PARTE 2
Aku mengambil potongan dokumen itu sebelum Dimas sempat menyentuhnya.
“Jangan.”
“Nadira, jangan keterlaluan.”
Aku menatap suamiku.
“Sekarang baru menurutmu ini keterlaluan?”
Bu Ratna masih berteriak bahwa semua barang di rumah adalah miliknya.
Aku tidak berdebat.
Aku membuka penyimpanan cloud.
Folder pertama bernama:
PENGELUARAN RUMAH.
Satu per satu bukti muncul.
Pembayaran cicilan rumah.
Rp7,5 juta dari rekeningku setiap bulan.
Pembelian kulkas Rp18 juta.
Mesin cuci Rp12 juta.
Sofa Rp27 juta.
Renovasi dapur Rp36 juta.
AC.
Kasur.
Gorden.
Biaya listrik.
Iuran lingkungan.
Semua tersimpan rapi.
Wajah Dimas berubah.
“Kamu mencatat semuanya?”
“Sejak tahun kedua pernikahan.”
Aku membuka folder berikutnya.
Transfer Rp42 juta kepada putri Tante Yuni untuk biaya kuliah.
Tante Yuni langsung berdiri.
“Itu kan Mama Dimas yang menyuruh!”
“Yang menerima uang siapa?”
Dia terdiam.
Bu Ratna membentak,
“Namanya keluarga saling membantu!”
Aku mengangguk.
“Kalau begitu kenapa selama tiga tahun saya disebut numpang?”
Tetangga mulai berdiri di luar pintu karena mendengar keributan.
Bu Ratna buru-buru berkata,
“Menantu saya sedang ngamuk. Dia mau mengambil barang keluarga!”
Aku menaikkan volume rekaman.
Suara Bu Ratna sendiri memenuhi ruang tamu.
“Keluar dari rumah saya!”
“Kamu cuma orang luar!”
“Mau pindah ya pindah!”
Beberapa tetangga saling berpandangan.
Bu Ratna membeku.
Aku belum selesai.
“Dan satu lagi.”
Aku menatap Dimas.
“Aku mau cerai.”
Dimas seperti kehilangan suara.
Bu Ratna justru tertawa.
“Cerai saja! Keluar dengan tangan kosong!”
“Tangan kosong?”
Aku menunjukkan riwayat cicilan rumah selama tiga tahun.
Total uang yang keluar dari rekeningku sudah ratusan juta rupiah.
Dimas langsung mendekat.
“Nadira, kita bisa bicara baik-baik.”
“Kamu baru ingin bicara setelah melihat angka?”
Dia terdiam.
Saat itulah kepala tim pindahan menelepon.
“Mbak Nadira, di formulir ada satu brankas di kamar utama. Itu juga dibawa?”
Aku menatap koridor.
Brankas milik Bu Ratna.
Selama tiga tahun dia tak pernah membiarkanku mendekatinya.
Katanya hanya berisi surat lama keluarga.
Tetapi malam sebelumnya Dimas pulang mabuk dan tanpa sadar menuliskan kombinasi brankas di belakang bungkus rokok.
Aku masih menyimpannya.
“Ya.”
“Buka dan pindahkan.”
Bu Ratna langsung menerjang.
“JANGAN!”
Dia mencengkeram lenganku.
Semua orang terdiam.
Aku menatap wajahnya yang mendadak pucat.
“Kenapa?”
“Katanya hanya barang keluarga.”
“Kamu tidak berhak!”
“Kalau begitu kita tidak perlu membukanya.”
Aku tersenyum tipis.
“Kita panggil polisi dan pengacara untuk menyaksikan.”
Bu Ratna kehilangan kata-kata.
Dan saat melihat ketakutan di matanya, aku akhirnya mengerti.
Apa pun yang disimpan di dalam brankas itu…
jauh lebih berbahaya daripada seluruh kuitansi yang baru saja dia robek.
PARTE 3
Dimas berdiri di depan pintu kamar utama.
“Nadira, jangan buka.”
Aku menatapnya.
“Kenapa?”
“Itu barang Mama.”
“Lalu kenapa kamu tahu kombinasinya?”
Dimas membeku.
Bu Ratna langsung menyela.
“Dimas, jangan bicara!”
Kalimat itu justru menjawab semuanya.
Aku mengeluarkan bungkus rokok dari tas.
Enam angka tertulis dengan tinta biru.
Petugas pindahan tidak mau menyentuh brankas sebelum status barangnya jelas, jadi aku meminta mereka menunggu.
Aku juga menghubungi Pak Arif, seorang pengacara yang pernah menangani dokumen hukum perusahaan tempatku bekerja.
Aku tidak meminta dia menyelesaikan masalah malam itu.
Aku hanya mengirim foto dokumen yang sempat dirobek Bu Ratna dan meminta satu hal:
pastikan aku tidak melakukan sesuatu yang bodoh.
Balasannya datang cepat.
Jangan rusak atau bawa dokumen yang bukan milikmu. Dokumentasikan. Jika ada dokumen terkait aset perkawinan, simpan bukti dan konsultasikan secara resmi besok.
Aku menarik napas.
Kemudian kubuka brankas hanya karena Dimas akhirnya menyerahkan kuncinya sendiri.
Klik.
Pintunya terbuka.
Bagian atas berisi perhiasan.
Dan aku langsung mengenali salah satunya.
Gelang emas tebal dengan ukiran kecil berbentuk bunga melati.
Tanganku gemetar.
Itu gelang dari ibuku.
Hadiah pernikahanku.
Pada hari kedua setelah menikah, Bu Ratna mengambilnya.
“Biar Mama simpan. Barang mahal gampang hilang.”
Enam bulan kemudian aku melihat gelang serupa dipakai adik Dimas, Siska.
Saat kutanyakan, Bu Ratna marah.
“Saudara sendiri pinjam sebentar saja dihitung!”
Sekarang gelang itu ada di dalam brankas.
Di sampingnya terdapat kalung dan cincin lain yang dulu hilang dari kamarku.
Aku menatap Dimas.
“Kamu tahu?”
Dia tak menjawab.
“DIMAS.”
“Aku… tahu soal gelang.”
Dadaku seperti dihantam.
“Kamu tahu?”
“Mama bilang nanti dikembalikan.”
“Tiga tahun?”
Dia menunduk.
Aku tertawa kecil.
Ternyata selama ini yang paling menyakitkan bukan ibu mertuaku.
Melainkan laki-laki yang melihat semuanya dan memilih diam.
Tetapi kejutan sebenarnya berada di bagian bawah brankas.
Ada map berwarna cokelat.
Di dalamnya terdapat fotokopi dokumen rumah, riwayat pembayaran, dan beberapa lembar perjanjian.
Aku membaca halaman pertama.
Lalu halaman kedua.
Tanganku mulai dingin.
Rumah yang selama tiga tahun disebut Bu Ratna sebagai “rumah saya” ternyata memang dibeli atas namanya sebelum pernikahan kami.
Tetapi setahun setelah aku menikah dengan Dimas, rumah itu pernah hampir disita karena tunggakan.
Aku ingat masa itu.
Dimas mengatakan keluarganya sedang mengalami kesulitan.
Dia meminta tabunganku.
Rp185 juta.
Katanya untuk modal usaha.
Aku memberikan uang tersebut.
Tanpa perjanjian.
Karena dia suamiku.
Sekarang aku melihat bukti transfer bank yang selama ini tak pernah ditunjukkan kepadaku.
Uang Rp185 juta itu tidak pernah masuk ke usaha apa pun.
Uang itu dipakai untuk melunasi tunggakan rumah.
Aku mengangkat dokumen tersebut.
“Ini uangku?”
Dimas langsung pucat.
“Nadira…”
“Aku bertanya, ini uangku?”
Bu Ratna mencoba merebut map.
Aku mundur.
“Jangan sentuh.”
“Itu uang suami istri!” teriaknya.
Aku menatap perempuan yang selama tiga tahun mengatakan aku tidak punya hak apa pun di rumah itu.
“Menarik.”
“Ketika uang saya dipakai menyelamatkan rumah, uangnya menjadi uang suami istri.”
“Tapi ketika membicarakan rumah, saya dianggap orang luar.”
Tak ada satu orang pun yang menjawab.
Aku membuka dokumen lain.
Ada daftar transfer dari rekening Dimas ke Bu Ratna setiap bulan.
Ternyata sebagian uang yang kukira dipakai untuk cicilan mobil dan kebutuhan rumah justru dialihkan untuk keperluan lain.
Perawatan salon.
Belanja daring.
Uang untuk Siska.
Bahkan liburan Bu Ratna ke Bali tahun sebelumnya.
Aku teringat saat itu aku tidak ikut karena harus lembur.
Bu Ratna pulang membawa oleh-oleh satu kotak kecil.
Dia berkata,
“Kamu kan tidak ikut membayar perjalanan, jadi jangan berharap macam-macam.”
Aku hampir ingin tertawa melihat bukti di tanganku.
Ternyata aku ikut membayar.
Aku hanya tidak pernah diberi tahu.
Dimas mencoba memegang tanganku.
“Nadira, dengarkan aku.”
Aku menarik tangan.
“Apa lagi yang harus kudengarkan?”
“Aku akan mengembalikan semuanya.”
“Dengan apa?”
“Aku akan cari cara.”
“Bukan itu masalahnya.”
Aku menunjuk Bu Ratna.
“Selama tiga tahun ibumu memperlakukan aku seperti pembantu.”
Kemudian aku menunjuk Dimas.
“Dan selama tiga tahun kamu duduk di sofa, mendengar semuanya, lalu menyuruhku mengalah.”
Matanya memerah.
“Aku cuma tidak mau bertengkar dengan Mama.”
“Jadi kamu memilih membiarkan istrimu yang terus terluka.”
Dia diam.
Itulah jawaban paling jujur yang pernah diberikan Dimas.
Malam itu aku tidak membawa brankas.
Aku juga tidak menyentuh dokumen asli yang kepemilikannya belum jelas.
Aku hanya mengambil barang-barang pribadiku dan perabot yang memiliki bukti pembelian atas namaku.
Sofa pertama kali diangkat.
Kemudian televisi.
Meja makan.
Mesin cuci.
Kulkas.
Kasur kamar tamu.
Gorden.
Rak sepatu.
Satu demi satu keluar dari pintu.
Bu Ratna berdiri di tengah ruang tamu.
“Apa kamu benar-benar tega?”
Aku berhenti.
Kalimat itu hampir membuatku tertawa.
“Tega?”
“Selama tiga tahun Mama menyuruh saya keluar.”
“Saya hanya akhirnya menurut.”
Ketika sofa dibawa pergi, ruang tamu menjadi kosong.
Ketika meja makan keluar, Bu Ratna baru sadar meja yang setiap hari dia gunakan juga kubeli.
Ketika televisi diturunkan dari dinding, Dimas berdiri seperti orang kehilangan arah.
Dalam waktu kurang dari dua jam, rumah yang selalu dibanggakan Bu Ratna berubah menjadi ruangan kosong dengan bekas-bekas persegi di dinding.
Hanya beberapa kursi lama dan lemari bawaan rumah yang tersisa.
Tante Yuni sudah pergi sejak tadi.
Namun sebelum pulang dia mentransfer sebagian uang yang pernah diterimanya.
Dia berjanji mencicil sisanya.
Entah karena sadar atau takut masalah itu membesar, aku tak peduli lagi.
Sekitar pukul sebelas malam, truk pertama berangkat.
Aku berdiri di depan pintu dengan koper.
Dimas mengejarku.
“Nadira.”
Aku berhenti.
“Jangan pergi malam ini.”
Aku menatapnya.
Tiga tahun lalu, mungkin satu kalimat itu cukup membuatku menangis dan bertahan.
Malam itu tidak.
“Aku akan menginap di apartemen temanku.”
“Kita bicara besok.”
“Besok aku bicara melalui pengacara.”
Wajahnya runtuh.
“Kamu sungguh mau cerai?”
Aku memandang rumah di belakangnya.
Rumah yang sebagian cicilannya kubayar.
Rumah yang kusejukkan dengan AC yang kubeli.
Rumah yang dapurnya kurenovasi.
Rumah tempat aku bangun setiap pagi sebelum semua orang hanya supaya mereka bisa hidup nyaman.
Namun setiap kali Bu Ratna marah, rumah itu kembali disebut miliknya.
Aku tersenyum.
“Aku tidak bercerai karena satu pertengkaran.”
“Aku bercerai karena tiga tahun kamu mengajariku bahwa menjadi istrimu berarti harus kehilangan harga diri supaya keluargamu tetap nyaman.”
Dimas tak bisa berkata apa-apa.
Bu Ratna berdiri jauh di belakang.
Suaranya tak lagi keras.
“Nadira…”
Untuk pertama kalinya dia memanggil namaku tanpa nada merendahkan.
Aku menoleh.
Dia melihat ruang tamu kosong.
“Besok… kalau kamu pulang, kita bisa bicara.”
Aku menggeleng.
“Saya sudah pulang berkali-kali, Ma.”
“Hanya saja saya baru sadar rumah ini tidak pernah menjadi tempat saya pulang.”
Aku masuk ke mobil.
Seminggu kemudian, melalui pendampingan hukum, kami mulai memisahkan mana aset pribadi, mana pengeluaran rumah tangga, serta mana kewajiban yang perlu dibuktikan lebih lanjut.
Aku tidak mendapatkan semua uangku kembali dalam sehari.
Kehidupan nyata memang tidak bekerja seperti itu.
Tetapi aku mendapatkan sesuatu yang selama tiga tahun perlahan hilang.
Kendali atas hidupku sendiri.
Dimas mengirim puluhan pesan.
Dia meminta maaf.
Mengatakan rumah terasa kosong.
Mengatakan ibunya sekarang memasak sendiri.
Mengatakan baru menyadari berapa banyak hal yang selama ini kulakukan.
Pesan terakhirnya berbunyi:
Aku baru sadar kamu bukan sekadar mengisi rumah itu. Kamu yang membuatnya menjadi rumah.
Aku membaca kalimat tersebut lama.
Lalu menghapus notifikasinya.
Karena beberapa penyesalan datang bukan setelah seseorang memahami kesalahannya.
Melainkan setelah dia kehilangan semua kenyamanan yang selama ini dianggap akan selalu tersedia.
Dan sejak malam ketika Bu Ratna menunjuk pintu sambil berkata, “Keluar dari rumah saya”…
aku akhirnya memahami satu hal.
Kadang seseorang terus mengusirmu karena yakin kamu tidak akan pernah benar-benar pergi.
Maka ketika suatu hari kamu akhirnya melangkah keluar…
jangan heran jika orang yang paling keras menyuruhmu pergi justru menjadi orang pertama yang memintamu kembali.

