Aku melihat sepasang mata sedang menatap lurus ke arahku…
Aku menjerit.
Bukan jeritan kecil karena kaget melihat cicak atau kecoa. Suaraku benar-benar pecah sampai tenggorokanku terasa sakit.
“AAAAA!”
Aku mundur begitu cepat sampai punggungku menghantam meja rias. Botol parfum jatuh. Sisir terlempar ke lantai.
Fajar langsung terbangun.
“Alya?! Kenapa?!”
“Ada orang!”
Aku menunjuk ke bawah ranjang dengan tangan gemetar.
“Ada orang di bawah ranjang, Mas!”
Wajah Fajar yang tadinya masih setengah mabuk mendadak pucat.
Aneh.
Seharusnya dia terkejut.
Seharusnya dia bertanya apa yang kulihat.
Tapi tidak.
Ekspresi di wajahnya justru seperti seseorang yang baru menyadari sebuah rahasia telah terbongkar terlalu cepat.
“Mas?”
Belum sempat dia menjawab, terdengar suara dari bawah ranjang.
“Jangan teriak…”
Suara perempuan.
Aku membeku.
Beberapa detik kemudian, sebuah tangan muncul dari bawah ranjang. Jemarinya kurus, kukunya pendek, dan ada gelang benang merah melingkar di pergelangan tangannya.
Lalu perlahan seseorang merangkak keluar.
Seorang perempuan.
Usianya mungkin sekitar dua puluh tahun.
Rambutnya panjang dan kusut. Ia mengenakan kaus abu-abu dan celana panjang hitam. Wajahnya pucat karena terlalu lama bersembunyi di ruang sempit.
Begitu berhasil keluar, dia langsung duduk di lantai sambil terengah-engah.
Aku menatapnya.
Kemudian menatap Fajar.
Lalu kembali menatap perempuan itu.
Pikiran pertama yang muncul membuat dadaku terasa terbakar.
“Siapa dia?”
Fajar turun dari ranjang.
“Alya, dengarkan aku dulu.”
“Siapa dia?!”
Perempuan itu tersentak.
Fajar mengusap wajahnya dengan kedua tangan.
“Namanya Nisa.”
“Siapa Nisa?”
Tidak ada jawaban.
Aku tertawa kecil.
Entah kenapa aku justru tertawa.
Malam pertama pernikahanku. Suamiku mabuk. Ada perempuan muda bersembunyi di bawah ranjang kami.
Apa lagi penjelasan yang kubutuhkan?
Aku berjalan menuju koper.
“Alya.”
Aku membuka koper dan mulai memasukkan pakaian yang tadi sudah dikeluarkan.
“Alya, tunggu.”
“Jangan sentuh aku.”
“Aku bisa jelaskan.”
Aku menoleh.
“Kalau dia mantanmu, bilang.”
Fajar menggeleng.
“Bukan.”
“Kalau pacarmu, bilang.”
“Bukan.”
“Kalau kalian punya hubungan—”
“Dia adikku.”
Tanganku berhenti.
Aku memandang Fajar beberapa detik.
Lalu menunjuk ke arah pintu.
“Adikmu tadi membantu di depan rumah. Namanya Dimas. Aku tidak bodoh.”
“Aku tahu.”
“Jadi?”
Fajar menatap perempuan yang masih duduk di lantai.
“Nisa juga adikku.”
Sunyi.
Dari luar kamar terdengar suara seseorang menyeret kursi plastik. Kemudian suara motor salah satu kerabat yang pulang dari rumah kami.
Aku menatap Nisa lebih teliti.
Baru sekarang aku menyadarinya.
Bentuk hidungnya.
Alisnya.
Bahkan cara dia menundukkan kepala ketika gugup…
mirip Fajar.
Tetapi ada sesuatu yang jauh lebih mengganggu.
Selama hampir dua tahun mengenal keluarga Fajar, aku tidak pernah mendengar nama Nisa.
Tidak sekali pun.
“Kenapa adikmu bersembunyi di bawah ranjang kita?”
Fajar belum menjawab ketika Nisa tiba-tiba berdiri.
“Mas, aku pergi saja.”
Fajar langsung menahan lengannya.
“Kamu mau ke mana?”
“Ke mana saja.”
“Sudah malam.”
“Aku nggak mau bikin masalah.”
Aku semakin bingung.
“Nisa.”
Perempuan itu menatapku.
Matanya merah.
“Apa yang sebenarnya terjadi?”
Bibirnya bergerak, tetapi tak ada suara keluar.
Lalu seseorang mengetuk pintu.
Tok. Tok. Tok.
“Alya?”
Suara ibu mertuaku.
Bu Ratna.
“Ada apa? Ibu dengar kamu teriak.”
Nisa langsung panik.
Bukan panik biasa.
Wajahnya kehilangan warna.
Ia buru-buru mencari tempat untuk bersembunyi lagi.
Fajar menahan bahunya.
“Nggak usah.”
“Mas…”
“Nggak usah sembunyi lagi.”
Ketukan terdengar lebih keras.
“Fajar! Buka pintunya!”
Fajar menatapku.
Aku masih belum mengerti apa pun, tetapi satu hal menjadi sangat jelas.
Perempuan ini tidak sedang bersembunyi dariku.
Dia bersembunyi dari ibu mertuaku.
Fajar membuka pintu.
Bu Ratna berdiri di sana dengan daster cokelat dan kerudung tipis yang masih terpasang seadanya. Wajahnya tampak kesal karena mungkin mengira kami bertengkar.
“Ada apa sih malam-malam begini?”
Kemudian matanya melihat ke dalam kamar.
Melihat Nisa.
Ekspresinya berubah seketika.
“Nisa?”
Tidak ada seorang pun bergerak.
Bu Ratna melangkah masuk.
“Kamu ngapain di sini?”
Nisa mundur.
“Bu…”
“Bukannya Ibu sudah bilang jangan datang?”
Kalimat itu menusuk lebih tajam daripada teriakan.
Aku memandang Fajar.
Dia mengepalkan tangan.
“Ibu, cukup.”
“Ini urusan keluarga.”
“Alya sekarang istriku. Dia keluarga.”
Bu Ratna menatapku sebentar.
Ada rasa malu di wajahnya.
Juga kemarahan.
Dan sesuatu yang belum bisa kupahami.
“Keluar dulu, Alya.”
Aku hampir tertawa lagi.
“Ini kamar saya.”
Bu Ratna terdiam.
Mungkin baru menyadari bahwa mulai malam ini banyak hal memang berubah.
Nisa mulai menangis.
Bukan tangisan keras.
Air matanya hanya jatuh tanpa suara.
“Maaf, Mbak,” katanya kepadaku. “Aku sebenarnya cuma mau ketemu Mas Fajar sebentar.”
“Kenapa harus sembunyi?”
Dia mengusap pipinya.
“Karena kalau Ibu tahu aku datang…”
Dia berhenti.
Bu Ratna langsung memotong.
“Nisa!”
Aku menatap ibu mertuaku.
“Biarkan dia bicara.”
Entah dari mana keberanian itu datang. Mungkin karena aku sudah terlalu lelah untuk takut.
Nisa menarik napas panjang.
“Aku mau kasih ini ke Mas Fajar.”
Dari saku celananya dia mengeluarkan sebuah amplop kecil.
Sudah kusut.
Fajar menerimanya.
Di dalamnya ada uang.
Tidak banyak.
Beberapa lembar pecahan lima puluh ribu dan seratus ribu rupiah.
Totalnya mungkin satu juta lebih sedikit.
“Apa ini?”
Nisa tersenyum tipis.
“Buat hadiah nikah.”
Fajar langsung menggeleng.
“Kamu dapat uang dari mana?”
“Aku nabung.”
“Nabung dari mana?”
Nisa tidak menjawab.
Bu Ratna mendengus.
“Sudahlah. Suruh dia pulang.”
“Bu.”
“Apa?”
Fajar menatap ibunya.
“Dia adikku.”
“Jangan mulai lagi.”
“Dia adikku!”
Untuk pertama kalinya sejak mengenalnya, aku mendengar Fajar membentak ibunya.
Bu Ratna terpaku.
Dimas, adik laki-laki Fajar yang rupanya mendengar keributan, muncul di depan pintu.
“Ada apa?”
Begitu melihat Nisa, ia juga berhenti.
Namun reaksinya berbeda.
“Nisa?”
Dia tersenyum lebar.
“Ya Allah, kamu datang?”
Nisa langsung menangis lebih keras.
Dimas menghampirinya dan memeluknya.
Saat itulah aku benar-benar tahu.
Apa pun yang terjadi di keluarga ini, Nisa bukan orang asing.
Aku duduk di tepi ranjang.
“Sekarang seseorang jelaskan semuanya.”
Fajar duduk di sebelahku, tetapi menjaga jarak.
Lalu cerita itu keluar.
Tidak rapi.
Tidak seperti cerita yang sudah dipersiapkan.
Kadang Bu Ratna menyela. Kadang Dimas membantah. Kadang Nisa meminta mereka berhenti.
Dan sedikit demi sedikit, aku memahami semuanya.
Nisa memang adik kandung Fajar.
Anak kedua Bu Ratna.
Ketika Nisa berusia tujuh tahun, ayah Fajar meninggal dunia akibat kecelakaan kerja. Kondisi keluarga mereka jatuh. Utang menumpuk. Bu Ratna harus menghidupi tiga anak sendirian.
Pada masa itulah adik perempuan Bu Ratna yang tinggal di Solo menawarkan diri merawat Nisa.
Awalnya hanya sementara.
Satu tahun.
Kemudian dua tahun.
Lalu Nisa tetap tinggal di sana.
Masalahnya bukan karena keluarga itu membencinya.
Justru sebaliknya.
Nisa tumbuh cukup baik.
Ia sekolah, punya teman, bahkan kemudian bekerja di sebuah toko roti.
Yang rusak adalah hubungan antara Nisa dan ibunya.
Bu Ratna merasa anaknya memilih keluarga lain.
Nisa merasa ibunya membuangnya.
Tidak ada yang benar-benar mengucapkan kalimat itu.
Tapi selama bertahun-tahun, keduanya hidup seolah kalimat itu pernah diucapkan.
Saat Nisa berusia delapan belas tahun, terjadi pertengkaran besar.
Sejak saat itu Bu Ratna melarangnya pulang.
Fajar tetap diam-diam menemui Nisa.
Dimas juga.
“Kenapa aku tidak pernah diberi tahu?” tanyaku.
Fajar menunduk.
“Itu salahku.”
Aku tidak menjawab.
“Aku takut kamu melihat keluargaku berbeda.”
“Tentu aku melihatnya berbeda sekarang.”
Dia mengangguk.
“Aku tahu.”
Jawabannya justru membuat amarahku sedikit turun.
Tidak ada pembelaan.
Tidak ada kalimat manis.
Hanya pengakuan sederhana bahwa dia memang salah.
“Tapi kenapa malam ini?”
Aku memandang Nisa.
“Kenapa kamu sampai masuk ke bawah ranjang?”
Nisa kelihatan malu.
“Tadi aku datang lewat belakang.”
Dimas mengangkat tangan.
“Aku yang bukain.”
Bu Ratna langsung melotot kepadanya.
“Kamu?!”
Dimas buru-buru mundur.
“Besok marahin aku, Bu.”
Aku hampir tersenyum meskipun situasinya absurd.
Nisa melanjutkan.
“Aku cuma mau kasih hadiah. Aku pikir Mas Fajar masih di kamar. Pas aku masuk, ternyata Mbak Alya datang. Aku panik.”
“Jadi kamu masuk ke bawah ranjang?”
Dia mengangguk kecil.
Aku menutup wajah dengan tangan.
Ya Tuhan.
Aku hampir mengira malam pernikahanku berubah menjadi cerita perselingkuhan atau bahkan cerita horor.
Ternyata seorang perempuan berusia dua puluh tahun hanya terlalu takut bertemu ibunya sendiri.
Tetapi persoalannya belum selesai.
Bu Ratna mengambil tas kecilnya.
“Ibu nggak mau ribut. Nisa, pulang.”
Nisa menunduk.
Fajar berdiri.
“Dia nggak pulang malam ini.”
“Fajar.”
“Sudah hampir tengah malam.”
“Ibu bisa pesan mobil.”
“Bukan soal kendaraan.”
Suara Fajar melemah.
“Bu, sampai kapan?”
Pertanyaan itu membuat ruangan sunyi.
Bu Ratna tidak menjawab.
Fajar mendekati ibunya.
“Sudah tiga belas tahun.”
Wajah Bu Ratna mengeras.
“Ibu yang paling tahu bagaimana rasanya waktu itu.”
“Aku tahu.”
“Nggak. Kamu nggak tahu.”
Bu Ratna akhirnya menangis.
Cepat sekali.
Seperti bendungan yang retak tanpa peringatan.
“Ibu nggak membuang dia.”
Nisa mengangkat kepala.
Bu Ratna menatap putrinya.
“Ibu nggak pernah membuang kamu.”
Nisa menggigit bibir.
“Tapi Ibu nggak pernah datang menjemput aku.”
Bu Ratna terdiam.
Nah.
Di situlah rupanya luka sebenarnya.
Bukan uang.
Bukan siapa tinggal dengan siapa.
Seorang anak kecil menunggu ibunya datang menjemput.
Seorang ibu miskin mengira anaknya lebih bahagia tanpa dirinya.
Tahun berganti.
Harga diri tumbuh di antara keduanya seperti tembok.
Tidak ada yang berani mengetuk lebih dulu.
“Aku nunggu, Bu.”
Suara Nisa hampir tidak terdengar.
“Waktu kelas tiga SD aku nunggu.”
Bu Ratna menangis.
“Waktu ulang tahunku yang kesepuluh aku juga nunggu.”
“Nisa…”
“Pas lulus SMP aku pikir Ibu bakal datang.”
Bu Ratna menutup mulut.
“Aku bahkan bilang ke teman-teman kalau ibuku bakal datang.”
Aku melihat Dimas memalingkan wajah.
Fajar diam.
Nisa mengusap air matanya sendiri.
“Tapi Ibu nggak datang.”
“Aku datang.”
Semua orang menoleh.
Bu Ratna mengambil napas pendek.
“Aku datang waktu kelulusanmu.”
Nisa terpaku.
“Apa?”
“Ibu berdiri di seberang jalan.”
“Kok…”
“Ibu lihat kamu keluar sama Tante Mira. Kamu ketawa. Kamu pegang bunga. Kamu kelihatan bahagia.”
Bu Ratna tersenyum getir.
“Ibu pikir… kalau Ibu muncul, Ibu cuma akan mengingatkan kamu pada kehidupan yang susah.”
Nisa menangis lagi.
“Kok Ibu nggak panggil aku?”
“Ibu takut.”
Jawaban itu sederhana.
Sangat sederhana sampai terasa menyakitkan.
Orang dewasa ternyata bisa takut dengan cara yang sama bodohnya seperti anak-anak.
Nisa melangkah satu kali.
Bu Ratna tidak bergerak.
Lalu satu langkah lagi.
“Ibu beneran datang?”
Bu Ratna mengangguk.
“Aku simpan fotomu.”
Ia membuka tas.
Mengeluarkan dompet.
Dari salah satu lipatannya, terselip foto kecil yang warnanya sudah pudar.
Foto kelulusan Nisa.
Nisa mengambilnya dengan tangan gemetar.
Di belakang foto tertulis sesuatu dengan tinta biru.
Anakku cantik sekali hari ini.
Hanya itu.
Tidak ada tanggal.
Tidak ada kalimat panjang.
Nisa menatap tulisan tersebut cukup lama.
Lalu, tanpa berkata apa-apa, ia memeluk ibunya.
Bu Ratna membeku.
Benar-benar kaku.
Tangannya menggantung di sisi tubuh selama beberapa detik.
Kemudian perlahan…
sangat perlahan…
kedua tangannya memeluk kembali putrinya.
Tangisan mereka memenuhi kamar pengantinku.
Aku memandang Fajar.
Dia mengusap matanya cepat-cepat lalu pura-pura melihat ke arah lain.
Dimas tidak berpura-pura.
Dia sudah menangis sambil mengelap hidung dengan ujung kaus.
Aku?
Aku duduk di samping ranjang sambil berpikir bahwa tidak satu pun dari semua skenario malam pertama yang pernah kubayangkan melibatkan reuni keluarga di samping koper pengantin.
Aneh.
Berantakan.
Tapi mungkin begitulah keluarga sebenarnya.
Tidak pernah serapi foto pernikahan.
Beberapa menit kemudian Bu Ratna melepaskan pelukannya.
“Sudah makan?”
Pertanyaan khas seorang ibu.
Nisa tertawa di tengah tangis.
“Belum.”
“Kenapa nggak bilang?”
“Kan Ibu nyuruh aku pulang.”
Bu Ratna mencubit lengannya pelan.
“Mulutmu dari dulu.”
Nisa tertawa lagi.
Dan ketegangan yang selama belasan tahun mengeras seperti batu tiba-tiba retak oleh sesuatu sesederhana itu.
Makan.
Kami akhirnya keluar dari kamar hampir pukul satu dini hari.
Di dapur masih ada banyak makanan sisa resepsi.
Bu Ratna memanaskan opor ayam.
Dimas mengambil nasi.
Fajar membuat teh hangat.
Aku duduk bersama Nisa di meja makan.
“Maaf ya, Mbak.”
“Untuk apa?”
“Bikin malam pertama Mbak kacau.”
Aku menatapnya beberapa detik.
Kemudian tertawa.
“Yang penting lain kali kalau mau kasih hadiah, ketuk pintu.”
Nisa tertawa sampai hampir tersedak.
Fajar yang sedang menuangkan teh ikut tertawa.
Bahkan Bu Ratna akhirnya tersenyum.
Tapi ketika semuanya mulai terasa ringan, aku teringat sesuatu.
Aku menatap Fajar.
“Mas.”
“Hm?”
“Kita belum selesai.”
Senyumnya langsung hilang.
Dimas berbisik kepada Nisa, “Nah, ini baru serem.”
Aku mendengarnya.
“Dimas.”
“Iya, Mbak. Saya diam.”
Fajar duduk di depanku.
“Aku minta maaf.”
“Kenapa kamu nggak pernah cerita?”
“Aku malu.”
“Karena keluargamu punya masalah?”
Dia mengangguk.
Aku menggeleng.
“Semua keluarga punya masalah.”
Fajar diam.
“Aku marah bukan karena keluargamu nggak sempurna. Aku marah karena kamu memutuskan sendiri bahwa aku tidak cukup pantas dipercaya untuk tahu.”
Kalimat itu membuatnya menatapku lama.
“Aku salah.”
“Jangan ulangi.”
“Nggak.”
“Kalau ada masalah, bilang.”
“Iya.”
“Kalau punya utang, bilang.”
“Iya.”
“Kalau kehilangan kerja, bilang.”
“Iya.”
“Kalau ada perempuan lain di bawah ranjang…”
Dimas langsung tertawa keras.
Bu Ratna memukul lengannya dengan serbet.
Aku sendiri akhirnya tidak mampu menahan tawa.
Fajar menutup wajah.
“Yang itu seumur hidup cukup sekali.”
Malam itu kami tidak kembali ke kamar sampai hampir pukul tiga pagi.
Nisa tidur bersama Bu Ratna.
Untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun.
Aku tidak tahu apa yang mereka bicarakan malam itu.
Mungkin banyak.
Mungkin tidak banyak.
Kadang hubungan yang retak tidak perlu diperbaiki dengan pidato panjang. Ada orang yang hanya perlu tahu bahwa pintunya belum benar-benar ditutup.
Keesokan paginya aku terbangun pukul sembilan.
Fajar masih tidur di sebelahku.
Sinar matahari masuk melalui celah tirai.
Aku menatap wajahnya.
Masih kesal?
Sedikit.
Tapi ketika mengingat ekspresinya saat aku menemukan Nisa, aku hampir tertawa.
Tiba-tiba dia membuka mata.
“Kamu lihat aku kenapa?”
“Memastikan nggak ada rahasia lagi.”
“Tidak ada.”
Aku menunjuk ke bawah ranjang.
“Coba cek dulu.”
Dia mengerang.
“Alya…”
Aku tertawa.
Kemudian terdengar ketukan.
Kali ini benar-benar ketukan.
“Mas Fajar! Mbak Alya!”
Suara Nisa.
“Ayo sarapan!”
Aku dan Fajar saling memandang.
Dia tersenyum.
“Aneh ya.”
“Apa?”
“Sudah lama aku nggak dengar suara dia dari dalam rumah ini.”
Aku menggenggam tangannya.
“Nanti bakal terbiasa.”
Dan ternyata benar.
Nisa tidak langsung pindah kembali.
Tidak ada keajaiban seperti itu.
Ia tetap bekerja di Solo selama beberapa bulan. Sesekali pulang ke Yogyakarta pada akhir pekan.
Awalnya suasana dengan Bu Ratna masih kikuk.
Mereka kadang bertengkar.
Tentang hal kecil pula.
Nisa suka meninggalkan gelas di kamar.
Bu Ratna terlalu sering bertanya kapan dia pulang.
Pernah suatu malam Nisa kesal dan berkata, “Aku sudah dewasa, Bu!”
Bu Ratna menjawab, “Dewasa apanya, handuk saja ditaruh di kasur!”
Pintu dibanting.
Sepuluh menit kemudian Bu Ratna mengupas mangga dan meletakkannya di depan kamar Nisa.
Begitulah mereka berdamai.
Tidak dramatis.
Tidak ada musik.
Hanya sepiring mangga.
Aku justru menyukai bagian itu.
Karena terasa nyata.
Enam bulan setelah pernikahan kami, Nisa mendapatkan pekerjaan di sebuah toko roti yang lebih besar di Yogyakarta.
Ia pulang.
Benar-benar pulang.
Bu Ratna membersihkan kamar lamanya selama dua hari meskipun terus berkata, “Biasa saja, bukan acara besar.”
Padahal dia membeli seprai baru.
Dimas membocorkannya kepadaku.
Aku tidak bilang kepada siapa-siapa.
Setahun kemudian, keluarga kami kembali berkumpul untuk sebuah acara sederhana.
Bukan pernikahan.
Bukan pesta mewah.
Hari itu Nisa membuka toko rotinya sendiri.
Kecil.
Hanya dua etalase kaca, empat meja, dan papan kayu sederhana di depan.
Modalnya berasal dari tabungannya, sedikit bantuan Fajar, dan uang yang selama bertahun-tahun ternyata diam-diam disimpan Bu Ratna untuknya.
Saat pintu toko dibuka pertama kali, Nisa menyerahkan roti pertama kepada ibunya.
Bu Ratna menerima roti itu sambil menangis.
“Kenapa nangis lagi sih, Bu?”
“Siapa yang nangis? Kena asap.”
“Di sini nggak ada asap.”
“Ya sudah, jangan cerewet.”
Kami semua tertawa.
Aku berdiri di sebelah Fajar.
Tangannya menggenggam tanganku.
Lalu Nisa menghampiriku.
“Mbak.”
“Apa?”
“Masih ingat malam pertama?”
Aku langsung menunjuknya.
“Jangan mulai.”
Dia tertawa.
“Aku cuma mau bilang sesuatu.”
“Apa?”
“Terima kasih karena waktu itu Mbak nggak langsung mengusir aku.”
Aku terdiam.
“Kalau Mbak langsung pergi malam itu, mungkin semuanya nggak akan seperti sekarang.”
Aku menatap Bu Ratna yang sedang sibuk mengatur kotak roti.
Dimas sedang mengambil foto.
Fajar membantu seorang pelanggan.
Aku menggeleng pelan.
“Bukan aku yang memperbaiki keluarga kalian.”
“Terus siapa?”
“Kalian sendiri.”
Nisa tersenyum.
Lalu memelukku.
Beberapa tahun berlalu.
Rumah lama itu masih berdiri.
Lemari kayunya masih sama.
Meja rias oval masih ada.
Tapi ranjang pengantin kami sudah diganti.
Bukan karena rusak.
Aku yang memaksa.
Suatu malam Fajar bertanya kenapa.
Aku menjawab, “Aku nggak mau bangun tengah malam terus ingat ada dua mata dari bawah ranjang.”
Dia tertawa sampai perutnya sakit.
Sekarang setiap kali ada anggota keluarga baru mendengar cerita tentang malam pertama kami, versinya semakin lama semakin berlebihan.
Menurut Dimas, aku waktu itu menjerit sampai tetangga tiga gang datang.
Bohong.
Menurut Nisa, aku hampir memukulnya dengan sandal.
Juga bohong.
Menurut Bu Ratna, malam itu adalah malam ketika keluarganya kembali lengkap.
Nah.
Yang terakhir mungkin benar.
Karena dari semua hadiah pernikahan yang kuterima—peralatan makan, amplop uang, seprai, panci, sampai rice cooker—hadiah yang paling kuingat justru amplop kusut berisi tabungan seorang adik perempuan yang bersembunyi di bawah ranjang.
Amplop itu masih kami simpan.
Fajar tidak pernah memakai uangnya.
Beberapa tahun kemudian, ketika Nisa menikah, dia memasukkan amplop yang sama ke dalam kotak hadiah untuk adiknya.
Nisa membukanya di depan kami.
Begitu melihat amplop tua itu, dia langsung tahu.
“Mas…”
Fajar tersenyum.
“Dulu kamu bilang itu hadiah pernikahanku.”
Nisa mengangguk dengan mata berkaca-kaca.
“Sekarang aku balikin. Buat pernikahanmu.”
Nisa memeluk kakaknya.
Aku berdiri di samping mereka sambil menahan tangis.
Bu Ratna gagal menahan tangis sejak lima menit sebelumnya.
Dimas?
Tentu saja sibuk merekam semuanya sambil mengejek orang lain yang menangis, padahal matanya sendiri merah.
Malam itu, sebelum Nisa pergi bersama suaminya, aku mendekatinya.
“Sa.”
“Hm?”
Aku memasang wajah serius.
“Ada satu nasihat penting buat malam pertama.”
Dia langsung curiga.
“Apa?”
“Cek bawah ranjang.”
Nisa terdiam satu detik.
Lalu tertawa keras.
Fajar yang mendengar dari belakang ikut tertawa.
Bu Ratna memarahi kami karena dianggap tidak bisa serius di hari pernikahan.
Dan di tengah suara tawa itu, aku tiba-tiba teringat diriku bertahun-tahun sebelumnya.
Alya yang berusia dua puluh empat tahun.
Pengantin baru yang berjongkok dengan tangan gemetar, mengangkat ujung seprai dan mengira hidupnya baru saja berubah menjadi mimpi buruk.
Aku tidak tahu saat itu bahwa sepasang mata di bawah ranjang bukanlah awal kehancuran rumah tanggaku.
Justru sebaliknya.
Malam itu menjadi awal dari sebuah keluarga yang akhirnya belajar berhenti menyimpan orang-orang yang mereka sayangi di balik rasa malu, salah paham, dan diam terlalu lama.
Fajar masih bukan suami sempurna.
Aku juga bukan istri sempurna.
Kami pernah bertengkar soal uang, pekerjaan, keluarga, cucian yang menumpuk, bahkan soal siapa yang lupa membeli gas.
Bu Ratna dan Nisa juga masih sesekali berselisih.
Dimas tetap menyebalkan.
Tidak ada yang berubah menjadi manusia tanpa kekurangan hanya karena satu malam penuh tangisan.
Tapi sekarang, kalau ada masalah, kami bicara.
Kadang terlambat.
Kadang sambil marah.
Kadang setelah pintu dibanting.
Yang penting tidak ada lagi yang bersembunyi.
Terutama di bawah ranjang.
Dan setiap kali Fajar mematikan lampu sebelum tidur, dia masih suka bercanda,
“Sudah dicek bawah ranjang?”
Biasanya aku melempar bantal ke arahnya.
Lalu dia tertawa.
Aku ikut tertawa.
Karena sekarang aku tahu sesuatu yang dulu tidak kupahami.
Malam pertama pernikahan kami memang tidak romantis.
Tidak seperti film.
Tidak seperti cerita yang dibayangkan orang.
Tapi kalau diberi kesempatan mengulang waktu…
aku tidak ingin menggantinya.
Sebab dari suara kecil—
gesek…
gesek…
dan sepasang mata yang membuatku menjerit setengah mati malam itu, aku menemukan sesuatu yang jauh lebih besar daripada rahasia.
Aku menemukan keluarga.
Bukan keluarga yang sempurna.
Tapi keluarga yang akhirnya memilih untuk pulang.
