Namun kondektur hanya menatapnya tanpa menjawab. Dan beberapa penumpang justru mulai mendesak agar Laras segera turun…

BAGIAN 2

“Turun saja, Bu. Kasihan kami semua.”

Entah siapa yang mengucapkannya.

Laras tidak menoleh.

Ia masih berharap ada satu orang saja yang berkata sebaliknya.

 

 

 

 

 

Satu orang.

Namun yang terdengar hanya suara hujan menghantam atap bus, dengung mesin, dan tangisan Raka yang semakin serak.

Kondektur mengambil tas kain milik Laras dari rak atas.

“Maaf, Bu.”

Tas itu diletakkan di dekat pintu.

Kalimat pendek itu terasa lebih menyakitkan daripada bentakan.

Laras berdiri perlahan sambil mendekap Raka. Jaket tipisnya langsung ia gunakan untuk menutupi kepala sang bayi.

“Setidaknya turunkan saya di warung atau rumah penduduk, Pak. Jangan di sini.”

Sopir menoleh sebentar.

“Kalau diteruskan, semua penumpang protes. Di depan katanya ada pos kecil. Mungkin tidak jauh.”

“Berapa jauh?”

Tidak ada jawaban yang jelas.

Laras menatap wajah-wajah di dalam bus.

Sebagian pura-pura tidur.

Sebagian memalingkan muka.

Ada seorang lelaki tua yang tampak hendak mengatakan sesuatu, tetapi istrinya menarik lengannya.

Pintu terbuka.

Angin dingin langsung menerobos masuk.

Hujan seperti ditumpahkan dari langit.

Laras turun.

Sepatunya menginjak genangan air.

Dalam hitungan detik, ujung celananya basah.

Kondektur menyerahkan tasnya, lalu naik kembali.

Pintu menutup.

Laras berdiri di tepi jalan sambil memeluk Raka.

“Pak!”

Ia mengetuk pintu.

“Tolong… paling tidak tunggu sampai ada kendaraan lain!”

Bus mulai bergerak.

“Pak!”

Lampu belakangnya perlahan menjauh.

Merah.

Semakin kecil.

Lalu hilang di balik tikungan.

Barulah Laras sadar betapa gelap tempat itu.

Tidak ada lampu jalan.

Tidak ada rumah.

Di sisi kanan terbentang tebing berbatu. Di sisi kiri, jalan menurun tajam menuju lembah yang tertutup pepohonan.

Suara air mengalir terdengar dari mana-mana.

Raka masih menangis.

Tetapi anehnya, begitu bus menghilang dari pandangan…

tangisannya mulai mengecil.

Laras menatap putranya.

“Kenapa, Nak?”

Raka terisak kecil.

Matanya masih mengarah ke tikungan tempat bus tadi menghilang.

“Dari tadi kamu kenapa?”

Tentu saja bayi delapan bulan tidak bisa menjawab.

Laras menarik napas panjang, mencoba menguasai ketakutannya.

Ia membuka tas dengan satu tangan.

Ponsel.

Baterai 17 persen.

Tidak ada sinyal.

“Bagus,” gumamnya pahit.

Ia mencoba menelepon nomor darurat.

Gagal.

Mencoba mengirim pesan kepada adiknya di Bukittinggi.

Tidak terkirim.

Hujan semakin keras.

Laras akhirnya berjalan.

Ia tidak tahu pos yang dimaksud sopir itu benar-benar ada atau hanya alasan agar ia mau turun.

Yang penting bergerak.

Kalau tetap berdiri, Raka bisa kedinginan.

Ia baru berjalan sekitar dua ratus meter ketika mendengar sesuatu.

Bukan petir.

Suara berat.

Jauh di depan.

Seperti…

“Brak!”

Laras berhenti.

Raka mendadak diam.

Lalu terdengar suara panjang yang sulit dikenali.

Gemuruh.

Tanah?

Batu?

Pohon?

Laras menajamkan telinga.

Beberapa detik kemudian semuanya kembali ditelan suara hujan.

“Ya Allah…”

Ia mempercepat langkah.

Jalan menanjak.

Sandalnya beberapa kali hampir tergelincir.

Raka mulai menggigil.

Laras membuka jaketnya lebih lebar dan membungkus tubuh anak itu.

Dirinya sendiri hanya mengenakan kaus lengan panjang yang sudah basah.

“Tidak apa-apa. Ibu kuat.”

Kalimat itu sebenarnya bukan untuk Raka.

Untuk dirinya sendiri.

Lima menit.

Sepuluh menit.

Tidak ada pos.

Tidak ada rumah.

Laras mulai menangis tanpa suara.

Pikirannya melayang pada alasan perjalanan malam itu.

Ayahnya sedang dirawat di Bukittinggi.

Sore tadi, adiknya menelepon dan mengatakan kondisi ayah mereka menurun. Laras yang tinggal sementara di Padang langsung mencari kendaraan.

Bus malam itulah yang tersedia.

Ia tidak menyangka perjalanan yang seharusnya membawanya menemui ayah justru membuatnya terdampar bersama bayi di jalan pegunungan.

Tiba-tiba…

ada cahaya.

Kecil.

Bergerak dari arah belakang.

Laras menoleh.

Lampu sepeda motor.

Ia langsung berdiri di tengah sisi jalan dan melambaikan tangan.

“Tolong!”

Motor itu melambat.

Pengendaranya seorang lelaki sekitar enam puluh tahun memakai jas hujan hijau tua. Di belakang motornya tergantung dua keranjang besar.

Lelaki itu berhenti beberapa meter dari Laras.

“Bu? Ibu ngapain malam-malam di sini?”

Pertanyaan itu begitu sederhana sampai Laras hampir menangis lagi.

“Saya diturunkan dari bus, Pak.”

“Diturunkan?”

“Bayi saya menangis terus. Penumpang protes.”

Lelaki itu menatap Laras beberapa detik seolah tidak yakin mendengar dengan benar.

“Di sini?”

Laras mengangguk.

“Busnya ke arah Bukittinggi?”

“Iya.”

Wajah lelaki itu berubah.

“Bus warna biru putih?”

Laras mengingatnya.

“Iya.”

Lelaki tersebut menoleh ke arah depan.

Lama.

“Astaga…”

“Kenapa, Pak?”

Ia tidak menjawab.

Sebaliknya, lelaki itu turun dari motor.

“Nama saya Harun. Rumah saya tidak jauh. Ibu ikut dulu. Bayinya sudah kedinginan.”

“Tapi ayah saya—”

“Tidak mungkin lanjut malam ini dengan bayi. Jalan depan juga…”

Pak Harun berhenti.

“Jalan depan kenapa?”

“Sejak sore tanahnya bergerak. Warga sudah bilang harus hati-hati.”

Laras langsung teringat suara gemuruh tadi.

Dadanya terasa sesak.

“Pak… bus tadi…”

Pak Harun menatap ke arah tikungan.

“Kita jangan menduga-duga.”

Ia mengambil salah satu kain plastik dari keranjangnya dan membantu menutupi Laras serta Raka.

Rumah Pak Harun ternyata sekitar satu kilometer di belakang, sedikit masuk dari jalan utama.

Istrinya, Bu Yani, terkejut ketika melihat mereka.

“Ya Allah, bayinya!”

Tanpa banyak pertanyaan, perempuan itu mengambil handuk kering.

“Masuk dulu. Cepat.”

Raka dibungkus selimut.

Laras diberi sarung dan pakaian kering milik anak perempuan Bu Yani.

Teh hangat diletakkan di meja.

Rumah itu kecil.

Dindingnya sederhana.

Atap sengnya berbunyi keras dihantam hujan.

Namun malam itu Laras merasa seolah memasuki hotel paling nyaman di dunia.

Raka sudah berhenti menangis.

Benar-benar berhenti.

Bayi itu bahkan mulai menguap.

Bu Yani mengusap pipinya.

“Dari tadi menangis?”

“Sejak bus masuk jalan pegunungan.”

“Perutnya sakit?”

“Saya pikir begitu. Tapi dia tidak demam. Sudah minum juga.”

Pak Harun yang sedang berdiri di dekat jendela tiba-tiba berkata pelan,

“Kadang bayi memang lebih peka sama keadaan sekitar.”

Bu Yani menoleh.

“Jangan bikin ibunya tambah takut.”

“Saya cuma bilang kadang.”

Laras hampir tersenyum.

Namun sebelum ia sempat menjawab…

lampu rumah berkedip.

Sekali.

Dua kali.

Mati.

Raka langsung membuka mata.

Kemudian suara itu terdengar lagi.

Gemuruh panjang.

Kali ini jauh lebih keras.

Gelas di meja bergetar.

Bu Yani berdiri.

“Longsor?”

Pak Harun mengambil senter.

“Sepertinya dari jalan atas.”

Beberapa menit kemudian terdengar suara orang berteriak dari luar.

“Pak Harun!”

“Pak Harun!”

Seorang pemuda berlari menuju rumah dalam keadaan basah kuyup.

“Jalan di tikungan Batu Gadang longsor!”

Pak Harun membuka pintu.

“Besar?”

“Besar sekali! Pohon ikut turun. Jalan tertutup!”

Laras berdiri.

Tangannya mendadak dingin.

“Tikungan Batu Gadang itu… di depan tempat saya turun?”

Pemuda tersebut memandangnya.

“Kalau dari sini, iya. Sekitar tiga kilometer.”

Laras menelan ludah.

Bus tadi sudah melewati tempat itu.

“Atau belum?” tanyanya cepat.

Pemuda itu menggeleng.

“Saya tidak tahu.”

Tidak ada yang mengatakan apa-apa lagi.

Pak Harun dan beberapa warga keluar untuk melihat keadaan.

Laras tinggal bersama Bu Yani.

Malam berjalan lambat.

Sangat lambat.

Pukul dua belas lewat.

Pukul satu.

Tidak ada kabar.

Raka tidur nyenyak di pangkuannya.

Laras justru tidak bisa memejamkan mata.

Pukul dua kurang sedikit, terdengar beberapa motor datang.

Pak Harun masuk.

Wajahnya pucat.

“Bu Laras.”

Laras langsung berdiri.

“Busnya?”

Pak Harun melepas jas hujannya.

“Bus yang Ibu tumpangi berhenti tidak jauh dari titik longsor.”

“Berhenti?”

“Iya.”

Laras mengembuskan napas.

Tetapi Pak Harun belum selesai.

“Sebagian badan bus keluar dari bahu jalan.”

Laras membeku.

“Tapi tidak jatuh ke jurang,” Pak Harun buru-buru menambahkan. “Ada pohon besar menahan bagian sampingnya. Warga sudah menuju ke sana. Semua penumpang sedang dievakuasi.”

Lutut Laras melemas.

Ia duduk kembali.

Bu Yani memegang bahunya.

“Alhamdulillah.”

Namun kemudian Pak Harun mengatakan sesuatu yang membuat Laras kembali menatapnya.

“Menurut salah satu warga yang sampai lebih dulu… kalau bus itu melaju satu atau dua menit lebih cepat, kemungkinan posisinya tepat di jalur material yang turun.”

Laras tidak langsung memahami kalimat itu.

Satu atau dua menit.

Lalu pikirannya kembali pada kejadian di bus.

Raka menangis.

Sopir terganggu.

Bus melambat.

Kondektur berjalan ke belakang.

Mereka berdebat.

Bus berhenti.

Tas diturunkan.

Laras memohon.

Semua itu memakan waktu.

Mungkin lima menit.

Mungkin lebih.

Tidak ada yang tahu.

Ia menatap bayi yang sedang tidur di pelukannya.

Bulu matanya masih basah.

“Raka…”

Laras mencium kepalanya.

Tidak ada mukjizat yang perlu dijelaskan.

Tidak perlu mengatakan bayi itu mengetahui masa depan.

Tidak perlu pula membuat cerita aneh.

Yang ada hanya sebuah kenyataan sederhana.

Tangisan seorang bayi membuat sebuah bus kehilangan beberapa menit perjalanan.

Dan malam itu…

beberapa menit ternyata sangat berarti.

Menjelang pukul tiga pagi, warga mulai membawa penumpang bus ke rumah-rumah terdekat.

Jalan tidak bisa dilalui kendaraan besar.

Orang-orang harus berjalan kaki.

Laras berdiri di teras rumah Pak Harun ketika melihat cahaya senter bergerak dari kejauhan.

Satu per satu orang muncul.

Basah.

Kotor.

Ketakutan.

Laras mengenali mereka.

Penumpang bus.

Orang pertama yang melihat Laras adalah ibu paruh baya yang sebelumnya menggerutu paling keras.

Langkah perempuan itu langsung berhenti.

Matanya membesar.

Laras juga diam.

Perempuan itu berjalan mendekat.

Tidak ada lagi wajah kesal.

Tidak ada komentar tentang bayi.

Ia hanya berdiri di depan Laras dengan bibir gemetar.

“Bu…”

Laras menunggu.

“Saya…”

Perempuan itu menunduk.

“Maaf.”

Satu kata.

Laras tidak menjawab segera.

Perempuan itu mulai menangis.

“Tadi saya yang paling keras menyuruh Ibu turun.”

Laras menatapnya.

“Saya tahu.”

“Saya benar-benar minta maaf.”

Di belakangnya, beberapa penumpang lain ikut terdiam.

Seorang pria yang sebelumnya mengeluh karena tidak bisa tidur mendekat.

“Kalau tadi kami tidak berhenti menurunkan Ibu…”

Ia tidak meneruskan kalimatnya.

Tidak perlu.

Sopir muncul paling belakang.

Ada luka kecil di dahinya.

Kondektur berjalan di sampingnya dengan pakaian penuh lumpur.

Begitu melihat Laras, kondektur langsung berhenti.

Tas Laras masih berada di dekat pintu rumah.

Tas yang beberapa jam sebelumnya ia letakkan begitu saja di jalan.

Kondektur memandang Raka.

Bayi itu terbangun.

Aneh sekali.

Raka tidak menangis.

Ia justru menatap semua orang dengan mata bulat.

Sopir mendekat.

“Bu Laras.”

Laras mengangguk.

Sopir mengusap wajahnya.

“Setelah menurunkan Ibu, saya jalan pelan karena pandangan buruk. Tidak lama kemudian ada batu kecil jatuh di depan. Saya rem. Lalu tanah dari sisi atas mulai turun.”

Ia menarik napas.

“Kalau posisi bus lebih depan sedikit… saya tidak tahu.”

Seorang penumpang laki-laki menyela,

“Bukan sedikit, Pak. Kita berhenti cukup lama gara-gara bayi itu.”

Semua mata beralih kepada Raka.

Bayi kecil itu malah sibuk memainkan ujung selimut.

Bu Yani tertawa kecil.

“Jangan dilihatin ramai-ramai begitu. Nanti malah nangis lagi.”

Entah kenapa, beberapa orang ikut tertawa.

Bukan karena lucu.

Mungkin karena mereka masih hidup.

Kadang manusia tertawa justru ketika rasa takutnya terlalu besar untuk ditampung.

Perempuan paruh baya tadi mengeluarkan sesuatu dari tas.

Selembar uang.

“Bu, ini buat anaknya.”

Laras langsung menggeleng.

“Tidak perlu.”

“Tolong diterima.”

“Benar-benar tidak perlu.”

Perempuan itu tampak malu.

Laras kemudian berkata,

“Kalau Ibu memang merasa bersalah, nanti kalau ada ibu lain membawa anak menangis di kendaraan… jangan perlakukan dia seperti saya malam ini.”

Perempuan itu diam.

Uang di tangannya perlahan diturunkan.

Laras tidak mengatakannya dengan marah.

Justru itu yang membuat kalimat tersebut terasa berat.

“Kadang ibunya juga sudah malu, sudah panik, sudah berusaha sekuat tenaga. Jangan ditambah ketakutannya.”

Perempuan itu mengangguk berkali-kali.

“Iya.”

Laras tersenyum tipis.

“Sudah. Yang penting semuanya selamat.”

Malam itu rumah Pak Harun penuh sesak.

Ruang tamu diisi penumpang perempuan dan anak-anak.

Kaum lelaki beristirahat di teras serta rumah tetangga.

Ada yang membuat mi instan.

Ada yang merebus air.

Ada yang meminjamkan pakaian.

Tidak ada yang bertanya siapa kaya, siapa miskin, siapa tadi duduk di kelas kursi mana.

Dalam keadaan seperti itu, semua kembali sederhana.

Orang basah membutuhkan handuk.

Orang lapar membutuhkan makanan.

Orang takut membutuhkan seseorang yang duduk di sebelahnya.

Menjelang subuh, Raka kembali menangis.

Semua penumpang spontan menoleh.

Laras langsung panik.

“Maaf, mungkin dia lapar.”

Tiba-tiba lelaki yang sebelumnya mengeluh paling keras berkata,

“Biarkan saja, Bu.”

Laras menatapnya.

Pria itu tersenyum canggung.

“Mau nangis sampai pagi juga tidak apa-apa.”

Beberapa orang tertawa.

Bahkan sopir ikut tertawa kecil.

Raka tetap menangis.

Kali ini tidak seorang pun protes.

Pagi datang membawa pemandangan yang baru benar-benar memperlihatkan betapa dekat mereka dengan bahaya.

Hujan mulai reda.

Petugas datang.

Jalur sementara dibuka untuk pejalan kaki.

Laras ikut melihat bus dari kejauhan.

Kendaraan besar itu miring di tepi jalan.

Bagian belakangnya nyaris keluar dari aspal.

Sebuah pohon besar menahan sisi badan bus.

Tidak jauh di depannya, tanah, batu, dan batang pohon menutupi jalan.

Laras tidak sanggup mendekat.

Ia memeluk Raka.

“Sudah. Kita tidak perlu lihat lagi.”

Sekitar pukul sembilan pagi, kendaraan dari arah Bukittinggi datang menjemput para penumpang setelah jalur alternatif dinyatakan dapat digunakan.

Sebelum Laras naik, Pak Harun memberikan kantong plastik.

“Ada pisang rebus sama air hangat.”

“Pak, saya sudah merepotkan semalaman.”

“Repot apanya?”

Bu Yani menyelipkan selimut kecil ke tas Laras.

“Buat Raka.”

“Saya kembalikan nanti.”

“Jangan.”

“Bu…”

“Kalau mau mengembalikan, kasih saja selimut ke orang lain yang suatu hari membutuhkan.”

Laras terdiam.

Kemudian memeluk Bu Yani.

Tidak ada pidato panjang.

Hanya pelukan dua perempuan yang beberapa jam sebelumnya bahkan tidak saling mengenal.

Laras tiba di Bukittinggi menjelang siang.

Adiknya, Dimas, sudah menunggu.

Begitu melihat Laras turun sambil menggendong Raka, Dimas berlari.

“Kak!”

Laras belum sempat mengatakan apa-apa ketika adiknya langsung memeluknya.

“Aku dengar ada longsor. Nomormu tidak bisa dihubungi!”

“Aku tidak apa-apa.”

“Ayah terus tanya.”

Wajah Laras berubah.

“Ayah bagaimana?”

“Masih sadar.”

Mereka langsung menuju rumah sakit.

Laras berjalan cepat menyusuri koridor.

Begitu memasuki kamar, ia melihat ayahnya terbaring lemah.

Lelaki tua itu membuka mata.

“Laras?”

“Iya, Yah.”

Laras mendekat.

Ayahnya melihat Raka.

“Cucu Kakek datang juga?”

Laras tertawa sambil menangis.

“Datang, Yah. Perjalanannya bikin satu bus kacau.”

Ayahnya tidak memahami maksud kalimat itu.

Belum.

Laras duduk di samping tempat tidur dan menceritakan semuanya.

Anehnya, ayahnya tidak terlihat terkejut ketika mendengar tentang tangisan Raka.

Ia hanya memandang cucunya cukup lama.

Kemudian berkata,

“Kadang sesuatu yang kita anggap gangguan ternyata sedang memperlambat kita dari hal yang belum kita lihat.”

Laras mengusap air mata.

“Jangan mulai sok bijak karena lagi di rumah sakit.”

Ayahnya tertawa lemah.

“Kurang ajar kamu.”

Itulah pertama kalinya Laras tertawa lepas sejak malam sebelumnya.

Kondisi ayah Laras membaik dalam beberapa hari.

Dokter memperbolehkannya pulang seminggu kemudian.

Cerita tentang bus malam itu sempat tersebar di lingkungan warga sekitar lokasi longsor.

Bukan sebagai cerita bayi yang memiliki kekuatan aneh.

Laras tidak suka versi semacam itu.

Menurutnya, Raka hanya bayi.

Mungkin telinganya tidak nyaman karena perubahan tekanan udara.

Mungkin ia ketakutan mendengar petir.

Mungkin tubuh kecilnya merasakan getaran jalan.

Atau mungkin memang kebetulan.

Tidak ada yang benar-benar tahu.

Yang jelas, bus kehilangan beberapa menit.

Dan beberapa menit itu mengubah posisi mereka ketika longsor terjadi.

Itu saja sudah cukup.

Namun ada bagian lain dari malam tersebut yang justru lebih lama tinggal dalam ingatan Laras.

Bukan longsornya.

Bukan busnya.

Melainkan wajah orang-orang ketika mereka bertemu lagi di rumah Pak Harun.

Wajah malu.

Takut.

Bersyukur.

Manusia bisa sangat mudah menghakimi ketika merasa nyaman.

Kursinya empuk.

Tubuhnya hangat.

Ia ingin tidur.

Lalu tangisan bayi orang lain terasa seperti masalah terbesar di dunia.

Sampai keadaan berubah.

Tiga bulan kemudian, Laras kembali melewati jalur itu.

Kali ini siang hari.

Ia bersama Raka dan ayahnya yang sudah jauh lebih sehat.

Mereka sengaja berhenti di rumah Pak Harun.

Bu Yani keluar sambil membawa sapu.

Begitu melihat Laras, perempuan itu berteriak,

“Eh! Bayi tukang nangis!”

Raka yang kini sudah sebelas bulan justru tertawa.

Pak Harun keluar dari belakang rumah.

Mereka makan siang bersama.

Laras membawa beberapa oleh-oleh, tetapi Bu Yani berkali-kali mengomel karena menurutnya terlalu banyak.

Sebelum pulang, Laras melihat selimut kecil yang dahulu diberikan Bu Yani.

Selimut itu masih digunakan Raka.

“Bu.”

“Hm?”

“Saya belum memberikan selimut kepada orang lain.”

Bu Yani tersenyum.

“Belum ketemu orangnya.”

Laras mengangguk.

Ternyata benar.

Belum.

Hampir setahun setelah kejadian itu, Laras sedang berada di sebuah terminal ketika melihat seorang perempuan muda duduk sendirian.

Perempuan itu membawa bayi.

Bayinya menangis keras.

Beberapa orang mulai menoleh dengan wajah tidak senang.

Seorang pria bahkan menggerutu.

Laras berhenti.

Untuk beberapa detik, ia seperti melihat dirinya sendiri pada malam hujan itu.

Perempuan muda tersebut terlihat panik.

“Maaf… maaf…”

Ia terus meminta maaf kepada orang-orang di sekitarnya sambil mencoba menenangkan bayinya.

Laras membuka tas.

Di dalamnya ada selimut kecil.

Selimut dari Bu Yani.

Sudah dicuci berkali-kali.

Warnanya sedikit pudar.

Raka sudah terlalu besar untuk memakainya.

Laras berjalan mendekati perempuan itu.

“Bu.”

Perempuan tersebut mendongak dengan mata takut.

Laras menyerahkan selimut.

“Coba bungkus bayinya pakai ini. AC terminal dingin.”

Perempuan itu terlihat bingung.

“Ini punya Ibu?”

“Dulu.”

“Nanti saya kembalikan bagaimana?”

Laras tersenyum.

Ia teringat persis kalimat Bu Yani.

“Tidak usah.”

“Tapi—”

“Kalau suatu hari ketemu orang yang membutuhkan, kasih saja ke dia.”

Perempuan itu memegang selimut tersebut.

Matanya berkaca-kaca.

Laras tidak menunggu ucapan terima kasih.

Ia kembali kepada Raka yang sedang berdiri bersama kakeknya beberapa meter dari sana.

Anak itu kini sudah bisa berjalan tertatih-tatih.

Begitu melihat ibunya, Raka mengangkat kedua tangan.

Laras menggendongnya.

Ayahnya bertanya,

“Selimutnya dikasih?”

“Iya.”

“Sayang?”

Laras menoleh ke belakang.

Perempuan muda tadi sedang membungkus bayinya.

Tangis sang bayi perlahan mereda.

Laras tersenyum.

“Enggak.”

Ia mencium pipi Raka.

“Ada barang yang memang lebih baik terus berjalan daripada disimpan.”

Beberapa tahun berlalu.

Raka tentu tidak mengingat malam ketika dirinya menangis tanpa henti di sebuah bus menuju Bukittinggi.

Baginya cerita itu hanya kisah yang berulang kali diceritakan keluarga ketika mereka berkumpul.

Setiap kali Laras mulai berkata,

“Dulu waktu kamu delapan bulan…”

Raka langsung menyela.

“Aku menyelamatkan satu bus, kan?”

Laras biasanya mencubit pipinya.

“Siapa bilang? Kamu cuma nangis.”

“Tapi busnya berhenti gara-gara aku.”

“Itu benar.”

“Berarti aku pahlawan.”

“Pahlawan apaan? Waktu itu popokmu saja masih Ibu yang ganti.”

Semua orang tertawa.

Raka akan cemberut sebentar lalu ikut tertawa.

Laras memang sengaja tidak pernah membesarkan kisah itu menjadi legenda.

Ia tidak ingin anaknya tumbuh dengan keyakinan bahwa dirinya mempunyai kemampuan istimewa.

Yang ingin ia ajarkan justru sesuatu yang jauh lebih sederhana.

Bahwa manusia tidak pernah benar-benar tahu apa yang sedang dialami orang lain.

Tangisan yang mengganggumu mungkin berasal dari seseorang yang sudah berusaha mati-matian bertahan.

Keterlambatan yang membuatmu marah mungkin hanya beberapa menit.

Dan beberapa menit…

kadang ternyata sangat berharga.

Ada satu hal lagi yang selalu Laras ceritakan.

Tentang rumah kecil di pinggir jalan.

Tentang Pak Harun yang berhenti ketika melihat seorang ibu membawa bayi dalam hujan.

Tentang Bu Yani yang tidak bertanya macam-macam sebelum memberikan handuk.

Tentang semangkuk mi instan yang malam itu terasa lebih mewah daripada makanan restoran.

Tentang sebuah selimut kecil yang akhirnya berpindah tangan.

Karena kalau malam itu hanya diingat sebagai kisah tentang longsor, menurut Laras ada bagian terpenting yang hilang.

Mereka selamat bukan hanya karena bus terlambat beberapa menit.

Setelah Laras ditinggalkan sendirian di jalan gelap, seseorang memilih berhenti.

Seseorang memilih membuka pintu rumah.

Seseorang memilih berkata,

“Masuk dulu.”

Dan kadang…

hidup seseorang berubah bukan karena tindakan besar.

Bukan karena kekayaan.

Bukan pula karena sesuatu yang ajaib.

Hanya karena pada saat semua orang memilih meneruskan perjalanan, ada satu orang yang memutuskan untuk berhenti.

Bertahun-tahun kemudian, ketika melewati jalan pegunungan itu bersama Raka, Laras masih sesekali melihat ke luar jendela.

Pepohonan tetap lebat.

Tikungannya tetap tajam.

Kabut turun seperti dulu.

Raka yang sudah lebih besar biasanya tertidur di sampingnya.

Suatu sore, anak itu terbangun dan bertanya,

“Bu, tempat aku nangis dulu di mana?”

Laras menunjuk sebuah tikungan.

“Mungkin sekitar sana.”

Raka menempelkan wajah ke kaca.

“Terus Ibu takut?”

“Takut sekali.”

“Kenapa Ibu tetap jalan?”

Laras berpikir sebentar.

Karena dulu ia sendiri juga tidak tahu jawabannya.

Mungkin karena tidak ada pilihan.

Mungkin karena sedang menggendong seseorang yang membuatnya tidak boleh menyerah.

“Karena Ibu bawa kamu.”

Raka diam sebentar.

Kemudian tangannya menggenggam tangan Laras.

“Kalau sekarang Ibu takut, aku temani.”

Laras menatap putranya.

Ia tertawa kecil.

Anak yang dahulu hanya bisa menangis itu sekarang mencoba menenangkan ibunya.

“Baik.”

Di luar jendela, jalan panjang terbentang di antara pegunungan.

Tidak ada hujan.

Tidak ada petir.

Hanya cahaya sore yang jatuh di pepohonan dan kendaraan yang bergerak pelan menuju kota.

Laras menyandarkan kepala ke kursi.

Untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, ketika melewati tikungan itu, ia tidak teringat pada pintu bus yang menutup di hadapannya.

Ia teringat pada pintu lain.

Pintu rumah sederhana yang dibuka oleh dua orang asing di tengah malam.

Dan ia sadar…

mungkin begitulah cara terbaik mengenang malam tersebut.

Bukan sebagai malam ketika seorang ibu dan bayinya dibuang dari sebuah bus.

Melainkan malam ketika satu pintu tertutup di depan mereka…

lalu pintu lain terbuka.

Dan ternyata, pintu kedua itulah yang membawa mereka pulang.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *