PARTE 2
“Kamu bilang apa?”
Raka berdiri di depanku seolah aku baru melakukan sesuatu yang tidak masuk akal.
“Aku membatalkan pernikahan.”
Kiara buru-buru memegang lengannya.
“Kak Raka, Nadira pasti cuma emosi.”
Aku mengangkat ponsel dan menunjukkan pesan pembatalan yang sudah kubagikan kepada keluarga.
Wajah Raka mengeras.
“Kamu gila? Besok ada hampir seribu tamu.”
“Kalau begitu beri tahu mereka pengantin perempuannya sudah sadar sebelum terlambat.”
Kiara mulai menangis.
Ia mencoba melepas gaun merahku.
Satu kancing terlepas dan jatuh ke lantai.
“Maaf… aku benar-benar tidak sengaja.”
Seperti biasa, Raka langsung berdiri melindunginya.
“Nadira, jangan membuat Kiara takut.”
Aku sampai tertawa.
“Dia memakai pakaian calon istrimu tanpa izin, merusaknya di depanmu, dan orang yang kamu khawatirkan justru dia?”
Raka mengusap wajah kasar.
“Kiara sejak kecil sakit-sakitan. Kenapa kamu selalu bersaing dengannya?”
“Karena dia selalu mengambil sesuatu yang menjadi milikku, dan kamu selalu membiarkannya.”
Raka ingin menyela, tetapi aku mengangkat tangan.
“Kalung lamaran.”
“Kunci rumah.”
“Gaun resepsi.”
“Sekarang kursi orang tuaku.”
“Besok apa? Nama istrinya juga?”
Kiara terisak semakin keras.
Raka berteriak, “Cukup!”
Aku menarik koper menuju pintu.
Namun saat melewati meja, ponsel Raka yang sedang diisi daya menyala.
Sebuah notifikasi muncul.
Hotel Arunika – revisi reservasi honeymoon suite, dua tamu: Raka Mahendra & Kiara Adinata.
Aku berhenti.
Raka langsung menyambar ponselnya.
Terlambat.
Aku sudah membacanya.
Kiara pucat.
“Itu… bukan seperti yang kamu pikirkan.”
Aku menatap Raka.
“Bulan madu juga bagian dari taruhan?”
Raka tidak menjawab.
Keheningan beberapa detik terasa lebih menyakitkan daripada semua penghinaan sebelumnya.
Akhirnya dia berkata pelan.
“Kiara sedang mengalami masalah keluarga. Aku hanya berencana membawanya ke Bali beberapa hari setelah kita menikah.”
Aku menatapnya seperti melihat orang asing.
“Setelah kita menikah?”
“Kamu bisa menyusul.”
Saat itulah aku benar-benar mengerti.
Selama tujuh tahun, aku bukan calon istri.
Aku hanyalah perempuan yang selalu diminta mengalah.
Aku membuka pintu.
Raka mengejarku.
“Kamu mau pergi ke mana tengah malam begini?”
“Terserah.”
“Nadira, besok keluarga Mahendra akan dipermalukan!”
Aku menatapnya untuk terakhir kali.
“Lucu.”
“Kalian mencoret nama orang tuaku dari meja utama, tapi baru merasa malu saat aku menolak datang.”
Aku turun ke halaman.
Sebuah mobil hitam sudah berhenti di depan pagar.
Aku sendiri sempat terkejut.
Pintu belakang terbuka.
Seorang pria tinggi berjas gelap turun dari mobil.
Aku mengenalnya.
Adrian Wiratama.
Putra tunggal keluarga Wiratama, kelompok bisnis terbesar yang selama ini bahkan berusaha didekati keluarga Raka.
Adrian melihat koperku, lalu gaun pengantin yang terbuang di tempat sampah.
Tatapannya berubah tajam.
“Aku datang setelah Tante Ratih menelepon ibuku.”
Dia membuka pintu mobil untukku.
“Katanya kamu membutuhkan tempat untuk pergi malam ini.”
Di belakangku, Raka membeku.
Karena ia tahu betul siapa Adrian Wiratama.
Dan mungkin untuk pertama kalinya malam itu, Raka mulai sadar bahwa perempuan yang selama ini ia anggap tidak akan pernah meninggalkannya ternyata memiliki pintu keluar yang jauh lebih besar daripada yang pernah ia bayangkan.
PARTE 3
Aku tidak pernah menyangka orang pertama yang menjemputku setelah membatalkan pernikahan adalah Adrian Wiratama.
Kami sebenarnya saling mengenal sejak kuliah.
Bukan dekat.
Adrian dua tingkat di atasku dan pernah menjadi mentor dalam program kewirausahaan kampus. Setelah lulus, dia masuk ke bisnis keluarganya. Aku membangun perusahaan desain interior bersama dua teman.
Hubungan kami berhenti sebatas ucapan selamat ulang tahun setahun sekali.
Sampai malam itu.
Di dalam mobil, Adrian tidak bertanya apa pun.
Dia hanya menyerahkan sebotol air.
“Rumah orang tuaku kosong di Menteng. Kamu bisa tinggal di sana malam ini. Besok pagi sopir akan mengantar ke mana pun kamu mau.”
Aku menatapnya.
“Kamu tidak mau tahu kenapa pernikahanku batal?”
“Kalau kamu ingin cerita, aku dengarkan.”
“Kalau tidak?”
“Berarti bukan urusanku.”
Jawaban sederhana itu justru membuat mataku panas.
Tujuh tahun bersama Raka, aku selalu harus menjelaskan kenapa aku terluka.
Adrian bahkan tidak meminta alasan untuk menghormati keputusanku.
Keesokan paginya, pesta pernikahan yang seharusnya digelar pukul sepuluh berubah menjadi kekacauan.
Aku tidak datang.
Ayah dan Ibu juga tidak datang.
Keluarga Mahendra mencoba mengatakan kepada para tamu bahwa aku mendadak sakit.
Sayangnya, seseorang dari keluarga jauh menyebarkan screenshot percakapan tentang meja utama.
Dalam waktu beberapa jam, seluruh keluarga besar mengetahui bahwa Raka mencoret nama orang tuaku demi memberikan kursi kepada Kiara dan ibunya.
Yang lebih parah, beberapa kerabat mulai membongkar kejadian lama.
Mereka baru tahu Kiara pernah memakai perhiasan seserahanku.
Pernah memegang kunci rumah baruku.
Bahkan pernah menemani Raka memilih perabot kamar tidur.
Semua hal yang selama ini disebut “candaan” tiba-tiba terlihat seperti pola.
Siang itu Raka menelepon dari nomor lain.
Aku mengangkat.
“Nadira, pulang.”
“Tidak.”
“Aku sudah mengembalikan nama orang tuamu ke meja utama.”
Aku hampir tertawa.
“Pestanya sudah batal.”
“Kita bisa tunda satu minggu.”
“Raka, aku tidak mau menikah denganmu.”
Dia terdiam.
Untuk pertama kalinya, nada suaranya kehilangan kesombongan.
“Kamu serius?”
“Aku sudah membuang gaunku ke tempat sampah. Menurutmu?”
Raka mulai marah.
“Karena Adrian?”
“Jangan menyalahkan orang yang baru datang setelah kamu menghancurkan semuanya.”
Aku memutus sambungan.
Hari-hari berikutnya menjadi lebih kacau.
Ternyata keluarga Mahendra sedang mengincar investasi besar dari Wiratama Group.
Proyek pengembangan kawasan komersial mereka membutuhkan dana triliunan rupiah.
Dan salah satu orang yang memiliki wewenang memberikan persetujuan akhir adalah Adrian.
Ketika Raka mengetahui aku tinggal sementara di rumah keluarga Wiratama, dia datang bersama Kiara.
Aku sedang menemani Ibu minum teh ketika petugas keamanan memberi tahu ada tamu.
Raka masuk dengan wajah lelah.
Kiara berjalan di belakangnya.
Berbeda dari biasanya, kali ini dia tidak menangis.
“Nadira,” kata Raka, “kita bicara baik-baik.”
Ayah berdiri.
“Tidak ada lagi yang perlu dibicarakan.”
Raka menundukkan kepala sedikit.
“Om, saya minta maaf soal tempat duduk.”
Ayah tersenyum tipis.
“Masalahmu bukan kursi.”
Raka mengangkat wajah.
Ayah melanjutkan.
“Masalahmu adalah kamu yakin anak saya tidak akan pergi, jadi kamu merasa boleh memperlakukannya sesuka hati.”
Ruangan menjadi sunyi.
Kiara tiba-tiba berkata, “Om, semua ini sebenarnya salah saya.”
Aku menatapnya.
Ia mengambil satu amplop dari tas.
“Aku akan menjauh dari Kak Raka.”
Aku tidak mengambil amplop itu.
“Aku tidak membutuhkannya.”
“Nadira…”
“Kiara, kamu masih belum mengerti.”
Aku berdiri.
“Aku tidak membatalkan pernikahan karena ingin menang melawanmu.”
“Aku membatalkannya karena akhirnya sadar aku tidak ingin mempertahankan laki-laki yang selalu memilihmu.”
Wajah Raka memucat.
Dia melangkah mendekat.
“Aku memilih kamu untuk jadi istriku.”
Aku menggeleng.
“Menjadi istri bukan berarti selalu mendapat sisa setelah Kiara selesai mengambil semuanya.”
Raka tak bisa menjawab.
Saat itu Adrian masuk dari ruang kerja bersama ayahnya.
Raka langsung berubah gugup.
“Pak Wiratama.”
Ayah Adrian menyapanya singkat.
Raka segera berkata, “Tentang proyek Cendana Square…”
Adrian memotong.
“Hari ini bukan tempat membahas bisnis.”
“Tapi proposal kami—”
“Sudah ditolak komite risiko pagi tadi.”
Wajah Raka langsung kehilangan warna.
“Apa?”
Adrian menjawab tenang.
“Ada beberapa masalah keuangan dan tata kelola yang ditemukan tim audit. Tidak ada hubungannya dengan Nadira.”
Raka memandangku dengan curiga.
Aku tertawa kecil.
“Kamu masih berpikir aku akan membalas dendam lewat bisnis?”
Adrian menatapnya dingin.
“Tidak semua orang hidup seperti kamu, Raka.”
Beberapa minggu kemudian, masalah keluarga Mahendra semakin besar.
Tanpa dana dari Wiratama Group, proyek mereka kehilangan dua investor lain.
Lalu audit internal menemukan sejumlah pengeluaran pribadi Raka dibebankan ke anggaran promosi perusahaan.
Salah satunya adalah perjalanan Bali yang dipesan atas nama dirinya dan Kiara.
Ironisnya, tiket itulah yang akhirnya membuat ayahnya mengetahui hubungan mereka selama ini tidak sesederhana “teman masa kecil”.
Kiara pergi ke Singapura bersama ibunya.
Raka kehilangan jabatan direktur operasional.
Tiga bulan setelah pernikahan batal, dia datang ke kantorku.
Kali ini tanpa mobil mewah.
Tanpa jas.
Tanpa Kiara.
“Nadira.”
Aku menghentikan langkah.
“Aku tahu sekarang aku salah.”
Aku menatap wajahnya.
Dia terlihat benar-benar lelah.
“Aku pikir kamu selalu akan ada.”
“Aku tahu.”
“Aku pikir selama akhirnya aku menikahimu, semua yang kulakukan sebelumnya bisa kamu maafkan.”
“Aku juga tahu.”
Dia menatapku lama.
“Kalau aku berubah?”
Aku tersenyum.
“Berubahlah.”
Matanya langsung menyala.
“Tapi bukan untukku.”
Harapan itu padam lagi.
Aku berjalan melewatinya.
Setahun kemudian, perusahaan desainku mendapatkan proyek terbesar sejak berdiri.
Pada malam perayaan, Adrian datang membawa bunga.
Kami sudah dekat selama berbulan-bulan.
Perlahan.
Tanpa taruhan.
Tanpa permainan.
Tanpa seorang perempuan lain yang selalu diminta kumaklumi.
Dua tahun setelah pernikahanku dengan Raka batal, Adrian melamarku.
Aku tidak langsung menjawab.
Hal pertama yang kutanyakan justru sederhana.
“Kalau kita menikah, siapa yang menentukan tempat duduk orang tuaku?”
Adrian tertawa.
“Orang tuamu sendiri.”
“Kenapa?”
“Karena mereka tamu paling penting dari pihakmu.”
Aku tersenyum.
Barulah aku berkata iya.
Hari pernikahan kami digelar sederhana namun elegan di Yogyakarta.
Ayah mengenakan batik terbaik dari tokonya.
Ibu duduk di meja paling depan bersama orang tua Adrian.
Tidak ada investor.
Tidak ada relasi bisnis.
Tidak ada orang yang harus disenangkan dengan mengorbankan keluarga.
Menjelang resepsi selesai, aku melihat Raka berdiri jauh di luar taman hotel.
Entah siapa yang memberitahunya.
Dia tidak masuk.
Hanya berdiri beberapa menit, memandang dari kejauhan ketika Adrian menggenggam tanganku dan membungkuk sopan kepada Ayah.
Lalu Raka pergi.
Aku tidak mengejarnya.
Dulu aku pernah percaya cinta berarti bertahan selama mungkin.
Sekarang aku tahu cinta yang sehat tidak pernah meminta seseorang mengorbankan harga dirinya agar hubungan tetap terlihat utuh.
Kadang keputusan paling berani bukan mempertahankan pernikahan.
Melainkan berhenti tepat sebelum kita menyerahkan seluruh hidup kepada orang yang sudah berkali-kali menunjukkan bahwa kita bukan prioritasnya.
Dan kalau malam itu Raka tidak mencoret nama Ayah dan Ibu dari meja utama, mungkin aku tidak akan pernah menyadari satu hal:
Yang sebenarnya sudah lama dicoret dari hidupnya bukan nama orang tuaku.
Melainkan harga diriku sendiri.

