Part : 2 Aku datang ke Bandung untuk memberi kejutan ulang tahun ke-78 kepada Papa. Tapi belum satu jam berada di rumah, Papa menggenggam tanganku sambil gemetar dan berbisik, “Nadira… Arga yang melakukan ini. Tolong jangan bilang dia kalau Papa sudah cerita.”

Aku datang ke Bandung untuk memberi kejutan ulang tahun ke-78 kepada Papa. Tapi belum satu jam berada di rumah, Papa menggenggam tanganku sambil gemetar dan berbisik, “Nadira… Arga yang melakukan ini. Tolong jangan bilang dia kalau Papa sudah cerita.”

Aku tidak langsung menghadapi kakakku.

Aku justru mengambil ponsel.

Karena Arga sama sekali tidak tahu pekerjaan apa yang sebenarnya kulakukan selama bertahun-tahun di Jakarta.

Saat tiba sore itu, istri Arga, Mira, sudah terlihat tidak senang.

“Harusnya kamu kabari dulu,” katanya sambil membuka pintu. “Papa sekarang sering bingung.”

Aneh.

Tiga bulan lalu Papa masih meneleponku hampir setiap malam dan hafal jadwal kerjaku lebih baik daripada aku sendiri.

Lebih aneh lagi, rumah terasa sunyi meskipun hari masih terang. Tirai ruang keluarga tertutup, dan Papa mengenakan jaket tebal sampai ke leher.

Ketika kupeluk, tubuhnya langsung menegang.

Arga kemudian mengajakku duduk di meja makan.

Di sana sudah ada tumpukan kuitansi obat, tagihan listrik, biaya kontrol, serta beberapa dokumen bank.

“Aku dan Mira yang mengurus semuanya,” katanya. “Kamu di Jakarta sibuk dengan kariermu. Jangan datang sekali lalu merasa paling peduli.”

Mira menambahkan, “Biaya Papa juga tidak sedikit.”

Aku tidak membantah.

Justru aku tersenyum.

“Kalau begitu selama aku di sini, biar aku bantu.”

Wajah Arga langsung lebih santai.

Dan itulah kesalahannya.

Di antara tumpukan kertas itu, aku melihat sesuatu yang jauh lebih penting daripada kuitansi: beberapa dokumen menunjukkan Arga perlahan memperoleh akses lebih besar terhadap rekening Papa.

Aku pura-pura tidak memperhatikan.

Malamnya Papa meminta naik ke kamar. Aku menawarkan bantuan dan membawanya ke kamar mandi, lalu mengunci pintu.

Begitu kami sendirian, Papa langsung mencengkeram pergelangan tanganku.

“Nadira, jangan tanya apa-apa di depan mereka.”

Aku menyalakan shower agar suara kami tidak terdengar dari luar.

“Papa takut pada siapa?”

Papa menunduk.

Perlahan kubuka jaketnya.

Aku membeku.

Ada beberapa memar yang selama ini disembunyikannya di balik pakaian tebal. Pergelangan tangannya juga menunjukkan bekas tekanan.

“Siapa yang melakukan ini?”

Papa lama tidak menjawab.

Lalu akhirnya berkata sangat pelan.

“Arga.”

Papa bercerita bahwa beberapa bulan terakhir ada transaksi yang tidak dikenalnya. Saat ia mulai mempertanyakan uangnya, Arga dan Mira terus membawa dokumen untuk ditandatangani.

Ketika Papa menolak, mereka mulai mengatakan bahwa ingatannya sudah buruk.

“Mereka bilang kalau Papa terus melawan, mereka akan membuktikan Papa sudah tidak mampu mengurus diri dan keuangan sendiri.”

Dadaku terasa panas.

Aku ingin turun saat itu juga.

Tetapi Papa menahanku.

“Jangan. Kalau Arga tahu Papa cerita, dia akan melakukan sesuatu.”

Aku akhirnya mengerti.

Kalau kubuka semuanya malam itu, Arga punya waktu untuk memindahkan uang, menghapus percakapan, atau menyembunyikan dokumen.

Jadi aku membantu Papa memakai kembali jaketnya.

Aku turun dengan wajah setenang mungkin.

Arga sedang duduk di sofa.

“Papa kenapa?” tanyanya.

“Cuma capek.”

Dia percaya.

Padahal beberapa menit sebelumnya aku sudah memotret hal-hal yang bisa kudokumentasikan dengan aman dan mengingat tanggal serta nama yang kulihat pada berkas di meja.

Aku kemudian membuka satu kontak lama di ponsel.

Arga mengira adiknya hanya perempuan yang terlalu sibuk bekerja di Jakarta.

Dia tidak tahu pekerjaanku selama bertahun-tahun berkaitan dengan pemeriksaan transaksi dan jejak dokumen keuangan.

Aku mengetik:

“Tolong bantu amankan jejak transaksi sebelum orang yang terlibat sadar sedang diperiksa.”

Balasannya datang kurang dari semenit kemudian.

Namun sebelum sempat kubuka, terdengar langkah kaki berhenti tepat di belakangku.

Lalu suara Arga terdengar sangat dekat.

“Nadira… kamu sedang kirim pesan ke siapa?”

Aku menatap layar ponsel.

Pesan baru itu hanya menampilkan satu kalimat pertama—dan nama sebuah rekening yang tidak pernah disebut Papa.

“Nadira… kamu sedang kirim pesan ke siapa?”

Suara Arga terdengar tepat di belakangku.

Jantungku seperti berhenti satu detik.

Aku segera mematikan layar ponsel, lalu berbalik sambil memasang wajah setenang mungkin.

“Teman kantor.”

Arga berdiri hanya dua langkah dariku. Tatapannya turun ke ponsel di tanganku.

“Jam segini?”

Aku mengangkat bahu.

“Jakarta tidak pernah benar-benar tidur, Kak.”

Dia tidak tertawa.

Sebaliknya, dia mengulurkan tangan.

“Coba lihat.”

Aku menatap tangannya.

“Lihat apa?”

“Ponselmu.”

Ruangan mendadak terasa terlalu sunyi.

Dari lantai atas terdengar suara televisi kecil di kamar Papa. Mira sedang berada di dapur. Aku bisa mendengar bunyi piring beradu.

Arga masih menunggu.

Dulu, ketika kami kecil, dia selalu seperti itu. Kalau menginginkan sesuatu, dia tidak perlu berteriak. Dia hanya menatap sampai orang lain merasa bersalah karena menolak.

Tapi aku bukan Nadira yang berumur lima belas tahun lagi.

Aku tersenyum kecil.

“Kak, aku sudah tiga puluh enam tahun. Kamu serius mau memeriksa HP-ku?”

Wajahnya berubah.

Hanya sedikit.

Tapi cukup.

“Aku cuma khawatir kamu salah paham tentang kondisi Papa.”

“Memangnya ada apa yang bisa disalahpahami?”

Pertanyaanku membuatnya diam.

Lalu Mira keluar dari dapur.

“Sudahlah, Mas. Nadira baru datang.”

Arga akhirnya menurunkan tangannya.

Aku berjalan menuju kamar tamu tanpa terburu-buru.

Begitu pintu terkunci, aku membuka ponsel.

Pesan tadi berasal dari Rendi, mantan rekan satu timku di perusahaan konsultan tempat aku bekerja menangani audit internal dan penelusuran transaksi mencurigakan.

Pesannya singkat.

“Ada pola aneh. Jangan buka mobile banking Papa dari jaringan Wi-Fi rumah itu. Hubungi aku kalau aman.”

Aku membaca kalimat itu tiga kali.

Kemudian muncul pesan kedua.

“Satu nama muncul berulang kali: PT Sagara Karya Mandiri. Kamu kenal?”

Tidak.

Aku sama sekali tidak pernah mendengarnya.

Aku mengetik:

“Belum. Cari hubungan dengan Arga. Jangan lakukan apa pun yang bisa memberi notifikasi ke pihak terkait.”

Balasan Rendi datang cepat.

“Oke.”

Aku tidak tidur malam itu.

Sekitar pukul dua dini hari, aku mendengar langkah di lorong.

Langkah itu berhenti di depan kamar Papa.

Aku membuka pintu sedikit.

Arga masuk ke kamar Papa membawa sebuah map biru.

Aku menunggu.

Sepuluh menit.

Dua puluh menit.

Lalu terdengar suara Papa.

“Aku sudah bilang tidak.”

Suara Arga menyusul, rendah tapi tegas.

“Pa, ini cuma untuk mempermudah pengurusan.”

“Aku tidak mau tanda tangan.”

“Jangan keras kepala.”

Aku hampir keluar.

Namun aku teringat pesan Papa.

Jangan sampai Arga tahu.

Jadi aku tetap di balik pintu.

Beberapa menit kemudian Arga keluar membawa map yang sama.

Wajahnya tegang.

Begitu dia turun, aku masuk ke kamar Papa.

Papa belum tidur.

Tangannya gemetar di atas selimut.

“Apa yang dia minta?”

Papa menatap pintu.

“Surat kuasa.”

“Untuk apa?”

Katanya agar dia bisa mengurus penjualan tanah di Lembang.”

Aku terdiam.

“Tanah yang dekat kebun teh?”

Papa mengangguk.

Aku mengenal tanah itu.

Papa membelinya lebih dari dua puluh tahun lalu. Tidak terlalu luas, tapi lokasi di kawasan itu berkembang pesat.

“Papa mau jual?”

“Tidak.”

Jawabannya langsung.

“Arga bilang tanah itu cuma membebani pajak. Tapi dua bulan lalu ada orang datang melihat-lihat tanpa izin Papa.”

Aku merasakan sesuatu mulai tersusun di kepalaku.

Rekening.

Surat kuasa.

Tanah.

Dan perusahaan yang tidak kukenal.

“Papa pernah tanda tangan dokumen soal tanah itu?”

Papa menggeleng.

Kemudian wajahnya berubah.

“Tapi…”

“Tapi apa?”

“Beberapa minggu lalu Mira membawa banyak kertas. Katanya untuk memperbarui data bank. Papa tanda tangan dua lembar sebelum merasa aneh.”

Aku menahan napas.

“Papa ingat bentuknya?”

“Tidak semuanya.”

Lalu Papa mengatakan sesuatu yang membuatku lebih khawatir.

“Setelah itu sertifikat tanah tidak ada di tempat biasa.”

Aku menatapnya.

“Arga tahu tempat Papa menyimpannya?”

“Dia tahu.”

Pagi berikutnya aku berpura-pura tidak terjadi apa-apa.

Mira membuat bubur ayam.

Arga membaca berita di ponselnya.

Papa duduk diam.

Aku sengaja membicarakan hal-hal biasa.

Kemacetan Pasteur.

Cuaca Jakarta.

Harga kopi.

Sampai akhirnya aku berkata santai, “Aku mungkin pulang besok pagi.”

Sendok Arga berhenti.

Mira menoleh.

“Kok cepat?”

“Ada pekerjaan.”

Aku melihat sesuatu yang sangat menarik.

Mereka berdua terlihat lega.

“Ya memang sebaiknya begitu,” kata Arga. “Aku dan Mira bisa menjaga Papa.”

Aku tersenyum.

“Tentu.”

Padahal aku tidak berniat pergi.

Aku hanya ingin mereka percaya bahwa waktu mereka tinggal sedikit.

Dan mereka langsung bergerak.

Siang itu Arga pergi.

Mira mengatakan dia bertemu klien.

Aku mengikuti dari jarak aman menggunakan mobil sewaan.

Arga tidak pergi ke kantor.

Dia menuju sebuah kafe di daerah Dago.

Seorang pria sekitar lima puluh tahun sudah menunggunya.

Mereka duduk di sudut.

Di atas meja ada map biru yang sama seperti yang kulihat malam sebelumnya.

Aku tidak bisa mendengar pembicaraan mereka.

Namun aku melihat pria itu mengeluarkan beberapa lembar dokumen.

Arga menunjuk sesuatu.

Pria itu menggeleng.

Mereka berdebat.

Kemudian Arga mengeluarkan ponsel dan menunjukkan sesuatu.

Pria itu akhirnya memasukkan dokumen kembali ke map.

Aku memotret pertemuan itu dari dalam mobil.

Bukan bukti kejahatan.

Belum.

Tapi cukup untuk mencatat siapa bertemu siapa.

Sore harinya Rendi menelepon.

Aku keluar dari rumah dan berjalan ke minimarket di ujung kompleks sebelum menjawab.

“Nad, aku sudah menemukan PT Sagara Karya Mandiri.”

“Punya siapa?”

“Bukan punya Arga secara langsung.”

“Lalu?”

“Direkturnya seseorang bernama Fajar Pranoto.”

Aku langsung teringat pria di kafe.

“Foto?”

Rendi mengirimkannya.

Orang yang sama.

“Perusahaannya bergerak di bidang apa?”

“Properti dan kontraktor. Tapi itu bukan bagian menariknya.”

Aku berhenti berjalan.

“Terus?”

“Ada transfer Rp480 juta yang masuk ke rekening perusahaan sekitar enam minggu lalu.”

“Dari rekening Papa?”

“Bukan.”

Aku mengerutkan kening.

“Lalu kenapa penting?”

Rendi diam beberapa detik.

“Karena sumber dananya berasal dari rekening yang menerima beberapa transfer dari rekening Papa sebelumnya.”

Dadaku terasa dingin.

“Berapa?”

“Yang bisa kita lihat dari dokumen yang kamu kirim, setidaknya Rp735 juta dalam beberapa tahap.”

Aku bersandar pada dinding minimarket.

“Rendi, kita belum punya akses resmi ke rekening lengkap.”

“Makanya aku bilang jangan simpulkan dulu. Yang kita punya baru potongan dari bukti transfer dan mutasi yang sempat kamu foto.”

Benar.

Aku tidak boleh membiarkan kemarahan mengalahkan fakta.

“Cari pola dari dokumen yang sudah ada saja.”

“Ada satu lagi.”

“Apa?”

“Beberapa transfer menggunakan keterangan biaya perawatan.”

Aku memejamkan mata.

Biaya perawatan Papa.

Itulah alasan Arga menunjukkan semua kuitansi kepadaku.

Bukan sekadar membuatku merasa bersalah.

Dia sedang membangun cerita.

Malamnya aku kembali ke rumah.

Mira sedang berbicara dengan seseorang di teras belakang.

Aku tidak berniat menguping sampai mendengar namaku.

“Nadira pulang besok.”

Aku berhenti.

Mira merendahkan suaranya.

“Ya. Setelah dia pergi, kita selesaikan.”

Aku mendekat sedikit.

“Arga bilang tidak bisa ditunda lagi.”

Hening.

Kemudian Mira berkata:

“Kalau Bapak berubah pikiran lagi bagaimana?”

Aku tidak mendengar jawaban dari telepon.

Mira kemudian berkata, “Makanya surat itu harus selesai sebelum hari Senin.”

Aku kembali ke ruang depan sebelum dia melihatku.

Hari Senin.

Mereka punya tenggat waktu.

Pertanyaannya: untuk apa?

Aku menemui Papa malam itu.

“Papa, ada orang yang mungkin datang beberapa hari lagi. Jangan tanda tangan apa pun.”

Papa menatapku lama.

“Nadira, sebenarnya kamu kerja apa sekarang?”

Aku tersenyum tipis.

“Masih urusan angka.”

“Jangan bohong sama Papa.”

Aku terdiam.

Kemudian aku menjelaskan secukupnya.

Selama beberapa tahun terakhir aku bekerja di bidang audit forensik untuk perusahaan swasta. Tugasku bukan menangkap orang atau bermain menjadi polisi.

Tugasku mencari pola.

Transaksi yang tidak masuk akal.

Dokumen yang tidak cocok.

Aliran dana yang sengaja dibuat rumit.

Papa memegang tanganku.

“Jadi kamu tahu uang Papa ke mana?”

“Belum semuanya.”

Aku tidak mau memberinya harapan palsu.

“Tapi aku tahu ada sesuatu yang sengaja disembunyikan.”

Keesokan paginya aku memasukkan koper ke mobil.

Arga bahkan membantu mengangkatnya.

“Hati-hati di jalan.”

Aku memeluk Papa lama.

Di telinganya aku berbisik:

“Aku tidak pergi jauh.”

Papa tidak bereaksi.

Bagus.

Aku berkendara keluar kompleks, lalu menuju hotel kecil sekitar lima belas menit dari sana.

Dari sanalah aku mulai menunggu.

Pukul 11.23, Rendi mengirim pesan.

“Nad. Ada perkembangan.”

Aku menelepon.

“Apa?”

“Aku menemukan nama perusahaan itu di salah satu dokumen yang kamu foto.”

“Dokumen yang mana?”

“Lembar paling bawah dari tumpukan di meja makan. Kamu memotretnya miring, jadi awalnya aku tidak sadar.”

Aku membuka foto yang dia kirim.

Ada nomor dokumen.

Nama PT Sagara Karya Mandiri.

Dan sebuah uraian mengenai rencana transaksi tanah.

Aku memperbesar gambar.

Alamat objeknya membuat napasku tercekat.

Lembang.

Tanah Papa.

“Jadi Rp480 juta itu uang muka pembelian?”

“Bisa jadi. Tapi jangan simpulkan dulu.”

“Kenapa?”

“Karena ada masalah.”

“Apa?”

“Kalau angka pada dokumen ini benar, nilai transaksi tanahnya bukan Rp480 juta.”

“Berapa?”

“Rp2,8 miliar.”

Aku berdiri dari kursi hotel.

“Tanah Papa mau dijual Rp2,8 miliar?”

“Kelihatannya begitu.”

“Tapi Papa tidak pernah setuju.”

“Itulah masalah pertama.”

“Yang kedua?”

Rendi menarik napas.

“Dokumen ini mencantumkan bahwa pemilik telah memberikan persetujuan awal.”

Aku langsung teringat lembar yang Papa tanda tangani karena Mira mengatakan itu pembaruan data bank.

“Bisa jadi tanda tangannya didapat dari dokumen lain?”

“Aku tidak bisa memastikan dari foto.”

Aku menatap layar.

Lalu Rendi berkata:

“Nadira, ada masalah ketiga.”

“Apa lagi?”

“Nomor rekening untuk menerima pembayaran akhir bukan rekening yang selama ini digunakan Papa.”

Aku tidak menjawab.

“Rekening siapa?”

“Belum tahu.”

Aku kembali ke rumah sore itu.

Bukan lewat pintu depan.

Papa memberiku kunci cadangan pintu samping bertahun-tahun lalu, dan kuncinya belum diganti.

Rumah kosong.

Papa sedang kontrol rutin ditemani Mira.

Arga entah di mana.

Aku tidak membongkar lemari atau mengambil dokumen apa pun.

Aku hanya ingin memastikan satu hal yang Papa katakan.

Tempat penyimpanan sertifikat.

Kosong.

Tetapi di rak paling bawah ada sebuah amplop bank.

Di dalamnya terdapat salinan bukti transfer.

Rp85 juta.

Rp120 juta.

Rp75 juta.

Tujuan berbeda-beda.

Keterangannya hampir selalu sama.

Keperluan Papa.

Perawatan.

Renovasi rumah.

Biaya medis.

Namun satu transaksi membuatku terpaku.

Rp150 juta.

Tujuannya rekening atas nama Mira Anggraini.

Aku memotretnya.

Lalu terdengar suara mobil masuk ke halaman.

Aku memasukkan amplop tepat seperti semula.

Pintu depan terbuka.

Suara Arga.

Aku tidak punya cukup waktu untuk keluar lewat samping tanpa terlihat.

Jadi aku masuk ke kamar Papa.

Langkah kaki mendekat.

Pintu kamar terbuka.

Arga berdiri di sana.

Wajahnya langsung berubah.

“Kamu?”

Aku tersenyum.

“Surprise.”

“Kamu bilang pulang ke Jakarta.”

“Ada dokumen kantor yang tertinggal.”

Dia menatap sekeliling kamar.

“Apa yang kamu cari?”

“Charger.”

“Di kamar Papa?”

Aku mengangkat sebuah kabel dari meja.

“Ketemu.”

Arga tidak bergeser dari pintu.

“Nadira.”

Nada suaranya berbeda sekarang.

Tidak lagi seperti kakak yang sok sabar.

“Berhenti ikut campur.”

Aku menatapnya.

“Dalam apa?”

“Papa sudah tua.”

“Lalu?”

“Dia tidak mengerti lagi apa yang terbaik untuk dirinya.”

Aku hampir tertawa.

“Kamu terdengar sangat yakin.”

“Karena aku yang ada di sini setiap hari!”

Akhirnya suaranya meninggi.

“Aku yang antar dokter. Aku yang bayar ini itu. Aku yang meninggalkan banyak pekerjaan untuk mengurus dia. Kamu datang beberapa bulan sekali lalu mau menilai aku?”

Untuk pertama kalinya, aku melihat sesuatu selain keserakahan di wajahnya.

Kebencian.

Kelelahan.

Dan mungkin rasa bahwa dia pantas mendapat sesuatu sebagai kompensasi.

“Aku tidak pernah bilang merawat Papa itu mudah.”

“Tidak. Kamu cuma pergi.”

Kalimat itu mengenai tempat yang memang menyakitkan.

Karena sebagian benar.

Aku pindah ke Jakarta.

Aku jarang pulang.

Dan Arga memang lebih sering berada di dekat Papa setelah Mama meninggal.

Tetapi tidak ada rasa lelah yang membenarkan mengambil kendali atas hidup orang lain.

“Aku bisa mengganti biaya yang benar-benar kamu keluarkan,” kataku.

Wajah Arga langsung kaku.

“Tapi kalau ada uang Papa yang dipakai tanpa persetujuannya, itu persoalan lain.”

Kami saling menatap.

Lalu Arga berkata pelan:

“Kamu tidak tahu apa-apa.”

“Mungkin.”

Aku berjalan melewatinya.

“Tapi aku cepat belajar.”

Malam itu aku memindahkan Papa sementara ke rumah sepupu kami, Tante Ratih, dengan persetujuannya sendiri. Aku tidak menjelaskan semuanya kepada Arga.

Aku hanya mengatakan Papa ingin beberapa hari berada di tempat lain.

Arga marah.

Mira menangis dan menuduhku memecah keluarga.

Tetapi Papa sendiri yang berkata:

“Aku mau pergi.”

Kalimat sederhana itu mengakhiri perdebatan.

Setidaknya untuk malam tersebut.

Keesokan harinya aku membantu Papa menghubungi bank melalui jalur resmi untuk meninjau keamanan rekeningnya dan menanyakan transaksi yang tidak dikenalnya. Kami juga mulai mengumpulkan dokumen yang memang menjadi hak Papa.

Aku tidak ingin membuat tuduhan tanpa bukti.

Namun satu per satu, potongannya semakin jelas.

Sampai Jumat sore.

Rendi menelepon lagi.

Kali ini suaranya berbeda.

“Nadira, aku pikir kamu perlu duduk.”

“Apa?”

“Aku menemukan alasan tenggat hari Senin.”

Aku menggenggam ponsel lebih erat.

“Transaksi tanah?”

“Ya. Ada jadwal pertemuan terkait pengikatan transaksi.”

“Dengan Fajar?”

“Nama Fajar ada.”

Aku menghela napas.

“Jadi kita sudah tahu.”

“Belum.”

“Belum apa?”

“Ada pihak lain.”

Aku diam.

“Siapa?”

“Orang yang akan menerima bagian terbesar dari pembayaran kalau transaksi itu berlanjut.”

“Arga?”

“Bukan.”

“Mira?”

“Bukan.”

Aku berdiri.

“Kalau begitu siapa?”

Rendi mengirim sebuah foto dokumen.

Aku membukanya.

Di bagian bawah ada nama yang tidak kukenal.

Namun di sebelah nama itu tercantum hubungan dengan keluarga kami.

Aku membaca dua kali.

Lalu tiga kali.

Tanganku mulai dingin.

Karena pada detik itu aku sadar sesuatu.

Arga mungkin memang mengambil uang Papa.

Dia mungkin memang menekan Papa untuk menandatangani dokumen.

Tetapi ada kemungkinan semua itu bukan hanya untuk dirinya sendiri.

Ada seseorang lain di balik transaksi tanah Rp2,8 miliar itu.

Dan yang membuatku benar-benar takut bukanlah nama orang tersebut.

Melainkan satu catatan kecil di sampingnya.

Tanggalnya dua belas tahun lalu.

Tanggal yang sama dengan hari Papa pernah menghilang dari rumah selama hampir seminggu—sebuah kejadian yang tidak pernah mau dibicarakan lagi oleh keluarga kami.

Aku segera menelepon Papa.

“Pa, aku mau tanya satu nama.”

Di seberang telepon, Papa terdiam.

Aku menyebut nama yang tertulis di dokumen.

Tidak ada jawaban.

“Papa?”

Kemudian kudengar napasnya berubah.

“Nadira…”

Suara Papa bergetar.

“Dari mana kamu mendapatkan nama itu?”

Saat itulah aku tahu.

Papa mengenalnya.

Dan rahasia yang sedang kami bongkar ternyata sudah dimulai jauh sebelum Arga mengambil satu rupiah pun dari rekeningnya.

“Papa, siapa dia?”

Hening beberapa detik.

Lalu Papa menjawab:

“Kalau kamu sudah menemukan nama itu… berarti Arga juga sudah menemukan surat yang Papa sembunyikan dua belas tahun lalu.”

Telepon mendadak terputus.

Dan beberapa detik kemudian, seseorang mengetuk pintu kamar hotelku tiga kali.

Aku melihat layar ponsel.

Ada pesan baru dari nomor tak dikenal.

“Aku membawa surat asli milik ayahmu. Kalau kamu ingin tahu kenapa tanah itu harus dijual sebelum Senin, buka pintunya.”

Aku menatap gagang pintu tanpa bergerak.

Karena siapa pun yang berdiri di luar sana mengetahui rahasia yang bahkan Papa takut menjelaskannya kepadaku.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *