PENGUSAHA KAYA PULANG HANYA UNTUK MENGAMBIL PASPOR,

Jumat ini…

Adrian membaca dua kata itu berkali-kali.

Di bawahnya tercetak nama lengkap ibunya.

Sulastri Wibowo.

Usia: 70 tahun.

 

 

 

 

Nama penanggung jawab: Melinda Pratama.

Tangannya yang memegang brosur perlahan menegang.

Jumat ini berarti dua hari lagi.

Adrian menatap istrinya.

“Ini apa?”

Melinda membuka mulut, tetapi tak ada suara yang keluar.

Untuk pertama kalinya sejak mereka menikah, Adrian melihat istrinya kehilangan kemampuan untuk menjawab.

Biasanya Melinda selalu punya alasan.

Cepat.

Rapi.

Meyakinkan.

Kali ini tidak.

“Adrian, dengarkan aku dulu—”

“Aku tanya, ini apa?”

Suara Adrian tidak keras.

Justru itu yang membuat suasana kamar mandi terasa semakin dingin.

Melinda menelan ludah.

“Ibu sendiri yang bilang ingin melihat-lihat tempat itu.”

Bu Sulastri yang masih terduduk di lantai tiba-tiba mengangkat wajah.

“Tidak.”

Hanya satu kata.

Pelan sekali.

Namun cukup membuat Adrian berpaling.

“Ibu?”

Bu Sulastri memandang putranya. Bibir perempuan tua itu gemetar.

“Ibu tidak pernah meminta pergi.”

Melinda langsung menyela.

“Ibu lupa! Minggu lalu Ibu sendiri—”

“Cukup.”

Adrian mengangkat kedua bayinya satu per satu dari kain jarik. Arga masih menangis, sementara Arya menempelkan wajah kecilnya ke dada ayahnya.

Kemudian Adrian berjongkok di depan ibunya.

Barulah dari jarak sedekat itu ia melihat semuanya.

Jari-jari Bu Sulastri keriput dan memerah karena terlalu lama terkena cairan pembersih.

Ada bekas gesekan di telapak tangannya.

Celemek yang dikenakannya basah sampai ke bagian pinggang.

Dan di bawah lengan bajunya…

Adrian diam.

“Ibu, tangan Ibu kenapa?”

Bu Sulastri buru-buru menarik lengan bajunya.

“Tidak apa-apa.”

Gerakan kecil itu justru membuat dada Adrian sesak.

Ibunya selalu begitu.

Saat Adrian kecil jatuh dari sepeda, Bu Sulastri yang berlari paling dulu.

Saat uang sekolahnya kurang, perempuan itu menjual gelang peninggalan almarhum suaminya.

Saat Adrian membangun perusahaan pertamanya dan gagal, Bu Sulastri tidak pernah bertanya berapa uang yang hilang.

Ia hanya memasak soto ayam, menaruhnya di meja, lalu berkata, “Makan dulu. Besok pikirkan lagi.”

Sekarang perempuan yang sama bahkan takut menunjukkan lengannya sendiri kepadanya.

Adrian menoleh kepada Melinda.

“Keluar.”

“Adrian—”

“Keluar dari kamar mandi.”

Melinda menggigit bibir.

Ia berbalik dan pergi.

Adrian tidak mengejarnya.

Belum.

Ia membantu ibunya berdiri, kemudian memanggil sopir keluarga dan meminta mobil disiapkan.

Perjalanan bisnis ke Bali dibatalkan.

Rapat penting dibatalkan.

Telepon dari sekretarisnya berdering tiga kali.

Adrian mematikannya.

Siang itu, Bu Sulastri dibawa ke rumah sakit.

Dokter mengatakan kondisinya tidak sampai mengancam nyawa, tetapi tubuhnya kelelahan dan lututnya mengalami peradangan yang cukup berat. Ia membutuhkan istirahat dan pemeriksaan lanjutan.

Adrian duduk di kursi lorong rumah sakit dengan kedua siku bertumpu pada lutut.

Melinda berdiri beberapa meter darinya.

“Aku bisa jelaskan.”

Adrian tidak menjawab.

“Aku cuma sedang stres mengurus anak-anak.”

Tetap diam.

“Pembantu kita berhenti mendadak. Kamu hampir tidak pernah di rumah. Aku juga manusia, Adrian.”

Kali ini Adrian mengangkat kepala.

“Pembantu berhenti?”

“Iya.”

“Kapan?”

“Sekitar… dua minggu lalu.”

Adrian menatapnya beberapa detik.

Lalu ia mengeluarkan ponsel.

Ia menelepon seseorang.

“Pak Darto.”

Sopir keluarga menjawab dari seberang.

“Ya, Pak.”

“Terakhir kali Mbak Rina bekerja di rumah kapan?”

Hening sebentar.

“Kalau tidak salah tiga bulan lalu, Pak.”

Wajah Melinda berubah.

Adrian menutup telepon.

Tiga bulan.

Bukan dua minggu.

“Kenapa berbohong?”

“Aku lupa.”

“Melinda.”

“Aku benar-benar lupa!”

Adrian berdiri.

“Aku belum menuduhmu apa-apa. Aku cuma bertanya kenapa kamu berbohong.”

Melinda tidak menjawab.

Pintu ruang pemeriksaan terbuka.

Seorang perawat keluar dan mempersilakan Adrian masuk.

Bu Sulastri sedang berbaring.

Ketika melihat putranya, perempuan tua itu tersenyum kecil.

Senyum yang aneh.

Seolah-olah justru ia yang merasa bersalah.

“Maaf perjalananmu jadi batal.”

Kalimat itu menghantam Adrian lebih keras daripada apa pun.

“Ibu masih memikirkan perjalanan saya?”

“Kerjaanmu penting.”

“Tidak sepenting Ibu.”

Bu Sulastri memalingkan wajah ke jendela.

Adrian duduk di samping tempat tidur.

Beberapa saat tidak ada yang berbicara.

Kemudian ia bertanya pelan.

“Sudah berapa lama?”

Bu Sulastri tidak menjawab.

“Ibu.”

Masih diam.

Adrian menggenggam tangan ibunya.

“Sudah berapa lama Melinda memperlakukan Ibu seperti itu?”

Air mata pertama jatuh dari sudut mata Bu Sulastri.

“Tiga bulan.”

Adrian merasa tenggorokannya mengering.

“Tiga bulan?”

Bu Sulastri mengangguk.

Semuanya bermula setelah pengasuh bayi berhenti.

Awalnya Melinda hanya meminta bantuan kecil.

Menggendong Arga sebentar.

Menemani Arya tidur.

Melipat pakaian bayi.

Bu Sulastri melakukannya dengan senang hati.

Mereka cucunya.

Masalahnya, permintaan kecil berubah menjadi kewajiban.

Satu hari ia diminta mencuci piring.

Hari berikutnya mengepel ruang makan.

Kemudian membersihkan kamar.

Lalu kamar mandi.

Tongkatnya mulai disembunyikan agar ia tidak bisa keluar rumah tanpa izin.

Ponselnya diambil dengan alasan baterainya rusak.

Setiap kali Adrian melakukan panggilan video, Melinda sudah menyiapkan semuanya.

Bu Sulastri diberi pakaian bersih.

Duduk di taman.

Secangkir teh diletakkan di meja.

Arga dan Arya berada di sampingnya.

Semuanya terlihat sempurna.

Begitu panggilan berakhir…

Teh diambil.

Ponsel kembali disimpan.

Dan Bu Sulastri masuk ke rumah.

Adrian menutup mata.

Ia mengingat setiap panggilan video itu.

“Ibu sehat?”

“Sehat.”

“Melinda baik?”

“Baik.”

“Anak-anak tidak merepotkan?”

“Tidak.”

Ia percaya.

Bukan karena tidak peduli.

Ia percaya karena orang yang berbohong kepadanya adalah istrinya sendiri.

“Ibu kenapa tidak bilang?”

Bu Sulastri tertawa kecil, getir.

“Bagaimana Ibu mau bilang?”

“Bisa pinjam telepon Pak Darto.”

“Melinda bilang kalau Ibu mengadu, dia akan membuatmu percaya Ibu sudah pikun.”

Adrian menggeleng.

“Saya tidak akan percaya.”

“Ibu takut.”

Kalimat itu berhenti di sana.

Lalu Bu Sulastri mengatakan sesuatu yang membuat Adrian membeku.

“Terutama setelah surat itu datang.”

“Surat apa?”

Bu Sulastri menatapnya.

“Surat dari notaris.”

Adrian mengernyit.

“Saya tidak mengirim surat dari notaris.”

“Ibu tahu.”

“Lalu?”

Bu Sulastri menarik napas.

“Melinda ingin Ibu menandatangani beberapa dokumen.”

“Dokumen apa?”

“Katanya untuk administrasi rumah.”

“Rumah yang mana?”

Bu Sulastri tidak sempat menjawab.

Seseorang mengetuk pintu.

Pak Darto masuk membawa tas Bu Sulastri yang tertinggal di rumah.

“Pak Adrian.”

“Iya?”

Pria berusia hampir enam puluh tahun itu tampak ragu.

Ada sesuatu di tangannya.

Sebuah benda kecil berwarna hitam.

“Ini tadi jatuh dari belakang lemari televisi waktu saya mengambil tas Ibu.”

Adrian menerimanya.

Sebuah kartu memori.

Ia menatap benda itu.

“Punya siapa?”

Pak Darto menggeleng.

“Tidak tahu, Pak. Tapi beberapa bulan lalu Pak Adrian pernah memasang kamera kecil di ruang keluarga, kan?”

Adrian langsung teringat.

Setahun sebelumnya rumah mereka sempat kehilangan beberapa barang. Ia memasang dua kamera tersembunyi untuk mengetahui apakah ada orang luar yang masuk.

Kasus selesai.

Satu kamera dicopot.

Namun kamera kedua…

Adrian lupa.

Benar-benar lupa.

Kamera itu menghadap ruang keluarga dan sebagian lorong menuju dapur.

Darah Adrian seolah berhenti mengalir sesaat.

“Laptop saya ada di mobil?”

“Ada.”

Lima belas menit kemudian Adrian duduk sendirian di sebuah ruangan kecil di rumah sakit.

Kartu memori dimasukkan.

Folder demi folder muncul.

Sebagian besar hanya rekaman kosong.

Pagi.

Siang.

Malam.

Adrian mempercepat video.

Lalu berhenti.

Tanggal dua bulan lalu.

Bu Sulastri terlihat berjalan perlahan melewati ruang keluarga.

Tanpa tongkat.

Tangannya meraba dinding.

Melinda muncul dari belakang.

Suara rekaman tidak terlalu jelas, tetapi masih bisa terdengar.

“Cepat sedikit, Bu.”

Video berikutnya.

Bu Sulastri menggendong Arya sambil menyapu.

Berikutnya.

Ia duduk kelelahan di sofa.

Melinda datang dan menunjuk ke arah dapur.

Berikutnya.

Melinda sedang menelepon seseorang.

Kali ini suaranya terdengar jelas.

“Jumat depan saja. Kamar yang paling murah tidak masalah.”

Adrian memperbesar volume.

“Tidak, anaknya sibuk. Dia jarang di rumah.”

Jantung Adrian berdegup semakin cepat.

Kemudian terdengar kalimat lain.

“Kalau ibunya sudah masuk, urusan rumah lama itu lebih gampang.”

Adrian menghentikan video.

Rumah lama.

Ia tahu persis rumah mana yang dimaksud.

Rumah sederhana di daerah Ciputat yang dibeli almarhum ayahnya puluhan tahun lalu.

Nilainya sekarang cukup tinggi karena lokasi tersebut berkembang pesat.

Namun rumah itu tidak pernah dijual.

Bu Sulastri selalu berkata tempat itu menyimpan kenangan terakhir bersama suaminya.

Adrian membuka rekaman berikutnya.

Melinda duduk bersama seorang laki-laki yang tidak dikenalnya.

Di meja terdapat map.

“Kalau tanda tangannya sudah ada, sisanya saya urus,” kata laki-laki tersebut.

Adrian tidak bergerak.

Melinda mendorong sebuah amplop ke arahnya.

Video berhenti beberapa menit kemudian.

Adrian bersandar.

Ia tidak marah seperti di film-film.

Tidak membanting laptop.

Tidak berteriak.

Justru ada rasa dingin yang perlahan memenuhi tubuhnya.

Karena sekarang ia tahu satu hal.

Apa yang dilihatnya pagi tadi bukan sekadar pertengkaran keluarga.

Ada sesuatu yang direncanakan.

Dan belum selesai.

Adrian menelepon pengacara perusahaan.

“Pak Bima.”

“Ya, Pak Adrian?”

“Saya mau Anda mengecek apakah ada proses apa pun terkait rumah milik ibu saya di Ciputat.”

“Baik.”

“Sekarang.”

Sekitar empat puluh menit kemudian, jawabannya datang.

Belum ada perpindahan kepemilikan.

Tetapi ada permintaan konsultasi mengenai surat kuasa.

Nama yang digunakan?

Sulastri Wibowo.

Adrian menatap dinding.

Ia hampir terlambat.

Hampir.

Malam itu Melinda tidak diizinkan menemui Bu Sulastri sendirian.

Adrian tidak membuat keributan di rumah sakit.

Tidak ada adegan saling berteriak.

Ia hanya berkata kepada istrinya,

“Besok kita bicara di rumah.”

Melinda mencoba memegang tangannya.

Adrian mundur satu langkah.

Gerakan kecil itu sudah menjadi jawaban.

Keesokan paginya, Adrian pulang lebih dulu.

Ia berdiri di ruang keluarga.

Rumah besar itu mendadak terasa asing.

Sofa mahal.

Lampu kristal.

Lantai marmer.

Foto pernikahan mereka masih tergantung di dinding.

Dalam foto itu Melinda tersenyum sambil memegang lengannya.

Adrian pernah berpikir ia mengenal perempuan itu.

Ternyata manusia bisa tinggal satu atap bertahun-tahun dan tetap menyimpan sebuah ruangan yang tak pernah dibuka untuk siapa pun.

Melinda tiba pukul sembilan.

Begitu masuk, ia melihat laptop di meja.

Wajahnya berubah.

“Apa itu?”

Adrian memutar satu rekaman.

Tidak sampai satu menit.

Melinda langsung duduk.

“Aku bisa menjelaskan.”

“Silakan.”

“Aku tidak bermaksud mengambil rumah Ibu.”

Adrian menatapnya.

“Aku cuma…”

Ia berhenti.

Untuk pertama kalinya, alasan tidak datang dengan mudah.

“Aku punya utang.”

Adrian mengernyit.

“Utang?”

Melinda mulai menangis.

Bukan tangisan keras.

Air matanya jatuh satu-satu.

Ia mengaku selama hampir setahun diam-diam mengalami masalah keuangan akibat sejumlah keputusan pribadi yang tidak pernah ia ceritakan kepada Adrian. Jumlahnya terus membesar.

Ia panik.

Kemudian seseorang yang dikenalnya menyarankan menggunakan aset Bu Sulastri sebagai jalan keluar.

Awalnya Melinda menolak.

Setidaknya begitu pengakuannya.

Namun tekanan semakin besar.

Ia mulai melihat rumah lama Bu Sulastri bukan sebagai kenangan keluarga, melainkan angka.

Angka yang bisa menyelesaikan masalah.

Dari sanalah semuanya berubah.

“Dan Ibu?” tanya Adrian. “Kenapa Ibu harus diperlakukan seperti pembantu?”

Melinda menangis semakin keras.

“Aku kesal.”

“Kesal?”

“Dia tidak mau tanda tangan!”

Adrian terdiam.

Kalimat itu keluar begitu saja.

Mungkin Melinda sendiri baru menyadari apa yang baru diucapkannya.

Jadi benar.

Semua tekanan itu berkaitan.

Pekerjaan rumah.

Ancaman panti jompo.

Ponsel yang disita.

Tongkat yang disembunyikan.

Bukan hanya karena Melinda malas mengurus rumah.

Ia ingin Bu Sulastri merasa tidak berdaya.

Sampai akhirnya mau menandatangani dokumen apa pun agar semuanya berhenti.

Adrian berdiri.

“Aku tidak akan membahas ini berdua saja.”

“Apa maksudmu?”

“Mulai sekarang semua urusan aset Ibu akan ditangani pengacara. Tidak ada dokumen yang boleh diberikan kepadanya tanpa pendampingan.”

Melinda pucat.

“Adrian, jangan.”

“Dan untuk sementara, kamu tidak tinggal di rumah ini.”

“Ini rumahku juga!”

“Karena itu kita selesaikan semuanya melalui jalur yang benar.”

Melinda menangis.

Adrian tidak menghina.

Tidak membalas perlakuannya.

Tidak pula melakukan sesuatu hanya demi membuatnya merasakan sakit yang sama.

Ia sudah terlalu lelah.

Yang ia inginkan sekarang hanya satu.

Ibunya aman.

Beberapa hari kemudian Bu Sulastri pulang dari rumah sakit.

Namun Adrian tidak membawanya langsung ke rumah besar Alam Sutera.

Ia membawa ibunya ke Ciputat.

Ke rumah lama.

Saat mobil berhenti di depan pagar hijau yang catnya mulai memudar, Bu Sulastri tidak langsung turun.

Ia memandang halaman.

Pohon mangga yang ditanam suaminya masih ada.

Lebih tinggi.

Lebih rindang.

“Ibu kira kamu mau menjual rumah ini,” katanya.

Adrian tersenyum.

“Tidak.”

“Tapi rumahnya sudah tua.”

“Ya diperbaiki.”

“Banyak bocor.”

“Perbaiki.”

“Dapur sempit.”

“Besarkan.”

Bu Sulastri tertawa.

Entah kenapa, Adrian hampir menangis mendengarnya.

Sudah lama ia tidak mendengar tawa ibunya seperti itu.

Pintu mobil belakang terbuka.

Pak Darto menggendong Arga.

Seorang pengasuh baru menggendong Arya.

Kedua bayi itu langsung ribut ketika melihat neneknya.

Bu Sulastri mengulurkan tangan.

“Pelan-pelan, sini sama Eyang.”

Adrian buru-buru berkata, “Satu saja, Bu.”

“Dua-duanya.”

“Dokter bilang jangan mengangkat berat.”

“Kalau begitu satu.”

“Lima menit.”

“Sepuluh.”

“Tujuh.”

Bu Sulastri mendengus.

“Pengusaha kok pelit.”

Mereka tertawa.

Untuk pertama kalinya dalam beberapa bulan, suasana tidak terasa seperti seseorang sedang mengawasi dari balik pintu.

Renovasi rumah dimulai seminggu kemudian.

Bukan renovasi besar-besaran.

Bu Sulastri menolak.

Ia hanya meminta kamar mandi dibuat lebih aman, pegangan dipasang di dinding, lantai diganti dengan bahan yang tidak licin, dan sebuah kamar kecil diubah menjadi ruang bermain untuk Arga dan Arya.

Adrian juga mengurangi perjalanan bisnis.

Tidak seluruhnya.

Ia tetap bekerja.

Tetapi jadwalnya berubah.

Ada pagi-pagi ketika seorang direktur perusahaan bernilai miliaran rupiah justru duduk di lantai ruang tamu, memasang popok sambil menerima telepon dari manajer.

Pernah suatu hari Arya menarik dasinya sampai miring saat ia sedang rapat daring.

Bu Sulastri tertawa dari dapur.

“Makanya jangan pakai dasi di rumah.”

Adrian hanya bisa pasrah.

Hidup mereka perlahan menemukan bentuk baru.

Tidak sempurna.

Kadang Bu Sulastri masih terbangun tengah malam karena mimpi buruk.

Kadang ia panik ketika tidak menemukan ponselnya, padahal ternyata ponsel itu hanya tertinggal di meja makan.

Kebiasaan takut tidak hilang dalam sehari.

Adrian pun menyimpan rasa bersalah.

Suatu sore ia duduk bersama ibunya di teras.

“Ibu.”

“Hm?”

“Maaf.”

Bu Sulastri tidak bertanya untuk apa.

Ia tahu.

“Saya tinggal serumah dengan Ibu tapi tidak melihat apa-apa.”

“Kamu bekerja.”

“Itu bukan alasan.”

“Memang bukan.”

Adrian menatap ibunya, agak terkejut.

Bu Sulastri tersenyum.

“Ibu tidak mau bohong hanya supaya kamu merasa lebih baik.”

Adrian tertawa kecil.

Begitulah ibunya.

“Lalu saya harus bagaimana?”

“Belajar.”

“Belajar apa?”

“Pulang.”

Adrian terdiam.

Bu Sulastri menunjuk Arga dan Arya yang sedang merangkak mengejar bola plastik.

“Anak-anak itu nanti besar. Jangan sampai mereka cuma mengenal ayahnya dari panggilan video.”

Kalimat itu menempel di kepala Adrian.

Berbulan-bulan kemudian ia benar-benar mengubah sistem kerjanya.

Tidak drastis.

Tidak seperti cerita orang kaya yang tiba-tiba meninggalkan seluruh perusahaan demi hidup sederhana.

Adrian tetap pengusaha.

Tetap menghadiri rapat.

Tetap terbang ke Surabaya, Bali, Makassar, kadang Singapura.

Tetapi sekarang ada batas.

Makan malam keluarga bukan lagi jadwal yang mudah dicoret.

Hari Minggu tidak boleh disentuh kecuali keadaan darurat.

Dan setiap kali pergi, ia memastikan ibunya bisa menghubunginya langsung.

Sementara persoalan dengan Melinda berjalan lebih lama.

Jauh lebih lama daripada yang Adrian bayangkan.

Ada pengacara.

Ada dokumen.

Ada pemeriksaan transaksi.

Ada percakapan yang melelahkan.

Beberapa hubungan memang tidak selesai dengan satu pintu dibanting.

Kadang berakhirnya pelan.

Dengan tanda tangan.

Dengan barang-barang yang dikemas.

Dengan foto pernikahan yang akhirnya diturunkan dari dinding.

Melinda mengakui kesalahannya dan bersedia mengikuti proses penyelesaian yang ditentukan secara resmi. Aset Bu Sulastri tetap aman dan tidak berpindah tangan.

Adrian juga memastikan kedua anaknya tetap mendapatkan pengasuhan yang stabil.

Ia tidak pernah mengajari Arga dan Arya membenci ibu mereka.

“Mereka masih kecil,” katanya kepada Bu Sulastri suatu malam. “Nanti kalau sudah cukup umur, saya akan menjelaskan dengan cara yang benar.”

Bu Sulastri mengangguk.

“Jangan wariskan kemarahan.”

Adrian menatapnya.

“Ibu tidak marah?”

“Marah.”

Jawabannya cepat sekali.

Adrian tertawa.

“Ibu kira saya orang suci?”

Mereka tertawa bersama.

“Tapi marah itu satu hal,” lanjut Bu Sulastri. “Membawa marah ke mana-mana itu hal lain.”

Setahun berlalu.

Rumah tua di Ciputat kini terlihat berbeda.

Bukan karena menjadi lebih mewah.

Justru tidak.

Pohon mangga masih ada.

Pagar hijaunya tetap dipertahankan karena Bu Sulastri melarang Adrian menggantinya.

Di teras terdapat tiga sepeda kecil.

Tiga?

Ya.

Yang satu dibeli Adrian terlalu cepat karena mengira anak usia satu tahun sudah bisa naik sepeda.

Bu Sulastri menertawakannya hampir seminggu.

Arga dan Arya sekarang berjalan ke mana-mana.

Dan membuat rumah berantakan dalam waktu yang mengagumkan.

Suatu Minggu pagi Adrian terbangun karena suara gaduh dari dapur.

Ia berlari keluar.

“Ada apa?”

Bu Sulastri berdiri di tengah dapur.

Tepung berhamburan di lantai.

Arga memegang sendok.

Arya duduk di bawah meja dengan wajah penuh tepung.

Adrian menatap semuanya.

“Ibu sedang apa?”

“Bikin klepon.”

“Kenapa dapurnya seperti habis kena badai?”

Bu Sulastri menunjuk kedua cucunya.

“Tanya pegawai baru.”

Adrian mengangkat Arya.

Anak itu tertawa.

Tidak ada yang tahu mengapa.

Adrian ikut tertawa.

Kemudian matanya jatuh pada sebuah benda di sudut dapur.

Tongkat kayu.

Tongkat baru milik Bu Sulastri.

Berdiri begitu saja di dekat lemari.

Tidak disembunyikan.

Tidak dipatahkan.

Tidak ada seorang pun yang akan mengambilnya.

Pemandangan sederhana itu membuat Adrian terdiam cukup lama.

Bu Sulastri menyadarinya.

“Kamu kenapa?”

Adrian menggeleng.

“Tidak apa-apa.”

Ia berjalan ke teras membawa Arya.

Matahari pagi jatuh di halaman.

Arga menyusul sambil berlari kecil, hampir tersandung, lalu kembali berdiri.

Bu Sulastri berteriak dari dapur.

“Adrian! Jangan biarkan mereka injak rumput basah!”

“Iya, Bu!”

“Dan nanti beli santan!”

“Iya!”

“Jangan yang kemasan!”

Adrian menghela napas.

“Iya, Bu!”

Beberapa detik kemudian kepala Bu Sulastri muncul dari jendela.

“Sama gula merah!”

Adrian tertawa.

“Iya, Bu Sulastri!”

“Heh, panggil Ibu!”

Rumah itu kembali ramai.

Bukan ramai oleh pertengkaran.

Bukan suara perintah.

Bukan tangisan yang disembunyikan.

Ramai oleh dua anak kecil yang berebut bola, suara panci dari dapur, televisi yang volumenya terlalu keras, dan seorang nenek yang setiap lima menit memanggil anaknya hanya untuk meminta sesuatu yang sebenarnya bisa ia ambil sendiri.

Aneh.

Dulu Adrian menganggap rumah mewah sebagai bukti keberhasilan.

Marmer Italia.

Lampu impor.

Pagar otomatis.

Kolam renang.

Semuanya ada.

Namun rumah yang akhirnya membuatnya ingin cepat pulang justru rumah lama dengan pagar hijau yang catnya sedikit mengelupas.

Sore itu Adrian membuka laci meja kerja.

Ia sedang mencari charger ketika menemukan sesuatu.

Brosur panti jompo.

Brosur yang jatuh dari celemek ibunya setahun lalu.

Entah bagaimana benda itu tersimpan di sana.

Adrian memandang tulisan tanggal masuk yang sudah mulai pudar.

Jumat.

Hari ketika ibunya seharusnya dikirim pergi.

Ia hampir meremas kertas itu.

Hampir membuangnya.

Namun kemudian…

“Jangan.”

Suara Bu Sulastri terdengar dari belakang.

Adrian menoleh.

Ibunya berdiri di pintu.

“Kenapa?”

“Simpan saja.”

“Untuk apa?”

Bu Sulastri masuk perlahan.

Ia mengambil brosur itu dari tangan Adrian.

“Supaya kamu ingat.”

Adrian menunduk.

“Saya tidak mungkin lupa.”

“Bukan ingat kejadian buruknya.”

“Lalu?”

Bu Sulastri melipat brosur itu menjadi kecil.

“Ibu ingin kamu ingat bahwa hari itu kamu pulang.”

Adrian terdiam.

Bu Sulastri memasukkan kertas tersebut kembali ke laci.

“Kadang hidup tidak berubah karena kita melakukan sesuatu yang besar.”

Ia menutup laci.

“Kadang cuma karena seseorang pulang lima menit lebih cepat.”

Lalu perempuan tua itu berjalan keluar seolah baru saja mengatakan sesuatu yang biasa.

Adrian masih berdiri di sana.

Lima menit.

Ia membayangkan seandainya paspornya tidak tertinggal.

Seandainya ia langsung menuju bandara.

Seandainya ia tidak mendengar Arga menangis.

Seandainya ia pulang tiga hari kemudian.

Tidak.

Ia tidak ingin meneruskannya.

Dari halaman terdengar suara Arga.

“Ayah!”

Lalu Arya ikut berteriak meski pengucapannya belum jelas.

“Ayaaah!”

Adrian menutup laci.

“Datang!”

Ia berlari keluar.

Bu Sulastri sudah duduk di kursi teras dengan secangkir teh hangat.

Dua cucunya bermain di rumput.

Tidak ada kain jarik yang mengikat mereka ke punggung nenek mereka.

Tidak ada ember air kotor.

Tidak ada pintu kamar mandi yang tertutup.

Tidak ada ancaman.

Hanya sore yang biasa.

Dan mungkin itulah bagian terbaiknya.

Adrian duduk di anak tangga teras.

Arga tiba-tiba memanjat punggungnya.

Arya ikut-ikutan.

“Eh! Kalian mau apa?”

Keduanya tertawa.

Bu Sulastri mengangkat cangkir tehnya.

“Sekarang giliran kamu gendong dua-duanya.”

Adrian tertawa keras.

“Bu!”

“Kenapa?”

“Berat!”

Bu Sulastri tersenyum lebar.

“Baru tahu?”

Adrian berhenti tertawa.

Mata mereka bertemu.

Kalimat sederhana itu memiliki arti lain yang hanya dipahami mereka berdua.

Baru tahu?

Ya.

Sekarang Adrian tahu.

Betapa beratnya sesuatu yang selama ini dipikul ibunya sendirian.

Ia menggendong kedua anaknya lebih erat.

Kemudian menatap Bu Sulastri.

“Bu.”

“Hm?”

“Besok jangan masak.”

“Kenapa?”

“Kita makan di luar.”

“Buang-buang uang.”

“Saya yang bayar.”

“Ya memang kamu.”

Adrian tertawa lagi.

Matahari perlahan turun di balik atap rumah-rumah tetangga.

Bu Sulastri menyeruput teh.

Arga tertidur di bahu ayahnya.

Arya masih memainkan kancing kemeja Adrian.

Tidak ada musik dramatis.

Tidak ada tepuk tangan.

Tidak ada seorang pun berdiri untuk mengatakan bahwa semuanya akhirnya sempurna.

Karena memang belum sempurna.

Ada luka yang masih membutuhkan waktu.

Ada hubungan yang sudah tidak bisa kembali seperti dahulu.

Ada hari-hari ketika Adrian masih merasa bersalah.

Ada malam ketika Bu Sulastri masih memeriksa dua kali apakah ponselnya berada di dekat tempat tidur.

Tetapi ada satu perbedaan besar.

Sekarang ia tidak takut.

Rumah itu menjadi miliknya lagi.

Hidupnya menjadi miliknya lagi.

Dan anak yang dulu ia besarkan dengan susah payah akhirnya memahami sesuatu yang terlambat ia pelajari:

Memberi keluarga rumah besar tidak selalu berarti memberi mereka rumah yang aman.

Kadang yang paling dibutuhkan seseorang bukan uang.

Bukan kamar luas.

Bukan mobil mahal.

Melainkan seseorang yang benar-benar melihat ketika mereka berkata,

“Aku baik-baik saja.”

Adrian mencium kepala Arga.

Lalu Arya.

Dari kursinya, Bu Sulastri tiba-tiba berkata,

“Adrian.”

“Iya, Bu?”

“Paspor kamu sekarang taruh di mana?”

Adrian terdiam.

Ia meraba saku.

Lalu menatap ibunya dengan wajah panik.

Bu Sulastri langsung tertawa terbahak-bahak.

“Jangan bilang hilang lagi!”

Adrian berlari masuk ke rumah.

“Sebentar!”

Suara tawa Bu Sulastri terdengar sampai ke dalam.

Dan untuk pertama kalinya, sebuah paspor yang terlupakan tidak lagi mengingatkan Adrian pada hari paling buruk dalam keluarganya.

Melainkan pada satu kebetulan kecil yang menyelamatkan mereka.

Sebab pada hari itu Adrian memang pulang hanya untuk mengambil paspor.

Tetapi ketika membuka pintu rumahnya…

yang ia temukan bukan paspor.

Ia menemukan kebenaran.

Ia mendapatkan kembali ibunya.

Dan, tanpa ia sadari saat itu—

ia juga menemukan jalan pulang menuju keluarganya sendiri.

TAMAT

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *