Part : 2 Hendra menyembunyikannya bukan karena malu.

PART 2

Keesokan paginya, Maya menemui Siska di sebuah kedai kopi di Jakarta Selatan.

Siska datang dengan wajah pucat.

Dia meletakkan ponselnya di atas meja.

Siska menjelaskan semuanya tanpa ada yang ditutupi.

Hendra memberitahunya bahwa pernikahan mereka sudah lama berakhir.

Hendra mengaku Maya tidak pernah keluar rumah karena gangguan emosional berat.

Hendra juga mengklaim dokter melarang pembahasan perceraian agar kondisi Maya tidak semakin terpuruk.

Siska mengaku mereka sudah berhubungan selama 16 bulan.

Wajah Siska penuh penyesalan.

Namun kebohongan Hendra tidak berhenti di situ.

Di Divisi Sumber Daya Manusia perusahaan, Hendra memanfaatkan nama Maya secara intensif.

Selama 3 tahun, Hendra menyerahkan laporan tertulis tentang kondisi istrinya.

Laporan itu dipakai untuk menolak tugas luar kota, menghindari rapat malam, dan meminta jam kerja khusus.

Hendra membentuk citra dirinya sebagai suami yang sangat berkorban demi istri yang bergantung padanya.

Siska membuka pesan lain di ponselnya.

Pesan dari Hendra berbunyi:

“Pak Bambang sangat mengagumi dokter bedah yang menyelamatkan anaknya.”

“Kalau Pak Bambang tahu dokter itu adalah Maya, dia akan sadar saya membohonginya selama bertahun-tahun.”

Maya membaca setiap kata dengan tenang.

Sore harinya, Maya menghubungi Bambang Santoso.

Bambang mengonfirmasi cerita itu.

Hendra memang selalu menceritakan hal yang sama di kantor selama bertahun-tahun.

Setelah mengakhiri telepon, Maya pergi ke Rumah Sakit Medika Utama.

Ini pertama kalinya Maya menginjakkan kaki di sana setelah 6 tahun.

Niko Santoso sudah menunggu di lobi.

Pemuda berusia 23 tahun itu menyambutnya dengan tersenyum ramah.

Di sana Maya juga bertemu Dokter Ratna, mantan rekan kerjanya di ruang bedah.

Ratna memeluk Maya dengan erat.

“Saya datang 2 kali ke rumahmu setelah Bella meninggal,” kata Ratna.

“Tapi Hendra melarang saya masuk.”

“Hendra bilang membicarakan dunia medis hanya akan membuatmu semakin tertekan.”

Maya merasakan kenyataan dingin menyelimuti dirinya.

Rekan-rekannya tidak pernah melupakannya.

Maya tidak pernah ditinggalkan.

Maya tidak rusak.

Hendra tidak pernah membangun rumah perlindungan untuk merawatnya.

Hendra membangun penjara agar tidak ada orang yang mengingatkan siapa Maya sebenarnya.

Saat Maya kembali ke rumah di BSD City sore itu, dia tidak menangis.

Maya melangkah ke kamar tidur utama.

Dia mengambil sebuah koper berukuran sedang dari lemari.

Maya melettakkannya dalam keadaan terbuka di dekat pintu depan.

Pukul 19:15, Hendra pulang.

Dia meletakkan kunci mobil di atas meja konsol.

Alisnya berkerut saat melihat koper terbuka di lantai.

“Apa-apaan ini?” tanya Hendra.

“Saya sudah bertemu Siska,” jawab Maya datar.

Wajah Hendra mendadak pucat.

Namun ekspresi itu hanya bertahan satu detik.

“Kamu mendatangi dia?” bentak Hendra.

“Kamu makin tidak terkendali dan obsesif!”

Selama bertahun-tahun, kata-kata itu selalu berhasil menundukkan Maya.

Obsesif. Tidak stabil. Rapuh.

Dulu Maya akan meragukan ingatannya sendiri dan berakhir meminta maaf.

Tapi malam ini berbeda.

“Siska memperlihatkan semua pesanmu,” kata Maya.

Hendra melepas jasnya dengan gerakan kasar.

“Kamu tidak tahu konteks sebenarnya!”

“Saya tahu konteks selama 16 bulan,” potong Maya.

“Saya tahu apartemen yang kalian lihat bersama.”

“Saya tahu apa yang kamu katakan tentang saya padanya.”

“Dan saya tahu dokumen yang kamu serahkan ke Divisi HRD.”

Hendra berdiri mematung.

“Semua itu tidak ada hubungannya dengan hubungan kita,” kilah Hendra.

“Semua itu berhubungan langsung,” tegas Maya.

“Kamu mengubah duka saya menjadi alasan untuk kebohonganmu.”

Hendra menyisir rambutnya dengan jari.

“Kamu tidak ingat betapa terpuruknya kamu tahun-tahun itu!”

“Saya ingat,” jawab Maya. “Saya yang mengalaminya.”

“Kamu tidak bisa bangun dari tempat tidur!”

“Itu hanya pada fase awal.”

“Kamu tidak mau menemui siapa pun!”

“Itu juga hanya pada fase awal.”

“Saya yang harus menanggung semuanya sendirian!” teriak Hendra.

Maya menatap mata suaminya tanpa ragu.

“Dan saya sangat berterima kasih sampai membiarkanmu menagih rasa bersalah itu selama 6 tahun.”

Hendra tertawa sinis.

“Luar biasa.”

“Sekarang saya jadi penjahatnya hanya karena ayah mantan pasienmu membuatmu merasa penting lagi?”

“Bukan,” jawab Maya.

“Kamu bertanggung jawab atas kebohonganmu sendiri.”

“Kepada bosmu. Kepada Divisi HRD. Kepada Siska. Kepada rekan doktermubah. Dan kepada saya.”

Maya menunjuk koper terbuka di dekat pintu.

“Kemas barang-barangmu.”

Hendra tertegun.

“Apa?”

“Koper itu untukmu.”

Hendra tertawa keras.

“Ini rumah saya juga!”

“Bukan,” potong Maya.

“Saya membeli rumah ini sebelum mengenalmu.”

“Sertifikat atas nama saya tunggal.”

“Perjanjian pra-nikah kita mencatatnya dengan sangat jelas.”

Raut wajah Hendra berubah.

Ketakutan yang belum pernah dilihat Maya selama bertahun-tahun kini terpancar jelas di wajah suaminya.

“Kamu tidak bisa mengusir saya begitu saja!”

“Saya minta kamu keluar,” kata Maya tenang.

“Kalau kamu menolak, besok pengacara yang akan mengurusnya.”

“Pengacara?” Hendra maju satu langkah.

“Kamu mau menghancurkan pernikahan 18 tahun hanya karena beberapa pesan singkat?”

“Bukan saya yang menghancurkannya,” ujar Maya.

“Kamu yang menghancurkannya bertahun-tahun.”

“Saya hanya berhenti berpura-pura tidak melihatnya.”

Hendra menatapnya tajam.

“Lalu apa yang mau kamu lakukan sendiri?”

“Kembali ke rumah sakit seolah tidak ada yang terjadi?”

“Umurmu sudah 47 tahun, Maya!”

“Dunia medis sudah berubah.”

“Prosedur sudah berubah.”

“Kamu sudah tertinggal jauh!”

Kata-kata itu menyasar titik terlemah yang selama ini ditakuti Maya.

Namun rasa takut itu tidak lagi berkuasa.

“Mungkin kamu benar,” kata Maya pelan.

“Mungkin saya tidak bisa kembali.”

“Mungkin ini akan sangat sulit.”

“Mungkin saya akan gagal.”

“Tapi saya ingin mengetahuinya sendiri, bukan hidup dalam batasan yang kamu buat untuk saya.”

Hendra menatapnya seolah tidak mengenali wanita di depannya.

“Kamu akan menyesal.”

“Kalau begitu, itu jadi penyesalan saya sendiri.”

Hendra mengisi kopernya dengan kasar.

Sebelum melangkah keluar pintu, dia berhenti di ambang pintu.

“Saat emosimu sudah mereda, jangan pernah telepon saya.”

Maya menutup pintu rapat tanpa menjawab satu kata pun.

Suasana rumah mendadak sangat hening.

Maya duduk di lantai lorong depan.

Dia menyandarkan punggungnya ke dinding.

Selama beberapa menit, dia hanya mendengarkan suaranya sendiri.

Ada rasa cemas.

Namun kesendirian ini tidak seperti yang selalu diancamkan Hendra.

Ini bukan jurang kehancuran.

Ini adalah ruang untuk bernapas.

Keesokan harinya, Maya menemui pengacara keluarga di Jakarta Pusat.

Kepemilikan rumah BSD dilindungi hukum secara mutlak karena dibeli sebelum pernikahan.

Proses perceraian akan memakan waktu, namun secara hukum posisinya sangat kuat.

Setelah dari kantor pengacara, Maya menghubungi Dokter Ratna.

“Saya ingin tahu syarat untuk kembali berpraktik,” kata Maya.

Suasana di seberang telepon mendadak hening.

“Kamu mau kembali ke rumah sakit?” tanya Ratna.

“Ya.”

“Maya, kamu tidak perlu membuktikan apa pun pada siapa pun.”

“Saya tidak ingin membuktikan apa pun pada Hendra,” jawab Maya.

“Saya hanya ingin tahu apakah saya masih bisa menjadi dokter.”

Ratna mengatur pertemuan dengan kepala program penyegaran profesi dokter.

Pertemuan pertama itu tidak seindah yang dibayangkan.

Ada tumpukan formulir administrasi, ujian evaluasi teori, simulasi medis, serta pelatihan intensif.

Maya harus melewati masa supervisi berbulan-bulan sebelum diizinkan menyentuh pasien nyata.

Proses yang rumit itu justru membuat Maya tenang.

Dia tidak harus mengejar ketertinggalan 6 tahun dalam satu malam.

Dia hanya perlu memulai langkah pertama.

Sementara Maya fokus belajar, kebohongan Hendra mulai runtuh dengan sendirinya.

Pak Bambang Santoso memerintahkan Divisi HRD memeriksa seluruh pengajuan izin dan penyesuaian jadwal Hendra selama 3 tahun terakhir.

Hasil pemeriksaan menunjukkan kejanggalan besar.

Banyak dokumen alasan keluarga yang tidak konsisten dan tanpa bukti medis resmi.

Seminggu kemudian, Bambang memanggil Hendra ke ruang kerjanya.

“Promosi jabatan Direktur Regional resmi dibatalkan,” kata Bambang tegas.

Hendra berdiri dari kursinya dengan wajah tegang.

“Apakah ini karena Maya?”

“Apakah dia menghubungi Bapak untuk menjatuhkan saya?”

“Maya tidak pernah meminta apa pun kepada saya,” jawab Bambang dingin.

“Ini bukan tentang masalah rumah tanggamu.”

“Ini tentang integritas dan kejujuran.”

“Jika kamu menggunakan tragedi keluarga untuk memalsukan kondisi kerjamu, saya tidak bisa memercayakan jabatan besar padamu.”

Hendra mencoba beralih alasan.

Dia berdalih bahwa semua itu dilakukan untuk menyederhanakan situasi yang rumit.

Namun alasan itu tidak diterima.

Hendra yang panik mendatangi apartemen Siska malam itu.

Namun Siska menolak membukakan pintu.

“Kamu membohongi saya soal istri kamu, rumah kamu, dan pernikahan kamu,” kata Siska dari balik pintu.

“Maya sudah memanipulasimu!” teriak Hendra dari luar.

Siska menggeleng di balik pintu.

“Maya tidak perlu mengatakan apa pun.”

“Saya cukup membaca pesan yang kamu tulis sendiri.”

Siska mengunci pintunya rapat-rapat.

Dua hari kemudian, Ibu Rahmi, ibu kandung Hendra, menghubungi Maya.

Selama proses perpisahan awal, Ibu Rahmi selalu membela anaknya.

Dia selalu berkata bahwa semua pernikahan punya masa-masa sulit.

Namun kali ini suara Ibu Rahmi terdengar berbeda.

Penuh penyesalan.

Lalu mereka bertemu di sebuah kafe dekat area BSD.

Ibu Rahmi meletakkan sebuah ponsel lama di atas meja.

Ponsel itu milik Hendra yang tertinggal di rumah orang tuanya bertahun-tahun lalu.

“Ibu menyalakannya untuk mencari nomor tukang ledeng,” kata Ibu Rahmi lirih.

“Ibu tidak sengaja membaca pesan lama yang tidak seharusnya Ibu baca.”

“Tapi Ibu rasa kamu berhak mengetahuinya.”

Di ponsel itu ada pesan singkat Hendra kepada temannya beberapa tahun lalu:

“Setelah Bella meninggal, saya tidak bisa meninggalkannya begitu saja.”

“Orang-orang akan menganggap saya suami tidak punya hati.”

“Awalnya saya bertahan karena kasihan.”

“Tapi lama-lama saya sadar, berperan sebagai suami yang berkorban sangat menguntungkan posisi saya di kantor.”

Maya membaca pesan itu tanpa meneteskan air mata.

Ibu Rahmi menutup mulutnya dengan tangan yang gemetar.

“Ibu juga bersalah karena selalu membuatmu merasa berutang budi pada Hendra,” kata Ibu Rahmi.

“Ibu benar-benar minta maaf, Maya.”

Maya mematikan layar ponsel itu.

“Hendra memang membantu saya di masa tersulit saya dulu,” kata Maya tenang.

“Bantuan itu nyata.”

“Tapi utang rasa yang dia ciptakan setelahnya adalah kebohongan.”

Ibu Rahmi tidak lagi membela anaknya.

Beberapa minggu kemudian, Maya mendengar berita bahwa Hendra mengalami penurunan jabatan.

Pengacara Hendra menyebutkan kliennya sedang mengalami situasi finansial yang sulit saat negosiasi perceraian.

Maya tidak merasa senang.

Dia hanya merasa asing.

Konsekuensi dari perbuatan Hendra bukan lagi beban yang harus dipikulnya.

Bulan-bulan berikutnya tidak berjalan mudah bagi Maya.

Maya gagal dalam evaluasi simulasi pertamanya di program penyegaran.

Dalam simulasi kasus darurat, dia terlambat mengambil keputusan medis.

Maya duduk di kantin rumah sakit dengan cangkir kopi yang tidak tersentuh.

“Saya tidak sanggup melakukan ini,” kata Maya saat Dokter Ratna duduk di depannya.

“Hari ini hasilnya belum maksimal,” ujar Ratna lembut.

“Ini berbeda, Ratna.”

“Benar, ini berbeda karena kamu sudah lama tidak berlatih,” potong Ratna.

“Satu simulasi yang gagal hari ini tidak menentukan kemampuanmu besok.”

Maya kembali ke ruang latihan keesokan harinya.

Dia mempelajari obat-obatan terbaru, protokol penanganan trauma modern, dan teknologi bedah terkini.

Maya tidak malu bertanya kepada dokter-dokter muda.

Dia terbiasa diawasi dan dievaluasi.

Sebagian dokter muda mengenali nama besarnya di masa lalu, sementara sebagian lagi tidak tahu siapa dia.

Maya menerima semuanya dengan rendah hati.

Tantangan terberat datang 4 bulan kemudian.

Maya diizinkan masuk ke ruang operasi sebagai pengamat.

Saat pintu otomatis ruang operasi tertutup di belakangnya, aroma antiseptik dan suara monitor detak jantung langsung membawa ingatannya kembali.

Memori tentang Bella yang tertawa di dapur rumah teringat jelas.

Tangan Maya mulai gemetar di balik jas laboratoriumnya.

Dokter Ratna yang berdiri di sampingnya berbisik pelan.

“Kita bisa keluar kalau kamu belum siap.”

Maya memejamkan mata sejenak.

Dia mengingat perkataan Bella bertahun-tahun lalu saat Maya pulang bertugas malam.

“Mama, menyelamatkan orang lain itu bukan cuma pekerjaan biasa.”

“Itu keahlian luar biasa yang Mama punya.”

Maya membuka matanya kembali.

“Saya bertahan di sini,” bisik Maya mantap.

Hari itu Maya bertahan selama 20 menit di ruang operasi.

Minggu berikutnya, dia bertahan selama 1 jam.

Hingga akhirnya dia bisa mengikuti seluruh jalannya prosedur operasi tanpa ragu.

Setiap kemajuan kecil yang dicapainya meruntuhkan doktrin yang ditanamkan Hendra selama bertahun-tahun.

Kata-kata “kamu tidak bisa”, “kamu tidak mampu”, dan “kamu butuh saya” sirna satu per satu.

Pada bulan ke-8 program re-entry, Maya berpartisipasi aktif dalam operasi trauma di bawah supervisi tim senior.

Operasi berjalan sukses.

Saat melepas sarung tangan steril di luar ruangan, Maya menyandarkan tubuhnya ke dinding.

Kaki dan tangannya bergetar.

Bukan karena takut.

Tapi karena rasa haru yang luar biasa.

Saat melangkah ke lorong rumah sakit, seorang pemuda berdiri menunggunya dengan buket bunga mawar putih.

Niko Santoso tersenyum padanya.

“Ayah bilang bunga ini terlambat 14 tahun,” canda Niko.

Maya tertawa pelan.

Niko menyerahkan sebuah kartu ucapan.

Di dalamnya tertulis:

“Terima kasih sudah kembali ke tempat yang seharusnya tidak pernah membuat Anda ragu.”

Maya membaca tulisan itu dua kali.

“Ayahmu selalu terlalu dramatis,” kata Maya tersenyum.

“Saya rasa saya tertular dari Ayah,” jawab Niko bercanda.

Pada minggu yang sama, putusan perceraian resmi keluar dari pengadilan agama.

Hendra mencoba bicara dengan Maya di koridor gedung pengadilan.

“Kamu masih punya kesempatan untuk menghentikan semua ini,” kata Hendra dengan suara serak.

Maya menatapnya tanpa rasa benci.

“Saya tidak ingin menghentikannya.”

“Saat antusiasme rumah sakit ini mereda, kamu akan sadar betapa sepinya hidup sendiri,” ancam Hendra.

Maya teringat pada Dokter Ratna, pada adiknya, pada Niko, pada para dokter muda yang berdiskusi dengannya setiap pagi, dan pada keberanian yang baru dia temukan.

“Hidup sendiri tidak sama dengan kesepian,” jawab Maya tegas.

Hendra tidak mampu membalas perkataan itu.

Satu tahun setelah malam makan malam yang mengubah segalanya, Maya sudah kembali bekerja secara penuh di rumah sakit.

Dia tidak berusaha mengembalikan kehidupan masa lalunya.

Maya membangun kehidupan baru yang lebih sehat.

Rumah besar di BSD City telah dijualnya.

Maya membeli sebuah apartemen yang terang dan memiliki balkon kecil di Jakarta Selatan.

Suatu sore, Bambang dan Niko mengundangnya makan malam di sebuah restoran.

Di tengah santap malam, Bambang tertawa mengingat kejadian lalu.

“Saya masih sering berpikir apa yang terjadi kalau malam itu ponsel saya tidak tertinggal,” kata Bambang.

Maya menatap pemandangan lampu kota dari jendela restoran.

“Mungkin saya akan membutuhkan waktu sedikit lebih lama,” kata Maya.

“Untuk meninggalkan Hendra?” tanya Bambang.

Maya menggelengkan kepala pelan.

“Untuk mengingat kembali siapa diri saya sebenarnya.”

Malam itu, saat kembali ke apartemennya, Maya meletakkan kunci di samping foto Bella.

Maya menatap senyum putrinya beberapa detik.

“Besok Mama ada jadwal operasi pagi,” bisik Maya lembut.

Maya tersenyum, mematikan lampu ruang tamu, dan berjalan menuju kamar tidurnya.

Tidak ada lagi yang memerintahkannya untuk bersembunyi.

Tidak ada lagi yang memanfaatkan dukanya untuk mengendalikan jalannya hidupnya.

Maya akhirnya memahami satu hal penting dalam hidupnya:

Menerima bantuan seseorang di masa tersulit tidak pernah berarti harus menyerahkan sisa hidup sebagai bayarannya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *