Anakku tertawa kecil ketika aku masuk ke ruang sidang.

“Sebentar lagi rumah dan rekening Mama jadi urusan kita,” bisik Daniel kepada istrinya, Vanessa.
Mereka yakin foto-foto luka di tubuhku akan membuktikan bahwa aku, perempuan berusia tujuh puluh satu tahun, sudah pikun, sering jatuh, dan tak lagi mampu mengurus diri sendiri.
Masalahnya, aku ingat persis dari mana setiap luka itu berasal.
Namaku Ratna Wibowo. Sejak suamiku meninggal, Daniel semakin sering datang ke rumahku di Jakarta Selatan dengan alasan ingin “menjaga Mama”.
Awalnya aku percaya.
Sampai ia mulai bertanya tentang sertifikat rumah, deposito, rekening tabungan, dan dokumen peninggalan ayahnya.
Ketika aku menolak memberinya akses rekening, Vanessa mencengkeram pergelangan tanganku.
Bekasnya membiru.
Besoknya, mereka mengatakan kepada kerabat bahwa aku jatuh di kamar mandi.
Beberapa minggu kemudian, Daniel mendorongku saat aku memergokinya membuka lemari dokumen mendiang suamiku.
“Mama makin sulit diajak bicara,” katanya dingin.
Vanessa justru mengambil foto lukaku.
Saat itulah aku mengerti.
Mereka bukan sedang mengumpulkan bukti untuk melindungiku.
Mereka sedang membangun cerita bahwa aku sudah tidak mampu mengurus diriku sendiri.
Puncaknya, Daniel mengajukan permohonan ke pengadilan agar pengelolaan kepentingan dan hartaku dialihkan dengan alasan kondisi mentalku memburuk. Rumah yang kubangun bersama suamiku selama puluhan tahun ikut mereka incar.
Tiga minggu sebelum sidang, kunci rumah bahkan diganti.
Aku terpaksa tidur di hotel.
Malam itu Daniel mengirim pesan:
“Ma, berhenti mempersulit semuanya. Kami melakukan ini demi Mama.”
Aku tidak membalas.
Daniel menganggap diamku sebagai tanda menyerah.
Pagi persidangan, aku datang mengenakan mantel biru tua sederhana dan membawa tongkat. Tidak ada pengacara berjalan di sampingku.
Vanessa tersenyum puas.
Pengacara mereka menunjukkan foto-foto luka kepada majelis.
“Ini membuktikan Ibu Ratna berulang kali mencederai dirinya sendiri dan membutuhkan perlindungan serta pendampingan dalam mengelola urusannya.”
Daniel menunduk seolah sedih.
Aku melihat sudut bibirnya terangkat.
Lalu hakim memeriksa berkas dan menatapku.
“Ibu Ratna Wibowo?”
“Benar, Yang Mulia.”
Hakim terdiam beberapa detik.
Kemudian ekspresinya berubah.
“Ratna Wibowo yang dulu menjadi akuntan forensik dalam perkara penggelapan dana pensiun Nusantara?”
Senyum Daniel langsung lenyap.
Vanessa menoleh kepadaku.
Mereka hanya tahu aku pernah bekerja sebagai akuntan.
Mereka tidak tahu bahwa selama bertahun-tahun aku menangani pemeriksaan transaksi mencurigakan, sengketa warisan, dan dugaan penyalahgunaan keuangan terhadap orang lanjut usia.
Hakim kembali melihat foto-foto luka itu.
“Ibu Ratna, apakah luka-luka ini benar terjadi karena Ibu sering jatuh?”
Aku menatap Daniel.
Untuk pertama kalinya, anakku terlihat gugup.
“Tidak, Yang Mulia.”
Vanessa langsung berdiri setengah badan.
“Itu tidak benar!”
Aku membuka kancing mantelku perlahan.
“Foto-foto yang mereka bawa memang asli,” kataku. “Tetapi cerita tentang bagaimana luka itu terjadi tidak.”
Ruangan mendadak sunyi.
Daniel berbisik kepada pengacaranya.
Hakim mengangkat tangan.
“Apakah Ibu memiliki bukti?”
Aku mengangguk.
“Ada.”
Aku mengeluarkan sebuah amplop cokelat tipis dari bagian dalam mantel.
Wajah Vanessa berubah pucat saat melihat tanggal yang tertulis di sudut amplop itu.
Namun bukan amplop tersebut yang membuat Daniel tiba-tiba berdiri.
Ia melihat seseorang baru saja masuk melalui pintu belakang ruang sidang.
Seseorang yang seharusnya, menurut Daniel, tidak pernah mengetahui apa yang terjadi di rumahku.
Dan orang itu membawa satu benda yang bisa menghancurkan seluruh cerita yang mereka susun tentangku.
Hakim menatapnya.
“Silakan maju. Saya ingin melihat bukti itu.”
Daniel langsung berkata, “Yang Mulia, tunggu—”
Terlambat.
Orang itu meletakkan sebuah perangkat penyimpanan dan setumpuk dokumen di meja.
Aku menatap anakku.
Sekarang bukan aku yang gemetar.
Daniel akhirnya menyadari bahwa selama ini aku tidak diam karena takut.
Aku diam karena menunggu hari ini.
Dan ketika hakim membuka dokumen pertama, wajah Daniel seketika kehilangan warna…
Apa sebenarnya yang berhasil kusimpan sebelum Daniel mengganti kunci rumah?
Hakim membuka dokumen pertama.
Daniel langsung berdiri.
“Yang Mulia, saya keberatan!”
Suara kursinya bergesek keras dengan lantai ruang sidang.
Semua orang menoleh.
Pengacaranya, Pak Arif Pratama, buru-buru menarik lengan jas Daniel.
“Duduk dulu.”
“Tapi dokumen itu—”
“Daniel.”
Nada suara pengacaranya berubah tegas.
Aku berdiri beberapa meter dari mereka dengan satu tangan bertumpu pada tongkat.
Untuk pertama kalinya sejak semua ini dimulai, aku melihat sesuatu di wajah anakku yang selama ini tidak pernah ia tunjukkan kepadaku.
Takut.
Hakim menatap dokumen itu, lalu mengangkat kepala.
“Pak Daniel, Anda akan mendapat kesempatan menjelaskan. Silakan duduk.”
Daniel menurut.
Perempuan yang baru masuk ke ruang sidang kemudian berdiri di sampingku.
Namanya Siska.
Usianya empat puluh enam tahun dan selama hampir sembilan tahun ia membantu mengurus administrasi rumah serta beberapa pekerjaan lama milikku. Daniel mengenalnya.
Itulah sebabnya wajahnya berubah ketika melihat Siska.
Karena tiga minggu sebelumnya Daniel pernah berkata kepadaku bahwa Siska sudah tidak boleh masuk ke rumah.
“Mama tidak membutuhkan orang luar lagi,” katanya.
Orang luar.
Begitulah Daniel menyebut perempuan yang mengetahui letak setiap arsip penting milikku.
Hakim mengangkat salah satu lembar.
“Ini salinan percakapan?”
Siska mengangguk.
“Ya, Yang Mulia.”
Daniel kembali bergerak gelisah.
Aku menatapnya.
Semua bermula enam bulan setelah suamiku, Hendra, meninggal.
Awalnya Daniel datang setiap akhir pekan membawa bubur ayam kesukaanku.
Ia memperbaiki lampu teras.
Mengantarku ke dokter.
Menanyakan apakah aku tidur cukup.
Aku bahkan sempat berpikir kehilangan ayahnya membuat Daniel berubah menjadi lebih perhatian.
Kemudian pertanyaannya mulai berbeda.
“Ma, deposito Papa masih ada?”
Aku menjawab singkat.
“Ada.”
“Berapa?”
“Kenapa?”
Ia tertawa.
“Ya cuma tanya.”
Seminggu kemudian ia bertanya soal sertifikat rumah.
Bulan berikutnya, ia ingin tahu apakah aku pernah membuat surat wasiat.
Setiap pertanyaan terlihat kecil jika berdiri sendiri.
Tetapi pekerjaanku selama puluhan tahun mengajariku satu hal:
Pola jarang terlihat dari satu transaksi.
Pola terlihat ketika semuanya diletakkan berdampingan.
Maka aku mulai mencatat.
Tanggal Daniel datang.
Apa yang ia tanyakan.
Dokumen apa yang berpindah tempat.
Dan siapa yang hadir.
Aku tidak pernah memberi tahu siapa pun.
Bahkan Siska tidak tahu pada awalnya.
Sampai suatu sore aku menemukan laci meja kerja Hendra terbuka.
Ada bekas lipatan baru pada map sertifikat.
Aku menelepon Siska.
“Apakah kamu membuka meja Bapak?”
“Tidak, Bu.”
“Yakin?”
“Yakin.”
Saat itulah aku memasang kamera keamanan kecil di ruang kerja dan koridor rumah.
Bukan untuk memata-matai anakku.
Aku masih berharap kecurigaanku salah.
Tiga hari kemudian, kamera merekam Daniel memasuki ruang kerja ketika aku sedang tidur siang.
Ia tidak sendirian.
Vanessa bersamanya.
Mereka membuka laci.
Mengambil beberapa dokumen.
Memotretnya dengan ponsel.
Lalu Vanessa berkata sesuatu.
Aku mendengarnya malam itu sambil duduk sendirian di kamar.
“Kalau semuanya sudah dipegang Daniel, rumah ini bisa segera dibereskan.”
Daniel menjawab pelan.
“Yang penting Mama dianggap sudah tidak sanggup mengurus dirinya sendiri.”
Tanganku dingin ketika mendengarnya.
Tapi bagian berikutnya jauh lebih buruk.
Vanessa bertanya,
“Kalau dia menolak?”
Daniel terdiam beberapa detik.
Lalu berkata,
“Kita punya foto-fotonya.”
Saat itulah aku memahami semuanya.
Luka-luka yang mereka sebut sebagai bukti kelemahanku ternyata telah berubah menjadi alat.
Aku tidak langsung menghadapi mereka.
Aku membuat salinan rekaman.
Satu kusimpan di tempat yang tidak mereka ketahui.
Satu lagi kuberikan kepada Siska.
Dan aku menunggu.
Namun Daniel bergerak lebih cepat.
Dua minggu kemudian ia datang membawa beberapa lembar dokumen.
“Cuma urusan administrasi, Ma.”
Aku membaca halaman pertama.
Kemudian kedua.
Pada halaman ketiga, aku berhenti.
Ada klausul yang memberinya kewenangan sangat luas untuk mengurus rekening dan aset atas namaku.
Aku meletakkan pulpen.
“Aku tidak akan menandatangani ini.”
Wajah Daniel berubah.
“Kenapa Mama selalu curiga sama anak sendiri?”
“Karena anak sendiri sedang meminta kuasa atas hampir seluruh hartaku.”
“Ini supaya gampang kalau Mama sakit!”
“Aku belum kehilangan kemampuan berpikir.”
Vanessa berdiri dari sofa.
“Semua orang tua bilang begitu.”
Aku menatapnya.
“Ini urusan saya dan anak saya.”
Ia mendekat.
“Daniel sudah capek mengurus Ibu.”
“Kalau begitu berhenti mengurus saya.”
Aku hendak mengambil dokumen.
Vanessa lebih cepat.
Tangannya mencengkeram pergelangan tanganku.
Aku mencoba melepaskan diri.
“Lepaskan.”
Daniel bukannya menghentikannya.
Ia mengambil dokumen dari meja.
“Sudah, Ma. Jangan bikin ribut.”
Keesokan harinya pergelangan tanganku membiru.
Dan Vanessa memotretnya.
Sekarang foto yang sama berada di meja hakim.
Namun kali ini foto itu tidak lagi berdiri sendirian.
Ada rekaman.
Ada pesan.
Ada tanggal.
Ada pola.
Hakim meletakkan dokumen pertama.
“Putar rekamannya.”
Ruangan menjadi sangat sunyi.
Pak Arif berdiri.
“Yang Mulia, kami perlu memastikan asal dan keutuhan rekaman tersebut sebelum digunakan lebih jauh.”
Hakim mengangguk.
“Itu akan diperiksa sesuai prosedur. Untuk saat ini saya ingin mengetahui konteks materi yang diserahkan.”
Siska mengeluarkan perangkat penyimpanan.
Petugas pengadilan menyiapkan berkas digital yang sudah diserahkan sebelumnya.
Beberapa detik kemudian suara terdengar.
Suara Vanessa.
“Kalau semuanya sudah dipegang Daniel, rumah ini bisa segera dibereskan.”
Lalu suara anakku sendiri.
“Yang penting Mama dianggap sudah tidak sanggup mengurus dirinya sendiri.”
Daniel menutup matanya.
Vanessa memegang lengan suaminya.
Rekaman berhenti.
Tidak ada seorang pun tertawa sekarang.
Hakim menatap Daniel.
“Apakah itu suara Anda?”
Pak Arif segera berkata,
“Klien saya akan menjawab setelah kami mendapat kesempatan memeriksa rekaman secara lengkap.”
Aku tidak tersenyum.
Aku tidak merasa menang.
Yang kurasakan justru sesuatu yang jauh lebih menyakitkan.
Aku sedang mendengarkan suara anak yang dulu kugendong saat demam, merencanakan bagaimana membuat ibunya terlihat tidak berdaya.
Hakim kemudian membuka dokumen kedua.
Sebuah catatan transaksi.
Daniel mengernyit.
Aku melihat ekspresinya dan tahu ia belum memahami mengapa dokumen itu ada di sana.
“Bu Ratna,” kata hakim, “tolong jelaskan.”
Aku menarik napas.
“Setelah saya mengetahui mereka memotret dokumen saya, saya memeriksa seluruh aktivitas rekening dan dokumen keuangan yang masih bisa saya akses.”
Daniel mendadak menatapku.
Aku melanjutkan.
“Saya menemukan beberapa percobaan perubahan akses dan permintaan informasi yang tidak pernah saya ajukan.”
“Bohong!” seru Vanessa.
Hakim mengetukkan palu.
“Jangan memotong.”
Aku menatap Vanessa.
“Ada satu hal yang kalian lupa.”
“Apa?”
“Kalian mengira karena umur saya tujuh puluh satu tahun, saya tidak akan memeriksa jejak administrasi.”
Wajahnya membeku.
“Aku menghabiskan sebagian besar hidupku memeriksa jejak seperti itu.”
Aku kemudian menjelaskan bahwa ketika sebuah permintaan akses yang tidak kukenal muncul, aku langsung menghubungi bank dan meminta pengamanan tambahan pada rekeningku.
Aku juga meminta agar setiap perubahan penting membutuhkan verifikasi langsung dariku.
Karena itulah Daniel tidak pernah benar-benar berhasil mengambil alih rekening.
Setidaknya, itulah yang kukira.
Sampai empat hari sebelum sidang.
Aku menerima telepon dari seorang pegawai bank.
Ada dokumen lain yang sedang dicoba digunakan.
Bukan untuk menarik uang.
Bukan pula untuk memindahkan deposito.
Dokumen itu berkaitan dengan rumahku.
Hakim berhenti membaca.
“Rumah di Jakarta Selatan?”
“Ya.”
Daniel tiba-tiba menunduk.
Aku melihatnya.
Dan untuk pertama kalinya aku menyadari Vanessa tidak melakukan hal yang sama.
Ia justru menatap Daniel.
Bingung.
Seolah-olah bagian ini bahkan tidak diketahuinya.
Aku merasa ada sesuatu yang berubah.
Selama berbulan-bulan aku menganggap mereka bekerja bersama dalam semua hal.
Ternyata mungkin tidak.
Hakim mengangkat dokumen berikutnya.
“Ada permintaan penilaian properti?”
“Benar.”
Vanessa berbisik,
“Daniel?”
Suaminya tidak menjawab.
“Daniel, penilaian apa?”
“Diam dulu.”
“Rumah Mama mau kamu apakan?”
Aku menoleh cepat.
Vanessa benar-benar tidak tahu.
Hakim juga memperhatikan reaksinya.
Daniel mulai berkeringat.
Pak Arif membisikkan sesuatu kepadanya.
Tetapi kerusakan sudah terjadi.
Sekarang pertanyaannya berubah.
Jika Vanessa tidak mengetahui rencana terhadap rumah itu, apa sebenarnya yang Daniel sembunyikan bahkan dari istrinya sendiri?
Hakim meminta sidang berhenti singkat agar dokumen tambahan diperiksa.
Daniel langsung berdiri dan berjalan mendekatiku.
Petugas segera maju.
Ia berhenti beberapa langkah dariku.
“Mama puas?”
Aku memandangnya.
“Puas karena apa?”
“Mempermalukan anak sendiri.”
Aku hampir tidak percaya.
“Kamu datang ke pengadilan membawa foto luka ibumu sendiri untuk mengambil kendali atas hidupnya.”
“Aku cuma mau menyelesaikan masalah!”
“Masalah apa?”
Daniel diam.
Aku mendekat satu langkah.
“Utangmu?”
Wajahnya berubah.
Vanessa yang berdiri beberapa meter di belakang langsung menoleh.
“Utang apa?”
Daniel membeku.
Aku pun membeku.
Aku sebenarnya hanya menduga.
Beberapa bulan sebelumnya, aku melihat dua panggilan dari perusahaan pembiayaan masuk ke ponselnya saat ia meninggalkan ponsel di meja.
Aku tidak pernah tahu jumlahnya.
Namun reaksinya baru saja memberikan jawabannya.
Vanessa berjalan mendekat.
“Kamu bilang usaha kita baik-baik saja.”
“Bukan sekarang.”
“Berapa utangnya?”
“Vanessa.”
“Berapa?”
Daniel tidak menjawab.
Aku menatap anakku.
Tiba-tiba seluruh kepingan mulai menyatu.
Rumahku bukan sekadar warisan yang ingin ia dapatkan lebih cepat.
Ia membutuhkan sesuatu sekarang.
Dan jika ia berhasil membuat pengadilan menganggapku tidak mampu mengurus kepentinganku sendiri, ia berharap mendapatkan posisi untuk mengendalikan aset yang bisa menyelamatkannya.
Sidang dilanjutkan.
Hakim kembali masuk.
Namun kali ini ada seorang pria bersama Siska.
Usianya sekitar lima puluhan, berkemeja batik gelap dan membawa map hitam.
Daniel mengenalinya.
Aku tahu dari caranya mencengkeram meja.
Pria itu memperkenalkan diri sebagai Budi Santoso, konsultan keuangan yang beberapa tahun lalu pernah bekerja dengan perusahaan milik Daniel.
Vanessa berbisik,
“Kenapa dia di sini?”
Aku pun sebenarnya belum mengetahui semuanya.
Siska hanya mengatakan kepadaku sehari sebelumnya:
“Bu, ada seseorang yang ingin bicara. Menurut saya Ibu harus mendengarnya di pengadilan.”
Budi menyerahkan map kepada petugas.
Hakim membukanya.
Lembar pertama.
Kedua.
Ketiga.
Semakin lama membaca, ekspresi hakim semakin serius.
“Pak Budi, dokumen ini berasal dari mana?”
“Dari arsip pekerjaan yang secara sah masih saya simpan, Yang Mulia, dan sebagian merupakan salinan komunikasi yang melibatkan saya sendiri.”
Daniel berdiri.
“Dia bohong!”
Budi tidak menatapnya.
Hakim mengangkat tangan.
“Duduk.”
Budi melanjutkan,
“Sekitar delapan bulan lalu, Pak Daniel meminta saya membantu mencari pembiayaan untuk menutup kewajiban usaha.”
Vanessa menutup mulut.
“Delapan bulan?”
Daniel memalingkan wajah.
“Jumlahnya berapa?” tanya hakim.
Budi menyebut angka.
“Sekitar Rp2,4 miliar.”
Vanessa terhuyung dan memegang meja.
Aku sendiri sampai harus mengencangkan genggaman pada tongkat.
Rp2,4 miliar.
Aku tahu Daniel mengalami masalah usaha.
Aku tidak tahu separah itu.
Budi melanjutkan,
“Permohonan pembiayaan awal tidak berjalan karena jaminannya tidak mencukupi.”
Hakim melihat lembar berikutnya.
“Lalu?”
Budi menarik napas.
“Beberapa minggu kemudian Pak Daniel menghubungi saya lagi. Kali ini dia mengatakan sebentar lagi akan memiliki kewenangan untuk mengurus satu aset keluarga.”
Aku menatap anakku.
Rumahku.
Vanessa mulai menangis.
“Kamu bilang rumah itu nanti memang akan jadi milikmu.”
Daniel membentaknya,
“Diam!”
Hakim langsung menegur.
Tetapi Budi belum selesai.
Ia membuka map dan menunjuk satu halaman.
“Ada satu percakapan yang menurut saya perlu diketahui pengadilan.”
Daniel langsung berdiri lagi.
“Tidak!”
Suara itu begitu keras sampai semua orang terkejut.
Budi menatapnya untuk pertama kali.
“Pak Daniel, saya sudah memberi Anda kesempatan untuk menghentikan ini.”
“Apa maksudnya?” tanyaku.
Budi tidak menjawabku.
Ia menyerahkan ponselnya kepada petugas.
Ada sebuah rekaman suara.
Tanggalnya dua hari sebelum Daniel mengganti kunci rumahku.
Jantungku mulai berdetak lebih cepat.
Aku menatap Daniel.
Ia sudah pucat.
Hakim meminta rekaman diputar.
Suara Daniel terdengar.
Jelas.
“Kalau pengadilan menyetujui permohonan itu, saya bisa urus aset Mama.”
Kemudian suara Budi.
“Dan kalau tidak disetujui?”
Hening beberapa detik.
Lalu Daniel menjawab.
“Ada rencana kedua.”
Rekaman berhenti.
Aku menatap Budi.
“Kenapa berhenti?”
Budi terlihat tidak nyaman.
“Karena bagian berikutnya bukan hanya membicarakan rumah, Bu Ratna.”
Hakim menatapnya tajam.
“Lanjutkan.”
Budi menelan ludah.
“Bagian berikutnya membicarakan satu dokumen atas nama almarhum Pak Hendra.”
Tubuhku terasa kaku.
Suamiku?
Daniel tidak pernah mengatakan apa pun tentang dokumen milik ayahnya.
“Dokumen apa?” tanyaku.
Budi mengeluarkan sebuah amplop putih dari map hitam.
Di bagian depan terdapat nama suamiku.
Hendra Wibowo.
Dan sebuah tanggal.
Aku mengenali tanggal itu.
Tiga hari sebelum Hendra meninggal.
Tanganku mulai gemetar.
Bukan karena takut.
Karena aku tahu satu hal dengan pasti.
Pada tanggal tersebut, suamiku sudah berada di rumah sakit dan hampir seluruh urusan keuangannya telah kami hentikan.
Namun dokumen di tangan Budi tampaknya memiliki tanda tangan Hendra.
Aku menatap Daniel.
“Dari mana kamu mendapatkan ini?”
Ia tidak menjawab.
Vanessa menatap suaminya seolah baru pertama kali melihat orang asing.
Hakim membuka amplop itu perlahan.
Membaca halaman pertama.
Kemudian berhenti.
Ia menatap Daniel.
Lalu menatapku.
“Bu Ratna…”
Aku merasakan tenggorokanku mengering.
“Apa isinya, Yang Mulia?”
Hakim tidak langsung menjawab.
Sebaliknya, ia bertanya kepada Budi,
“Apakah tanda tangan pada dokumen ini sudah pernah diperiksa?”
Budi mengangguk.
“Sudah ada pemeriksaan awal.”
“Dan hasilnya?”
Budi mengambil satu lembar terakhir dari mapnya.
Daniel tiba-tiba berteriak,
“JANGAN!”
Seluruh ruang sidang membeku.
Aku memandang anakku.
Selama ini aku datang untuk membuktikan bahwa aku tidak pikun dan luka-lukaku bukan akibat jatuh.
Ternyata perkara ini jauh lebih besar daripada diriku.
Ada sesuatu yang dilakukan menggunakan nama suamiku sebelum ia meninggal.
Sesuatu yang bahkan aku tidak pernah tahu.
Budi menyerahkan hasil pemeriksaan itu kepada hakim.
Hakim membacanya sekali.
Kemudian sekali lagi.
Wajahnya berubah.
Ia meletakkan kertas itu perlahan di meja.
“Bu Ratna,” katanya, “sebelum saya membacakan hasil ini, saya perlu memastikan satu hal.”
“Apa?”
“Apakah almarhum suami Ibu pernah memberikan izin kepada Daniel untuk menandatangani dokumen atas namanya?”
Aku menatap anakku.
Daniel menunduk.
Dan saat itulah aku tahu jawaban yang akan kuberikan mungkin akan menghancurkan sesuatu yang jauh lebih besar daripada rencana mereka mengambil rumahku.
“Tidak pernah.”
Hakim menghela napas.
Lalu ia membalik lembar hasil pemeriksaan tanda tangan itu ke arahku.
Apa yang tertulis di sana membuat Siska langsung menutup mulut.
Vanessa mulai menangis.
Dan Daniel berdiri tanpa mampu mengucapkan sepatah kata pun.
Karena ternyata “rencana kedua” anakku sudah dimulai bahkan sebelum ayahnya meninggal…
