Putraku mengenakan biaya sewa 13 juta rupiah per bulan kepadaku, sementara ibu mertuanya tinggal bersama mereka sepenuhnya gratis. Ketika dia mencoba menaikkan uang sewaku menjadi 17 juta rupiah, akhirnya aku bertanya mengapa ibunya tidak perlu membayar sedikit pun. “Ibuku adalah keluarga,” bentak istrinya. “Lalu aku ini siapa?” tanyaku. Putraku hanya mengangkat bahu. “Kalau kamu tidak suka aturan rumah ini, cari tempat tinggal lain.” Jadi aku melakukannya—dan tepat saat dia melihat kamar kosongku, dia benar-benar kehilangan kendali.
Namaku Eleanor. Setelah suamiku, William, meninggal dunia, aku benar-benar sendirian di apartemen yang sudah kami tempati bersama selama delapan belas tahun.
Sebenarnya aku masih mampu untuk tetap tinggal di sana, tetapi rasa kehilangan yang begitu berat membuat setiap sudut rumah terasa kosong. Putraku, Tyler, memanfaatkan kelemahanku itu untuk meyakinkanku agar pindah ke rumah besar yang dia tinggali bersama istrinya, Jessica, di Austin, Texas.
“Kamu benar-benar tidak seharusnya sendirian sekarang,” katanya. “Tinggal saja bersama kami sampai kamu merasa lebih baik.”
Kebetulan juga bisnis lanskap milik Tyler baru saja kehilangan dua klien besar, sementara renovasi dapur Jessica jauh melebihi anggaran. Setelah aku menjual apartemenku, aku memberikan Tyler uang sebesar sekitar 300 juta rupiah untuk membantu mereka menghadapi apa yang dia sebut sebagai “masalah arus kas sementara”.
Dia memelukku erat, dengan mata berkaca-kaca. “Aku bersumpah tidak akan pernah melupakan kebaikan Ibu.”
Yang tidak dia ketahui adalah bahwa William dan aku telah menghabiskan hampir empat dekade untuk menabung dan berinvestasi dengan sangat disiplin. Dari hasil penjualan apartemen, polis asuransi jiwa William, dan tabungan pensiun yang sudah kami maksimalkan, kondisi keuanganku sebenarnya sangat aman. Aku menyimpan jumlah pastinya untuk diriku sendiri karena Tyler sudah mulai bertanya-tanya soal uang bahkan sebelum bunga pemakaman mengering.
Aku pindah ke kamar tamu kecil di lantai atas rumah mereka. Selama tiga bulan pertama, semuanya benar-benar terasa damai. Aku memasak makan malam, mengisi kulkas dengan bahan makanan, mengajak anjing golden retriever tua mereka berjalan-jalan, menerima paket, dan tetap berada di rumah ketika para pekerja kontraktor membutuhkan akses ke rumah.
Lalu ibu Jessica, Barbara, pindah masuk.
Barbara berusia enam puluh dua tahun, sehat sepenuhnya, dan baru saja menjual rumahnya dengan keuntungan yang sangat besar. Dia langsung diberikan kamar khusus untuk orang tua di lantai bawah, dengan ukuran dua kali lebih luas dari kamarku, lengkap dengan kamar mandi pribadi, lemari pakaian besar, serta pintu Prancis yang langsung menghadap ke area kolam renang.
Dia juga diberikan tempat parkir terbaik di garasi karena dia sangat tidak suka masuk ke mobil yang panas saat musim panas di Texas. Sementara itu, aku harus memarkir mobil di pinggir jalan.
Barbara dengan cepat mengambil setengah ruang dapur penyimpanan untuk makanan organik mahal miliknya, mengatur ulang seluruh furnitur ruang keluarga, dan mengganti beberapa foto keluarga yang dipajang dengan lukisan cat air buatannya sendiri. Jessica memenuhi semua keinginan ibunya seolah-olah itu adalah keadaan darurat besar.
Ketika Barbara mengeluh kasurnya terlalu keras, tempat tidur busa memori baru langsung datang dalam waktu kurang dari dua hari. Ketika dia mengeluh air kolam terlalu dingin, Tyler menaikkan suhu pemanas kolam. Ketika dia meminta ikan salmon liar segar untuk makan malam, aku diharapkan pergi membelinya dan memasaknya sesuai seleranya.
Saat itulah Tyler mulai mengenakan biaya sewa kepadaku.
“Semua orang harus ikut berkontribusi,” katanya santai sambil meletakkan sebuah perjanjian sewa tulisan tangan di atas meja dapur. “Aku dan Jess merasa 13 juta rupiah per bulan itu sudah sangat adil.”
“Aku sudah membayar sebagian besar kebutuhan makanan,” kataku. “Dan kami sangat menghargai itu.”
“Aku juga memasak, merawat anjing kalian, dan mengurus rumah saat kalian berdua bekerja.”
“Itu hal yang berbeda.”
Aku melihat keluar jendela dapur dan melihat Barbara sedang bersantai di kursi dekat kolam renang.
“Berapa sebenarnya uang sewa yang dia bayar?” tanyaku.
Jessica langsung terlihat tersinggung.
“Uang ibuku sedang terikat dalam investasi jangka panjang.”
Barbara mendapatkan keuntungan lebih dari 6 miliar rupiah dari penjualan rumahnya. Uangnya tidak terkunci atau tidak bisa digunakan; dia hanya tidak mau mengeluarkannya.
Dengan berat hati, aku setuju untuk membayar.
Aku mencoba meyakinkan diriku bahwa 13 juta rupiah masih lebih murah daripada harus menyewa apartemen baru di sekitar sana. Tetapi setelah menghitung biaya belanja makanan, makanan anjing, perlengkapan kebersihan rumah, dan semua perjalanan untuk mengurus berbagai keperluan mereka, kontribusi keuanganku yang sebenarnya hampir mencapai 25 juta rupiah per bulan—dan itu belum termasuk semua pekerjaan rumah tangga yang kulakukan tanpa bayaran.
Semakin banyak yang kuberikan kepada mereka, semakin aku merasa tidak diterima di rumah itu.
Jessica mulai menyebut ruang keluarga sebagai “tempat pribadi kami”. Barbara sering memberikan komentar sinis tentang aroma lotion tubuhku. Tyler terlihat sangat kesal jika aku berani mengundang teman datang minum kopi tanpa memberinya pemberitahuan tujuh puluh dua jam sebelumnya.
Pada suatu Selasa sore, aku naik ke lantai atas dan menemukan tumpukan besar kotak kardus memenuhi kamar kecilku.
“Ibuku butuh ruang penyimpanan tambahan,” jelas Jessica dengan santai. “Kamu bisa saja menaruh kotak-kotak itu di samping lemari pakaianmu.”
Kotak-kotak itu benar-benar menutupi setengah cahaya alami dari satu-satunya jendela di kamarku.
Malam itu juga, aku mengambil ponselku dan menelepon penasihat keuanganku, Diane.
“Aku sudah siap membeli rumah baru.”
Diane tertawa pendek di ujung telepon, suara serak khas perokok lamanya langsung memecah keheningan kamarku yang pengap oleh bau kardus lembap.
“Astaga, Eleanor. Akhirnya otakmu jalan lagi,” katanya tanpa basa-basi. “Dari awal kubilang jangan jual apartemen itu. William pasti geleng-geleng kepala di atas sana melihatmu jadi pembantu tanpa gaji di rumah anakmu sendiri.”
“Cari yang punya pekarangan kecil, Di,” potongku, mengabaikan ceramahnya. Tanganku memegang bingkai foto kecil mendiang suamiku yang kuselipkan di antara dua tumpukan kardus berisi pakaian musim dingin milik Barbara. “Aku ingin menanam mawar kuning lagi. Tanpa ada yang mengeluh baunya mengganggu alergi palsu siapa pun.”
“Anggaran?”
“Terserah. Asal tunai, prosesnya cepat, dan akta kepemilikannya bersih. Besok pagi aku mau melihat daftarnya.”
Malam itu, aku tidur miring karena sisa ruang di ranjangku terhimpit oleh tiga kotak kardus besar bertuliskan Perlengkapan Ski Barbara – Aspen 2018. Kaki kananku pegal bekas mengepel lantai lorong bawah yang dikotori sepatu bot berlumpur milik Tyler sehabis meninjau proyek tamannya yang terbengkalai.
Hari Rabu siang, sebuah rumah bergaya craftsman berlantai satu di daerah Round Rock menarik perhatianku. Tiga puluh menit berkendara ke utara dari sarang Jessica. Jauh dari kebisingan kota, pagarnya kayu putih tua yang butuh sedikit cat baru, tapi pondasinya batu kapur padat. Ada beranda luas menghadap pohon ek besar yang menaungi halaman depan. Begitu aku melangkah ke ruang tengahnya yang berlantai kayu cemara asli, aku mencium bau adas manis dan udara bersih—bukan aroma pemutih pakaian dan kepalsuan.
“Pemilik lamanya pindah ke panti wreda di San Antonio,” bisik agen properti yang dibawa Diane. “Mereka minta penutupan transaksi cepat. Tiga miliar dua ratus juta rupiah, perabot dapurnya ditinggal semua.”
“Kutransfer penuh lusa,” jawabku tanpa menawar seratus perak pun. “Tapi kuncinya harus sudah di tanganku hari Jumat jam delapan pagi.”
Hari Kamis malam menjadi puncaknya.
Aku baru saja selesai memanggang sepotong daging kalkun—yang kubeli dari uang sakuku sendiri—ketika Tyler masuk ke dapur dengan laptop menyala di tangannya. Dia tidak menatapku. Matanya tertuju pada lembar kerja Excel yang penuh warna merah di layarnya.
“Bu,” katanya sambil meletakkan laptop itu di samping wastafel yang baru saja kugosok hingga mengilap. “Bulan depan biaya sewa naik.”
Aku mematikan kompor. Mengeringkan tanganku dengan serbet kain linen tua peninggalan ibuku. “Naik berapa?”
“Tujuh belas juta,” jawabnya enteng, seolah baru saja memberitahuku bahwa cuaca besok akan berawan. “Pajak properti naik, dan pemanas kolam renang memakan daya listrik gila-gilaan bulan ini. Jessica bilang kita harus menutupi kekurangannya.”
Aku berbalik perlahan, menatap wajah anak lelakiku. Hidungnya persis hidung William. Tapi matanya… mata itu dingin, penuh perhitungan dagang yang buruk, persis mata para penagih utang yang dulu mengejar pamannya saat aku masih muda.
“Tyler, bulan lalu aku membayar tiga belas juta. Aku juga belanja sayur mingguan hampir lima juta, dan aku yang membayar obat tetes telinga untuk anjingmu kemarin sore.”
“Itu kontribusi sukarela, Bu. Jangan dicampuradukkan,” tukasnya cepat, mulai terdengar defensif. “Lagipula, kamar atas itu memakan AC lebih banyak karena posisinya pas di bawah atap.”
Tepat saat itu, pintu geser kaca dari arah kolam renang terbuka. Barbara melangkah masuk membawa mangkuk kristal berisi sisa salad alpukat. Handuk mandi mewahnya yang berwarna toska tersampir di bahu. Dia meletakkan mangkuk kotor itu begitu saja di dalam wastafel bersihku, meninggalkan noda saus minyak zaitun di logam antikarat yang baru kusikat.
“Tyler, Sayang,” rengek Barbara dengan nada manja yang dibuat-buat. “Air kolamnya turun dua derajat sore ini. Kakiku kram waktu latihan peregangan tadi.”
“Iya, Ma, nanti Tyler atur lagi termostatnya,” jawab Tyler dengan senyum manis yang tak pernah kulihat lagi dia berikan kepadaku sejak William dimakamkan.
Darahku mendidih di balik kerongkongan. Rasa perih yang selama ini kutekan di dada tiba-tiba lenyap, berganti menjadi sebuah garis batas yang sangat jelas.
“Barbara bayar berapa bulan ini, Tyler?” tanyaku, suaraku rendah tapi mengisi setiap celah dapur yang hening.
Jessica yang baru turun tangga dengan setelan yoga mahal langsung memotong dari ambang pintu. “Apa-apaan sih, Eleanor? Kenapa kamu selalu mengungkit soal ibuku?”
“Aku bertanya pada anakku,” jawabku tanpa menoleh ke arahnya. “Berapa sewa yang dibayar ibumu untuk kamar utama di bawah, garasi tertutup, dan air kolam yang suhunya harus selalu hangat itu?”
“Ibuku adalah keluarga!” bentak Jessica, melangkah maju dengan wajah merah padam, jari telunjuknya yang dipasangi kuku akrilik berkilat menunjuk ke arah hidungku. “Dia tinggal di sini untuk menemani kami! Dia sudah mengorbankan rumahnya sendiri demi bisa dekat dengan cucunya nanti!”
“Lalu aku ini siapa?” tanyaku pada Tyler. “Aku ini siapa di rumah ini?”
Tyler menatapku sekilas, lalu matanya meluncur ke lantai marmer. Bahunya naik-turun, sebuah gerakan mengangkat bahu yang paling malas dan paling pengecut yang pernah kulihat dari seorang pria dewasa.
“Kalau Ibu tidak suka aturan rumah ini, cari tempat tinggal lain,” gumamnya pelan. “Kami tidak memaksa Ibu di sini. Tapi di luar sana, Ibu tidak akan dapat kamar dengan fasilitas seperti ini seharga tujuh belas juta.”
Jessica tersenyum puas di belakang punggung Tyler. Barbara pura-pura sibuk memeriksa kuku jarinya di dekat kulkas, mendengus pelan seolah sedang menyaksikan serangga mengganggu makan malam mereka.
Aku menarik napas panjang. Anehnya, dadaku tidak lagi sesak. Rasa hampa yang menindihku sejak kepergian William mendadak menguap, tergantikan oleh ketenangan yang dingin dan tajam seperti mata pisau bedah.
“Baik,” kataku pelan. “Aku mengerti.”
Malam itu, mereka bertiga pergi makan malam di sebuah restoran steik mewah di pusat kota Austin. Merayakan apa yang Jessica sebut sebagai “penyesuaian anggaran keluarga yang sehat”. Mereka bahkan tidak repot-repot bertanya apakah aku mau dibawakan sisa makanan.
Pukul delapan lewat lima belas, sebuah truk pindahan tanpa logo berhenti di depan halaman rumah. Dua keponakan laki-laki Diane yang bertubuh kekar seperti pemain rugbi masuk lewat pintu belakang yang sengaja kubuka kuncinya.
Kami tidak banyak bicara. Aku sudah mengepak pakaianku ke dalam dua koper jinjing sejak sore kemarin. Barang-barang lain yang kuangkut bukan barang baru; itu adalah perabot asli milik William yang dulu sempat kubawa dari apartemen lama: kursi baca kulit tua suamiku yang dulu disingkirkan Jessica ke sudut garasi berdebu, satu set peralatan perak peninggalan nenek buyutku yang disimpan di kolong meja setrika, serta empat lukisan cat minyak lanskap pegunungan Colorado yang dulu dilukis William saat kami berbulan madu.
Satu hal lagi yang kubawa: anjing golden retriever mereka, Buster.
Anjing tua berumur sebelas tahun itu duduk di lantai dapur, menatapku dengan mata keruhnya yang berair. Di lehernya masih tergantung tali kekang usang. Jessica sudah berniat membawanya ke tempat penampungan minggu depan karena Barbara mengeluh bulu emas Buster mengotori kursi rotan di teras kolam renang, sementara biaya perawatan artritis anjing itu dianggap “beban yang tidak perlu”.
“Ayo, Nak,” bisikku sambil mengelus kepalanya. Ekor Buster mengibuk pelan di lantai ubin, menyapu debu. Dia melangkah masuk ke kabin depan truk pindahan dengan patuh, duduk di samping keponakan Diane seolah tahu dia sedang diselamatkan dari eksekusi.
Sebelum keluar dan menutup pintu untuk selamanya, aku naik sebentar ke kamar kecil di lantai atas.
Tumpukan kardus milik Barbara masih ada di sana, menghalangi jendela. Aku mengambil spidol permanen hitam dari saku jaketku, membuka tutupnya, lalu menulis huruf-huruf besar di permukaan kardus teratas yang menghadap langsung ke arah pintu masuk kamar:
UANG SEWA BULAN INI: LUNAS DENGAN 300 JUTA YANG DULU KUPINJAMKAN. SELAMAT MENIKMATI ANGSURAN RUMAH KALIAN.
Kutinggalkan kunci duplikat pintu depan di atas meja rias, tepat di sebelah selembar kertas pembatalan polis asuransi tambahan yang dulu sempat kudukung atas nama bisnis pertamanan Tyler.
Pukul sepuluh malam, rumah itu kosong dari jejak keberadaanku.
Jumat pagi di Round Rock berjalan dengan sangat lambat dan damai.
Aku duduk di beranda depan rumah baruku dengan secangkir teh panas campur madu. Buster tergeletak nyaman di bawah kakiku, mendengkur halus diterpa semilir angin musim gugur yang sejuk. Aroma cat baru bercampur bau tanah basah dari halaman depan yang baru kusiram membuat paru-paruku terasa lapang.
Pukul sepuluh lewat empat belas menit, telepon genggamku mulai bergetar di atas meja kayu kecil.
Nama Tyler berkedip-kedip di layar.
Kubiarkan berdering sampai mati sendiri.
Satu menit kemudian, panggilan masuk lagi. Kali ini diiringi rentetan pesan singkat yang masuk seperti rentetan senapan mesin.
Ibu di mana?! Kamar Ibu kosong! Kenapa baju-baju Ibu tidak ada?! Buster hilang! Ibu bawa kabur anjing kami?! Tolong angkat, Bu! Jessica panik, kami ada masalah besar dengan bank!
Aku menyeruput tehku perlahan. Menatap daun-daun pohon ek yang mulai menguning di kejauhan. Lalu, pada dering kelima, aku menggeser tombol hijau ke kanan dan menyalakan pelantang suara.
“Halo, Tyler.”
Suara di seberang sana bukan sekadar panik; itu adalah suara seorang pria yang baru saja melihat tanah pijakannya runtuh ke dalam jurang.
“Ibu di mana?! Apa maksud coretan di kardus Mama Barbara?! Ibu pikir ini lelucon?!” teriaknya histeris, napasnya tersengal-sengal sampai terdengar suara retakan mikrofon ponselnya. “Bank baru saja meneleponku! Rekening cadangan proyek yang biasa Ibu jamin danai ternyata dibekukan karena Ibu menarik nama Ibu dari surat jaminan penjaminan! Cek untuk kontraktor taman kota senilai empat ratus juta akan cair jam dua belas siang ini, Bu! Kalau dananya tidak ada, aku bisa dituntut penipuan!”
“Bukannya kamu bilang aku penyewa yang tidak tahu diri, Tyler?” tanyaku tenang. Nada bicaraku sama tenangnya dengan deru angin di atap rumahku. “Kamu bilang aku harus cari tempat tinggal lain kalau tidak suka aturanmu. Sekarang aku sudah pindah. Bukankah itu yang kamu dan Jessica inginkan?”
“Tapi tidak begini caranya!” raungnya, dan dari kejauhan terdengar suara Jessica yang sedang berteriak-teriak histeris di latar belakang, memaki seseorang di telepon lain. “Kami butuh uang sewa tujuh belas juta itu untuk bayar cicilan mobil Jess bulan ini! Dan uang jaminan bank itu… Ibu kan sudah janji waktu Ayah meninggal kalau Ibu akan selalu mendukung bisnisku!”
“Ayahmu membiayai kuliahmu sampai tuntas, Tyler,” potongku, kali ini suaraku sedikit mengeras, memotong kepanikannya seperti gunting memotong benang basah. “Dia menjual motor kesayangannya saat kamu butuh uang semester pendek. Dia menjual tanah warisan ibunya untuk membantumu membeli rumah besar yang sekarang kamu tinggali bersama mertuamu itu. Tapi kamu… kamu menagih uang sewa dari ibumu sendiri yang sudah memberimu tiga ratus juta saat bisnismu sekarat.”
“Ibu kan punya uang banyak!” bentak Tyler putus asa. “Ibu kira aku tidak tahu soal tabungan pensiun Ayah?! Ibu egois! Ibu membiarkan anak kandung Ibu sendiri bangkrut demi gengsi!”
“Uang itu milik William dan hasil keringatku selama empat puluh tahun mengajar di sekolah negeri,” jawabku dingin. “Bukan milikmu. Bukan milik Jessica. Dan jelas bukan untuk membiayai air kolam renang hangat untuk Barbara.”
“Bu, tolonglah…” Nada suaranya mendadak runtuh menjadi rengekan mengiba, persis saat dia berumur delapan tahun dan memohon agar tidak dihukum setelah memecahkan kaca jendela tetangga. “Tolong transfer dua ratus juta saja dulu. Demi nama baik keluarga kita. Jess mengancam akan membawa ibunya pulang ke California kalau rumah ini disita bank. Bisnisku bisa gulung tikar sore ini juga kalau cek itu mental…”
“Minta pada Barbara,” kataku santai. “Bukankah dia baru saja mengantongi enam miliar dari penjualan rumahnya? Dia keluarga, kan? Jessica sendiri yang bilang semalam: ‘Ibuku adalah keluarga.’ Sekarang giliran keluargamu yang membantumu.”
“Ibu tahu sendiri Mama Barbara tidak mau mencairkan depositonya—”
“Kalau begitu, nikmati saja rumah besarmu itu selagi masih bisa, Nak,” potongku sebelum dia sempat menyelesaikan kalimatnya. “Mulai hari ini, nomor ini hanya menerima pesan tertulis terkait urusan hukum. Jangan cari aku lagi.”
“BU! TUNGGU, BU! ELEANOR—”
Kumatikan sambungan teleponnya.
Lalu kubuka pengaturan kontak, memindahkan nomor Tyler, Jessica, dan Barbara ke daftar blokir permanen. Layar ponselku kembali gelap, memantulkan bayangan langit biru yang bersih di atas kepalaku.
Buster mendongakkan moncongnya, mengendus jemari tanganku. Aku membungkuk, menggaruk bagian belakang telinganya yang lembut.
“Kita aman sekarang, Nak,” bisikku padanya.
Dua minggu kemudian, Diane datang berkunjung membawa sekotak pai apel hangat dari toko roti lokal dan segepok dokumen legal yang sudah selesai diproses.
Kami duduk di meja makan kayu baruku yang sederhana. Sinar matahari pagi menerobos masuk lewat jendela kaca berbingkai kayu jati, menyinari lantai bersih tanpa ada tumpukan kardus barang rongsokan orang lain di sudut ruangan.
“Kabar dari pengadilan distrik,” kata Diane sambil meletakkan selembar salinan berkas resmi di samping cangkir kopinya. “Rumah Tyler resmi masuk daftar lelang sita jaminan dua hari yang lalu. Bank tidak memberi toleransi lagi setelah dua cek perusahaannya ditolak berturut-turut.”
Aku mengunyah sepotong pai apelku perlahan. Rasanya manis, dengan sedikit rasa kayu manis yang pas di lidah. “Lalu bagaimana nasib mereka?”
Diane mendengus sinis. “Jessica menggugat cerai minggu lalu. Ternyata begitu tahu Tyler benar-benar tidak punya sepeser pun uang cadangan dan rumah itu bakal disita, Barbara langsung memesan dua tiket pesawat kelas bisnis kembali ke San Diego. Mereka berdua pergi membawa semua perabot yang bisa diangkut dengan truk ekspres, meninggalkan Tyler sendirian di rumah kosong yang listriknya sudah diputus.”
Aku terdiam sejenak. Ada sedikit rasa ngilu yang melintas di ulu hatiku—naluri purba seorang ibu yang pernah melahirkan dan menyusui bayi merah di malam-malam dingin musim dingin puluhan tahun silam. Tapi rasa ngilu itu segera reda, digantikan oleh kesadaran pahit bahwa benih yang ditabur Tyler sendiri yang kini sedang dituainya.
“Apakah dia masih mencoba menghubungimu?” tanyaku pelan.
“Kemarin dia datang ke kantorku,” jawab Diane, menatapku lurus-lurus dengan mata cokelatnya yang tajam. “Kusut, bau keringat, matanya merah. Dia memohon-mohon alamat rumah barumu. Dia bilang dia cuma mau minta maaf dan ingin tinggal bersamamu sebentar sampai dia dapat pekerjaan baru sebagai buruh harian di perkebunan orang.”
“Lalu apa yang kamu katakan padanya?”
Diane tersenyum tipis, senyuman seorang pengacara tua yang sudah terlalu sering melihat manusia saling memangsa atas nama uang warisan. “Kukatakan padanya: ‘Eleanor sudah menemukan tempat tinggal lain yang aturannya lebih cocok untuknya. Dan di rumah itu, kamu bukan lagi bagian dari anggaran.’“
Aku mengangguk pelan. Menghela napas panjang dan melepaskannya perlahan ke udara pagi yang hangat.
“Terima kasih, Diane.”
“Jangan berterima kasih padaku. Berterima kasihlah pada suamimu yang dulu bersikeras memasukkan klausul kepemilikan mutlak di semua rekening investasimu,” sahut Diane sambil meneguk kopinya. “William selalu tahu anakmu itu punya kelemahan fatal: dia terlalu suka dipuji orang lain sampai lupa siapa yang membangun jembatan tempat dia berpijak.”
Sore harinya, setelah Diane pamit pulang, aku mengenakan sarung tangan berkebun dari kulit tebal dan mengambil sekop kecil dari gudang belakang.
Di sudut halaman yang paling banyak terkena siraman cahaya matahari sore, aku mulai menggali tanah hitam yang gembur. Buster berbaring santai di dekat tumpukan pupuk kandang, sesekali mendengus pelan mengamati cacing tanah yang menggeliat keluar dari liang tanah yang kubuka.
Kutanam bibit mawar kuning pertama yang kubeli dari pembibitan lokal kemarin sore. Menimbun akarnya dengan hati-hati, memadatkan tanah di sekeliling batangnya dengan kedua tanganku sendiri, lalu menyiramnya dengan air dingin dari selang kebun.
Air meresap cepat ke dalam bumi yang haus, meninggalkan aroma tanah basah yang menenangkan jiwa.
Untuk pertama kalinya dalam bertahun-tahun, aku tidak perlu terburu-buru mencuci tangan untuk menyiapkan makan malam orang lain. Tidak ada yang akan mengeluh jika aku membiarkan piring makanku tergeletak di wastafel sampai besok pagi. Tidak ada yang akan menilai harga diriku berdasarkan berapa banyak uang tunai yang bisa kuperas dari tabungan pensiunku untuk membiayai gaya hidup palsu mereka.
Aku melepaskan sarung tanganku, duduk di anak tangga beranda kayu sambil menikmati sisa hangatnya matahari Texas yang mulai condong ke ufuk barat.
Langit di atas Round Rock perlahan berubah warna menjadi jingga keemasan yang megah. Buster bangkit, melangkah gontai menghampiriku, lalu menyandarkan moncong besarnya yang beruban di atas pangkuanku.
Kuelus bulunya yang tebal, merasakan detak jantungnya yang tenang dan stabil di bawah telapak tanganku.
“Kita sudah sampai di rumah, Buster,” bisikku ke arah angin sore yang berhembus lembut menggoyangkan pucuk-pucuk pohon ek. “Kita sudah benar-benar pulang.”
