.
Aku tidak bisa menahannya.
Dia ikut tertawa, kemudian meringis karena bibirnya sakit.
“Aku serius.”
“Kamu mau makan apa?”
“Bakso.”
“Tidak.”
“Kenapa?”
“Bibir luka.”
“Bubur?”
“Boleh.”
“Pakai ayam banyak.”
“Nah, ini baru Nadia.”
Malam itu aku duduk di samping ranjangnya sambil menyuapinya bubur ayam sedikit demi sedikit.
Tidak dramatis.
Tidak ada musik.
Tidak ada pidato panjang.
Hanya suara pendingin ruangan, langkah perawat di lorong, dan Nadia yang berkali-kali mengeluh karena buburnya terlalu hambar.
Anehnya, justru saat itulah aku hampir menangis.
Karena dia mengeluh lagi.
Anakku kembali menjadi dirinya sendiri.
Sekitar pukul sebelas malam, Dimas datang.
Ia membawa tas laptop dan wajah yang tidak menyenangkan.
“Nadia sudah tidur?”
Aku melihat ke ranjang.
Matanya tertutup.
“Bicara pelan.”
Dimas duduk.
“Dokumennya palsu sebagian.”
Aku menatapnya.
“Sebagian?”
“Tanda tangan Bapak dipalsukan. Ada rancangan surat kuasa yang seolah-olah memberikan Bambang hak mengurus aset Nadia. Ada juga surat persetujuan penjualan tanah.”
“Kenapa perlu tanda tanganku? Tanah itu atas nama Nadia.”
“Karena ada dokumen lama yang mencantumkan hak pengelolaan tertentu melalui perusahaan Bapak. Mereka sepertinya takut transaksi akan tersangkut saat verifikasi.”
Aku mengusap wajah.
“Berapa nilainya?”
Dimas menyebut angka.
Aku tidak langsung bereaksi.
Rp38 miliar.
Tiga puluh delapan miliar rupiah.
Sekarang semuanya masuk akal.
Sayangnya.
“Mereka sudah punya pembeli?”
“Sepertinya ada perantara.”
Aku menatap Nadia.
“Dan Ratih?”
Dimas terdiam.
Itu yang membuatku menoleh.
“Apa?”
“Kami belum tahu sejauh mana keterlibatannya.”
Aku tidak suka jawaban itu.
Namun aku tidak ingin menebak.
“Cari fakta saja.”
Dimas mengangguk.
Dua hari kemudian, Nadia akhirnya menceritakan semuanya.
Awalnya sederhana.
Bambang mengetahui ada penawaran besar atas tanah milik Nadia.
Ia membujuk Nadia menjualnya.
Nadia menolak.
Bukan karena tidak membutuhkan uang.
Dia hanya tidak percaya kepada pihak yang dibawa Bambang.
“Aku cek nama perusahaannya,” katanya sambil duduk di ranjang rumah sakit. “Alamat kantornya aneh. Aku datang diam-diam. Tempatnya cuma ruko kosong.”
Aku menatapnya.
“Kamu ke sana sendirian?”
Dia mengangkat bahu.
“Nah, jangan mulai.”
“Nadia.”
“Pak Bos.”
Aku menghela napas.
“Lanjutkan.”
Ternyata Bambang memiliki utang usaha yang besar.
Jauh lebih besar daripada yang diketahui Ratih.
Ia berharap mendapatkan bagian dari transaksi tanah Nadia melalui perusahaan perantara.
Ketika Nadia menolak, tekanan dimulai.
Mula-mula pertengkaran.
Kemudian ponselnya diambil.
Dia dilarang keluar rumah.
Pesan kepadaku dikirim menggunakan ponselnya.
Nadia mencoba kabur pada malam kedua.
Bambang panik.
Lalu semuanya menjadi jauh lebih buruk.
Ratih?
Bagian itu membuat Nadia terdiam cukup lama.
“Ibu tidak mengikatku.”
Aku tidak menjawab.
“Tapi Ibu tahu.”
Nah.
Kalimat pendek itu terasa lebih berat daripada penjelasan panjang.
“Dia tahu aku ada di gudang.”
Nadia menatap tangannya.
“Dia beberapa kali membawakan air.”
Aku menunduk.
Entah kenapa, detail air itu terasa menyakitkan.
Mungkin karena menunjukkan bahwa Ratih tahu persis keadaan putrinya.
Tahu.
Melihat.
Namun tetap kembali menutup pintu.
“Aku tidak mau membenci Ibu,” kata Nadia tiba-tiba.
“Kamu tidak harus memutuskan perasaanmu sekarang.”
“Ayah marah?”
Aku menatapnya.
Dia tidak memanggilku Pak Bos.
Ayah.
Aku menjawab pelan.
“Marah.”
“Kepada Ibu?”
“Pada apa yang terjadi.”
Dia menatapku cukup lama.
Lalu mengangguk.
Aku tidak mengajarinya harus membenci siapa.
Aku juga tidak menyuruhnya memaafkan.
Ada luka yang tidak perlu dipaksa memilih nama terlalu cepat.
Beberapa minggu berikutnya berantakan.
Polisi memeriksa berbagai pihak.
Dokumen dianalisis.
Rekaman dari ponselku diserahkan.
Data digital dari rumah diamankan sesuai prosedur.
Perantara transaksi ikut diperiksa.
Bambang akhirnya harus menghadapi proses hukum terkait dugaan penyekapan, kekerasan, pemalsuan dokumen, dan upaya penguasaan aset.
Ratih memberikan keterangan.
Lalu suatu sore, ia datang ke rumahku.
Sendirian.
Nadia sedang tidur.
Aku hampir tidak membukakan pintu.
Ratih berdiri di teras dengan wajah yang tampak sepuluh tahun lebih tua.
“Aku cuma mau melihat Nadia.”
“Dia sedang tidur.”
“Aku bisa menunggu.”
“Tidak.”
Ratih menunduk.
Untuk beberapa saat kami hanya berdiri di sana.
Dulu aku pernah mencintai perempuan ini.
Aneh mengingatnya sekarang.
“Aku takut pada Bambang,” katanya akhirnya.
Aku tetap diam.
“Aku tahu itu bukan alasan.”
Bagus.
Setidaknya dia tidak mencoba menjadikannya alasan.
“Aku pikir kalau aku menuruti dia, semuanya akan selesai. Aku pikir dia cuma mau menakut-nakuti Nadia supaya mau tanda tangan.”
Aku menatapnya.
“Ketika hari pertama berlalu?”
Ratih menangis.
“Arman…”
“Hari kedua?”
Dia tidak mampu menjawab.
“Hari ketiga?”
Tangisnya semakin keras.
Aku tidak menikmati itu.
Sama sekali tidak.
Aku hanya lelah.
“Nadia yang memutuskan kapan dia siap bertemu.”
Ratih mengangguk.
“Aku mengerti.”
Ia berbalik.
Lalu berhenti.
“Arman.”
Aku menunggu.
“Terima kasih sudah datang hari itu.”
Aku tidak menjawab.
Pintu kututup perlahan.
Tiga bulan berlalu.
Lalu enam.
Kasusnya belum selesai sepenuhnya. Urusan hukum memang tidak bekerja seperti film. Tidak ada palu diketukkan hari Senin lalu semua orang hidup bahagia hari Selasa.
Ada pemeriksaan lanjutan.
Ada dokumen.
Ada jadwal.
Ada hari ketika Nadia merasa kuat.
Ada juga hari ketika suara pintu gudang dalam film televisi membuat tangannya mendadak dingin.
Kami belajar menjalani semuanya.
Pelan-pelan.
Nadia tinggal bersamaku untuk sementara.
Dan ternyata tinggal bersama anak perempuan berusia dua puluh dua tahun jauh lebih melelahkan daripada mengurus perusahaan.
Dia menghabiskan kopi.
Memindahkan charger.
Membiarkan gelas di meja.
Memesan makanan tengah malam.
Suatu pagi aku menemukan tanaman baru di ruang tamu.
“Nadia.”
“Ya?”
“Ini apa?”
“Monstera.”
“Kenapa ada di rumah?”
“Karena aku beli.”
“Untuk apa?”
Dia menatapku seperti aku baru bertanya mengapa manusia membutuhkan oksigen.
“Untuk hidup.”
“Itu tanaman.”
“Pak Bos tidak akan mengerti.”
Seminggu kemudian ada tiga monstera.
Sebulan kemudian tujuh.
Aku menyerah.
Rumahku berubah menjadi kebun.
Dan aku menyukainya.
Aku tidak pernah mengatakan itu kepadanya.
Tentu saja.
Tanah senilai Rp38 miliar itu tidak jadi dijual.
Suatu malam, Nadia membawa sebuah map kepadaku.
Aku langsung curiga.
“Dokumen lagi?”
“Tenang. Tidak ada penculikan.”
“Nadia.”
Dia tertawa.
Di dalam map ada rancangan usaha.
Aku membaca halaman pertama.
Kemudian kedua.
Lalu menatapnya.
“Kamu serius?”
Dia mengangguk.
Nadia ingin menggunakan sebagian kecil lahan itu untuk membangun pusat pelatihan keterampilan digital bagi anak muda dari keluarga yang kesulitan biaya.
Bukan yayasan mewah.
Bukan gedung megah.
Tempat sederhana.
Kelas keamanan digital, desain, administrasi, pemasaran daring, dan keterampilan kerja.
“Aku ingin mereka punya kemampuan yang benar-benar bisa dipakai mencari pekerjaan,” katanya.
“Kenapa?”
Dia terdiam.
Lalu tersenyum.
“Karena kalau tanah itu hampir membuat hidupku hancur, aku ingin tanah itu akhirnya menghasilkan sesuatu yang baik.”
Aku menutup map.
“Modal?”
“Aku punya tabungan.”
“Kurang.”
“Makanya aku datang menemui investor tua yang cerewet.”
Aku mengangkat alis.
“Tua?”
“Berpengalaman.”
“Terlambat.”
Dia tertawa.
Aku ikut tertawa.
Enam bulan kemudian, bangunan pertamanya mulai berdiri.
Tidak besar.
Dua ruang kelas.
Satu laboratorium komputer.
Ruang kerja kecil.
Pantry yang menurut Nadia sangat penting, meskipun menurutku ukuran pantry itu tidak masuk akal.
Di depan bangunan ada halaman.
Dan tujuh monstera.
Ya.
Tujuh.
Dia memindahkannya dari rumahku.
Hari peresmian tiba hampir setahun setelah aku membuka pintu gudang itu.
Aku berdiri di halaman bersama Dimas dan beberapa karyawan.
Tidak ada pesta mewah.
Nadia tidak mau.
Hanya keluarga, teman dekat, beberapa pengajar, dan para peserta angkatan pertama.
Ada tiga puluh dua anak muda.
Aku melihat mereka duduk di kursi plastik sambil mengobrol.
Nadia berdiri di depan.
Bekas luka di bibirnya sudah hampir tidak terlihat.
Dia mengenakan batik sederhana dan celana hitam.
Tangannya memegang mikrofon.
“Aku sebenarnya sudah menyiapkan pidato.”
Dia membuka kertas.
Memandangnya.
Lalu melipatnya kembali.
Aku langsung tersenyum.
Sangat Nadia.
“Aku malas baca.”
Orang-orang tertawa.
Dia melanjutkan.
“Jadi aku cuma mau bilang, tempat ini lahir karena suatu kejadian yang tidak menyenangkan. Tetapi aku tidak ingin tempat ini dikenal karena kejadian itu.”
Dia berhenti.
Angin bergerak pelan di antara pepohonan.
“Aku ingin tempat ini dikenal karena apa yang terjadi setelahnya.”
Aku menunduk.
Entah mengapa mataku panas.
Nadia melihat ke arahku.
“Pak Bos.”
Semua orang ikut melihat.
Aku mengangkat kepala.
“Terima kasih sudah datang waktu itu.”
Aku tersenyum.
“Ya masa tidak datang.”
Orang-orang tertawa lagi.
Nadia juga.
Kemudian pandangannya berubah lembut.
“Tapi terima kasih karena setelah menemukan aku, Ayah tidak memaksaku menjadi orang yang sama seperti sebelum kejadian itu.”
Nah.
Yang ini mengenai tepat di dada.
Aku tidak punya jawaban lucu.
Jadi aku hanya mengangguk.
Acara selesai menjelang sore.
Peserta pulang satu per satu.
Dimas sudah pergi.
Para pengajar membereskan kursi.
Aku sedang memasukkan beberapa kotak ke mobil ketika Nadia memanggil.
“Pak Bos!”
“Apa lagi?”
“Ke sini sebentar.”
Dia berdiri di sisi belakang gedung.
Aku berjalan mendekat.
Di sana ada sebuah pintu kayu kecil.
Aku langsung berhenti.
Bentuknya mengingatkanku pada sesuatu.
Gudang.
Nadia melihat wajahku.
Kemudian dia tertawa.
“Bukan gudang.”
Dia membuka pintu.
Di dalamnya terdapat rak, alat berkebun, pot, tanah, pupuk, dan berbagai peralatan.
“Ini ruang tanaman.”
Aku menghela napas lega.
“Kenapa pintunya seperti itu?”
“Supaya Pak Bos trauma sedikit.”
“Nadia!”
Dia tertawa sampai membungkuk.
Aku mengejarnya dua langkah dan dia langsung berlari.
“Sudah dua puluh tiga tahun masih lari-larian!”
“Yang tua jangan mengejar!”
Aku berhenti.
“Siapa yang tua?”
Dia semakin tertawa.
Kami akhirnya duduk di anak tangga belakang gedung.
Matahari mulai turun.
Langit Yogyakarta berubah jingga.
Untuk beberapa menit kami tidak bicara.
Lalu Nadia menyandarkan kepalanya di bahuku.
“Pak Bos.”
“Hm?”
“Aku sudah bertemu Ibu.”
Aku menoleh.
Kali ini dia tidak menghindari pandanganku.
“Kapan?”
“Kemarin.”
“Bagaimana?”
“Sulit.”
Aku menunggu.
“Tapi aku ingin mencoba memperbaiki hubungan dengan Ibu. Pelan-pelan. Bukan berarti aku melupakan semuanya.”
“Itu keputusanmu.”
“Ayah tidak marah?”
“Kenapa harus marah?”
Dia mengangkat bahu.
“Entahlah.”
Aku melihat halaman di depan kami.
“Aku datang ke gudang hari itu untuk membawamu keluar, Nad. Bukan untuk menentukan ke mana kamu harus berjalan setelahnya.”
Dia terdiam.
Beberapa detik kemudian aku merasakan kepalanya semakin berat di bahuku.
“Wah.”
“Apa?”
“Pak Bos ternyata bisa ngomong bijak.”
“Biaya konsultasinya Rp5 juta.”
“Transfer besok.”
“Tidak menerima cicilan.”
Dia tertawa.
Aku ikut tertawa.
Matahari turun sedikit lagi.
Dari dalam gedung terdengar seorang staf memanggil Nadia karena ada komputer yang tidak mau menyala.
Nadia berdiri.
“Sebentar!”
Kemudian dia menatapku.
“Pak Bos bisa betulin?”
“Perusahaan keamanan digital, Nad. Bukan tukang servis komputer.”
“Katanya dulu cuma tukang CCTV.”
Aku menunjuknya.
“Itu kata ayah tirimu.”
Dia terdiam sesaat.
Aku khawatir telah mengatakan sesuatu yang salah.
Namun kemudian Nadia tersenyum.
Bukan senyum terpaksa.
Bukan senyum orang yang mencoba terlihat baik-baik saja.
Senyum biasa.
Senyum anakku.
“Sudahlah. Ayo bantu.”
Dia menarik tanganku.
Aku berdiri.
Sebelum masuk, aku sempat melihat kembali halaman itu.
Hampir setahun lalu, aku datang ke Yogyakarta dengan satu pikiran buruk setelah pikiran buruk lainnya memenuhi kepala.
Aku menemukan putriku di balik pintu terkunci.
Saat itu aku mengira kebahagiaan berarti membalas semua orang yang telah menyakitinya.
Ternyata aku salah.
Kebahagiaan jauh lebih sederhana.
Melihat Nadia berjalan di depanku sambil mengomel karena komputer kelas rusak.
Mendengar dia tertawa.
Melihat namanya tertulis sebagai pendiri tempat ini, bukan sebagai korban dalam setumpuk dokumen.
Mengetahui bahwa ketika malam tiba, dia tidak lagi takut pada suara pintu.
Aku mengikuti Nadia masuk.
Baru tiga langkah, dia berhenti dan menoleh.
“Oh iya, Pak Bos.”
“Apa?”
“Aku mau beli monstera lagi.”
Aku langsung berbalik.
“Tidak.”
“Cuma dua.”
“Tidak.”
“Diskon.”
“Tidak peduli.”
“Satu?”
“Nadia.”
Dia tertawa dan menarik lenganku kembali.
Dan sore itu, di sebuah bangunan kecil yang berdiri di atas tanah yang pernah hampir dirampas darinya, putriku tertawa begitu keras hingga orang-orang di dalam ruangan ikut menoleh.
Aku tidak merasa perlu menyuruhnya mengecilkan suara.
Biarkan saja.
Setelah semua yang terjadi, rumah, gedung, halaman, bahkan seluruh dunia boleh sedikit lebih berisik oleh tawanya.
Karena hampir setahun lalu, dari sebuah gudang gelap, aku hanya mendengar rintihan kecil yang nyaris hilang dibawa angin.
Sekarang aku mendengar anakku tertawa.
Dan bagiku…
itu sudah lebih dari cukup.
