Part : 2 Anak-Anak Kakak Iparku Memecahkan TV Rp 32 Jutaku, Lalu Kudengar Dia Berkata, “Bagus, Nanti Mama Belikan Kalian Mainan” — Jadi Kuberi Dia Pelajaran yang Tak Akan Pernah Dilupakannya

Anak-Anak Kakak Iparku Memecahkan TV Rp 32 Jutaku, Lalu Kudengar Dia Berkata, “Bagus, Nanti Mama Belikan Kalian Mainan” — Jadi Kuberi Dia Pelajaran yang Tak Akan Pernah Dilupakannya

Suara benturan keras dari ruang keluarga membuat seluruh meja makan mendadak sunyi.

Aku bahkan belum sempat meletakkan sendok ketika suara tangisan anak-anak terdengar. Saat aku berlari ke sana, dadaku langsung terasa sesak.

TV 85 inci seharga Rp32 juta yang baru dua minggu terpasang sudah dipenuhi retakan besar dari tengah sampai ke sudut layar.

Sebuah bola sepak tergeletak tepat di bawahnya.

Dua anak Sari berdiri di dekat sofa dengan wajah ketakutan.

Saat itu aku masih mengira semuanya kecelakaan.

Sampai beberapa menit kemudian, dari balik pintu dapur, aku mendengar suara Sari berbisik kepada anak-anaknya.

“Bagus. Kalian hebat.”

“Jadi Mama belikan mainan?”

“Iya. Kalian sudah melakukan yang Mama suruh.”

Darahku seperti berhenti mengalir.

Aku tidak langsung keluar.

Aku membuka aplikasi kamera keamanan di ponsel dan memutar rekaman beberapa menit sebelum TV pecah.

Di layar, terlihat jelas Sari mengambil bola dari tasnya sendiri, menyerahkannya kepada anak sulungnya, lalu menunjuk TV.

“Berdiri di sini. Tendang yang keras ke layar besar itu. Kalau kena, Mama belikan mainan.”

Anaknya sempat ragu.

“Nanti Tante marah.”

Sari membungkuk.

“Bilang saja tidak sengaja. Kalian masih kecil.”

Aku menonton rekaman itu dua kali.

Lalu tiga kali.

Bukan karena aku tidak percaya, melainkan karena aku ingin memastikan kemarahanku tidak membuatku salah melihat.

Ternyata tidak.

Aku menyimpan videonya ke ponsel, laptop, dan email.

Setelah itu aku kembali ke ruang makan.

Sari sedang tertawa bersama ibu mertua seolah tidak terjadi apa-apa.

Begitu melihatku, dia bahkan berkata, “Putri, jangan pasang wajah begitu. Namanya juga barang elektronik. Bisa dibeli lagi.”

Aku tersenyum.

“Benar.”

Budi menoleh kepadaku. Wajahnya jelas heran karena beberapa menit sebelumnya aku masih terlihat terpukul.

Aku hanya menyentuh lengannya pelan.

“Sudah. Ini ulang tahunmu. Kita lanjut makan saja.”

Sari tampak puas.

Mungkin dia mengira aku menyerah.

Selesai makan, aku masuk ke ruang kerja dan mengambil sebuah amplop cokelat.

Aku memasukkan selembar kertas ke dalamnya, lalu menulis nama Sari di bagian depan.

Ketika keluarganya bersiap pulang, aku menyerahkannya.

“Apa ini?” tanyanya.

“Buka di rumah.”

Sari tersenyum sinis.

“Jangan bilang tagihan TV.”

Aku ikut tersenyum.

“Bukan.”

Dia memasukkan amplop itu ke tas.

Sekitar pukul sebelas malam, ponselku berdering.

Nama Sari muncul di layar.

Aku sengaja membiarkannya berdering beberapa kali sebelum menjawab.

“Halo?”

“Apa maksudmu?”

Suaranya tidak lagi terdengar santai.

“Apa?”

“Surat ini!”

Aku bersandar di sofa.

Di dalam amplop itu sebenarnya hanya ada satu lembar kertas berisi tulisan singkat.

Aku punya rekamannya. Besok pukul sepuluh pagi, datang bersama suamimu. Kita selesaikan baik-baik sebelum aku memutuskan langkah berikutnya.

Tidak ada ancaman.

Tidak ada makian.

Hanya fakta.

“Aku tidak mengerti kenapa kamu panik,” kataku.

Beberapa detik Sari terdiam.

“Kamu merekam aku tanpa izin?”

“Yang merekam kamera keamanan di rumahku.”

“Itu tidak boleh!”

“Yang tidak boleh bagian mana, Sar? Kameranya atau menyuruh anak-anak menghancurkan barang orang?”

Dia langsung diam.

Lalu nada suaranya berubah.

“Putri, dengarkan dulu. Aku cuma bercanda sama anak-anak.”

“Menyuruh mereka menendang bola ke TV?”

“Aku tidak menyangka bakal benar-benar pecah.”

“Jadi kamu mengakui kamu menyuruh mereka?”

Sari kembali diam.

Aku sengaja menyalakan perekam panggilan dari perangkat lain.

“Besok datang pukul sepuluh,” kataku. “Bawa suamimu. Kita bicara.”

“Apa kamu mau mempermalukanku di depan keluarga?”

“Aku justru sedang memberimu kesempatan agar masalah ini tidak perlu melibatkan seluruh keluarga.”

Dia menutup telepon.

Budi yang sejak tadi duduk di sebelahku menatap tanpa bicara.

Aku kemudian menunjukkan rekaman kamera kepadanya.

Wajahnya berubah sejak detik pertama.

Ketika mendengar kakaknya berkata, “Tendang yang keras ke layar besar itu,” rahangnya mengeras.

“Kenapa?”

Hanya satu kata itu yang keluar.

Aku menggeleng.

“Aku juga ingin tahu.”

Besok paginya, tepat pukul sepuluh lewat lima belas menit, sebuah mobil berhenti di depan rumah.

Sari turun bersama suaminya, Anton.

Wajah Anton terlihat bingung.

Begitu masuk, dia langsung berkata, “Sebenarnya ada apa? Sari cuma bilang kalian mempermasalahkan TV.”

Aku meletakkan laptop di meja.

“Lebih baik Mas Anton lihat sendiri.”

Sari langsung memotong.

“Putri, tidak perlu bikin drama.”

Aku menekan tombol putar.

Ruangan mendadak sunyi.

Anton melihat istrinya mengambil bola dari tas.

Lalu terdengar suara Sari.

“Tendang yang keras ke layar besar itu.”

Wajah Anton perlahan memucat.

Setelah video selesai, dia menatap istrinya.

“Kamu serius?”

Sari menyilangkan tangan.

“Aku cuma kesal.”

“Kesal karena apa?”

“Lihat rumah mereka!”

Suaranya meninggi.

“Renovasi baru. TV baru. Mesin kopi mahal. Budi selalu mengunggah foto istrinya. Semua orang terus bilang Putri pintar mengatur rumah, Putri hebat, Putri ini, Putri itu.”

Aku menatapnya tidak percaya.

“Jadi kamu menghancurkan barang kami karena itu?”

“Jangan sok suci. Kalian memang suka pamer.”

Budi akhirnya bicara.

“Kapan kami pamer kepadamu?”

Sari tertawa pendek.

“Kamu bahkan membelikan istrimu mesin kopi Rp12 juta!”

Budi menatap kakaknya beberapa detik.

“Itu uangku.”

“Tapi dulu waktu aku butuh uang untuk renovasi dapur, kamu bilang tidak punya.”

Aku baru mengerti.

Ini ternyata bukan tentang TV.

Beberapa bulan sebelumnya Sari memang pernah meminta pinjaman Rp25 juta kepada Budi untuk mengganti kabinet dapurnya. Budi menolak karena saat itu kami sedang menabung untuk renovasi rumah sendiri.

Rupanya penolakan itu tidak pernah dilupakan Sari.

Anton menutup wajah dengan kedua tangan.

“Jadi kamu menggunakan anak-anak kita buat balas dendam?”

“Aku tidak menggunakan mereka!”

“Lalu apa namanya?”

Sari mendadak menangis.

Tetapi kali ini tidak ada seorang pun yang menenangkannya.

Aku mengambil selembar kertas dari meja.

“Teknisi datang pagi tadi. Panel harus diganti. Biayanya Rp24,8 juta.”

Sari langsung berdiri.

“Aku tidak punya uang sebanyak itu!”

“Aku tidak meminta kamu membayar hari ini.”

Dia berhenti.

“Aku memberikan dua pilihan. Kamu mengganti biaya kerusakan secara bertahap dengan perjanjian tertulis, atau aku membawa rekaman ini untuk konsultasi lebih lanjut mengenai kerusakan yang dilakukan dengan sengaja.”

Anton mengambil kertas itu.

“Aku bayar.”

Sari menoleh tajam.

“Anton!”

“Aku bilang aku bayar.”

“Kita tidak punya uang!”

“Kita punya.”

Wajah Sari berubah.

Aku melihatnya.

Ada sesuatu yang aneh.

Anton menatap istrinya.

“Kamu mau aku bilang sekarang?”

“Jangan.”

“Apa?” tanya Budi.

Anton menghela napas panjang.

“Dua bulan lalu aku kasih Sari Rp30 juta.”

Sari langsung berdiri.

“Anton!”

“Untuk dana pendidikan anak-anak,” lanjut Anton. “Aku minta dia masukkan ke rekening tabungan pendidikan.”

Ruangan mendadak sunyi.

Anton menatap istrinya.

“Uangnya di mana?”

Sari tidak menjawab.

“Sari.”

“Aku pakai sebagian.”

“Untuk apa?”

Tidak ada jawaban.

Anton mengambil ponselnya.

Beberapa menit kemudian, wajahnya berubah semakin pucat.

“Rekeningnya tinggal Rp1,7 juta.”

Aku bahkan ikut terkejut.

“Ke mana uangnya?” tanya Anton.

Sari mulai menangis.

“Aku cuma pinjam.”

“Dua puluh delapan juta kamu sebut pinjam?”

Akhirnya semuanya terbongkar.

Selama hampir setahun, Sari ternyata berusaha mempertahankan gaya hidup yang jauh melampaui kemampuan mereka.

Tas baru yang katanya hadiah.

Sepatu bermerek yang katanya diskon.

Perawatan kecantikan.

Makan di restoran mahal.

Bahkan beberapa barang yang selama ini dia unggah di media sosial ternyata dibeli menggunakan cicilan.

Dan yang paling mengejutkan, sebagian uang pendidikan anak-anak digunakan untuk membeli sebuah tas seharga hampir Rp18 juta.

Aku menatap perempuan yang selama bertahun-tahun mengomentari cara kami menggunakan uang.

Ternyata dia bukan marah karena kami boros.

Dia marah karena dia ingin memiliki apa yang kami punya.

Anton berdiri.

“Kita pulang.”

Sari masih menangis.

Sebelum keluar, dia menatapku.

“Kamu puas sekarang? Rumah tanggaku berantakan gara-gara kamu.”

Kalimat itu membuatku hampir tertawa karena tidak percaya.

“Sar, aku tidak mengambil uang pendidikan anak-anakmu.”

Dia terdiam.

“Aku juga tidak menyuruh anak-anakmu menghancurkan TV.”

Aku menatapnya lurus.

“Yang membuat semuanya terbongkar adalah keputusanmu sendiri.”

Mereka pergi.

Aku pikir masalah selesai.

Ternyata belum.

Malam berikutnya ibu mertua menelepon.

“Putri, bisa datang sebentar? Sari ada di sini.”

Aku dan Budi pergi ke rumah beliau.

Di ruang tamu sudah ada Sari, Anton, dan kedua orang tua Budi.

Sari tampak lelah.

Ibu mertua berkata, “Ibu sudah dengar semuanya.”

Aku bersiap menghadapi permintaan klasik.

Sudahlah, namanya juga keluarga.

Maafkan kakakmu.

Jangan diperpanjang.

Namun ibu mertua justru menatap Sari.

“Kamu minta maaf.”

Sari terkejut.

“Ibu?”

“Bukan kepada Putri dulu.”

Ibu menunjuk dua anak Sari yang sedang bermain di kamar sebelah.

“Kepada anak-anakmu.”

Ruangan menjadi sunyi.

“Kamu mengajari mereka bahwa merusak barang orang boleh dilakukan kalau kita iri. Kamu mengajari mereka berbohong untuk menghindari akibat. Dan setelah mereka melakukannya, kamu memberi hadiah.”

Sari mulai menangis lagi.

Untuk pertama kalinya, tangisannya tidak terdengar seperti kemarahan.

Dia terlihat malu.

Ibu melanjutkan, “TV bisa diganti. Tapi kalau cara berpikir seperti itu tertanam di kepala anak-anak, memperbaikinya jauh lebih mahal daripada Rp32 juta.”

Kalimat itu membuat semua orang diam.

Beberapa hari kemudian Anton mentransfer pembayaran pertama untuk biaya perbaikan TV.

Kami membuat kesepakatan cicilan tanpa bunga.

Aku juga meminta satu syarat tambahan.

Anak-anak tidak boleh diberi tahu bahwa mereka anak nakal.

Mereka hanya harus diberi tahu bahwa tindakan mereka salah dan orang dewasa yang menyuruh mereka juga melakukan kesalahan.

Dua minggu kemudian Sari datang sendirian.

Dia membawa kedua anaknya.

Anak sulungnya berdiri di depanku sambil menunduk.

“Tante, maaf TV Tante pecah.”

Aku jongkok.

“Kamu tahu kenapa tidak boleh merusak barang orang?”

Dia mengangguk.

“Karena bukan punya kita.”

“Benar.”

Dia kemudian mengeluarkan sesuatu dari tas kecilnya.

Sebuah celengan plastik berbentuk mobil.

“Aku mau kasih uangku buat TV Tante.”

Dadaku langsung terasa berat.

Aku mendorong celengan itu kembali kepadanya.

“Tidak perlu. Simpan.”

“Tapi aku yang tendang.”

Aku menatap Sari.

Matanya merah.

Untuk pertama kalinya sejak semua kejadian itu, dia tidak mencari alasan.

“Aku yang menyuruh,” katanya pelan. “Jadi Mama yang bertanggung jawab.”

Anaknya menatap ibunya.

Sari berjongkok lalu memeluk kedua anaknya.

“Mama salah. Kalian tidak boleh mengikuti perintah orang kalau perintahnya menyakiti orang lain atau merusak barang orang. Bahkan kalau yang menyuruh Mama.”

Aku tidak mengatakan apa-apa.

Enam bulan kemudian cicilan terakhir masuk.

TV kami sudah lama diperbaiki.

Hubunganku dengan Sari tidak pernah kembali seperti dulu.

Anehnya, justru menjadi lebih sehat.

Dia tidak lagi datang ke rumah tanpa memberi kabar. Tidak lagi mengomentari barang yang kubeli. Tidak lagi membandingkan kehidupan kami.

Beberapa bulan kemudian dia bahkan menghapus sebagian besar unggahan yang selama ini dibuat hanya untuk terlihat mewah.

Suatu sore, ketika keluarga berkumpul lagi di rumah kami, anak sulung Sari berlari melewati ruang keluarga membawa bola.

Sari langsung memanggilnya.

“Main bolanya di halaman.”

Anaknya berhenti.

Lalu dia melihat TV.

Kemudian melihatku.

“Tante, TV yang ini mahal juga?”

Semua orang langsung terdiam.

Aku hampir tertawa.

“Lumayan.”

Dia cepat-cepat membawa bolanya keluar.

Budi tertawa sampai batuk.

Bahkan Anton ikut tertawa.

Sari berdiri beberapa detik dengan wajah merah sebelum akhirnya tertawa kecil.

Saat itulah aku sadar, pelajaran terbesar malam itu ternyata bukan tentang mengganti TV Rp32 juta.

Barang yang rusak bisa diperbaiki.

Uang yang hilang masih bisa dicari kembali.

Tetapi iri hati yang dibiarkan tumbuh diam-diam bisa membuat seseorang menghancurkan bukan hanya barang milik orang lain, melainkan kepercayaan dalam keluarganya sendiri.

Dan terkadang, cara terbaik menghadapi seseorang yang berusaha merusak hidup kita bukanlah dengan berteriak lebih keras.

Cukup simpan bukti.

Tetap tenang.

Lalu biarkan kebenaran melakukan pekerjaannya sendiri.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *