ISTRIKU MENANGIS DI DEPAN DELAPAN PULUH ORANG DI PEMAKAMANKU, SEOLAH-OLAH DIA BARU SAJA

“Anak yang selama ini kamu panggil anakmu… bukan darah dagingmu, Mas.”

Kalimat Laras masuk ke telingaku begitu pelan.

Nyaris seperti bisikan biasa.

Tetapi justru karena itulah rasanya jauh lebih kejam.

Kalau saja saat itu tubuhku bisa bergerak, mungkin aku sudah bangkit dari peti dan mencengkeram lengannya.

 

 

 

 

 

 

Anak?

Maksudnya Raka?

Putraku yang baru berusia tiga belas tahun?

Anak yang dulu kugendong berjam-jam karena tidak mau tidur kalau tidak mendengar suara mesin mobil?

Anak yang setiap ulang tahunku selalu membuat kartu ucapan sendiri meskipun tulisannya jelek?

Tidak.

Jangan Raka.

Ambil perusahaan.

Ambil rumah.

Ambil seluruh uangku.

Tapi jangan sentuh satu hal itu.

Laras kembali berbisik.

“Raka anak Dimas.”

Sunyi.

Aku bahkan tidak tahu bagaimana menggambarkan apa yang terjadi di kepalaku setelah mendengar kalimat itu.

Tidak ada ledakan.

Tidak ada jeritan.

Anehnya, justru kosong.

Kosong sekali.

Laras mengusap pinggir peti.

“Maaf ya, Mas.”

Dia berhenti sebentar.

Kemudian terkekeh.

“Ternyata selama ini kamu membesarkan anak sahabatmu sendiri.”

Langkahnya menjauh.

Pintu terbuka.

Lalu tertutup.

Aku sendirian.

Untuk pertama kalinya sejak kecelakaan, aku tidak ingin bangun.

Aku tidak ingin diselamatkan.

Biarkan saja satu jam itu berlalu.

Biarkan mereka membawa petiku.

Biarkan semuanya selesai.

Pikiran itu muncul mungkin hanya beberapa detik.

Lalu wajah Raka terlintas.

Sore ketika dia berumur enam tahun dan jatuh dari sepeda.

Hari pertama SMP ketika dia pura-pura tidak gugup.

Malam saat dia demam tinggi dan tangannya terus mencengkeram kausku.

Dan satu kalimat yang pernah dia ucapkan.

“Kalau besar nanti aku mau kerja sama Ayah.”

Aku langsung berubah pikiran.

Persetan dengan darah.

Aku ayahnya.

Entah siapa yang memberikan DNA kepadanya, aku yang mengajarinya berjalan.

Aku yang datang ke sekolah ketika dia berkelahi.

Aku yang dimarahi Laras karena diam-diam membelikannya sepatu futsal terlalu mahal.

Aku yang mendengar dia pertama kali memanggil “Ayah”.

Kalau aku mati sekarang, Raka akan tinggal bersama Laras dan Dimas.

Orang yang baru saja mencoba membunuhku.

Tidak.

Aku harus hidup.

Entah bagaimana caranya.

Aku mulai mencoba lagi.

Jari telunjuk.

Tidak.

Jempol.

Tidak.

Lidah.

Tidak.

Kelopak mata.

Ayolah.

Sedikit saja.

Tidak ada.

Aku hampir menyerah ketika mendengar pintu terbuka.

Seseorang masuk sambil bersenandung kecil.

Bukan Laras.

Bukan Dimas.

Suara roda troli terdengar mendekat.

“Pak Ardi, maaf ya, Pak. Saya rapikan bunganya dulu.”

Aku mengenali suara itu.

Pak Joko.

Petugas rumah duka yang sejak pagi beberapa kali membantu keluarga.

Dia mulai memindahkan bunga.

Aku berusaha sekuat tenaga.

Kelopak mata.

Jari.

Apa saja.

Lalu ada sesuatu yang terasa hangat di sudut mata kiriku.

Air mata.

Aku tidak tahu apakah aku benar-benar berhasil menangis atau itu sekadar refleks tubuh.

Tapi setetes air mengalir.

Pak Joko berhenti.

Aku mendengar napasnya.

“Lho?”

Jangan pergi.

Tolong lihat.

“Ini…”

Dia mendekat.

Tangannya menyentuh pipiku.

Kemudian terdengar suara yang membuatku hampir menangis lagi.

“Pak?”

Diam.

“Pak Ardi?”

Aku mencoba.

Sekali lagi.

Kelopak mata.

Tidak.

Jari.

Ayo.

Pak Joko menyentuh leherku.

Beberapa detik berlalu.

“Ya Allah…”

Langkahnya mundur cepat.

Troli tersenggol.

Sesuatu jatuh.

Lalu dia berlari keluar.

“Tolong! Panggil dokter! Cepat!”

Suasana yang tadinya sunyi mendadak berubah kacau.

Orang-orang berlari.

Ada yang mengatakan Pak Joko salah lihat.

Ada yang meminta ambulans.

Seseorang memeriksa nadiku.

Lalu aku mendengar suara dokter.

“Jangan bawa ke krematorium.”

Itulah kalimat terindah yang pernah kudengar.

“Dia masih menunjukkan tanda kehidupan.”

Setelah itu semuanya bergerak sangat cepat.

Aku dibawa kembali ke rumah sakit.

Aku tidak tahu apa yang terjadi pada Laras ketika mendengar kabar tersebut.

Belakangan adikku, Nisa, menceritakannya.

Katanya Laras menjatuhkan ponsel.

Dimas langsung pergi tanpa mengatakan apa-apa.

Dan ketika dokter memastikan bahwa aku belum meninggal, Laras sempat memaksa masuk ke ruang perawatan.

Nisa menghalanginya.

“Jangan sentuh kakakku.”

“Dia suamiku!”

“Justru karena kamu istrinya, aku bilang jangan sentuh dia.”

Nisa memang begitu.

Tubuhnya kecil.

Kalau marah, satu lorong rumah sakit bisa mendengar suaranya.

Dokter kemudian menjelaskan kepada keluarga bahwa kondisiku sangat tidak biasa. Respons tubuhku amat lemah dan sebelumnya terjadi kesalahan penilaian akibat komplikasi medis setelah koma panjang.

Aku tidak memahami semua istilah yang mereka gunakan.

Yang penting cuma satu.

Aku hidup.

Hari pertama, aku masih tidak bisa bicara.

Hari kedua, jari telunjukku bergerak.

Hanya sedikit.

Nisa menangis melihatnya.

“Aku tahu Kak Ardi keras kepala.”

Aku ingin tertawa.

Tidak bisa.

Hari keempat, mataku akhirnya terbuka.

Langit-langit putih.

Lampu.

Selang infus.

Lalu wajah Nisa.

Dia terlihat seperti belum tidur berhari-hari.

“Kak?”

Aku berkedip.

Nisa langsung memanggil dokter.

Aku mencoba bicara.

Yang keluar cuma suara serak.

“Ra…”

“Raka?”

Aku berkedip lagi.

Nisa menggenggam tanganku.

“Raka aman. Dia di rumah Mama.”

Dadaku terasa sedikit ringan.

Lalu aku teringat Laras.

Dimas.

Kopi.

Rem.

Aku memaksakan satu kata.

“Polisi.”

Wajah Nisa berubah.

“Kak mau bicara dengan polisi?”

Aku menggerakkan jari.

Ya.

Hari itu juga penyelidikan yang sebelumnya dianggap selesai dibuka kembali.

Tapi ada satu hal yang tidak kukatakan kepada Laras.

Aku sudah sadar penuh.

Atas saran penyidik, keluarga membiarkan kabar yang beredar tetap samar. Laras hanya diberi tahu bahwa kondisiku kritis dan belum bisa berkomunikasi.

Dia datang dua kali.

Aku pura-pura tidur.

Aneh sekali rasanya mendengar orang yang mencoba membunuhmu duduk di samping tempat tidur dan menangis.

“Mas, bangun ya.”

Tangannya menyentuh tanganku.

Aku ingin muntah.

“Aku sama Raka menunggu.”

Pembohong.

Namun kali ini aku tidak marah.

Aku mendengarkan.

Karena ponsel milik penyidik sedang merekam percakapan dari meja kecil di samping ranjang.

Sayangnya Laras tidak mengatakan apa-apa yang cukup jelas.

Dia berhati-hati.

Dimas bahkan tidak datang.

Itu justru membuat polisi semakin tertarik.

Penyidik bernama AKP Bayu Rahman kemudian duduk di samping ranjangku.

“Kami sudah memeriksa mobil Bapak lagi.”

Aku menatapnya.

“Ada sesuatu pada sistem rem yang tidak sesuai dengan kerusakan akibat kecelakaan.”

Dia tidak menjelaskan detail teknis kepadaku.

Tidak perlu.

Aku sudah tahu.

“Kami juga sedang menelusuri rekaman CCTV gudang.”

Aku mengangkat alis.

Bayu tersenyum tipis.

“Kadang orang terlalu sibuk menghapus kamera utama sampai lupa ada kamera dari toko sebelah.”

Ternyata benar.

Sebuah bengkel di seberang pintu belakang gudang memiliki kamera yang mengarah sebagian ke area parkir.

Rekamannya tidak terlalu jelas.

Tapi pada malam sebelum kecelakaan, terlihat seseorang mendekati mobilku.

Postur tubuhnya mirip Dimas.

Belum cukup.

Polisi membutuhkan lebih banyak bukti.

Aku kemudian teringat sesuatu.

“Laptop.”

“Apa, Pak?”

Aku mengulang pelan.

“Laptop… kantor.”

Ada satu folder yang bahkan Laras tidak tahu.

Setiap akhir bulan aku menyimpan salinan laporan keuangan perusahaan karena beberapa kali menemukan angka yang tidak cocok.

Awalnya aku mengira kesalahan staf.

Ternyata selama hampir dua tahun ada transfer bertahap dari rekening perusahaan menuju beberapa perusahaan vendor.

Jumlahnya tidak terlalu besar jika dilihat satu per satu.

Rp70 juta.

Rp95 juta.

Rp120 juta.

Tapi ketika digabungkan…

lebih dari Rp4 miliar.

Salah satu perusahaan vendor ternyata memiliki hubungan dengan saudara Dimas.

Penyelidikan berubah arah.

Sekarang bukan cuma soal kecelakaan.

Ada dugaan penggelapan.

Pemalsuan dokumen.

Manipulasi keuangan.

Dan percobaan untuk mengambil kendali perusahaan.

Namun bagian paling menyakitkan belum selesai.

Raka.

Aku meminta tes DNA.

Bukan karena aku ingin membuangnya.

Justru sebaliknya.

Aku perlu tahu apakah ucapan Laras benar atau hanya cara terakhirnya menyiksaku.

Hasilnya keluar dua minggu kemudian.

Dokter meletakkan amplop di meja.

Aku membukanya sendiri.

Tanganku sudah cukup kuat saat itu.

Aku membaca perlahan.

Lalu berhenti.

Laras berbohong.

Raka adalah anak kandungku.

Aku membaca hasil itu tiga kali.

Kemudian tertawa.

Benar-benar tertawa.

Sampai Nisa yang berada di sampingku bingung.

“Kak kenapa?”

Aku menyerahkan kertas itu.

Dia membaca.

Mulutnya terbuka.

“Jadi…”

“Dia bohong.”

Entah kenapa justru kebohongan itulah yang membuatku akhirnya mengerti siapa Laras sebenarnya.

Dia tidak hanya ingin aku mati.

Dia ingin aku mati dalam keadaan hancur.

Dia ingin kata-kata terakhir yang kudengar adalah sesuatu yang akan merampas satu-satunya hubungan yang paling berarti bagiku.

Dan dia hampir berhasil.

Beberapa hari kemudian polisi menangkap Dimas.

Bukan di rumah.

Dia sedang mencoba pergi ke Surabaya menggunakan identitas yang berbeda.

Berita penangkapannya membuat Laras panik.

Dia datang ke rumah sakit malam itu.

Tanpa tahu aku sudah bisa berjalan perlahan.

Tanpa tahu aku sudah bisa bicara hampir normal.

Tanpa tahu dua penyidik berada di ruangan sebelah.

Pintu kamar terbuka.

Laras masuk.

Dia melihat ranjangku kosong.

Wajahnya langsung pucat.

“Cari siapa?”

Aku berdiri di dekat jendela.

Laras menoleh.

Untuk pertama kalinya setelah lima belas tahun menikah, aku melihat wajah istriku tanpa topeng.

Bukan sedih.

Bukan bahagia.

Takut.

Murni takut.

“Mas…”

Aku tidak menjawab.

“Kamu… sudah bisa berdiri?”

“Sudah.”

Dia mundur satu langkah.

Aku berjalan mendekat.

Pelan karena kakiku memang belum kuat.

Laras mulai menangis.

“Mas, aku bisa jelaskan.”

Aku hampir tersenyum mendengar kalimat itu.

Tentu.

Selalu ada penjelasan ketika rencana gagal.

“Dimas memaksaku.”

Aku diam.

“Dia mengancam aku.”

Tetap diam.

“Aku takut.”

“Laras.”

Dia berhenti.

“Aku mendengar semuanya.”

Wajahnya kehilangan warna.

Aku melanjutkan.

“Di rumah duka.”

Tangannya mulai gemetar.

“Kopi.”

Dia tidak menjawab.

“Rem mobil.”

Air matanya semakin deras.

“Perusahaan.”

“Mas…”

“Dan Raka.”

Dia membeku.

Aku mengeluarkan hasil tes DNA dari laci meja.

Meletakkannya di depannya.

“Raka anakku.”

Laras melihat kertas itu.

Lalu menutup mulut.

Aku tidak berteriak.

Tidak membanting meja.

Anehnya, aku sudah tidak punya tenaga untuk marah seperti yang kubayangkan.

Aku cuma bertanya.

“Kenapa?”

Laras duduk.

Lama sekali dia tidak menjawab.

Kemudian semuanya keluar.

Hubungannya dengan Dimas sudah berlangsung hampir tiga tahun.

Mereka awalnya menyelewengkan uang perusahaan untuk menutup kerugian investasi pribadi Dimas.

Lalu jumlahnya semakin besar.

Aku mulai curiga terhadap laporan keuangan.

Mereka takut aku menemukan semuanya.

Dimas mengusulkan agar aku “disingkirkan”.

Laras setuju.

Sesederhana itu.

Lima belas tahun pernikahan.

Dijelaskan dalam beberapa kalimat.

Aku tidak merasa lega.

Tidak juga puas.

Hanya lelah.

Pintu terbuka.

AKP Bayu masuk bersama seorang penyidik perempuan.

Laras langsung berdiri.

“Pak Ardi, cukup,” kata Bayu.

Laras menatapku.

“Mas…”

Aku memalingkan wajah.

Untuk pertama kalinya aku tidak ingin mendengar kelanjutan kalimatnya.

Proses hukum berjalan berbulan-bulan.

Aku tidak mengikuti setiap detailnya.

Pengacaraku yang menangani sebagian besar urusan.

Ada hari ketika media datang ke depan rumah.

Ada mantan mitra bisnis yang tiba-tiba mengaku sejak dulu mencurigai Dimas.

Lucu.

Setelah semuanya terbongkar, banyak orang mendadak merasa sudah tahu sejak awal.

Aku memilih diam.

PT Arunika Logistik Sejahtera nyaris jatuh.

Beberapa klien pergi.

Bank menahan fasilitas kredit sementara.

Karyawan takut kehilangan pekerjaan.

Aku belum cukup sehat untuk kembali memimpin perusahaan.

Jadi suatu pagi aku meminta seluruh kepala divisi datang ke rumah.

Ada sebelas orang.

Aku duduk di kursi ruang tamu memakai kaus sederhana dan celana training.

Tidak ada presentasi.

Tidak ada pidato hebat.

Aku cuma berkata,

“Kalau kalian mau pergi, saya mengerti.”

Mereka diam.

“Perusahaan sedang berantakan. Saya juga belum tahu enam bulan lagi kita seperti apa.”

Pak Hendra, sopir pertamaku sejak perusahaan cuma punya tiga truk, mengangkat tangan.

“Pak.”

“Ya?”

“Saya dulu ikut Bapak waktu truk kita AC-nya mati dan kita tidur di SPBU.”

Beberapa orang tertawa.

Hendra melanjutkan.

“Kalau waktu itu saya nggak pergi, sekarang juga nggak.”

Entah kenapa kalimat sederhana itu membuatku hampir menangis.

Satu demi satu mereka memilih bertahan.

Kami mulai lagi.

Tidak dari nol.

Tapi rasanya hampir sama.

Aku menjual dua kendaraan pribadiku untuk menambah arus kas.

Beberapa aset perusahaan yang tidak produktif dilepas.

Sistem keuangan dirombak.

Tidak ada lagi satu orang yang memegang akses penuh.

Semua transaksi besar membutuhkan verifikasi berlapis.

Dan untuk pertama kalinya, aku belajar bahwa mempercayai orang bukan berarti menyerahkan seluruh kunci kepadanya.

Butuh hampir setahun sampai perusahaan benar-benar stabil.

Namun bagian terpenting dalam hidupku ternyata bukan perusahaan.

Raka.

Aku tidak pernah menceritakan kepadanya semua detail tentang ibunya.

Dia masih terlalu muda.

Yang dia tahu, ibunya melakukan kesalahan serius dan harus menjalani proses hukum.

Suatu malam dia bertanya,

“Ayah masih sayang Mama?”

Pertanyaan anak-anak kadang lebih sulit daripada pertanyaan polisi.

Aku berpikir lama.

“Ayah pernah sangat sayang.”

“Sekarang?”

Aku melihatnya.

“Sekarang Ayah ingin belajar tidak membenci.”

Dia mengangguk seolah memahami.

Mungkin sebenarnya tidak.

Lalu dia bertanya lagi.

“Kalau Mama nggak pulang lama, aku tinggal sama Ayah terus?”

Aku tertawa kecil.

“Kamu mau ke mana?”

Dia mengangkat bahu.

“Ya takutnya Ayah nikah lagi.”

Aku menatapnya.

“PR matematika kamu saja belum selesai, sudah mikirin Ayah nikah.”

Dia tertawa.

Untuk pertama kalinya setelah berbulan-bulan, rumah kami terdengar seperti rumah lagi.

Dua tahun kemudian aku kembali ke Purwakarta.

Bukan ke gudang.

Ke rumah duka itu.

Sendirian.

Pak Joko masih bekerja di sana.

Ketika melihatku masuk, dia sampai menjatuhkan pulpen.

“Pak Ardi?”

Aku tersenyum.

“Masih ingat saya?”

Dia tertawa gugup.

“Bagaimana saya bisa lupa, Pak?”

Aku membawa sebuah kotak kecil.

Di dalamnya ada jam tangan.

Tidak terlalu mewah.

Aku menyerahkannya.

Pak Joko menolak.

“Jangan, Pak.”

“Ambil.”

“Saya cuma melakukan pekerjaan saya.”

Aku menggeleng.

“Bapak melihat satu tetes air mata ketika semua orang menganggap saya sudah tidak ada.”

Dia diam.

Aku juga.

Kadang rasa terima kasih terlalu besar untuk dijelaskan dengan kalimat bagus.

Jadi aku cuma menepuk bahunya.

Sebelum pergi, aku berhenti di depan ruangan tempat peti matiku pernah diletakkan.

Ruangan itu kosong.

Tidak ada bunga.

Tidak ada Laras.

Tidak ada Dimas.

Aku berdiri di sana cukup lama.

Dulu aku mengira hari itu adalah hari ketika hidupku hampir berakhir.

Ternyata bukan.

Itu hari ketika hidup lamaku berakhir.

Ada perbedaan besar.

Di parkiran, Raka sudah menunggu di mobil.

Sekarang usianya lima belas tahun.

Tinggi badannya hampir menyamaiku.

“Ayah lama banget.”

“Ngapain ikut kalau protes?”

“Lapar.”

“Itu alasanmu untuk semuanya.”

Dia tertawa.

Kami masuk mobil.

Saat hendak menyalakan mesin, Raka tiba-tiba berkata,

“Ayah.”

“Hm?”

“Nanti aku boleh ikut ke kantor?”

“Boleh. Kenapa?”

“Aku mau belajar bisnis.”

Aku menoleh kepadanya.

Wajah anak itu membuatku teringat sesuatu.

Bukan Laras.

Bukan masa lalu.

Diriku sendiri ketika masih muda dan bodoh, saat membeli truk bekas pertama dengan uang tabungan yang bahkan tidak cukup untuk memperbaiki mesinnya.

“Kamu serius?”

Raka mengangguk.

“Tapi aku nggak mau langsung jadi bos.”

Aku tertawa.

“Bagus.”

“Aku mau mulai dari gudang.”

“Lebih bagus.”

“Terus nanti kalau sudah ngerti semuanya…”

Dia berhenti.

“Nanti apa?”

Raka menyeringai.

“Rahasia.”

Aku menggeleng sambil menyalakan mobil.

Kami meninggalkan tempat itu.

Tidak ada musik dramatis.

Tidak ada hujan.

Tidak ada seseorang berdiri di belakang sambil menyesali kepergian kami.

Matahari Purwakarta sedang panas-panasnya.

Raka mengeluh AC mobil kurang dingin.

Aku memarahinya karena membuang bungkus permen sembarangan.

Sangat biasa.

Dan setelah semua yang terjadi, ternyata kehidupan biasa terasa luar biasa mahal.

Beberapa bulan kemudian, di ulang tahunku yang keempat puluh delapan, para karyawan membuat acara kecil di gudang.

Tidak sampai delapan puluh orang.

Tidak ada bunga pemakaman.

Tidak ada peti.

Hanya nasi tumpeng, ayam goreng, sambal, teh manis, dan kue yang bentuknya agak miring karena katanya dibawa terlalu cepat oleh salah satu staf.

Pak Hendra berdiri dan bercanda,

“Pak Ardi sekarang punya dua tanggal lahir.”

Semua tertawa.

Aku juga.

Raka berdiri di sampingku sambil memegang piring.

“Tiup lilinnya, Yah.”

Aku memandang orang-orang di sekelilingku.

Nisa.

Raka.

Para sopir.

Staf gudang.

Orang-orang yang memilih tetap tinggal ketika perusahaan hampir runtuh.

Tiba-tiba aku teringat suara Laras dari sisi peti mati.

“Sekarang perusahaan ini akhirnya akan menjadi milik kita.”

Dulu kalimat itu membuatku ketakutan.

Sekarang?

Aneh.

Aku justru tersenyum.

Karena akhirnya aku memahami sesuatu.

Perusahaan itu memang hampir menjadi milik mereka.

Rumahku hampir menjadi milik mereka.

Uangku hampir mereka ambil.

Bahkan hidupku hampir mereka rampas.

Tetapi ada satu hal yang gagal mereka ambil.

Kesempatan keduaku.

Aku meniup lilin.

Orang-orang bertepuk tangan.

Raka memotong kue terlalu besar dan langsung dimarahi Nisa.

Aku tertawa melihat mereka bertengkar.

Tidak ada akhir yang sempurna.

Aku masih kadang terbangun tengah malam karena bermimpi berada di dalam peti.

Kadang suara ketukan kuku Laras masih muncul di kepalaku.

Tok.

Tok.

Tok.

Ada luka yang tidak hilang hanya karena orang jahat akhirnya menerima akibat dari perbuatannya.

Tapi sekarang ketika mimpi itu datang, aku membuka mata.

Aku melihat langit-langit kamar.

Mendengar suara kipas AC.

Kadang mendengar Raka bermain gim terlalu malam dari kamar sebelah.

Lalu aku menarik napas panjang.

Sengaja.

Karena dulu, di dalam peti itu, bahkan menarik napas sedikit lebih keras pun tidak bisa kulakukan.

Sekarang aku bisa.

Aku bisa berdiri.

Bisa berjalan.

Bisa tertawa.

Bisa memeluk anakku.

Bisa membuat keputusan bodoh lalu memperbaikinya besok.

Bisa hidup.

Dan ternyata…

setelah pernah mendengar orang merencanakan kematianmu tepat di samping tubuhmu sendiri, bunyi napas biasa pada pukul dua pagi bisa terdengar seperti suara paling indah di dunia.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *