PUKUL 01.30 DINI HARI, SUAMIKU MENGIRA AKU SEDANG TIDUR KETIKA DIA MENGOSONGKAN BRANKAS KAMI UNTUK KABUR BERSAMA SELINGKUHANNYA. SEBELUM PERGI, DIA MENCIUM

Di bawah foto itu, dia menulis:

“Terima kasih untuk semuanya. Mulai hari ini, kamu urus hidupmu sendiri.”

Aku membaca kalimat itu dua kali.

Aneh.

 

 

 

 

Aku tidak menangis.

Mungkin karena selama hampir sebulan terakhir, aku sudah menangisi pernikahan kami sedikit demi sedikit tanpa benar-benar menyadarinya.

Saat menemukan tanda tanganku dipalsukan.

Saat melihat nama Keisya muncul dalam transaksi perusahaan.

Saat Adrian pulang hampir tengah malam dengan aroma parfum perempuan yang tidak pernah kupakai.

Air mataku rupanya sudah habis sebelum dia benar-benar pergi.

Aku memperbesar foto yang dikirimnya.

Adrian memakai kemeja hitam dan jaket abu-abu. Keisya berdiri menempel di lengannya, tersenyum lebar seperti seseorang yang baru saja memenangkan sesuatu.

Di pergelangan tangannya ada gelang berlian itu.

Aku hampir tertawa.

Hampir.

Karena Adrian memang telah melakukan satu kesalahan besar.

Gelang itu bukan milik ibuku.

Aku mengambil ponsel kedua yang kusimpan di dalam laci meja.

Lalu kukirim pesan kepada pengacara perusahaan, Pak Bima.

“Mereka sudah di bandara.”

Balasannya datang kurang dari satu menit kemudian.

“Foto?”

Aku meneruskannya.

Tiga menit berlalu.

Kemudian Pak Bima menelepon.

“Alya, kamu yakin mau melanjutkan semuanya pagi ini?”

Aku memandang sisi tempat tidur yang kosong.

Bantal Adrian masih menyimpan lekukan kepalanya.

“Justru pagi ini semuanya harus dimulai.”

Aku menutup telepon.

Setelah itu, barulah aku membalas pesan Adrian.

Empat kata.

Hanya empat.

“Gelang itu bukan asli.”

Tanda centang dua muncul.

Lalu diam.

Sepuluh detik.

Dua puluh.

Tiga puluh.

Ponselku langsung berdering.

ADRIAN.

Aku membiarkannya.

Dia menelepon lagi.

Aku menolak panggilannya.

Panggilan ketiga masuk.

Kali ini aku mengangkatnya.

“Apa maksudmu?”

Tidak ada sapaan.

Tidak ada lagi suara suami lembut yang selama bertahun-tahun kudengar di meja makan.

Suaranya terdengar tegang.

Aku berjalan menuju jendela kamar dan membuka tirainya.

Langit Jakarta mulai berubah warna.

“Selamat pagi juga, Mas.”

“Alya, apa maksud pesanmu?”

“Pesanku cuma empat kata. Seharusnya cukup mudah dipahami.”

“Gelang itu bukan asli?”

Aku tersenyum kecil.

“Betul.”

Terdengar suara orang berbicara melalui pengeras suara bandara.

Lalu suara Keisya di kejauhan.

“Mas, ada apa?”

Adrian menjauhkan ponselnya sebentar.

Kemudian kembali.

“Di mana gelang aslinya?”

Pertanyaan itu membuat sesuatu di dadaku akhirnya menjadi dingin.

Bukan sedih.

Dingin.

Dia tidak bertanya apakah aku baik-baik saja.

Tidak bertanya bagaimana aku tahu dia pergi.

Tidak meminta maaf karena membawa perempuan lain.

Yang ingin dia ketahui hanya satu.

Di mana gelang itu.

“Di tempat yang aman.”

“Alya, jangan main-main.”

“Yang mulai bermain bukan aku.”

Dia terdiam.

Aku melanjutkan sebelum dia sempat menyela.

“Tiga minggu lalu aku memindahkan seluruh perhiasan penting Ibu ke safe deposit box bank. Gelang yang kamu ambil cuma replika untuk keperluan pemotretan katalog lama.”

Napas Adrian terdengar berat.

“Tapi bentuknya sama.”

“Tentu. Memangnya replika harus berbentuk sendok?”

Aku mendengar suara Keisya lagi.

Kali ini lebih dekat.

“Apa katanya?”

Adrian tidak menjawab perempuan itu.

Dia malah bertanya kepadaku:

“Dokumen di map biru?”

Nah.

Akhirnya.

Aku duduk di kursi dekat jendela.

“Yang mana?”

“Jangan pura-pura bodoh, Alya.”

Untuk pertama kalinya pagi itu, aku tertawa.

Pelan saja.

“Mas, kamu masuk ke brankasku tengah malam, mengambil uang, paspor, perhiasan, dan dokumen perusahaan, lalu pergi bersama perempuan lain. Setelah itu kamu mengirim foto dari bandara untuk mengejekku. Tapi sekarang aku yang pura-pura bodoh?”

Tidak ada jawaban.

“Aku tanya sekali lagi,” katanya. “Dokumen dalam map itu asli atau tidak?”

Aku memandang jam di dinding.

05.34.

“Sebagian.”

“Apa maksudmu sebagian?”

“Halaman pertama asli.”

“Lalu sisanya?”

Aku membiarkan keheningan menggantung.

Tiga detik.

Empat.

Lima.

“Mas Adrian…”

“Ya?”

“Kamu seharusnya membaca semuanya sebelum mencurinya.”

Telepon mendadak terputus.

Entah dia yang mematikan atau sinyal bandara yang terganggu.

Aku tidak peduli.

Yang kutahu, sekitar dua menit kemudian, Pak Bima mengirimiku satu pesan.

“Dia menghubungi direktur keuangan.”

Aku mengetik:

“Biarkan.”

Hari itu Adrian akan menemukan bahwa hidup seseorang tidak bisa dikosongkan semudah mengosongkan brankas.

Terutama jika orang yang ingin dikosongkan sudah lebih dulu mengganti isinya.

Pukul 07.00, aku mandi.

Aku mengenakan blus putih sederhana dan celana panjang hitam.

Tidak ada riasan berlebihan.

Aku hanya mengikat rambut dan memakai jam tangan peninggalan Ibu.

Di meja makan, Mbak Rini, yang sudah bekerja di rumah kami selama tujuh tahun, menatapku heran.

“Pak Adrian belum bangun, Bu?”

“Sudah pergi.”

“Dinas?”

Aku berhenti sebentar.

“Bisa dibilang begitu.”

Mbak Rini mengangguk, lalu menyodorkan nasi goreng dan telur.

Biasanya kalau sedang tertekan aku tidak bisa makan.

Tapi pagi itu aku menghabiskannya.

Lucu juga.

Pernikahanku baru saja runtuh, tetapi tubuhku tetap meminta sarapan.

Mungkin begitulah hidup.

Bahkan saat duniamu terasa berantakan, perut tetap tahu pukul berapa harus lapar.

Pukul 08.15 aku tiba di kantor pusat Wijaya Nusantara Group di kawasan Sudirman.

Pak Bima sudah menunggu di ruang rapat kecil lantai 17 bersama Bu Ratna, salah satu komisaris independen.

Di atas meja terdapat beberapa map.

Laptop.

Rekaman CCTV rumah.

Salinan transaksi.

Dan laporan pemeriksaan internal yang mulai kami susun tiga minggu sebelumnya.

Bu Ratna langsung berdiri ketika melihatku.

“Kamu baik-baik saja?”

Pertanyaan sederhana itu hampir membuat pertahananku runtuh.

Aku menarik kursi.

“Belum tahu.”

Dia tidak memaksaku menjelaskan.

Aku menyukai itu.

Pak Bima membuka laptopnya.

“Pukul 06.11 Adrian mencoba menghubungi bank untuk menanyakan status beberapa rekening perusahaan.”

“Lalu?”

“Aksesnya sudah dibatasi sejak tadi malam sesuai keputusan internal yang sudah disetujui.”

Aku mengangguk.

“Dia juga menelepon Pak Surya dari bagian keuangan,” lanjutnya.

“Pak Surya bilang apa?”

“Tidak menjawab.”

Aku memandang dokumen di meja.

Selama beberapa minggu terakhir, kami menemukan sesuatu yang jauh lebih besar daripada perselingkuhan.

Adrian rupanya menggunakan beberapa vendor untuk mengalihkan pembayaran perusahaan.

Jumlahnya bukan sekadar ratusan juta.

Jika seluruh transaksi yang masih diperiksa terbukti bermasalah, nilainya bisa mencapai miliaran rupiah.

Dan Keisya?

Namanya muncul di lebih dari satu tempat.

Aku sempat berharap ada penjelasan lain.

Sungguh.

Sampai pagi itu.

Sampai dia berdiri di bandara memakai gelang yang diambil suamiku dari brankas.

Pak Bima mendorong sebuah map ke arahku.

“Ada satu hal lagi.”

Aku membuka halaman pertama.

Kemudian halaman kedua.

Tanganku berhenti.

“Apa ini?”

“Permohonan perubahan struktur kepemilikan salah satu anak perusahaan.”

Namaku tercetak di bawah.

Tanda tanganku juga ada.

Palsu.

Lagi.

Tetapi ada sesuatu yang berbeda.

Tanggalnya.

Dua hari setelah tanggal keberangkatan Adrian.

Aku menatap Pak Bima.

“Jadi dia berencana memproses ini setelah pergi?”

“Kemungkinan begitu.”

“Dari luar negeri?”

Pak Bima mengangguk.

Bu Ratna menyandarkan punggung.

“Kalau kamu tidak menemukan dokumen pertama bulan lalu…”

Dia tidak menyelesaikan kalimatnya.

Tidak perlu.

Aku sudah tahu.

Untuk pertama kalinya, rasa takut yang sebenarnya muncul.

Bukan takut kehilangan Adrian.

Itu sudah selesai.

Aku takut membayangkan betapa dekatnya aku dengan kehilangan sesuatu yang dibangun Ibu sepanjang hidupnya.

Aku menutup map.

“Apa yang harus kita lakukan sekarang?”

Pak Bima menjawab tenang.

“Kita ikuti prosedur. Jangan bertindak karena marah. Semua harus terdokumentasi.”

Itulah yang kami lakukan.

Tidak ada adegan dramatis seperti di sinetron.

Tidak ada aku berlari ke bandara sambil berteriak.

Tidak ada tamparan di depan orang banyak.

Aku duduk di kantor.

Menandatangani dokumen.

Menjawab pertanyaan auditor.

Menghubungi bank.

Mengganti akses digital yang perlu diamankan.

Menyimpan bukti.

Membosankan?

Mungkin.

Tetapi kadang-kadang pembalasan paling menakutkan bagi seseorang yang merasa paling pintar bukanlah teriakan.

Melainkan prosedur.

Pukul 09.47 Adrian menelepon lagi.

Kali ini aku mengangkatnya.

“Alya, kita harus bicara.”

“Kita sedang bicara.”

“Aku akan pulang.”

Aku mengernyit.

“Bukannya kamu mau pergi?”

“Ada masalah dengan tiket.”

Aku tahu itu bohong.

Pak Bima baru saja mendapat kabar bahwa Adrian mulai panik setelah mengetahui beberapa akses perusahaan tidak lagi bisa digunakannya.

“Keisya bagaimana?”

Diam.

“Apa?”

“Keisya. Bukankah kalian pergi bersama?”

“Itu tidak seperti yang kamu pikirkan.”

Aku menutup mata.

Akhirnya keluar juga kalimat itu.

Kalimat paling tua dalam sejarah orang yang ketahuan.

“Aku melihat fotonya, Mas.”

“Dia cuma—”

“Memakai gelang dari brankasku?”

“Alya…”

“Sudah. Pulanglah kalau memang mau pulang. Tapi jangan datang ke kantor.”

Aku memutus sambungan.

Siang harinya, sesuatu yang tidak kuduga terjadi.

Keisya meneleponku.

Aku hampir tidak mengangkatnya.

Namun rasa penasaran menang.

“Halo?”

Beberapa detik hanya ada suara napas.

Kemudian:

“Mbak Alya?”

“Ya.”

“Aku Keisya.”

“Aku tahu.”

“Aku perlu bicara.”

“Silakan.”

“Bukan lewat telepon.”

Aku memandang Pak Bima yang duduk di seberang meja.

Dia menggeleng pelan.

Aku memahami maksudnya.

Jangan bertemu sendirian.

“Kalau ada sesuatu, sampaikan kepada pengacaraku.”

Keisya langsung menjawab:

“Adrian membohongiku juga.”

Aku tidak menjawab.

Lalu dia mengatakan sesuatu yang membuatku tegak di kursi.

“Dia bilang perusahaan itu akan menjadi miliknya bulan depan.”

Ruangan terasa sunyi.

“Ulangi.”

“Dia bilang Mbak sudah setuju menyerahkan sebagian besar kendali perusahaan kepadanya.”

Aku melihat Pak Bima.

Dia sudah mengambil pena.

“Dan?”

Keisya mulai menangis.

Entah sungguhan atau tidak, saat itu aku belum tahu.

“Dia bilang kalian sudah sepakat berpisah. Dia bilang semua dokumen sudah ditandatangani.”

Aku merasa muak.

Bukan kepada Keisya.

Belum.

Kepada Adrian.

Karena kebohongannya ternyata dibangun berlapis-lapis.

Dia berbohong kepadaku.

Kepada perusahaan.

Mungkin kepada Keisya juga.

Tapi kemudian Keisya berkata:

“Ada sesuatu di laptopnya yang harus Mbak lihat.”

Aku menahan napas.

“Apa?”

“Folder bernama ARSIP LAMA.”

“Isinya?”

“Aku tidak tahu semuanya. Tapi ada scan tanda tangan Mbak. Banyak.”

Pak Bima langsung menuliskan sesuatu di kertas dan mendorongnya kepadaku.

JANGAN MINTA DIA MENGAMBIL DATA.

Aku mengangguk.

“Keisya, jangan sentuh laptop itu. Jangan hapus apa pun. Jangan kirim apa pun kepadaku. Kalau kamu memang ingin memberikan keterangan, lakukan lewat jalur resmi.”

Dia terdiam.

Kemudian berkata lirih:

“Aku takut.”

Untuk sesaat aku melihatnya bukan sebagai perempuan dalam foto bandara.

Aku melihatnya sebagai seseorang yang baru sadar dirinya berdiri terlalu dekat dengan sesuatu yang jauh lebih besar daripada perselingkuhan.

“Kamu sekarang di mana?”

“Masih di bandara.”

“Adrian?”

“Dia pergi ke luar sebentar. Kami bertengkar.”

Aku menarik napas.

“Hubungi keluargamu. Jangan ikut dia kalau kamu merasa tidak aman. Dan kalau ada urusan hukum, cari pendamping hukum sendiri.”

Aku tidak menghiburnya.

Aku juga tidak memakinya.

Ak

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *