“Om, roti di tanah itu buat aku ya? Kata ibu, aku harus cari makan sendiri, aku lapar, ibu lagi sibuk di dalam rumah sama paman.”//

“Om, roti di tanah itu buat aku ya? Kata ibu, aku harus cari makan sendiri, aku lapar, ibu lagi sibuk di dalam rumah sama paman.”

Suaraku tertahan di tenggorokan. Koper berisi oleh-oleh dari luar negeri terlepas begitu saja dari genggamanku.

“Sayang, ini Ayah, Nak. Bukan Om,” suaraku bergetar saat berjongkok, menepis roti berdebu dari tangan kecilnya yang gemetar. “Dan kenapa kamu di luar rumah siang terik begini? Uang yang Ayah kirim setiap bulan ke ibumu ke mana?”

Anak laki-lakiku yang baru berusia lima tahun itu menatapku takut-takut. “Ayah? Tapi kata Ibu, Ayah sudah lupa sama kita. Makanya Ibu bawa Paman Dion ke rumah buat jagain Ibu, soalnya Paman Dion baik, sering belikan Ibu tas baru.”

Darahku berdesir hebat.

“Astaga, Mas Arkan?!” Suara Bi Narti, tetangga sebelah, membuatku menoleh. “Mas kapan pulangnya? Kok nggak ngabari Kiara?”

“Bi, tolong jelaskan padaku. Paman Dion ini siapa? Kenapa anakku kelaparan dan dikunci di luar?” cecarku tanpa basa-basi, masih mendekap erat tubuh kurus anakku.

Bi Narti gelagapan, matanya melirik cemas ke arah rumahku yang pagarnya tertutup rapat. “Aduh, Mas, bukan bermaksud ikut campur ya. Tapi warga sini sudah sering kasak-kusuk. Istrimu itu sering banget bawa laki-laki ke rumah kalau siang bolong begini. Bilangnya sih teman kerja, tapi masa teman kerja sampai berjam-jam di dalam dan anaknya dibiarkan mengais makanan di jalanan?”

Rahangku mengeras. Bertahun-tahun aku memeras keringat di negara orang, menahan rindu, hidup sehemat mungkin agar bisa mentransfer puluhan juta setiap bulan. Dan ini balasan Kiara?

“Bibi tolong bawa anak saya ke warung depan, belikan makanan yang layak. Saya ada urusan yang harus diselesaikan di dalam,” desisku sambil menyerahkan beberapa lembar uang ratusan ribu.

“Eh Mas, jangan emosi dulu.”

Aku tak memedulikan cegahan Bi Narti. Langkahku berderap menuju pintu samping yang tersembunyi. Kiara tidak tahu kalau aku diam-diam membawa duplikat kuncinya.

Saat pintu terbuka tanpa suara, sayup-sayup kudengar gelak tawa dari arah ruang keluarga.

“Uang dari Arkan bulan ini cair lagi kan, Ra? Mobilku udah waktunya ganti velg nih.” Suara pria asing terdengar begitu santai.

“Tenang aja. Suamiku yang gampang dibodohi itu percaya aja waktu kubilang anak kita butuh biaya tambahan buat les dan rumah sakit. Padahal kan uangnya buat modal kafe kamu dan tiket liburan kita ke Bali besok.” Tawa Kiara mengudara, renyah dan tanpa dosa.

Tanganku mengepal kuat. Tanpa ragu, aku melangkah lebar menuju ruang keluarga. Dua manusia yang sedang duduk santai di sofa milikku itu seketika mematung. Wajah Kiara pias seketika, pucat pasi seolah aliran darahnya ditarik paksa.

“M-Mas Arkan?! Sejak kapan kamu di situ?!” Kiara gelagapan, buru-buru berdiri dengan tubuh gemetar.

“Sejak aku menyadari bahwa uang keringatku bertahun-tahun ternyata lebih berharga dipakai untuk membiayai benalu tak tahu malu di dalam rumahku sendiri. Silakan lanjutkan rencana liburan kalian besok, Kiara, tapi cari sponsor lain. Karena detik ini juga, kamu aku ceraikan dan kalian berdua harus angkat kaki dari rumahku sekarang juga!”

 

Bagian 2: Rahasia yang Terkubur

Kiara terpaku di tempatnya. Bibirnya yang biasanya lancar merangkai kata-kata manis kini kelu. Pria di sampingnya—Dion, dengan kemeja mahal yang jelas bukan hasil kerja kerasnya sendiri—berdiri dengan gugup, mencoba memasang wajah tidak bersalah.

“Mas, kamu salah paham. Ini… ini bukan seperti yang kamu dengar,” Kiara melangkah mendekat, tangannya terulur mencoba menyentuh lenganku.

Aku mundur selangkah. “Jangan sentuh aku.”

“Arkan, dengar dulu—”

“Aku sudah dengar cukup banyak, Dion. Atau siapa pun namamu. Kau duduk di sofa yang kubeli dengan uang hasil kerjaku di Arab Saudi. Kau minum kopi dari cangkir yang dibeli istriku—istriku—dengan uangku. Dan kau berencana pergi ke Bali dengan uang yang seharusnya untuk anakku.”

Dion menelan ludah. “Arkan, semuanya bisa dijelaskan. Kiara dan aku—”

“Aku tidak peduli apa pun hubungan kalian. Yang aku pedulikan adalah anakku. Anak lima tahun yang kalian kunci di luar rumah sementara kalian berpesta di dalam.”

Kiara akhirnya menemukan suaranya. “Aku tidak menguncinya! Dia keluar sendiri!”

“Keluar sendiri? Dengan pintu terkunci dari luar? Kau pikir aku bodoh?” Suaraku meninggi. “Bertahun-tahun aku percaya padamu, Kiara. Aku bekerja seperti budak di negeri orang, tidak pernah mengeluh, tidak pernah menuntut. Aku hanya ingin keluarga kecilku bahagia.”

Air mata mulai mengalir di pipi Kiara. Tapi aku tahu itu bukan air mata penyesalan—itu air mata ketakutan. Takut kehilangan sumber penghasilannya.

“Mas, aku bisa jelaskan. Dion ini hanya teman kerja. Kami sedang merencanakan bisnis bersama—”

“Bisnis kafe, kan? Yang modalnya dari uang les dan rumah sakit anakku?” Aku tertawa pahit. “Kau benar-benar mengira aku bodoh, ya?”

Dion mencoba mengambil alih situasi. “Arkan, oke, aku akui. Aku dan Kiara memang dekat. Tapi bukan seperti yang kau pikir. Aku—”

“Kau punya tiga detik untuk keluar dari rumahku sebelum aku menelepon polisi.”

“Arkan—”

“Satu.”

“Oke, oke!” Dion mengangkat tangan, mengambil jaketnya dari sofa. “Aku pergi. Tapi ini belum selesai, Arkan. Kau tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi.”

“Aku tahu cukup. Keluar.”

Dion melangkah cepat menuju pintu, tapi sebelum keluar, dia menoleh ke arah Kiara. Ada sesuatu dalam tatapan itu—sesuatu yang membuat perutku makin panas. Isyarat rahasia. Sebuah janji bahwa ini belum berakhir.

Pintu berdebam. Kiara dan aku kini berdua di ruang tamu yang tiba-tiba terasa terlalu besar.

“Duduk,” perintahku.

Kiara menurut. Tubuhnya gemetar, tangannya menggenggam erat ujung kausnya.

“Sekarang jelaskan. Dari awal. Dan jangan sekali-kali berbohong.”

Kiara menarik napas panjang. “Dion… Dion itu bukan sekadar teman kerja, Mas.”

“Aku sudah tahu.”

“Dia… dia adalah ayah kandung Raka.”

Duniaku berhenti berputar.

“APA?!”

Kiara menunduk, air matanya jatuh ke pangkuan. “Sebelum kita menikah, aku… aku pernah bersama Dion. Kami putus karena dia tidak mau bertanggung jawab. Lalu aku bertemu kamu. Kamu baik, kamu mau menerimaku. Aku pikir aku bisa melupakan Dion dan memulai hidup baru.”

“Raka… Raka bukan anakku?”

“Raka adalah anakmu, Mas. Secara hukum. Kamu yang menandatangani akta kelahiran. Kamu yang membesarkannya—”

“Aku yang membesarkannya dari jauh, maksudmu! Sementara kau di sini bercinta dengan ayah kandungnya!”

“Tidak! Aku bersumpah, aku tidak berselingkuh. Dion baru kembali enam bulan lalu. Dia datang mengaku sudah berubah, sudah mapan, ingin bertanggung jawab. Aku… aku panik, Mas. Aku takut kehilangan kamu, takut Raka tahu kebenaran.”

“Jadi kau memberinya akses ke rumahku? Ke anakku? Kau biarkan dia berperan sebagai ‘Paman’ yang baik sementara aku bekerja mati-matian di sana?”

“Uangnya, Mas. Dion punya uang. Dia membantuku—”

“Uang apa?! Aku mengirim puluhan juta setiap bulan! Apa kurang?!”

Kiara menangis tersedu-sedu. “Kamu tidak mengerti. Kamu jauh. Kamu tidak pernah ada. Aku kesepian, Mas. Dion… Dion hadir. Dia mengisi kekosongan itu.”

“Kesepian?” Aku tertawa pahit. “Aku juga kesepian, Kiara. Aku juga rindu. Tapi aku tidak pernah sekalipun berpikir untuk mengkhianatimu. Aku menahan diri karena aku punya komitmen. Karena aku mencintaimu.”

“Mas, aku—”

“Apakah kalian… apakah kalian tidur bersama?”

Keheningan. Itu jawabannya.

“Astaga.” Aku mundur, menyandarkan tubuh ke dinding. “Aku… aku tidak percaya.”

“Mas, itu kesalahan. Aku menyesal—”

“Kau menyesal karena ketahuan. Bukan karena melakukannya.” Aku menatapnya dengan mata yang mungkin belum pernah ia lihat sebelumnya. “Kau tahu apa yang paling menyakitkan? Bukan perselingkuhanmu. Tapi fakta bahwa anakku—anak yang kupanggil anakku selama lima tahun—kelaparan di luar rumah sementara kau bersenang-senang dengan kekasihmu.”

“Mas, aku minta maaf—”

“Maaf tidak cukup, Kiara. Maaf tidak akan mengembalikan waktu yang hilang. Maaf tidak akan membuat Raka kenyang.”

Aku berjalan menuju pintu. “Aku akan mengambil Raka. Besok pagi, kau dan barang-barangmu harus sudah keluar dari rumah ini.”

“Mas, tunggu! Kau tidak bisa—”

“Aku bisa. Rumah ini atas namaku. Semua yang ada di dalamnya kubeli dengan uangku. Kau tidak punya hak apa pun di sini.”

“Tapi Raka—”

“Raka tinggal denganku. Dia anakku, secara hukum seperti yang kau bilang sendiri.”

“Kau tidak bisa memisahkanku dari anakku!”

“Kau yang memisahkan diri sendiri, Kiara. Kau memilih Dion. Kau memilih bersenang-senang. Kau memilih membiarkan anakmu kelaparan. Sekarang kau harus menanggung konsekuensinya.”

Aku keluar dari rumah, meninggalkan Kiara yang terisak di sofa. Di luar, Bi Narti sedang menyuapi Raka dengan mie goreng di warungnya. Anak itu tersenyum kecil saat melihatku.

“Ayah!”

Hatiku hancur dan sembuh dalam waktu yang sama.

Bagian 3: Kebenaran yang Terungkap

Tiga hari berlalu. Kiara pergi dengan koper dan air mata, tapi aku tidak terenyuh. Aku sudah menyewa pengacara, mengurus perceraian, dan yang paling penting—aku sudah memulai hidup baru bersama Raka.

Namun, ada sesuatu yang mengganggu pikiranku. Kata-kata Dion sebelum pergi: “Kau tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi.”

Apa maksudnya?

Malam keempat, saat Raka sudah tertidur, aku membuka laptop dan mulai menyelidiki. Kiara meninggalkan beberapa dokumen di lemari arsip—mungkin sengaja atau karena terburu-buru. Di antaranya, aku menemukan sesuatu yang membuat darahku berdesir.

Sebuah akta kelahiran. Bukan Raka—tapi anak lain. Seorang bayi perempuan yang lahir dua tahun lalu. Nama ibunya: Kiara. Nama ayahnya: Dion Pratama.

“Astaga.”

Aku terus membaca. Ada surat dari rumah sakit, tagihan, dan yang paling mengejutkan—sebuah akta kematian. Bayi itu meninggal saat lahir.

Tanganku gemetar. Jadi bukan hanya perselingkuhan. Kiara dan Dion punya anak bersama. Anak yang meninggal. Dan aku tidak tahu apa-apa.

Tapi tunggu. Kalau bayi itu lahir dua tahun lalu, berarti Kiara hamil saat aku masih di sini? Atau… saat aku sudah pergi?

Aku menghitung bulan. Aku pergi ke Arab Saudi tiga tahun lalu. Bayi itu lahir dua tahun lalu. Berarti Kiara hamil setahun setelah aku pergi.

Dia hamil anak Dion saat aku bekerja mati-matian untuknya.

Rasa mual naik ke tenggorokanku. Aku menutup laptop, mencoba menenangkan diri. Tapi ada satu pertanyaan yang terus menghantui: kalau Dion benar-benar mencintai Kiara, kenapa dia tidak menikahinya? Kenapa dia membiarkan Kiara menikah denganku?

Jawabannya datang keesokan harinya, dalam bentuk yang tidak pernah kuduga.

Pagi itu, aku sedang mengantar Raka ke taman bermain ketika ponselku berdering. Nomor tak dikenal.

“Arkan?”

Suara itu… Dion.

“Kau berani meneleponku?”

“Dengar dulu. Aku tahu kau menemukan akta itu.”

“Kau mengawasi rumahku?”

“Tidak. Kiara yang memberitahuku. Dia panik, takut kau akan menggunakannya untuk merebut Raka sepenuhnya.”

“Apa urusannya denganmu? Kau bukan ayah Raka.”

Keheningan sejenak. Lalu Dion berkata dengan suara pelan, “Itu yang ingin kubicarakan. Arkan, ada sesuatu yang harus kau tahu. Tentang Raka.”

“Jangan main-main denganku.”

“Aku tidak main-main. Kau tahu kenapa Kiara menikahimu?”

“Karena kau meninggalkannya.”

“Bukan. Aku tidak meninggalkannya. Aku… aku dipenjara.”

“APA?”

“Tiga tahun lalu, aku dipenjara karena kasus penipuan. Kiara hamil di luar nikah, dan aku tidak bisa menikahinya. Orang tuanya mengusirnya. Dia putus asa. Lalu kau datang—pria baik yang mau menerima segalanya. Kau adalah penyelamatnya.”

“Aku tidak percaya.”

“Kau tidak perlu percaya. Tapi ada lagi. Arkan… Raka bukan anakku.”

“Hah?”

“Aku pikir dia anakku. Tapi setelah aku keluar penjara dan bertemu Kiara, dia mengaku. Raka bukan anakku. Dan juga bukan anakmu.”

Darahku berhenti mengalir. “Apa maksudmu?”

“Kiara… dia tidak pernah hamil saat bersamaku. Dia… dia membeli Raka.”

“APA?!”

“Raka adalah anak dari seseorang yang tidak menginginkannya. Kiara membelinya. Dia membayar seorang wanita untuk mendapatkan bayi itu, lalu mengakuinya sebagai anaknya—dan anakmu—karena dia tahu kau ingin punya anak.”

Duniaku hancur untuk kedua kalinya.

“Kau bohong.”

“Aku tidak bohong. Kiara menyimpan semua dokumennya. Cek di kotak besi di lemari pakaiannya. Ada surat perjanjian, rekaman transfer, semuanya.”

Aku menutup telepon. Tanganku gemetar hebat. Raka—anak yang kucintai seperti darah dagingku sendiri—bukan anakku. Bukan anak Kiara. Dia… dia adalah anak yang dibeli.

Aku menatap Raka yang sedang bermain ayunan, tertawa riang tanpa dosa. Anak itu tidak tahu apa-apa. Dia hanya tahu bahwa aku adalah ayahnya, dan itu cukup untuknya.

Tapi apakah cukup untukku?

Malam itu, aku menemukan kotak besi yang dimaksud Dion. Di dalamnya, tersimpan rapi dokumen-dokumen yang mengungkap kebenaran: surat perjanjian antara Kiara dan seorang wanita bernama Sari, rekaman transfer senilai lima puluh juta, dan foto seorang bayi yang baru lahir—Raka.

Ada juga surat tulisan tangan dari Sari:

“Bu Kiara, saya titipkan anak saya pada Ibu. Saya tidak bisa mengasuhnya. Suami saya meninggalkan saya saat tahu saya hamil. Saya tidak punya pekerjaan, tidak punya keluarga. Uang ini akan saya gunakan untuk memulai hidup baru. Tolong jaga anak saya baik-baik. Beri dia nama yang indah. Dan tolong… jangan pernah beri tahu dia tentang saya. Biarkan dia tumbuh dengan keyakinan bahwa Ibu dan Bapaknya mencintainya.”

Air mata mengalir di pipiku. Jadi ini kebenarannya. Raka adalah anak yang dibuang, diselamatkan oleh kebohongan, dan kini terjebak dalam kehancuran rumah tangga kami.

Aku menatap Raka yang sedang tidur di kamarnya. Wajahnya damai, polos, tanpa beban.

“Ayah akan melindungimu, Nak,” bisikku. “Apapun yang terjadi.”

Keesokan harinya, aku menghubungi pengacara dan mengubah strategi. Aku tidak hanya akan menceraikan Kiara—aku akan memperjuangkan hak asuh Raka sepenuhnya. Tapi ada satu masalah: secara hukum, Kiara adalah ibunya. Dan aku… aku bukan siapa-siapa.

“Kita punya satu keuntungan,” kata pengacaraku, Bu Ratna. “Kiara membeli anak secara ilegal. Itu tindak pidana. Kita bisa mengancamnya dengan laporan polisi jika dia tidak menyerahkan hak asuh.”

“Tapi Raka? Dia akan tahu kebenarannya suatu hari.”

“Itu keputusan Anda, Pak Arkan. Tapi yang jelas, anak itu tidak bisa tinggal dengan Kiara. Dia tidak layak.”

Aku setuju.

Pertemuan dengan Kiara berlangsung di kantor pengacara. Wajahnya kuyu, jauh berbeda dari wanita yang tiga hari lalu tertawa renyah di sofa rumahku.

“Mas, aku minta maaf. Sungguh. Aku salah. Tapi Raka—”

“Raka bukan anakmu, Kiara. Kau membelinya.”

Kiara terpaku. “Kau… kau tahu?”

“Aku tahu semuanya. Tentang Sari, tentang uang lima puluh juta, tentang kebohongan yang kau bangun selama lima tahun.”

Kiara menangis. “Aku melakukannya karena aku mencintaimu, Mas. Aku tahu kau ingin punya anak. Aku tidak bisa memberimu anak. Jadi aku—”

“Kau membeli bayi? Kau pikir itu solusi? Kau pikir aku akan bahagia membesarkan anak hasil transaksi ilegal?”

“Aku tidak tahu harus bagaimana! Kau pergi jauh, aku sendirian—”

“Itu tidak menghalalkan apa pun, Kiara. Kau berbohong padaku. Kau mengkhianatiku. Kau menelantarkan anak yang kau beli sendiri. Kau tidak punya hak untuk disebut ibu.”

Kiara menunduk, air matanya membasahi meja. “Jadi apa sekarang?”

“Kau menyerahkan hak asuh Raka sepenuhnya padaku. Kau pergi dari hidup kami. Dan kau tidak akan pernah menghubungi Raka lagi.”

“Tapi aku mencintainya, Mas. Dia anakku—”

“Dia bukan anakmu. Dia anak Sari. Dan kau… kau hanya penjaga yang gagal.”

Kiara terisak. “Kau kejam.”

“Aku kejam? Kau biarkan anak itu kelaparan di jalanan sementara kau bersenang-senang dengan Dion. Kau pikir siapa yang kejam di sini?”

Keheningan panjang. Akhirnya, Kiara mengangguk. “Baik. Aku akan menyerahkan hak asuh. Tapi ada satu syarat.”

“Apa?”

“Aku ingin bertemu Raka satu kali lagi. Untuk pamit.”

Aku berpikir sejenak. “Baik. Besok. Di taman. Aku akan mengawasi.”

Pertemuan itu menghancurkan hatiku. Raka berlari ke arah Kiara dengan senyum lebar, memeluknya erat. Kiara menangis, memeluk anak itu seolah tidak ingin melepaskannya.

“Ibu akan pergi jauh, Sayang,” kata Kiara, suaranya serak. “Tapi Ibu selalu mencintaimu.”

“Kenapa Ibu pergi? Raka tidak mau Ibu pergi.”

“Karena Ibu harus memperbaiki kesalahan Ibu. Tapi Ayah akan menjagamu. Ayah baik, kan?”

“Iya. Ayah beliin Raka banyak makanan.”

Kiara tersenyum pahit. “Bagus. Ibu… Ibu minta maaf, Raka. Untuk semuanya.”

Aku menonton dari kejauhan, hatiku terasa diiris-iris. Apapun kesalahan Kiara, dia tetap wanita yang pernah kucintai. Dan Raka—anak yang tidak memiliki hubungan darah dengan kami—tetap anak yang kami besarkan bersama.

Setelah Kiara pergi, Raka menatapku dengan mata polosnya.

“Ayah, Ibu kenapa nangis?”

“Ibu sedang sedih, Nak. Tapi tidak apa-apa. Ayah ada di sini.”

“Raka boleh minta es krim?”

Aku tertawa kecil. “Boleh. Ayo kita beli es krim.”

Epilog: Dua Tahun Kemudian

Aku dan Raka kini tinggal di kota kecil dekat pantai. Aku membuka usaha restoran kecil yang cukup untuk menghidupi kami berdua. Raka tumbuh menjadi anak yang ceria, meskipun kadang dia bertanya tentang ibunya.

“Ibu ada di mana, Yah?”

“Ibu sedang bekerja jauh, Nak. Dia sayang kamu.”

“Kenapa Ibu tidak pernah telepon?”

“Karena Ibu sibuk. Tapi dia selalu mendoakan kamu.”

Itu bukan kebohongan sepenuhnya. Kiara memang mengirim surat setiap bulan—tanpa alamat pengirim. Dia menanyakan perkembangan Raka, mengirim foto-foto, dan selalu menulis: “Tolong jangan beri tahu dia tentangku. Biarkan dia mengingatku sebagai ibu yang baik.”

Aku tidak pernah membalas. Tapi aku menyimpan semua surat itu di kotak besi—kotak yang sama yang dulu menyimpan rahasia kelam kami.

Suatu hari, seorang wanita datang ke restoranku. Usianya sekitar tiga puluhan, wajahnya lelah, matanya sembab.

“Pak Arkan?”

“Iya, ada apa?”

“Nama saya Sari. Saya… saya ibu kandung Raka.”

Duniaku berhenti lagi.

“Apa?”

Sari menangis. “Saya tahu saya tidak punya hak. Tapi saya… saya ingin melihatnya sekali saja. Dari jauh. Saya tidak akan mengganggu.”

Aku terdiam. Di belakang, Raka sedang bermain dengan anak-anak tetangga, tertawa riang.

“Kenapa sekarang?”

“Saya menyesal, Pak. Saya menyesal menjual anak saya. Setiap hari saya menangis. Suami saya sudah kembali, kami sudah punya anak lagi. Tapi Raka… Raka tidak pernah bisa saya lupakan.”

Aku menatap Sari. Wanita ini—wanita yang membuang anaknya karena putus asa—kini berdiri di hadapanku dengan penyesalan yang mungkin tulus.

“Raka tidak tahu tentang Anda. Dan saya ingin tetap begitu.”

“Saya mengerti. Saya hanya ingin melihatnya sebentar. Tolong.”

Aku menghela napas. “Baik. Tapi setelah ini, Anda tidak boleh datang lagi.”

Sari mengangguk. Aku mengantarnya ke jendela yang menghadap ke taman. Di sana, Raka sedang bermain bola dengan riang.

Sari menutup mulutnya, air matanya mengalir deras.

“Dia… dia besar sekali,” bisiknya.

“Iya. Dia anak yang baik.”

“Terima kasih, Pak. Terima kasih sudah menjaga anak saya.”

Aku tidak menjawab. Sari berdiri di sana selama beberapa menit, menatap anaknya yang tidak pernah dia kenal. Lalu dia menoleh padaku.

“Saya akan pergi sekarang. Saya tidak akan kembali.”

“Baik.”

Sari melangkah pergi. Tapi sebelum keluar, dia menoleh sekali lagi.

“Pak… tolong bahagiakan dia. Dia berhak bahagia.”

“Aku akan melakukannya.”

Sari tersenyum pahit, lalu pergi.

Aku berdiri di ambang pintu, menatap Raka yang kini berlari ke arahku.

“Ayah! Ayo main bola!”

“Sebentar, Sayang.”

“Ayah kenapa? Kenapa mata Ayah merah?”

“Tidak apa-apa. Ayah cuma… alergi.”

Raka tertawa. “Ayah aneh! Ayo main!”

Aku tersenyum dan mengikuti anak itu ke taman. Anak yang bukan darah dagingku, tapi telah menjadi segalanya bagiku. Anak yang lahir dari kebohongan, tapi tumbuh dalam cinta. Anak yang membuatku belajar bahwa keluarga bukan tentang ikatan darah—tentang siapa yang tinggal, yang berjuang, dan yang tidak pernah menyerah.

Raka melempar bola ke arahku. Aku menangkapnya dengan tawa.

Di ufuk barat, matahari mulai terbenam, mewarnai langit dengan jingga keemasan. Dan di taman kecil itu, di kota yang jauh dari hiruk-pikuk masa lalu, aku menemukan kedamaian yang selama ini kucari.

TAMAT

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *