PART 2
Maya mengepalkan jemarinya di atas meja dapur.
Dia mengatur napas agar suaranya terdengar lemas seperti orang yang sedang sakit berat.
“Aku baru saja bangun,” jawab Maya pelan.
“Kamu tidur di mana? Di sofa atau di kasur kamar kita?” tanya Reza.
Pertanyaan itu terdengar biasa, tetapi Maya tahu persis maksud di baliknya.
Reza ingin memastikan apakah wajah Maya sudah menempel pada sarung bantal itu.
“Aku di kamar,” bohong Maya. “Kepalaku masih sangat pusing.”
“Bagus, istirahatlah terus di sana. Jangan kemana-mana sampai besok,” balas Reza.
Suara Reza terdengar puas dan terburu-buru.
“Aku masih ada rapat di Bandung sampai besok malam,” tambah Reza sebelum mematikan telepon.
Maya langsung mematikan sambungan.
Dia segera keluar rumah, mengunci pintu, dan mengendarai mobilnya menuju laboratorium dr. Siska di kawasan Cikini.
Di sana, dr. Siska langsung menerima sampel sarung bantal yang terbungkus 3 lapis plastik.
“Kami akan jalankan pengujian spektrofotometri dan kromatografi,” kata dr. Siska. “Prosedur standar butuh waktu beberapa jam.”
Kartika tiba di laboratorium 30 menit kemudian membawa buku catatan dan laptop.
“Langkah pertama adalah mengamankan aset,” kata Kartika. “Apotek itu atas nama siapa?”
“Atas nama saya sepenuhnya,” jawab Maya. “Ayah memberikan apotek itu melalui akta hibah sebelum beliau meninggal 3 tahun lalu. Struktur hukumnya berdiri sendiri di luar harta bersama pernikahan.”
“Bagus,” kata Kartika. “Reza tidak punya hak hukum atas apotek itu, kecuali kamu memberikan kuasa tertulis atau kamu mengalami kondisi tidak mampu mengambil keputusan hukum.”
Maya teringat percakapan bulan lalu.
Reza berkali-kali membujuk Maya untuk menandatangani surat kuasa pengelolaan operasional dan akses rekening apotek.
Reza beralasan ingin membantu mengelola manajemen keuangan agar Maya tidak terlalu lelah.
Saat itu Maya menolak halus karena ayahnya selalu berpesan agar manajemen apotek dipegang langsung oleh tenaga ahli farmasi.
Pukul 20:00, hasil pengujian laboratorium dr. Siska keluar.
dr. Siska meletakkan lembaran kertas hasil analisis di meja.
“Cairan pada kain itu mengandung senyawa alergen konsentrasi tinggi yang dikombinasikan dengan pelarut menguap,” terang dr. Siska.
Maya membelalakkan mata.
Dia memiliki riwayat medis sensitivitas saluran pernapasan akut yang sangat parah.
5 tahun lalu, Maya pernah masuk ruang perawatan intensif selama 4 hari akibat paparan zat kimia sejenis dalam jumlah kecil.
Reza ada di sana saat itu.
Reza tahu betul bahwa paparan zat tersebut pada area pernapasan saat tidur bisa memicu serangan sesak napas berat dalam kurun waktu 1 hingga 2 jam.
“Ini bukan sekadar tindakan jahat biasa,” tegas Kartika sambil melihat lembar analisis. “Ini perencanaan yang disengaja memanfaatkan kondisi medis korban.”
Pukul 21:15, ponsel Maya berdering lagi.
Pesan teks dari Reza masuk.
«Kamu masih di kamar? Kenapa lampu depan rumah mati?»
Maya membalas sesuai arahan Kartika: «Aku tidak enak badan, jadi aku menginap di rumah Siska untuk diperiksa».
Balasan dari Reza datang hanya dalam kurun waktu 10 detik.
«Kenapa harus ke rumah Siska? Kenapa tidak minta izin padaku dulu?»
Lalu pesan berikutnya masuk dengan cepat:
«Kalau kamu sedang di rumah Siska, berikan aku kunci kantor belakang apotek. Ada berkas laporan pajak tahunan yang harus aku ambil untuk diurus besok».
Maya menatap layar ponselnya.
Sikap Reza sangat jelas.
Dia tidak bertanya bagaimana kondisi kesehatan Maya.
Dia hanya mengincar akses ke area privat apotek.
“Jangan berikan kunci apa pun,” tegas Kartika.
Maya mengetik balasan singkat: «Semua kunci ada padaku. Berkas pajak sudah selesai diurus Rini».
Reza tidak membalas lagi.
Keesokan paginya, pukul 09:00, Maya bersama Kartika dan dr. Siska mendatangi apotek di Tebet.
Rini menyambut Maya dengan cemas.
“Bu Maya, tadi malam sekitar jam 23:00 ada yang mencoba membuka pintu belakang apotek,” laporan Rini.
“Siapa?” tanya Maya.
“Saya lihat dari rekaman kamera pengawas lokal yang terhubung ke ponsel saya,” Rini menunjukkan layar ponselnya.
Dalam rekaman video yang jelas, terlihat Reza berdiri di pintu belakang apotek bersama seorang wanita.
Wanita itu adalah orang yang sama yang mengemudikan mobil SUV hitam kemarin.
Reza mencoba beberapa anak kunci pada gembok pintu belakang, namun gagal karena Maya telah mengganti silinder kunci 2 bulan lalu.
“Siapa wanita itu?” tanya Kartika.
Rini mengernyitkan dahi.
“Saya kenal wanita itu. Nama beliau Anita. Dia adalah perwakilan sales dari distributor bahan baku kimia yang pernah menawarkan kerja sama bulan lalu.”
Maya menarik napas dalam-dalam.
Semua potongan teka-teki mulai menyatu.
Anita adalah penyedia senyawa kimia tersebut.
Reza memanfaatkan hubungan gelapnya dengan Anita untuk mendapatkan bahan berbahaya itu.
Tujuannya adalah membuat Maya mengalami serangan kesehatan mendadak hingga harus dirawat darurat di rumah sakit.
Saat Maya tidak berdaya di rumah sakit, Reza berencana mengggunakan dokumen yang disiapkan untuk menguasai pengelolaan apotek dan aset keuangan di dalamnya.
Pukul 11:30, Reza mengirim pesan lagi kepada Maya.
«Kita harus ketemu sekarang di rumah. Ada hal penting soal pernikahan kita yang harus diselesaikan».
“Ini saatnya,” kata Kartika. “Kita temui dia di rumah, tetapi dengan persiapan lengkap.”
Maya, Kartika, dan seorang petugas keamanan kompleks tiba di rumah pukul 13:00.
Reza sudah menunggu di ruang tamu.
Wajahnya tampak tegang dan matanya merah.
Ketika melihat Kartika ikut masuk, ekspresi Reza berubah menjadi sangat defensif.
“Kenapa kamu membawa orang lain ke rumah kita, Maya?” tanya Reza dengan suara tinggi. “Ini masalah internal suami istri!”
Maya berdiri tegap, menatap lurus ke mata pria yang telah dinikahinya selama 4 tahun itu.
“Aku tahu apa yang kamu lakukan kemarin jam 14:30,” kata Maya dingin.
Reza tertawa hambar.
“Apa maksudmu? Kemarin aku di Bandung!”
Maya mengeluarkan ponselnya dan memutar video singkat.
Itu adalah rekaman dari kamera pengawas tetangga depan rumah yang memperlihatkan mobil SUV hitam terparkir dan Reza keluar dari rumah pada jam 14:35 kemarin.
Wajah Reza mendadak pucat.
“Kamu… kamu memata-matai aku?” suaranya mulai bergetar.
“Aku ada di balik sofa saat kamu masuk ke kamar,” lanjut Maya. “Aku melihat kamu meneteskan cairan dari botol cokelat ke bantal tempat aku tidur.”
Reza mundur satu langkah.
Tangannya mengepal di samping tubuhnya.
“Kamu salah paham, Maya! Itu cuma pembersih kain!” sergah Reza cepat.
“Pembersih kain?” potong dr. Siska yang baru masuk membawa amplop hasil laboratorium. “Ini hasil pengujian laboratorium independen. Liquid yang kamu teteskan mengandung konsentrasi tinggi zat alergen yang memicu respons pernapasan fatal pada pasien dengan riwayat medis seperti Maya.”
Reza menatap amplop itu dengan mata terbelalak.
“Kamu tahu persis Maya pernah masuk ICU karena zat ini 5 tahun lalu,” tambah dr. Siska.
Reza terdiam.
Topeng suami penuh perhatian yang dipakainya selama bertahun-tahun runtuh sepenuhnya.
“Kamu melakukan ini semua untuk apa, Reza?” tanya Maya. “Untuk menguasai apotek warisan ayahku?”
Reza menatap Maya dengan pandangan dingin, menghilangkan sama sekali sisa-sisa rasa kasih sayang.
“Apotek itu menghasilkan ratusan juta setiap bulan!” bentak Reza, meluapkan kemarahannya. “Tapi kamu tidak pernah membagi hasilnya secara adil padaku! Aku suamimu, tapi aku cuma dijadikan penonton!”
“Apotek itu milik ayahku dan dihibahkan khusus kepadaku!” balas Maya tegas. “Kamu punya pekerjaan sendiri, tapi kamu selalu ingin menguasai apa yang bukan hakmu!”
“Aku butuh dana untuk investasi bersama Anita!” teriak Reza tanpa sadar mengungkap kerja samanya.
Kalimat itu menjadi pengakuan terbuka di depan semua orang di ruangan itu.
Kartika langsung maju dan meletakkan selembar dokumen tebal di atas meja.
“Reza Molina,” kata Kartika dengan suara tenang namun penuh wibawa. “Kami telah mengumpulkan seluruh bukti.”
Kartika membeberkan bukti-bukti tersebut satu per satu di atas meja:
Hasil uji laboratorium atas sampel kain sarung bantal yang terbukti terkontaminasi zat berbahaya.
Rekaman kamera pengawas kompleks yang menunjukkan kehadiran Reza di rumah pada jam kejadian.
Rekaman kamera pengawas pintu belakang apotek saat Reza mencoba membobol masuk bersama Anita.
Catatan medis riwayat alergi berat milik Maya yang membuktikan bahwa Reza mengetahui risiko fatal dari perbuatannya.
Dokumen draf surat kuasa palsu yang ditemukan di laptop kerja Reza di mana dia mencoba memalsukan tanda tangan Maya.
Reza menatap berkas-berkas itu dengan tubuh bergetar.
Dia menyadari tidak ada lagi celah untuk mengelak.
Bukti yang dikumpulkan sangat spesifik, ilmiah, dan sah secara hukum.
“Hari ini juga,” kata Kartika, “pemberitahuan gugatan cerai dan pendaftaran laporan pidana atas dugaan tindakan membahayakan nyawa serta percobaan pembobolan aset telah resmi diproses.”
Reza terduduk di kursi.
Keangkuhannya hilang sepenuhnya.
“Maya… tolong,” bisik Reza dengan suara serak. “Kita bisa bicarakan ini baik-baik. Aku cuma khilaf. Anita yang menghasutku!”
Maya menatap Reza tanpa ada lagi rasa kasihan atau keraguan.
“Jangan salahkan orang lain atas kejahatan yang kamu lakukan dengan tanganmu sendiri,” kata Maya pelan namun sangat tajam. “Kamu meneteskan cairan itu sendiri ke bantalku. Kamu tahu dampaknya, tapi kamu tetap melakukannya.”
Maya berbalik dan melangkah keluar dari rumah itu.
Proses hukum berjalan dengan cepat dan tanpa hambatan.
Bukti fisik dari laboratorium dan rekaman kamera pengawas menjadi dasar kuat bagi pihak berwenang untuk menindaklanjuti kasus tersebut.
Reza harus mempertanggungjawabkan seluruh perbuatannya di hadapan hukum.
Anita, yang terbukti menyediakan bahan kimia berbahaya secara ilegal, turut terseret dalam pemeriksaan kepolisian dan kehilangan izin usahanya.
Proses perceraian selesai dalam waktu singkat.
Maya mendapatkan kembali hak penuh atas seluruh kehidupan dan asetnya tanpa ada campur tangan dari keluarga Reza.
6 bulan kemudian.
Pagi hari di kawasan Tebet, matahari bersinar cerah.
Apotek “Sehat Bersama” tampak ramai oleh pelanggan.
Maya berdiri di balik meja konsultasi apoteker, melayani seorang ibu senior yang membeli obat rutin.
Senyum Maya kini kembali lepas dan tanpa beban.
Rini berjalan mendekati Maya membawa secangkir teh hangat.
“Laporan stok obat bulan ini sudah selesai, Bu Maya,” kata Rini.
“Terima kasih, Rini,” jawab Maya tulus.
Maya memandang sekeliling apoteknya.
Dinding kaca yang bersih, rak-rak obat yang tersusun rapi, dan plakat kayu bertuliskan nama almarhum ayahnya terpajang anggun di dinding utama.
Maya telah mengganti seluruh sistem keamanan rumah dan apoteknya.
Dia juga telah menjual rumah lama yang penuh kenangan buruk itu dan pindah ke sebuah apartemen yang nyaman dengan pemandangan kota.
Malam harinya, Maya duduk di tepi tempat tidur di apartemen barunya.
Kamar itu terang, bersih, dan harum aroma terapi lavender yang menenangkan.
Maya memegang sarung bantal barunya yang terbuat dari katun putih bersih.
Dia merebahkan tubuhnya, menyandarkan kepalanya di atas bantal.
Tidak ada lagi ketakutan.
Tidak ada lagi rasa curiga.
Tidak ada lagi racun dalam kehidupannya.
Maya menarik napas dalam-dalam, merasakan udara segar memenuhi paru-parunya.
Dia mematikan lampu kamar, memejamkan mata dengan tenang, dan tertidur lelap hingga pagi menyingsing.

