Part : 2-1 Tiga jam sebelum akad nikah, ibu mertua konglomerat merobek gaun pengantinku hingga hancur dan meninggalkan pesan kejam: “Sadar posisi, sampah!” Dia mengira aku akan lari menangis, tapi bisikanku di altar justru membongkar rahasia kelam keluarga mereka!

Tiga jam sebelum akad nikah, ibu mertua konglomerat merobek gaun pengantinku hingga hancur dan meninggalkan pesan kejam: “Sadar posisi, sampah!” Dia mengira aku akan lari menangis, tapi bisikanku di altar justru membongkar rahasia kelam keluarga mereka!

Astaga! Tangan saya gemetar hebat saat melangkah menyusuri lorong ballroom hotel bintang lima di kawasan Jakarta Selatan ini. Suasana yang tadinya riuh dengan percakapan dua ratus tamu undangan kaya raya mendadak senyap seketika. Hening, bagaikan kuburan.

Semua mata tertuju pada saya. Wajah-wajah konglomerat berkemeja batik sutra dan gaun malam mahal itu melotot tak percaya. Senyum kemenangan Ibu Ratna—ibu dari calon suamiku, Rizky—yang semula terukir sinis, mendadak runtuh total. Rahangnya jatuh, matanya hampir melompat keluar dari kelopaknya.

Bagaimana tidak? Saya tidak datang mengenakan gaun pengantin putih pesanan khusus yang anggun. Saya berjalan dengan kepala tegak, dagu terangkat, mengenakan setelan blazer dan celana kerja berwarna merah darah yang amat menyala—pakaian resmi yang saya kenakan saat menerima promosi sebagai Akuntan Senior di perusahaan konglomerasi terbesar di Indonesia.

Ya Allah! Tiga jam lalu, mimpi terindah dalam hidupku dihancurkan tanpa belas kasihan.

Hari itu seharusnya menjadi puncak kebahagiaan setelah tiga tahun berjuang. Saya, Clara, seorang wanita karier berusia dua puluh sembilan tahun yang meniti hidup dari nol, berhasil menaklukkan hati Rizky. Rizky adalah pewaris tunggal konglomerat keluarga Soeryo. Namun, sejak pertama kali melangkahkan kaki di rumah megah mereka di kawasan Menteng, Ibu Ratna sudah memandang saya seperti kotoran yang menempel di telapak sepatunya.

“Wanita karier dari keluarga biasa seperti kamu hanya mengincar uang keluarga kami! Kamu itu sampah yang tidak tahu diri!” Kalimat itu sudah ratusan kali terlontar dari mulut manisnya yang beracun. Saya bertahan hanya karena Rizky selalu menggenggam tangan saya dan berjanji akan membela saya di hadapan keluarganya.

Tapi pengkhianatan sebenarnya terjadi di kamar pengantin hotel mewah ini.

Tiga jam sebelum ijab kabul. Saya sedang merapikan riasan wajah ketika Indah, sahabat sekaligus pendamping pengantinku, menerobos masuk. Wajahnya pucat pasi bagaikan mayat, tangannya gemetar hebat memegang kantong plastik hitam besar.

“C-Clara… M-Maafkan aku… Pas aku mau ambil gaunmu di ruang ganti… s-seseorang sudah menghancurkannya!” bisik Indah dengan suara parau bercampur isak tangis.

Ketika plastik itu dibuka, jantungku serasa berhenti berdetak. Demi Tuhan! Gaun sutra putih impianku—yang kubeli dengan seluruh uang tabungan gajiku selama satu tahun penuh—telah koyak tak berbentuk! Kainnya digunting kasar dari dada hingga ke bawah, dan yang lebih kejam lagi, seseorang telah menyiramkan kopi hitam pekat ke atasnya hingga meninggalkan noda cokelat kehitaman yang menjijikkan.

“Kurang ajar! Siapa yang tega melakukan ini?!” teriakku histeris. Air mata amarah menetes tanpa bisa kubendung.

Indah menyodorkan sebuah kartu ucapan kecil bergambar bunga emas yang ditemukan di atas tumpukan kain hancur itu. Tulisan tangan kaligrafi yang amat kukenal tertera di sana. Tulisan tangan Ibu Ratna.

SADAR POSISIMU, SAMPAH! KELUARGA SOERYO TIDAK SUDI MENERIMA WANITA MURAHAN SEPERTUMU.

Tubuhku membeku. Darahku seolah berhenti mengalir. Ibu mertuaku sendiri yang telah memotong gaun pengantinku! Dia sengaja ingin mempermalukanku di depan ratusan tamu pejabat dan pengusaha, memaksa aku kabur dari pernikahan ini karena malu, lalu memfitnahku di depan Rizky bahwa akulah yang melarikan diri!

“Clara… Tolong, aku bisa minta tolong tim dekorasi cari gaun sewaan sekarang! Bagaimana kamu bisa naik ke altar tanpa gaun pengantin?!” Indah menangis histeris.

Aku memejamkan mata sejenak. Menyapu air mata yang basah di pipiku. Rasa sakit hati yang mendalam mendadak berubah menjadi api amarah yang membakar dada. Tekadku sudah bulat.

“Tidak usah, Indah. Dia pikir dia bisa menghancurkan mentalku? Dia salah besar!”

Aku melangkah ke sudut ruangan, membuka koper pakaian yang kubawa dari apartemenku. Aku menarik keluar setelan kerja warna merah darah yang tersetrika rapi.

“Kalau dia tidak mau aku memakai gaun putih suci… aku akan memakai pakaian perangku!”

Kini, di ballroom yang megah ini, alunan musik organ berhenti mendadak. Dua ratus tamu menahan napas. Rizky berdiri di altar dengan wajah syok memucat. Ibu Ratna berdiri di sampingnya, tubuhnya gemetar antara amarah dan malu saat melihatku melangkah mantap di atas karpet merah dengan setelan blazer merah menyala.

Aku terus melangkah hingga berdiri persis di hadapan Rizky di depan penghulu.

Ibu Ratna langsung melangkah maju, menunjuk mukaku dengan jari bergetar. “Kurang ajar! Wanita tidak tahu malu! Apa-apaan kamu pakai baju dinas seperti ini di pernikahan anakku?! Kamu mau memalu—”

Sebelum Ibu Ratna menyelesaikan kalimatnya, aku merebut mik dari tangan pembawa acara. Lalu, aku mendekatkan wajahku ke telinga Rizky dan membisikkan sesuatu yang membuat seluruh warna kulit di wajah calon suamiku itu luntur seketika.

“Rizky… kalau kamu tidak membatalkan manipulasi saham perusahaanmu dan menghentikan ibumu sekarang, detik ini juga aku akan menyiarkan dokumen audit rahasia penggelapan uang perusahaan keluargamu sebesar 50 miliar Rupiah yang kutemukan semalam ke semua layar proyektor ballroom ini…”

Rizky membelalakkan mata, tubuhnya membeku kaku. Dan tepat di saat itu…

Ending Part 2 benar-benar mengejutkan! Cek kelanjutannya di kolom komentar ya. 👇

BAGIAN 2

Rizky mengepalkan tangannya rapat-rapat. Keringat dingin mengucur deras dari pelipisnya, membasahi kerah kemeja mewahnya. Bisikanku bagaikan petir yang menyambar di tengah hari bolong. Dia tahu betul aku bukan sekadar gertak sambal. Sebagai Akuntan Senior yang disewa untuk memeriksa laporan keuangan holding company keluarganya tiga bulan lalu, aku memegang kunci brankas rahasia tergelap keluarga Soeryo.

Ibu Ratna yang tidak tahu apa-apa justru semakin menjadi-jadi. Tanpa rasa malu, dia melangkah maju di atas podium altar, merebut mikrofon dari tanganku dengan kasar.

“Hadirin sekalian! Lihatlah wanita murahan ini!” teriak Ibu Ratna dengan suara melengking yang menggema di seluruh sudut ruangan. “Dia datang ke pernikahan agung keluarga Soeryo memakai pakaian kerja pasar! Dia sengaja ingin mempermalukan kami! Dia tidak pantas berada di sini! Pengawal, seret wanita ini keluar sekarang juga!”

Para tamu mulai kasak-kusuk. Beberapa pengusaha kenalan Ibu Ratna mulai berbisik sambil menunjuk-nunjuk diriku. Namun aku tetap berdiri tegak, sedikit pun tidak bergeming. Senyum tipis terukir di bibirku yang teroles gincu merah senada dengan blazerku.

“Ibu Ratna…” suaraku tenang namun menggema kuat karena aku memegang mikrofon cadangan milik sang penghulu. “Sebelum Ibu menyuruh pengawal menyeret saya, bagaimana kalau Ibu menjelaskan dulu kepada para tamu… kenapa ada gaun pengantin yang dihancurkan dan disiram kopi di ruang ganti?”

Aku merogoh saku blazer merahku, mengeluarkan telepon genggam, lalu menekan tombol play pada rekaman video yang dikirimkan oleh satpam hotel setengah jam yang lalu. Video itu langsung terhubung secara otomatis ke layar proyektor raksasa di belakang altar—sistem yang sudah disiapkan oleh Indah sebelum aku melangkah keluar.

Di layar proyektor berukuran sepuluh meter itu, terlihat jelas rekaman CCTV koridor hotel. Ibu Ratna sendiri, mengenakan kebaya mewahnya, masuk ke dalam ruang ganti pengantin membawa gunting besar dan segelas kopi panas. Dua menit kemudian, dia keluar dengan senyum puas.

Seluruh ruangan mendadak geger! Suara gumpalan napas kaget terdengar dari seluruh penjuru ballroom.

“Astaga! Itu kan Ibu Ratna sendiri!” “Tega sekali dia merobek gaun menantunya!” “Demi Tuhan, perbuatan yang sangat picik untuk seorang sosialita!”

Wajah Ibu Ratna yang tadinya merah padam karena amarah mendadak pucat pasi bagaikan kertas. Bibirnya bergetar hebat, matanya bergerak liar mencari dukungan dari para tamu yang kini memandangnya dengan tatapan jijik dan hina.

“I-Itu rekayasa! Itu video palsu! Kamu mengeditnya untuk menjatuhkan namaku!” jerit Ibu Ratna histeris, berusaha membela diri.

“Ibu…” Rizky akhirnya bersuara. Suaranya serak dan gemetar. “Cukup, Bu… Tolong hentikan…”

“Rizky! Kenapa kamu malah membela wanita sampah ini?! Dia sengaja mau menghancurkan keluarga kita!” bentak Ibu Ratna sambil mencengkeram lengan jas anaknya.

“Ibu yang menghancurkan kita!” teriak Rizky tiba-tiba, menepis tangan ibunya kasar. “Clara tahu semuanya, Bu! Clara memegang berkas audit penggelapan dana yayasan dan pajak perusahaan kita!”

Pengakuan Rizky bagaikan bom atom yang meledak tepat di depan muka Ibu Ratna. Seluruh pejabat pajak dan kolega bisnis yang hadir di ruangan itu langsung berdiri dari kursi mereka dengan wajah tegang.

Aku melangkah mendekati Ibu Ratna yang kini terduduk lemas di lantai panggung altar. Gaun kebaya cantiknya yang berharga ratusan juta kini tak ada artinya dibanding kehancuran harga dirinya yang hancur berkeping-keping.

“Doña Beatrice… maaf, maksudku Ibu Ratna yang terhormat,” bisikku pelan namun tegas, cukup keras untuk terdengar oleh jajaran tamu di baris depan. “Ibu bilang saya harus tahu posisi saya? Posisi saya adalah seorang profesional yang memegang bukti bahwa seluruh kemewahan yang Ibu pamerkan selama ini dibeli dari uang rakyat dan penggelapan pajak.”

Aku berpaling menatap Rizky yang menundukkan kepalanya dalam-dalam, tak berani menatap mataku lagi. Pria yang dulu kucintai, pria yang berjanji akan melindungiku, ternyata hanyalah seorang penakut yang membiarkan ibunya bertindak sewenang-wenang sambil menyembunyikan kejahatan finansial keluarga.

“Rizky, pernikahan ini batal,” ucapku mantap tanpa ada keraguan sedikit pun di dalam hatiku. “Dan setelan merah yang kupakai hari ini bukan cuma pakaian kerjaku saat promosi… tapi ini adalah pakaian yang kupakai saat menyerahkan seluruh dokumen bukti penggelapan uang keluargamu ke pihak Kejaksaan Agung satu jam yang lalu.”

Belum sempat Rizky menjawab, pintu ballroom kembali terbuka lebar. Empat orang petugas berpakaian dinas dari Kejaksaan dan kepolisian melangkah masuk dengan tegas, berjalan lurus menuju panggung altar.

“Bapak Rizky Soeryo dan Ibu Ratna Soeryo, kami dari pihak kepolisian dan kejaksaan bawa surat perintah penahanan atas dugaan penggelapan dana dan pencucian uang.”

Histeri meledak di ballroom hotel. Para tamu berlarian menyelamatkan diri dari skandal besar tersebut, wartawan medis yang kebetulan berada di luar langsung menerobos masuk mengambil gambar. Ibu Ratna menangis histeris sambil memeluk kaki petugas, sementara Rizky digiring keluar dengan borgol melingkar di tangannya.

Aku menghela napas panjang, merapikan kerah blazer merahku, lalu melangkah keluar menyusuri lorong yang sama dengan kepala tegak.

Namun, tepat di luar pintu ballroom, langkahku terhenti ketika seorang pria paruh baya bertubuh tegap dengan pakaian batik tulis yang sangat elegan menghampiriku. Dia adalah Bapak Hendra Soeryo—paman kandung Rizky sekaligus pemilik sah seluruh saham utama konsorsium keluarga Soeryo yang selama ini diasingkan oleh Ibu Ratna dan Rizky.

Bapak Hendra tersenyum tipis, lalu mengulurkan tangannya kepadaku. “Terima kasih, Clara. Kamu bukan cuma menyelamatkan perusahaan keluarga dari pendaratan uang haram mereka, tapi juga membuktikan integritasmu. Mulai besok pagi, posisi Direktur Keuangan Utama di holding company kami kosong… dan saya ingin kamu yang menduduki kursi itu.”

Aku tersenyum mantap, menjabat tangan beliau dengan erat. Hari ini aku tidak kehilangan apa-apa, melainkan mendapatkan kembali kehormatanku, kebebasanku, dan puncak karier yang sesungguhnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *