Part : 2 Tanpa menunggu jawaban darinya, saya melangkah tenang menuju ruang kerja saya di lantai dua, meninggalkan Tari yang terpaku dan Tiara yang menatap saya dengan cemas.

PART 2:

Tari berdiri kaku di ruang tamu selama beberapa saat.

Dia tidak menyangka saya sama sekali tidak takut dengan ancaman ibunya, malah berani menentukan tempat pertemuan.

Restoran Plataran adalah salah satu restoran paling mewah dan mahal di ibu kota, di mana biaya makan untuk satu ruangan VIP bisa mencapai belasan juta rupiah.

Tari awalnya mengira saya akan ketakutan dan memilih mengalah secara diam-diam.

Namun setelah memikirkannya kembali, Tari justru tersenyum puas.

Dia berpikir bahwa saya sengaja memilih tempat mahal tersebut hanya demi menjaga gengsi dan mencari jalan damai.

Tari yakin besok di hadapan ibunya dan pacar kayanya, saya tidak akan punya pilihan selain menuruti semua tuntutannya demi menjaga nama baik keluarga.

Keesokan harinya, pukul 12.00 WIB tepat.

Di Ruang VIP Utama Restoran Plataran.

Sebuah meja kayu besar bernuansa elegan mengisi bagian tengah ruangan.

Tari datang dengan penampilan yang sangat mencolok.

Dia mengenakan gaun bermerek mahal dan tas desainer baru.

Di sampingnya berjalan seorang pemuda berambut klimis dengan pakaian serba necis bernama Robby, pacar yang selama ini dia banggakan sebagai anak pengusaha kaya.

Sementara Mbak Lina, kakak perempuan saya yang sudah 8 tahun tidak pernah menampakkan batang hidungnya, berjalan di belakang mereka.

Mbak Lina mengenakan mantel mantel tebal yang tampak kurang pas di tubuhnya, dengan raut wajah yang dipenuhi ketamakan.

Begitu melangkah masuk ke dalam ruangan VIP, Mbak Lina langsung memasang wajah sedih dan menghampiri saya sambil terisak buatan.

“Maya… tega sekali kamu memukul Tari?”

“Dia itu keponakan kandungmu sendiri!”

“Sejak kecil dia tidak merasakan kasih sayang seorang ayah, dan aku sebagai ibunya juga tidak bisa mendampinginya… kasihan sekali nasib anakku ini…”

Saya duduk di kursi utama dengan ekspresi wajah yang sangat tenang.

Di sebelah kiri saya duduk suami saya, Aris, dan di sebelah kanan saya duduk putri kami, Tiara.

Aris yang merupakan seorang akademisi berhati lembut tampak menahan amarah yang sangat besar melihat kepalsuan Mbak Lina.

Sementara Tiara hanya menatap sepupunya dengan pandangan penuh kekecewaan.

Saya memberi isyarat kepada pelayan untuk menyajikan minuman, lalu menatap Mbak Lina dengan dingin.

“Mbak Lina.”

” delapan tahun tidak bertemu, aktingmu masih sama seperti dulu.”

Tangisan buatan Mbak Lina seketika terhenti.

Wajahnya berubah canggung, namun dengan cepat berganti menjadi nada galak.

“Maya! Apa maksudmu bicara begitu?!”

“Aku menyerahkan anakku kepadamu karena aku percaya padamu!”

“Tapi setelah kamu kaya dan hidup enak, kamu mau menelantarkan kami?”

“Kaya?”

Saya tersenyum tipis.

Pandangan saya bergeser ke arah Robby yang duduk menyandar di kursi sambil memainkan ponsel pintarnya.

Sejak masuk ke ruangan, Robby sama sekali tidak memberi salam atau menunjukkan rasa hormat kepada saya dan suami saya.

Robby menyilangkan kakinya lalu berkata dengan nada meremehkan, “Tante, saya sudah mendengar semua cerita dari Tari.”

“Soal rumah di Menteng Residence dan uang tunai Rp2.000.000.000 itu sebenarnya masalah sepele.”

“Bagi keluarga terpandang seperti kami, angka segitu tidak ada artinya.”

“Tapi ini soal keadilan untuk Tari. Masa anak kandung diberi rumah mewah, sedangkan keponakan yang sudah dianggap anak sendiri tidak diberi apa-apa?”

Saya menatap Robby, lalu mengeluarkan sebuah folder hitam dari dalam tas saya dan meletakkannya di atas meja.

“Anak muda, siapa namamu tadi? Robby?”

“Iya, Tante. Robby Pratama, putra dari pemilik pengembang properti Pratama Group,” jawab Robby dengan dada terbusung bangga.

Tari tersenyum manis sambil menggandeng lengan Robby dengan mesra.

Saya membuka lembar pertama folder hitam tersebut.

“Robby Pratama, usia 26 tahun.”

“Pekerjaan asli: Pemasar lepas kendaraan bekas tanpa penghasilan tetap.”

“Orang tua: Pensiunan pegawai negeri biasa di daerah pedalaman, tidak ada hubungannya sama sekali dengan Pratama Group.”

“Saat ini kamu memiliki tunggakan kartu kredit sebesar Rp180.000.000 dan terlilit utang pinjaman online di 6 platform berbeda senilai Rp90.000.000.”

Suasana di dalam ruangan VIP yang megah itu mendadak menjadi hening total.

Senyum bangga di wajah Robby seketika membeku.

Mata Tari membelalak lebar, memandang pacarnya dengan ketakutan.

“T-Tante… Tante bicara apa sih?! Ini fitnah!” teriak Tari panik.

“Fitnah?”

Saya mengeluarkan beberapa lembar dokumen cetak berisi data perbankan, foto-foto penagih utang yang mencari Robby, serta surat keterangan kepolisian mengenai laporan penipuan atas nama Robby.

Saya menggeser berkas-berkas itu ke tengah meja.

“Robby sengaja mendekatimu karena dia mengira kamu adalah putri dari keluarga kaya setelah melihat gaya hidupmu di media sosial.”

“Dia menghasutmu untuk meminta rumah dan uang Rp2.000.000.000 kepada Tante, agar uang itu bisa dia pakai untuk melunasi utang-utangnya dan modal membuka usaha atas namannya sendiri.”

“Apakah saya salah, Saudara Robby?”

Wajah Robby yang tadinya klimis dan sombong kini berubah menjadi pucat pasi.

Keringat dingin membasahi dahinya.

Robby melirik berkas bukti di meja, lalu melirik Tari yang menatapnya dengan mata berkaca-kaca.

“R-Robby… apa yang dikatakan Tante Maya itu benar?” suara Tari gemetaran.

Robby tidak bisa membantah satu kata pun karena bukti-bukti dokumen resmi yang saya hadirkan sangat lengkap dan terverifikasi.

Sadar bahwa kedoknya sudah terbongkar total dan tidak ada uang yang bisa diperas dari keluarga ini, sikap Robby berubah 180 derajat dalam sekejap.

Dia mendorong tangan Tari hingga terlepas dari lengannya.

“Sialan! Kamu bilang keluargamu kaya raya dan tantemu bakal turuti semua kemauanmu!”

“Ternyata kamu cuma keponakan menumpang yang tidak punya uang sepeser pun!”

“Membuang-buang waktuku saja!”

Robby berdiri dari kursinya, mengambil jaketnya, dan melangkah pergi keluar dari ruangan VIP tanpa menoleh sedikit pun ke arah Tari.

“Robby! Robby, tunggu aku!” jerit Tari histeris sambil mencoba mengejar.

“Diam di tempatmu, Tari!” bentak saya dengan suara tegas dan penuh wibawa.

Langkah Tari terhenti seketika.

Dia terduduk di lantai sambil menangis meraung-raung, menyadari bahwa pria yang dia banggakan selama ini hanyalah penipu yang memanfaatkannya.

Mbak Lina yang melihat rencana uang nikah anaknya berantakan langsung berdiri dan menunjuk wajah saya dengan amarah membara.

“Maya! Kamu sengaja kan?! Kamu sengaja menghancurkan hubungan anakku!”

“Meskipun pria itu penipu, kamu tetap wajib memberikan rumah dan uang untuk Tari!”

“Selama 8 tahun ini kamu memanfaatkan anakku untuk mencitrakan dirimu sebagai wanita baik hati di depan publik!”

“Uang sekolah mahal dan baju merek itu cuma cara halusmu untuk membungkam anakku!”

Saya menatap Mbak Lina tanpa rasa kasihan sedikit pun.

Saya mengambil folder kedua yang jauh lebih tebal dari tas saya.

“Mbak Lina, mari kita bicara soal hukum dan angka yang sebenarnya.”

Saya membuka berkas tersebut di hadapan Mbak Lina dan Tari.

“8 tahun yang lalu, kamu melarikan diri karena utang bisnis sebesar Rp1.200.000.000.”

“Siapa yang membayar lunas seluruh utang-utangmu kepada para penagih utang agar keselamatan Tari tidak terancam?”

“Saya dan suamiku yang melunasinya menggunakan tabungan kami!”

Mbak Lina tersentak, bibirnya gemetaran.

“I-itu… itu kan bantuan seorang adik untuk kakaknya…” gumam Mbak Lina dengan suara yang mulai mengecil.

Saya tidak menghiraukan ucapannya dan membacakan rincian pengeluaran di lembar berikutnya.

“Selama 8 tahun Tari tinggal di rumah saya:”

“Biaya sekolah internasional dan bimbingan belajar: Rp450.000.000.”

“Biaya pakaian bermerek, ponsel, dan uang saku bulanan: Rp380.000.000.”

“Biaya perawatan kesehatan, asuransi, dan fasilitas perjalanan: Rp210.000.000.”

“Total uang tunai yang sudah kami keluarkan murni untuk kebutuhan Tari selama 8 tahun adalah Rp1.040.000.000.”

“Jika ditambah dengan pelunasan utang Mbak Lina 8 tahun lalu sebesar Rp1.200.000.000, maka total dana milik keluarga kami yang ada di tangan kalian adalah Rp2.240.000.000!”

Mbak Lina dan Tari membelalakkan mata mereka.

Angka-angka tersebut tercatat dengan sangat rapi, lengkap dengan kuitansi pembayaran, bukti transfer bank, dan buku catatan pengeluaran harian yang saya simpan secara detail selama bertahun-tahun.

“Kamu… kamu mencatat semuanya?!” pekik Mbak Lina tidak percaya.

“Tentu saja saya mencatatnya,” jawab saya dingin.

“Saya mencatatnya bukan karena saya perhitungan, melainkan untuk membuktikan kebenaran jika hari seperti ini tiba.”

Saya menyandarkan punggung ke kursi, menatap dua wanita yang tidak tahu berterima kasih di depan saya.

“Kalian menuduh saya dan suami saya membeli rumah untuk Tiara menggunakan uang haram?”

“Rumah yang kami belikan untuk Tiara di Menteng Residence dibeli dari hasil bonus kinerja resmi saya sebagai direktur keuangan dan hasil penjualan hak cipta buku ilmiah suami saya!”

“Seluruh bukti pembayaran pph dan laporan pajak tahunan kami bersih 100%!”

“Sementara kalian…” saya menunjuk Mbak Lina dan Tari.

“Kalian telah melakukan fitnah pencemaran nama baik, pengancaman, dan tindakan pemerasan!”

Aris, suami saya, melangkah maju dan meletakkan selembar surat somasi hukum di meja.

“Mbak Lina dan Tari,” ujar Aris dengan nada suara yang tenang namun sangat berwibawa.

“Kami memberikan waktu 3×24 jam kepada kalian berdua untuk:”

“Pertama, mengosongkan seluruh barang-barang Tari dari rumah kami hari ini juga.”

“Kedua, menandatangani surat pengakuan utang sebesar Rp2.240.000.000 dan menyusun rencana pengembalian secara legal.”

“Jika dalam waktu 3 hari kewajiban ini tidak dipenuhi, tim kuasa hukum kami akan langsung mendaftarkan gugatan perdata serta melaporkan tindak pidana pemerasan ke Polda Metro Jaya.”

Mendengar kata “Polda Metro Jaya”, tubuh Mbak Lina gemetaran hebat hingga kakinya lemas dan terduduk di kursi.

Mbak Lina tahu betul bahwa kekuatan hukum dan bukti keuangan yang kami miliki sangat mutlak.

Jika kasus ini masuk ke ranah hukum, Mbak Lina tidak hanya akan kehilangan segalanya, tetapi juga berisiko masuk ke dalam penjara atas kasus pemerasan dan penipuan.

Tari merangkak mendekati kursi saya, menangis tersedu-sedu sambil memegang ujung baju saya.

“Tante… Tante Maya, maafkan Tari!”

“Tari salah, Tante! Tari terpengaruh oleh perkataan Robby dan Ibu!”

“Tolong jangan laporkan kami ke polisi, Tante! Tari janji tidak akan pernah minta rumah atau uang lagi!”

Saya menarik tumpukan kain baju saya dari pegangan tangannya secara perlahan namun pasti.

Tidak ada lagi rasa iba di dalam hati saya.

Kasih sayang yang saya berikan selama 8 tahun telah dihancurkan oleh keserakahan mereka sendiri.

“Tari, Tante sudah memberimu kesempatan selama 8 tahun untuk menjadi manusia yang jujur dan tahu berterima kasih.”

“Tapi kamu justru memilih menjadi orang yang tidak beradab dan menghina orang tua yang membesarkanmu.”

“Mulai detik ini, hubungan keluarga di antara kita resmi terputus.”

Saya berdiri dari kursi, merapikan pakaian saya, lalu menggandeng tangan Tiara dan suami saya.

“Selesaikan pembayaran makanan di restoran ini menggunakan uang kalian sendiri.”

“Kunci rumah kami sudah diganti oleh petugas keamanan tadi pagi.”

“Barang-barang milik Tari sudah dikemas rapi di dalam dua koper dan ditaruh di pos satpam depan kompleks.”

“Silakan ambil barang-barang itu dan jangan pernah menginjakkan kaki di lingkungan rumah kami lagi.”

Saya berjalan keluar dari ruangan VIP Restoran Plataran dengan langkah tegap tanpa sekali pun menoleh ke belakang.

Di dalam ruangan, tangisan penyesalan Tari dan jeritan kebingungan Mbak Lina membentur dinding-dinding restoran yang dingin.

Sore itu juga, Tari dan Mbak Lina terpaksa membawa dua koper pakaian mereka dan mencari kontrakan sempit di pinggiran kota.

Tanpa adanya bantuan finansial dari saya, Mbak Lina harus bekerja keras menjadi buruh jahit harian demi menyambung hidup.

Sementara Tari yang tidak memiliki keahlian apa pun terpaksa bekerja sebagai staf pelayanan toko dengan gaji pas-pasan.

Gaya hidup mewah yang selama ini dia nikmati secara cuma-cuma dari kebaikan saya lenyap tanpa sisa.

Satu bulan kemudian, pernikahan Tiara digelar dengan sangat anggun dan penuh kebahagiaan di sebuah gedung pertemuan terkemuka.

Dihadiri oleh rekan-rekan kerja berprestasi, akademisi terhormat, serta keluarga yang benar-benar saling menyayangi.

Saya duduk di samping suami saya, menyaksikan putri kami tersenyum bahagia di atas pelaminan.

Hati saya terasa sangat lapang dan damai.

Saya belajar satu hal penting dalam hidup ini:

Kebaikan dan rasa kasih sayang harus diberikan kepada orang yang tepat.

Ketika kita memberi tanpa batas kepada jiwa yang serakah, kita hanya sedang memelihara racun yang pada akhirnya akan merusak kehidupan kita sendiri.

Ketegasan dan keberanian untuk memutus hubungan yang beracun adalah bentuk tertinggi dari rasa hormat terhadap diri sendiri dan keluarga sejati.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *