Part : 2 “Tidak ada masalah. Tante cuma baru sadar setelah 69 tahun, Tante tidak boleh lagi minta izin untuk masuk ke dalam rumah Tante sendiri.”

PART 2

Pukul 14:20 siang, telepon Ratna berdering nyaring.

Nama Sentia tertera di layar.

Ratna menggeser tombol hijau.

Suara jeritan Sentia langsung memenuhi ruangan.

“Ibu! Kenapa kuncinya tidak bisa dipakai?!”

“Gembok pagar juga sudah diganti!”

Ratna sedang duduk di teras rumahnya bersama Bu Pakpahan, menikmati teh hangat.

“Ibu tahu,” jawab Ratna tenang.

“Maksud Ibu tahu apa?! Kami sudah sampai di depan pintu!”

“Ibu yang menyuruh orang mengganti semua gembok dan kunci pintu vila.”

Di depan pagar vila Puncak, sebuah papan besi baru sudah terpasang rapi di tiang beton.

Tulisannya besar dan jelas: RUMAH INI DIJUAL.

Hendra merebut ponsel dari tangan istrinya.

Suaranya terdengar menekan dan marah.

“Bu Ratna! Buka pintunya sekarang!”

“Anak-anak sudah capek di jalan!”

“Cari hotel saja di sekitar sana,” balas Ratna datar.

“Ibu gila ya?! Ini kan rumah keluarga! Sentia dan Rendy punya hak di sini!”

“Coba kamu periksa sertifikat tanahnya. Nama siapa yang tertulis di sana?”

Sentia terdengar mulai menangis histeris di seberang telepon, menuduh ibunya tega merusak liburan keluarga hanya karena ego dan rasa sakit hati.

Ratna mendengarkan tanpa memotong satu kata pun.

Tiba-tiba suara Rendy terdengar dari balik telepon, mengambil alih pembicaraan.

“Bu… ini sebenarnya bukan murni ide kami semua.”

Ratna menahan napas.

“Maksudmu apa, Rendy?”

“Mas Hendra yang menyuruh kami berangkat duluan tanpa Ibu.”

“Dia bilang ada dokumen yang harus Ibu tandatangani di vila nanti.”

“Mba Sentia takut Ibu menolak kalau diberi tahu dari rumah, jadi Mas Hendra usul supaya Ibu ditinggal saja biar tidak mengganggu pembicaraan kami.”

Tangan Ratna mengepal keras pada gagang cangkir tehnya.

“Dokumen apa?”

Rendy diam agak lama.

“Dokumen pengalihan aset, Bu.”

Detik itu juga, Ratna paham.

Ini bukan sekadar liburan keluarga yang terlupa.

Ini adalah jebakan yang dirancang dengan dingin.

Ratna mengingat kembali pesanan suaminya sebelum meninggal tentang tabiat menantunya itu.

“Rendy, Sentia, bawa mobil kalian kembali ke Jakarta sekarang,” kata Ratna tegas.

Sentia berteriak lagi.

“Ibu tega membiarkan kami telantar di jalanan?!”

“Kalian itu 4 orang dewasa, membawa mobil, membawa kartu ATM, dan membawa makanan yang kalian ambil dari mejaku pagi tadi.”

“Kalian tidak akan mati kelaparan di jalan.”

Ratna langsung mematikan sambungan telepon.

Dia berjalan kembali ke ruang kerja almarhum suaminya.

Ratna membuka laci paling bawah dari meja kayu Wijaya.

Ada sebuah amplop cokelat tebal bertuliskan nama Hendra.

Ratna membuka isinya.

Di dalamnya ada 3 lembar bukti transfer bank.

Rp 180.000.000.

Rp 120.000.000.

Rp 95.000.000.

Semua transfer itu dilakukan oleh Wijaya kepada Hendra selama kurun waktu 4 tahun.

Di dalam amplop itu juga ada selembar kertas bermaterai yang ditandatangani oleh Hendra.

Surat pengakuan utang sebesar Rp 395.000.000.

Catatan cicilan di lembar belakang menunjukkan Hendra baru mengembalikan Rp 40.000.000.

Ratna menarik napas panjang.

Selama ini, Sentia selalu membanggakan suaminya sebagai pengusaha kontraktor yang sukses dan pintar mengelola keuangan.

Hendra selalu bicara tentang proyek besar, investasi, dan peluang bisnis.

Ternyata semuanya dibangun di atas uang pinjaman mertuanya yang tidak pernah dilunasi.

Ratna mengambil ponselnya lalu menghubungi Siska, seorang pengacara senior yang dulu sering bekerja sama dengan kantor notaris tempat Ratna bekerja.

Satu jam kemudian, Siska sudah duduk di ruang tamu Ratna, memeriksa seluruh berkas.

“Vila di Puncak murni milik Ibu Ratna,” kata Siska setelah membaca sertifikat.

“Anak-anak Ibu tidak punya hak hukum sama sekali untuk menjual, menjaminkan, atau menempati tempat itu tanpa izin Ibu.”

Siska lalu memeriksa surat utang Hendra.

“Surat utang ini sah secara hukum. Ibu bisa menagih sisanya kapan saja.”

“Apakah Ibu tahu dokumen apa yang mau mereka sodorkan di Puncak nanti?”

“Saya bisa menebaknya,” jawab Ratna.

Ratna membuka riwayat pesan di ponselnya dengan Sentia dalam satu bulan terakhir.

Pesan-pesan yang dulu dianggab biasa, kini terlihat sangat jelas niatnya.

“Bu, jangan lupa bawa KTP dan KK ya kalau kita ke Puncak nanti.”

“Sertifikat vila Puncak ditaruh di lemari mana sih, Bu?”

“Ibu masih simpan surat nikah almarhum Bapak?”

Saat itu Ratna menjawabnya polos tanpa curiga.

Malam harinya, pesan dari Hendra masuk beruntun ke ponsel Ratna.

“Ibu jangan kekanak-kanakan.”

“Tindakan Ibu ini merusak masa depan cucu-cucu Ibu sendiri.”

“Vila itu kalau dijual bisa jadi modal pengembangan usaha yang jauh lebih menghasilkan.”

Pesan terakhir Hendra bernada ancaman halus.

“Ibu sudah tua, harusnya berpikir bagaimana caranya menyusun warisan dengan benar sebelum terlambat.”

Ratna menembuskan pesan itu ke Siska.

Siska membalas singkat: “Simpan semua pesan itu untuk bukti.”

Minggu pagi pukul 07:10, bel rumah Ratna berbunyi keras berulang kali.

Ratna mengintip dari jendela.

Sentia, Hendra, dan Rendy berdiri di depan pintu dengan wajah kusam dan pakaian kusut.

Anak-anak tampaknya dititipkan di rumah orang tua Hendra.

Ratna membuka pintu.

Hendra langsung menerobos masuk tanpa permisi.

“Kita harus selesaikan kebodohan ini sekarang!” bentak Hendra.

Ratna menunjuk ke arah sofa.

“Duduk.”

“Saya tidak perlu duduk!”

“Kalau tidak mau duduk, pintu keluar ada di belakangmu,” sahut Ratna dingin.

Hendra terdiam, terkejut melihat sikap mertuanya yang biasanya penurut dan selalu mengalah.

Sentia melempar tasnya ke sofa.

“Ibu! Hapus pengumuman jual di vila itu! Kami sudah cukup malu sama tetangga di sana!”

“Ibu tidak memasang tulisan itu karena marah, Sentia.”

“Lalu karena apa?!”

“Karena Ibu baru sadar kalian bertindak seolah-olah sudah menjadi pemilik dari barang yang masih menjadi milik Ibu.”

Hendra tertawa sinis.

“Toh ujung-ujungnya vila itu bakal turun ke Sentia dan Rendy juga kan? Apa bedanya kalau dipakai sekarang?”

“Bedanya sangat besar,” potong Ratna.

“Properti itu milik Ibu. Ibu bisa menjualnya, menyewakannya, atau menyumbangkannya ke panti asuhan.”

“Ibu tidak wajib menyerahkannya pada kalian.”

Muka Sentia pucat.

“Ibu tega membiarkan anak kandung Ibu tidak dapat apa-apa?”

“Anak-anak Ibu membutuhkan orang tua yang jujur, bukan sertifikat tanah,” kata Ratna tegas.

Rendy menunduk semakin dalam.

Ratna berjalan ke meja dan mengambil map cokelat.

“Sekarang, Hendra, keluarkan dokumen yang kamu bawa di dalam tasmu.”

Hendra menggeleng.

“Tidak ada dokumen apa-apa.”

“Mas Rendy bilang kemarin melihatnya di tas Mas,” sela Rendy tiba-tiba.

Hendra menatap Rendy dengan mata melotot.

“Diam kamu, Rendy!”

Sentia memandang suaminya dengan curiga.

“Hendra, dokumen apa yang kamu bawa?”

Hendra tidak menjawab.

Sentia langsung menarik tas kerja Hendra yang tergeletak di dekat pintu.

Dia membukanya dan mengeluarkan sebuah map transparan.

Sentia membaca lembar pertama.

Matanya melebar.

“Ini… pengajuan pinjaman bank pakai agunan sertifikat?”

“Kenapa nama vila Puncak ada di sini sebagai jaminan?!”

Hendra mencoba merebut dokumen itu.

“Ini cuma untuk tambahan modal kerja! Bisnisku lagi butuh suntikan dana segar!”

“Suntikan dana segar?!” teriak Sentia.

“Kamu bilang ke aku usaha kamu lagi maju pesat!”

Di dalam dokumen itu tertera utang usaha Hendra yang menumpuk di tiga bank berbeda, lengkap dengan teguran pembayaran yang sudah menunggak beberapa bulan.

Hendra berencana membuat surat kuasa atas nama Ratna agar sertifikat vila Puncak bisa dijadikan jaminan pinjaman baru sebesar Rp 1.500.000.000.

“Ibu cuma perlu tanda tangan di atas materai,” kata Hendra tanpa rasa bersalah.

“Vila itu tidak akan hilang kalau pembayarannya lancar.”

“Lancar?” Ratna mengambil kertas dari dalam map cokelat miliknya dan melemparnya ke meja.

“Sama seperti pembayaran utangmu ke almarhum suamiku yang senilai Rp 395.000.000 ini?”

Sentia mengambil kertas transfer dan surat utang tersebut.

Matanya membaca angka-angka itu dengan tidak percaya.

“Rp 180.000.000… Rp 120.000.000… Rp 95.000.000…”

“Hendra… kamu pinjam uang sebanyak ini ke Papa?!”

“Kamu bilang ke aku uang modal usaha itu hasil tabungan kamu sendiri!”

Hendra mengibaskan tangan dengan acuh.

“Almarhum Bapak kan banyak uang! Uang segitu tidak ada artinya buat beliau!”

Kata-kata Hendra membuat ruangan menjadi sangat hening.

“Tidak ada artinya?” suara Ratna bergetar, bukan karena takut, tapi karena menahan amarah yang teramat sangat.

“Suamiku bekerja puluhan tahun, menghemat setiap rupiah, untuk memastikan hidup kami aman di hari tua.”

“Lalu kamu datang dan menganggap uang itu bisa kamu ambil begitu saja tanpa perlu dikembalikan?”

Ratna memandang Sentia dan Rendy bergantian.

“Ini salah Ibu juga.”

“Selama ini Ibu selalu bilang ‘tidak apa-apa’ setiap kali kalian datang minta bantuan.”

“Ibu selalu memasakkan makanan, menjaga anak-anak kalian, memberi pinjaman tanpa pernah menagih.”

“Ibu pikir itu cara menunjukkan kasih sayang.”

“Tapi Ibu salah.”

“Ibu malah mengajari kalian untuk tidak menghargai Ibu sebagai manusia.”

Sentia mulai menangis tersedu-sedu.

“Bu… aku benar-benar tidak tahu kalau usaha Hendra seburuk ini…”

“Tapi kamu tahu kalau kalian meninggalkan Ibu di trotoar depan tetangga kemarin pagi,” potong Ratna dingin.

“Kamu tahu Ibu sudah bangun dari jam 05:30 pagi untuk memasak makanan yang sekarang ada di perut suami kamu.”

“Kamu tahu Ibu berdiri membawa koper, dan kamu menutup pintu mobil di depan muka Ibu sambil bilang Ibu cuma bikin repot.”

Sentia tidak bisa menjawab.

Ratna menatap Rendy.

“Dan kamu, Rendy.”

“Kamu tahu rencana suaminya Sentia sejak hari Kamis, kan?”

Rendy mengangkat wajahnya yang pucat.

“Bu… saya…”

“Jawab jujur. Kamu tahu?”

Rendy mengangguk pelan.

“Mas Hendra bilang kalau Ibu ikut, Ibu bakal banyak tanya dan proses tanda tangan dokumennya bakal batal.”

“Mas Hendra janji kalau pinjaman ini cair, dia bakal kasih saya komisi Rp 50.000.000 buat bayar cicilan mobil.”

Sentia menoleh kaget ke arah adiknya.

“Kamu juga ikut-ikutan, Rendy?!”

Ratna tersenyum pahit.

Lengkap sudah.

Kedua anaknya sendiri bekerja sama dengan menantunya untuk menjual harga diri ibunya demi uang.

“Bagus,” kata Ratna pelan.

“Sekarang semuanya sudah jelas.”

Ratna berdiri dan berjalan menuju pintu depan.

Dia membuka pintu rumah lebar-lebar.

“Hendra, keluar dari rumah saya.”

“Bu Ratna, jangan emosi dulu—”

“Keluar sekarang, atau saya panggil warga kompleks dan pengacara saya untuk menyerahkan surat utang bermaterai ini ke polisi!”

Hendra melihat ketegasan di mata mertuanya.

Dia tahu Ratna tidak sedang gertak sambal.

Hendra menyambar tasnya dan berjalan keluar dengan wajah merah padam.

“Sentia, Rendy, kalian juga keluar,” lanjut Ratna.

Sentia berlutut di depan ibunya, memegang tepi kain daster Ratna.

“Bu… maafkan Sentia, Bu… Tolong jangan usir kami…”

Ratna menarik kain dasternya perlahan.

“Ibu memaafkan kalian sebagai anak.”

“Tapi Ibu tidak akan lagi membiarkan kalian menginjak-injak hidup Ibu.”

“Rumah ini dan vila Puncak adalah milik Ibu.”

“Mulai hari ini, tidak ada lagi bantuan uang, tidak ada lagi jagaan cucu setiap akhir pekan, dan tidak ada lagi pintu yang terbuka kalau kalian datang hanya untuk memanfaatkan Ibu.”

Ratna menutup pintu rumahnya.

Suara kunci yang diputar terdengar jelas dari luar.

Dua minggu kemudian, vila di Puncak resmi terjual kepada sepasang suami istri pensiunan dokter dari Bandung.

Mereka membeli dengan harga pasar tanpa menawar sadis, dan berjanji akan merawat pohon mangga yang dulu ditanam almarhum Wijaya di halaman belakang.

Dari hasil penjualan itu, Ratna membeli sebuah apartemen satu kamar yang nyaman dan terang di daerah BSD, Tangerang.

Lokasinya dekat dengan supermarket, rumah sakit, dan taman kota.

Sisa uang penjualan disimpan dalam bentuk deposito dan reksadana aman di bawah pengawasan Siska.

Untuk pertama kalinya dalam bertahun-tahun, Ratna memiliki kendali penuh atas keuangan dan hidupnya sendiri.

Pernikahan Sentia dan Hendra berada di ujung tanduk setelah skandal utang itu terbongkar sepenuhnya.

Hendra terpaksa menjual mobilnya untuk mulai mencicil utang kepada Ratna setelah Siska mengirimkan surat teguran resmi.

Sentia harus mencari pekerjaan sampingan untuk membantu biaya hidup keluarganya.

Suatu sore, Sentia datang berkunjung ke apartemen baru Ratna.

Dia datang sendiri, membawa sekotak buah-buahan.

Ratna menyambutnya dengan sopan, menyajikan teh, tapi tidak ada lagi tawaran makanan berlimpah seperti dulu.

“Ibu kelihatan lebih segar,” kata Sentia canggung.

“Ibu memang merasa lebih sehat,” jawab Ratna datar.

“Bu… apa Ibu masih marah sama Sentia?”

Ratna menatap anak perempuannya itu.

“Ibu tidak marah.”

“Tapi Ibu tidak akan kembali menjadi Ratna yang dulu.”

“Kalau kamu mau datang sebagai anak yang rindu ibunya, pintu ini selalu terbuka.”

“Tapi kalau kamu datang membawa masalah keuangan atau menuntut hak waris, kamu bisa balik kanan sekarang juga.”

Sentia menunduk, mengangguk pelan dengan air mata menetes.

Dia paham bahwa ibunya yang dulu pasrah dan selalu mengalah sudah tidak ada lagi.

Rendy juga datang beberapa minggu kemudian, membawa permintaan maaf yang tulus dan berjanji tidak akan lagi tergiur uang haram dari siapa pun.

Ratna menerima permintaan maafnya, tapi tetap memberlakukan batasan yang sama.

Ratna mulai mendaftar klub senam lansia, bergabung dengan komunitas merajut, dan merencanakan liburan ke Bali bulan depan bersama Bu Pakpahan dan kawan-kawan lamanya.

Suatu hari, Ciko, cucunya, datang berkunjung.

Dia melihat-lihat apartemen neneknya yang rapi dan harum.

“Oma, kenapa Oma tidak tinggal di rumah yang dulu lagi?” tanya Ciko polos.

Ratna merangkul cucunya dengan hangat.

“Karna di sini tempatnya lebih pas buat Oma.”

“Oma tidak perlu lagi menyiapkan tempat untuk orang-orang yang tidak mau memberi Oma tempat.”

Sore itu, Ratna berdiri di balkon apartemennya di lantai 8.

Angin sore berembus lembut menyapu wajahnya.

Dia memandang matahari yang mulai tenggelam di ufuk barat.

Ratna mengingat kembali momen ketika pintu mobil hitam itu ditutup di depan mukanya dua bulan lalu.

Hari itu terasa seperti kehancuran total.

Tapi sekarang Ratna tahu, pintu mobil yang tertutup hari itu adalah hal terbaik yang pernah terjadi dalam hidupnya.

Pintu itu menutup masa lalunya yang penuh penghinaan, dan memaksa Ratna untuk membuka pintu baru—pintu menuju kebebasan dan harga dirinya sendiri.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *