20 Tahun Membesarkan Anak Selingkuhan Suami, Aku Diejek Saat Wisuda Doktoral: “Terima Kasih Sudah Jadi Pengasuh Gratisan!” Tapi Senyum Kejamnya Hancur Saat Putraku Mengambil Mikrofon

BAGIAN 1
Dua puluh tahun aku mengorbankan segalanya demi anak yang bukan dari rahimku. Malam itu, di aula megah hotel kawasan elite Jakarta Selatan, kebahagiaan menyelimuti hatiku. Rizky, putraku yang baru saja menyelesaikan pendidikan doktor di usia 25 tahun, berdiri dengan gagah memakai setelan jas hitam dan batik emas premium. Air mataku menetes. Dokter pernah membonisku tidak bisa memiliki keturunan. Namun, pada suatu malam badai di kampung halaman kami dekat Yogyakarta, suamiku, Bapak Budi, pulang membawa seorang bayi mungil yang katanya ia temukan di pinggir jalan.
Aku merawat Rizky seperti darah dagingku sendiri. Aku merelakan karier arsitekku yang sedang naik daun, menukar impianku dengan malam-malam tanpa tidur saat ia demam, membiayai sekolahnya dari tabungan pribadi hasil warisan orang tuaku, dan menjadi tulang punggung yang tak terlihat agar Budi bisa merintis bisnisnya hingga sukses menjadi direktur utama.
Tiba-tiba, dentingan nyaring garpu yang dipukulkan ke gelas kristal memecahkan suasana perayaan.
Klak! Klak!
Suara tumit sepatu hak tinggi menggelegar di atas lantai marmer. Seorang wanita paruh baya dengan gaun berwarna merah anggur melangkah masuk. Itu Indah, seorang pengusaha wanita kaya yang sering menjadi mitra bisnis Budi.
Di depan seluruh tamu undangan yang terhormat, Budi merangkul pinggang Indah tanpa rasa malu sedikit pun. Ia tersenyum kejam, melirikku dengan tatapan penuh penghinaan.
“Siti, aku dan kau resmi bercerai mulai detik ini. Surat cerai sudah kuproses,” ucap Budi dengan nada dingin tanpa beban.
PRANG!
Gelas di tangan saudaraku terjatuh dan pecah berkeping-keping. Seluruh ruangan mendadak hening. Napasku tercekat, dada rasa dihantam batu besar.
“Astaga, Mas Budi! Apa-apaan ini? Kau pasti sudah gila!” jeritku, air mata mulai mengalir deras membasahi pipiku.
“Aku sangat sadar, Siti!” potong Budi dengan kekeh tajamnya yang mengerikan. “Kemasi barang-barang murahmu dari rumahku sebelum hari Jumat!”
“Kenapa, Mas? Apa salahku? Lalu bagaimana dengan Rizky?” suaraku bergetar hebat. Aku menatap Rizky yang berdiri terpaku di dekat panggung.
Indah menyandarkan kepalanya di bahu Budi, lalu tertawa sinis. “Siti, Siti… Aku sangat berterima kasih padamu. Selama 25 tahun, kau sudah menjadi pengasuh gratisan yang sangat luar biasa untuk anakku! Sekarang putra kandungku sudah sukses dan meraih gelar doktor, saatnya aku dan Budi mengambil alih. Terima kasih sudah merawat Rizky, tapi sekarang kembalikan dia pada ibu kandungnya!”
Ya Allah! Kata-kata itu menghantam jiwaku seperti petir di siang bolong. Darah di seluruh tubuhku seolah membeku. Bayi yang kubesarkan dengan peluh, air mata, dan doa sepertiga malamku… ternyata adalah hasil hubungan gelap suamiku sendiri dengan Indah!
Budi tertawa puas, menikmati kehancuranku di hadapan ratusan tamu. “Dengar itu, Siti? Kau cuma inang yang kami manfaatkan! Seluruh harta, rumah di Jakarta, dan tabunganmu sudah atas nama perusahaan. Kau keluar dari rumah tanpa membawa sepatah kata pun!”
Aku memandang Rizky dengan sisa-sisa harapan yang hancur. “Rizky… Nak… katakan sesuatu…”
Namun Rizky hanya berdiri diam. Mulutnya terkunci rapat, matanya menatap tajam ke arah kami. Apakah anak yang kucintai lebih dari nyawaku sendiri ini juga akan mengkhianatiku? Apakah ia akan berpihak pada orang tua kandungnya yang tega memanfaatkanku selama dua dekade?
Rizky perlahan melangkah mendekati podium. Ia mengambil mikrofon, memandang wajah Budi dan Indah yang tersenyum penuh kemenangan, lalu menatapku yang terduduk lemas di lantai…
Ending Part 2 benar-benar mengejutkan! Cek kelanjutannya di kolom komentar ya.
BAGIAN 2
Rizky memegang mikrofon dengan erat. Budi menepuk dadanya dengan sombong, sementara Indah sudah merentangkan kedua tangannya, bersiap mengklaim kemenangan dan menyambut putra kandungnya.
“Terima kasih atas pengakuan luar biasa malam ini, Bapak Budi dan Ibu Indah,” suara Rizky menggelegar melalui pengeras suara.
Budi tersenyum makin lebar. “Dengar kan, Siti? Putraku tahu siapa orang tua kandungnya yang sebenarnya!”
Namun, Rizky tidak berjalan menuju Indah atau Budi. Ia menundukkan badannya, mengulurkan tangan hangatnya kepadaku yang sedang menangis di lantai marmer, lalu membantuku berdiri tegak. Ia merangkul pundakku dengan sangat erat.
“Aku memang lahir dari rahim Ibu Indah dan benih Bapak Budi. Tapi wanita yang mendidikku menjadi manusia, yang menungguku saat sakit di rumah sakit, yang mengajariku arti integritas dan kerja keras, hanya satu: Ibu Siti,” tegas Rizky. Suaranya bergema penuh kepastian, membuat senyum di wajah Budi dan Indah seketika lenyap!
“Apa-apaan kau, Rizky?!” bentak Budi, wajahnya memerah karena malu. “Aku ayahmu! Aku yang membiayai hidupmu!”
“Membiayai hidupku?” Rizky tertawa sinis. “Kurang ajar sekali Anda mengaku-ngaku! Selama 20 tahun ini, uang yang Anda gunakan untuk pamer adalah hasil keringat Ibu Siti dari harta warisan Kakek di Yogyakarta yang Anda balik nama secara diam-diam! Dan Anda, Ibu Indah…”
Rizky menunjuk Indah dengan tatapan mata yang dingin bagai es. “Anda menelantarkan bayi yang baru lahir hanya demi mengejar karier di luar negeri, lalu kembali saat aku sudah sukses untuk memetik hasilnya? Astaga, hina sekali!”
“Rizky! Jaga mulutmu! Aku ini ibu kandungmu!” teriak Indah, matanya melotot tidak percaya.
Rizky melangkah ke arah meja utama. Di sana berdiri sebuah kue ulang tahun perusahaan dan kelulusannya yang sangat besar. Tanpa ragu sedikit pun, Rizky mendorong Budi hingga tersungkur jatuh tepat di atas kue perayaan tersebut! Krim dan adonan kue memenuhi wajah dan jas mahal Budi. Para tamu undangan langsung bersorak dan mengambil foto.
Indah menjerit histeris, menunjuk Rizky dengan jarinya yang bergetar. “Kau anak durhaka! Aku akan mencabut semua fasilitasmu!”
“Cabut saja!” potong Rizky tegas. “Karena per malam ini, seluruh saham mayoritas di perusahaan Anda berdua telah resmi berpindah tangan!”
Budi yang berusaha bangun sambil mengusap krim dari matanya terbelalak kaget. “Apa maksudmu?! Jangan bohong!”
Rizky mengeluarkan sekeping dokumen resmi berkop lembaga hukum ternama. “Selama lima tahun terakhir, sambil menempuh studi doktor, aku bekerja sama dengan tim auditor independen dan pihak kepolisian. Aku mengumpulkan seluruh bukti penggelapan pajak, pemalsuan dokumen warisan Ibu Siti, dan pencucian uang yang Anda berdua lakukan sejak 15 tahun lalu.”
Budi terduduk lemas di atas lantai yang kotor oleh sisa kue. Wajahnya pucat pasi.
“Semua aset, rumah mewah di Jakarta, dan rekening perusahaan telah disita oleh negara dan dibaliknamakan secara sah atas nama Ibu Siti sebagai ganti rugi atas penipuan hak waris,” lanjut Rizky dengan senyum penuh kemenangan. “Besok pagi, surat panggilan dari pihak kepolisian akan sampai di tangan kalian.”
“Demi Tuhan, Rizky! Jangan lakukan ini pada ayahmu!” tangis Budi pecah, menyadari bahwa ia telah kehilangan seluruh kekayaan dan kehormatannya dalam semalam.
Indah mencoba mendekatiku, berpura-pura memohon. “Siti… tolong maafkan kami… tolong bicarakan ini baik-baik…”
Aku menghapus air mataku, menatap wanita yang telah merusak hidupku itu dengan kepala tegak. “Waktumu untuk berbicara sudah habis, Indah. Kemasi barang-barangmu dan keluar dari kehidupan kami.”
Dua petugas keamanan gedung langsung melangkah maju dan menyeret Budi serta Indah keluar dari aula perayaan di hadapan ratusan pasang mata yang menyoraki mereka.
Rizky menggenggam tanganku erat-erat, berlutut di hadapanku, dan mencium tanganku dengan penuh kasih sayang. “Ibu, terima kasih telah membesarkanku. Sekarang giliran aku yang memuliakan hidup Ibu.”
Suasana ruangan yang tadinya penuh ketegangan berubah menjadi tepuk tangan riuh dari seluruh tamu undangan. Aku memeluk putraku dengan tangis bahagia.
Tiga bulan kemudian, Budi dan Indah resmi dijatuhi hukuman penjara atas kasus penipuan dan penggelapan dana. Saat aku mengunjungi Budi di balik jeruji besi untuk menyerahkan dokumen perceraian final, ia menangis meraung-raung memohon agar aku menarik laporan.
Namun, kejutan terbesar belum berakhir di sana.
Saat memeriksa arsip dokumen lama keluarga yang diserahkan oleh pengacara, aku menemukan sebuah surat rahasia dari rumah sakit tempat lahir Rizky 25 tahun lalu.
Ternyata, Rizky sama sekali bukan anak kandung Indah maupun Budi; Budi telah ditipu oleh Indah sejak awal tentang identitas bayi tersebut demi memeras hartanya, sementara anak yang sebenarnya kusematkan dalam doaku selama ini adalah takdir murni yang memang dikirimkan Tuhan khusus untuk menyelamatkanku.
