part 3: Enam Tamparan di Ruang VIP Membuatku Sadar, Tiga Tahun Pernikahan Ternyata Lebih Murah daripada Air Mata Perempuan Itu di Matanya//

Suamiku Menyuruh Dua Satpam Menamparku Enam Kali Demi Membela Mantan Kekasihnya, Malam Itu Aku Menarik Dana Rp82 Miliar dan Membiarkan Seluruh Direksinya Mengepung Dia Pagi Hari di Kantor

Bagian 1 — Enam Tamparan di Ruang VIP Membuatku Sadar, Tiga Tahun Pernikahan Ternyata Lebih Murah daripada Air Mata Perempuan Itu di Matanya

Tamparan kedua membuat bibir bagian dalamku pecah.

Aku bisa merasakan rasa asin bercampur darah ketika dua petugas keamanan memegang kedua lenganku dari belakang.

Lututku menyentuh lantai marmer ruang VIP sebuah restoran mewah di Surabaya.

Di depanku, suamiku, Raka Mahendra, berdiri sambil merangkul Keisya Anindita—perempuan yang selama bertahun-tahun selalu disebut keluarganya sebagai “teman masa kecil”.

Namun semua orang tahu Keisya bukan sekadar teman.

Dia adalah perempuan yang pernah hampir dinikahi Raka sebelum keluarga Keisya membawanya pindah ke Singapura.

Dan malam itu, setelah empat tahun menghilang, Keisya kembali.

Dengan satu goresan merah di pergelangan tangannya dan beberapa tetes air mata, dia berhasil membuat suamiku memperlakukanku seperti penjahat.

“Sudah, Rak…”

Keisya menarik pelan lengan jas Raka.

“Jangan pukul Nadia lagi. Aku tidak mau kalian bertengkar gara-gara aku.”

Kalimatnya terdengar lembut.

Tetapi kakinya tidak bergerak sedikit pun mendekat untuk menghentikan dua petugas keamanan itu.

Bahkan ketika Raka berkata dingin, “Lanjutkan,” aku melihat sudut bibir Keisya bergerak tipis sebelum dia kembali menunduk.

Tamparan ketiga mendarat.

Kepalaku terlempar ke samping.

Telingaku berdenging.

Aku menatap Raka beberapa detik, berharap masih ada sedikit keraguan di wajah lelaki yang tidur di sampingku selama tiga tahun terakhir.

Tidak ada.

Yang ada hanya kemarahan.

Setengah jam sebelumnya, keluarga Mahendra sedang mengadakan makan malam tertutup untuk merayakan kontrak distribusi terbesar perusahaan Raka, PT Mahendra Sentosa Logistik.

Aku datang terlambat karena rapat dengan tim legal perusahaan keluargaku.

Ketika aku memasuki ruangan, Keisya sudah duduk di sebelah ibu mertuaku.

Dia memakai gaun krem, tersenyum seolah tempat itu memang miliknya.

Aku tidak mempermasalahkannya.

Sampai seorang pelayan menjatuhkan nampan.

Keisya tiba-tiba menjerit.

Teh panas membasahi meja.

Ada bekas merah di pergelangan tangannya.

Dia menatapku dengan mata berkaca-kaca.

“Nadia… kalau kamu tidak suka aku datang, kamu bisa bilang. Kenapa harus mendorong tanganku?”

Aku bahkan belum berdiri dari kursi.

“Aku tidak menyentuhmu.”

Keisya menggigit bibir.

“Aku tahu kamu tidak senang Raka masih ingat ulang tahunku.”

Lalu dia mencari sesuatu di dalam tas kecilnya.

Wajahnya berubah panik.

“Gelang Mama…”

Semua orang ikut mencari.

Lima menit kemudian, sebuah gelang berlian ditemukan di dalam tasku.

Aku ingat betul siapa yang tadi sempat memelukku ketika aku baru datang.

Keisya.

Aku mengambil gelang itu dan meletakkannya di meja.

Kemudian aku bertanya kepada Raka, “Kamu percaya aku?”

Dia tidak menjawab pertanyaanku.

Tidak meminta rekaman CCTV.

Tidak bertanya kepada pelayan.

Tidak memeriksa siapa yang menyentuh tasku.

Raka hanya memandang pergelangan tangan Keisya, lalu wajahnya menjadi dingin.

“Kamu minta maaf.”

“Aku tidak melakukan apa pun.”

“Jangan bikin suasana lebih buruk.”

“Aku bilang aku tidak melakukannya.”

Keisya menangis.

Itu saja yang diperlukan Raka.

Ketika aku hendak pergi, dia memanggil dua petugas keamanan pribadi yang menunggu di luar.

“Tahan dia.”

Aku sempat mengira Raka hanya ingin menakutiku.

Sampai dia berkata,

“Enam kali.”

Ruangan langsung sunyi.

Aku menatapnya.

“Apa?”

“Keisya dipermalukan di depan keluargaku. Enam tamparan. Setelah itu masalah selesai.”

Ibu mertuaku memang tidak menyuruhnya berhenti.

Adik Raka menundukkan kepala.

Beberapa direktur yang ikut makan malam pura-pura melihat ponsel.

Tidak ada seorang pun berani melawan Raka karena malam itu dia baru saja berdiri di puncak keberhasilannya.

Setidaknya, itulah yang mereka pikirkan.

Tamparan keempat mengenai pipi kananku.

Keisya kembali berkata, “Cukup, Raka.”

Raka mengusap bahunya.

“Kamu terlalu baik. Makanya orang berani menginjak-injak kamu.”

Aku hampir tertawa.

Orang yang benar-benar sedang diinjak-injak justru berlutut dua meter di depan mereka.

Tamparan kelima datang.

Aku menutup mata sebentar.

Di balik rasa panas di wajahku, tiba-tiba aku teringat ayahku.

Empat tahun lalu, beberapa minggu sebelum meninggal karena serangan jantung, Ayah pernah memanggil Raka ke ruang rawat.

Aku duduk di sana.

Ayah memegang tanganku, lalu berkata kepada Raka,

“Nadia keras kepala, tapi hatinya lembut. Jangan manfaatkan itu.”

Raka menjawab tanpa ragu.

“Saya akan menjaga Nadia seperti menjaga hidup saya sendiri.”

Setahun kemudian perusahaan keluarga Raka hampir tumbang.

Mereka kehilangan dua klien utama.

Armada mereka disita karena cicilan.

Utang pemasok menumpuk.

Raka datang ke rumahku pukul dua pagi.

Dia duduk di lantai ruang keluarga dan berkata hanya butuh satu kesempatan.

Aku memberinya kesempatan itu.

Bukan lima miliar.

Bukan sepuluh miliar.

Melalui perusahaan investasi peninggalan ayahku, aku menyediakan fasilitas pinjaman pemegang saham senilai Rp82 miliar.

Dana itu menyelamatkan gaji karyawan.

Melunasi tunggakan leasing.

Membuka kembali jalur distribusi.

Bahkan reputasiku yang membuat dua bank mau memberi tambahan fasilitas kredit.

Aku tidak pernah meminta namaku dipasang di gedung.

Tidak pernah mengambil kursi direktur.

Ketika media bisnis memuji Raka sebagai “pengusaha muda yang bangkit dari krisis”, aku berdiri di belakangnya dan bertepuk tangan.

Raka pernah mencium dahiku setelah acara penghargaan dan berkata,

“Separuh dari semua ini sebenarnya milikmu.”

Ternyata tidak.

Bagiku, perusahaan itu pernah menjadi hasil perjuangan kami.

Bagi Raka, aku rupanya hanya istri yang bisa disuruh berlutut demi menenangkan mantan kekasihnya.

Tamparan keenam mendarat paling keras.

Setelah itu kedua petugas melepaskanku.

Aku hampir terjatuh, tetapi berhasil berdiri sambil berpegangan pada tepi meja.

Keisya mendekat setengah langkah.

“Nadia, sungguh, aku tidak menyangka Raka akan sampai seperti ini.”

Aku mengambil tisu.

Mengusap darah di sudut bibir.

Lalu menatap matanya.

“Sekarang kamu sudah tahu.”

Wajah Keisya menegang.

Air matanya langsung keluar lagi.

Raka berdiri di depannya seolah aku akan menyerangnya.

“Jangan lampiaskan kemarahanmu kepada Keisya.”

Aneh.

Setelah enam tamparan, justru dia yang takut perempuan lain terluka.

Aku mengambil tas.

“Sudah selesai?”

Raka terdiam.

Mungkin dia berharap aku menangis.

Berteriak.

Memohon.

Atau menghancurkan piring seperti perempuan cemburu yang bisa dia jadikan alasan untuk membenarkan perbuatannya.

Aku tidak melakukan apa pun.

Raka membuka map yang dibawa asistennya.

“Besok aku suruh legal menyiapkan pengalihan dua persen saham atas namamu.”

Dia meletakkan map itu di meja.

“Anggap sebagai kompensasi.”

Dua persen.

Aku hampir ingin bertanya berapa harga satu tamparan menurut perhitungannya.

Namun aku hanya menutup map.

“Baik.”

Raka terlihat lega.

Dia mengangkat tangan, mungkin ingin menyentuh pipiku.

Aku mundur.

Tangannya berhenti di udara.

“Kompres wajahmu setelah sampai rumah,” katanya. “Malam ini aku pulang agak terlambat.”

Saat itu Keisya tiba-tiba memegang pergelangan tangannya dan mengerang kecil.

Raka langsung berbalik.

“Kamu masih sakit?”

Aku tidak menunggu adegan berikutnya.

Aku keluar.

Begitu duduk di mobil, sopir keluargaku, Pak Darto, melihat wajahku melalui kaca tengah.

Tangannya mengepal di setir.

“Nyonya…”

“Jalan saja, Pak.”

Aku membuka kamera ponsel.

Memotret pipi kanan.

Pipi kiri.

Sudut bibir.

Lalu membuka rekaman suara yang sudah aktif sejak sebelum aku memasuki ruang VIP.

Suara Raka terdengar jelas.

“Tahan dia.”

Lalu,

“Enam kali.”

Aku menyimpan file itu ke penyimpanan awan dan mengirim salinannya kepada pengacaraku, Ratih Prabowo.

Kemudian aku meneleponnya.

Ratih menjawab hampir seketika.

“Nadia?”

“Aktifkan klausul penarikan fasilitas Mahendra Sentosa.”

Di ujung sana hening.

Ratih sangat memahami dokumen itu.

Fasilitas Rp82 miliar tersebut bukan hadiah.

Bukan pula modal permanen.

Itu adalah shareholder loan on-demand milik PT Prameswari Kapital dengan klausul percepatan pembayaran apabila terjadi pelanggaran material, penyalahgunaan wewenang perusahaan, atau tindakan yang menimbulkan risiko hukum dan reputasi terhadap pemberi dana.

Ratih bertanya pelan,

“Seluruhnya?”

“Seluruh pokok yang masih beredar.”

“Termasuk penghentian fasilitas bergulir?”

“Ya.”

“Jaminan personal ke Bank Nusantara?”

“Beritahu bank bahwa aku tidak menyetujui perpanjangan berikutnya.”

Ratih menarik napas.

“Nadia, kalau surat dikirim malam ini, fasilitas kas mereka akan berhenti. Besok pembayaran vendor hampir pasti terganggu.”

Aku menatap wajahku di kaca jendela mobil.

Bekas lima jari terlihat jelas di bawah lampu jalan.

“Aku tahu.”

“Raka mungkin akan kehilangan kontrol perusahaan.”

“Aku juga tahu.”

Ratih diam beberapa detik lagi.

Kemudian dia berkata,

“Aku kirim notice sebelum tengah malam.”

Aku menutup telepon.

Pukul 23.47, surel resmi dikirim kepada direksi, komisaris, bank, dan auditor.

Pukul 23.52, pemberitahuan kedua masuk.

PT Prameswari Kapital tidak akan memperpanjang fasilitas modal kerja satu rupiah pun.

Pukul 00.06, kepala keuanganku mengirim pesan.

Notice diterima. Proses penarikan dimulai.

Aku mematikan layar.

Untuk pertama kalinya malam itu, aku tersenyum.

Raka mengira enam tamparan bisa dibayar dengan dua persen saham.

Besok pagi, dia akan mengetahui bahwa yang selama ini dia sebut “perusahaanku” ternyata berdiri di atas uang perempuan yang baru saja dia suruh dipukul.

#DramaKeluarga #KisahRumahTangga #IstriTegas #PengkhianatanSuami #CeritaViral

Bagian 2 — Saat Pagi Datang, Satu Surat Penarikan Dana Membuat Direksi Panik, dan Suamiku Baru Tahu Siapa yang Selama Ini Menyelamatkannya dari Kebangkrutan

Pukul 06.18 pagi, ponselku mulai bergetar tanpa henti.

Raka menelepon sebelas kali.

Aku tidak menjawab.

Pukul tujuh kurang, direktur keuangan PT Mahendra Sentosa Logistik ikut menelepon.

Lalu direktur operasional.

Lalu sekretaris komisaris.

Aku mematikan suara ponsel dan melanjutkan sarapan.

Wajahku masih bengkak.

Bu Sari, asisten rumah tanggaku, sampai menutup mulut ketika melihatku.

Aku hanya berkata bahwa es batu ada di freezer.

Pukul 08.05 Ratih datang bersama seorang dokter dan satu petugas dokumentasi hukum.

Dokter memeriksa memar di wajahku.

Ratih menyimpan foto medis, rekaman suara, dan salinan CCTV lorong restoran yang berhasil diperoleh melalui surat permintaan resmi pagi itu.

“CCTV ruang VIP tidak ada?” tanyaku.

“Tidak. Tapi kamera lorong merekam dua petugas membawa kamu masuk dan kondisi wajahmu ketika keluar.”

“Cukup.”

Ratih menatapku.

“Kamu ingin melapor?”

“Ya.”

Jawabanku membuatnya berhenti menulis.

Mungkin dia mengenalku terlalu baik.

Selama tiga tahun menikah, aku selalu menyelesaikan masalah keluarga diam-diam.

Kalau Raka marah, aku mengalah.

Kalau ibu mertuaku menyindir keluargaku, aku tersenyum.

Kalau wartawan bertanya kenapa namaku tidak pernah muncul sebagai investor, aku bilang Raka yang bekerja paling keras.

Tapi enam tamparan telah mengubah sesuatu.

Bukan karena rasa sakitnya.

Karena aku akhirnya memahami bahwa setiap kali aku memilih diam demi menjaga rumah tangga, Raka menerjemahkan diamku sebagai izin.

Pukul 09.10 aku tiba di kantor PT Prameswari Kapital.

Belum sempat masuk ruang rapat, resepsionis berlari menghampiriku.

“Bu Nadia, Pak Raka sudah menunggu.”

Aku berhenti.

“Di mana?”

“Ruang rapat utama. Dia datang bersama Pak Surya dan beberapa direksi.”

Tentu saja.

Aku membuka pintu.

Raka langsung berdiri.

Di sebelahnya duduk ayahnya, Surya Mahendra, bersama enam orang jajaran direksi.

Wajah mereka tidak terlihat seperti orang yang datang meminta klarifikasi.

Mereka terlihat seperti orang yang semalaman baru mengetahui fondasi rumahnya sudah dicabut.

Raka berjalan ke arahku.

“Apa yang kamu lakukan?”

Aku menarik kursi.

“Selamat pagi juga.”

“Jangan main-main, Nadia.”

Direktur keuangannya, Pak Arief, memotong dengan wajah pucat.

“Bu Nadia, bank membekukan penarikan fasilitas baru karena guarantee renewal belum dikonfirmasi. Tiga vendor meminta pembayaran di muka setelah menerima pemberitahuan perubahan fasilitas.”

Aku mengangguk.

“Itu sesuai prosedur.”

Raka menghantam meja.

“Batalkan!”

Ruangan sunyi.

Aku melihat tangannya.

Tangan yang semalam menunjuk ke arah petugas keamanan sambil berkata, “Enam kali.”

“Apa?”

“Tarik kembali surat itu.”

“Kenapa?”

“Karena ini perusahaan keluarga kita!”

Aku tertawa kecil.

“Keluarga?”

Raka terdiam.

Aku mengeluarkan salinan perjanjian pembiayaan.

“Dua tahun lalu, ketika perusahaanmu nyaris gagal membayar utang leasing, perusahaan keluargaku memberikan fasilitas Rp82 miliar.”

Aku membalik halaman.

“Pasal sebelas. Fasilitas bersifat on-demand.”

Halaman berikutnya.

“Pasal empat belas. Pemberi dana dapat menghentikan fasilitas bergulir ketika ada risiko hukum, reputasi, atau pelanggaran material oleh pengendali perusahaan.”

Aku meletakkan kertas di depan Raka.

“Semalam aku menggunakan hak itu.”

Ayah Raka berdiri.

“Nadia, masalah suami istri jangan dibawa ke bisnis.”

Aku menatapnya.

“Semalam ketika saya ditahan dua orang petugas keamanan di acara perusahaan, Bapak juga ada di sana.”

Wajahnya berubah.

“Bapak tidak mengatakan masalah itu harus dipisahkan dari bisnis.”

Tidak seorang pun bicara.

Raka menurunkan suaranya.

“Kita bisa bicarakan di rumah.”

“Rumah mana?”

“Nadia…”

“Rumah tempat aku harus menunggu kamu pulang setelah mengantar Keisya?”

Rahangnya mengeras.

“Jangan mulai lagi soal Keisya.”

Aku menatapnya cukup lama.

Lalu membuka laptop.

“Aku tidak datang membahas Keisya.”

Di layar muncul daftar transaksi.

Ada lima pembayaran dari PT Mahendra Sentosa Logistik kepada perusahaan konsultan bernama PT Karya Anindita Sejahtera.

Totalnya Rp6,4 miliar.

Nama direktur perusahaan itu?

Keisya Anindita.

Direktur keuangan Raka langsung menegakkan tubuh.

“Apa ini?”

Aku menoleh kepadanya.

“Pak Arief tidak tahu?”

Dia menggeleng.

Raka berdiri begitu cepat sampai kursinya terdorong.

“Itu biaya konsultasi ekspansi.”

“Menarik.”

Aku membuka dokumen berikutnya.

“Karena perusahaan Keisya baru berdiri tujuh bulan lalu.”

Dokumen berikutnya.

“Tidak punya karyawan tetap.”

Dokumen berikutnya.

“Alamat kantornya adalah virtual office.”

Dokumen terakhir.

“Dan tiga invoice senilai Rp3,1 miliar ditandatangani langsung oleh Raka tanpa persetujuan komite pengadaan.”

Wajah Pak Arief memucat.

Ayah Raka berteriak,

“Raka!”

Raka memandangku dengan mata merah.

“Kamu menyelidikiku?”

“Tidak.”

Aku menutup laptop.

“Tim auditku menemukan ini ketika memeriksa risiko sebelum menarik fasilitas.”

Itu setengah benar.

Aku memang meminta audit darurat setelah pulang semalam.

Tapi beberapa transaksi mencurigakan sudah lama ditandai sistem perusahaan investasiku.

Aku tidak pernah mempermasalahkannya karena Raka selalu mengatakan itu biaya pengembangan bisnis.

Aku percaya.

Kesalahan terbesar seseorang bukan selalu mempercayai orang jahat.

Kadang kesalahannya adalah terus mempercayai seseorang setelah bukti mulai bermunculan.

Raka mendekat.

“Nadia, dengarkan aku. Aku bisa jelaskan.”

Aku berdiri.

“Silakan jelaskan kepada dewan komisaris.”

Pintu ruang rapat terbuka.

Ratih masuk membawa dua orang.

Seorang perwakilan auditor independen.

Dan Komisaris Independen PT Mahendra Sentosa.

Ratih meletakkan map di meja.

“Mulai pagi ini, sesuai permintaan dua kreditur dan tiga pemegang saham minoritas, ada permintaan rapat luar biasa terkait transaksi afiliasi tanpa pengungkapan.”

Keheningan berubah menjadi kepanikan.

Raka menatap ayahnya.

Ayahnya menatap berkas.

Direktur keuangan mulai menelepon seseorang.

Aku hendak keluar ketika Raka meraih pergelangan tanganku.

“Nadia.”

Aku melihat tangannya.

Dia langsung melepaskan.

Nada suaranya berubah.

Tidak lagi memerintah.

“Nadia… tolong.”

Untuk pertama kalinya sejak aku mengenalnya, aku mendengar ketakutan murni dalam suara Raka.

“Kalau fasilitas itu benar-benar kamu tarik, perusahaan bisa berhenti operasi.”

Aku mengangguk.

“Aku tahu.”

“Ribuan pengiriman terganggu.”

“Makanya aku sudah menawarkan restrukturisasi langsung kepada bank agar operasional penting tetap berjalan di bawah pengawasan baru.”

Wajahnya membeku.

“Apa maksudmu pengawasan baru?”

Aku belum sempat menjawab.

Ponsel Pak Arief berbunyi.

Dia membaca pesan yang masuk.

Lalu perlahan mengangkat kepala.

“Pak Raka…”

Suaranya nyaris tidak terdengar.

“Empat pemegang saham minoritas baru saja mengajukan permintaan pemberhentian sementara Direktur Utama.”

Raka pucat.

Aku mengambil tasku.

Namun sebelum aku mencapai pintu, Pak Arief mengatakan satu kalimat lagi.

“Dan… mereka sudah mendapatkan dukungan suara dari Pak Surya.”

Raka menoleh kepada ayahnya.

“Ayah?”

Surya Mahendra tidak berani menatap anaknya.

Saat itulah Raka akhirnya memahami sesuatu yang semalam bahkan tidak pernah terlintas di kepalanya.

Yang mulai meninggalkannya bukan cuma aku.

Seluruh orang yang selama ini berdiam di belakang kesuksesannya sedang mundur satu per satu.

Dan Keisya—perempuan yang membuatnya rela menghancurkan rumah tangganya—bahkan belum muncul untuk menyelamatkannya.

Bagian 3 — Dia Datang Membawa Bunga dan Lutut yang Gemetar, tetapi Aku Datang Membawa Bukti, Akta Cerai, dan Harga Kesombongannya yang Tak Terbayar

Tiga hari setelah rapat itu, Raka datang ke rumahku.

Bukan rumah kami.

Rumah peninggalan ayahku yang selama menikah jarang kutempati.

Dia membawa bunga lili putih.

Bunga favoritku.

Ironisnya, Raka terakhir kali memberiku bunga seperti itu dua tahun lalu.

Sekarang dia datang membawa dua buket sekaligus.

Satpam menelepon dari pos depan.

“Bu, Pak Raka tidak mau pergi.”

Aku melihat kamera.

Dia berdiri di bawah gerimis hanya mengenakan kemeja putih.

Tidak ada sopir.

Tidak ada ajudan.

Tidak ada Keisya.

Aku menyuruh satpam membiarkannya masuk sampai teras.

Raka melihat wajahku yang masih menyisakan memar kekuningan.

Matanya langsung merah.

“Nadia…”

Aku tidak menjawab.

Dia meletakkan bunga.

“Aku salah.”

Aku tetap diam.

“Aku benar-benar salah.”

Kemudian sesuatu yang tidak pernah kulihat selama menikah dengannya terjadi.

Raka berlutut.

“Aku kehilangan kendali malam itu.”

“Enam kali.”

Dia menunduk.

“Aku tahu.”

“Kamu tidak kehilangan kendali selama satu detik, Raka. Kamu memberi perintah. Setelah tamparan pertama kamu masih bisa menghentikannya.”

Aku menunjuk pipiku.

“Kamu melihat tamparan kedua.”

Aku menunjuk sisi lain.

“Ketiga.”

Raka mulai menangis.

“Kamu bahkan menghibur Keisya setelah tamparan keempat.”

“Nadia…”

“Dan sesudah tamparan keenam, kamu menawarkan dua persen saham.”

Dia menutup wajahnya.

“Aku akan memberikan semuanya.”

Kalimat itu membuatku tersenyum.

“Sekarang?”

Aku duduk di kursi teras.

“Ketika saham itu sedang jatuh nilainya?”

Raka mengangkat kepala.

“Selamatkan perusahaan. Setelah itu sahamku… posisiku… ambil semuanya. Aku tidak peduli.”

“Tentu kamu peduli.”

Aku menatapnya.

“Kalau tidak peduli, kamu tidak akan berada di sini.”

Raka bergerak mendekat.

“Aku akan putus semua hubungan dengan Keisya.”

“Aku tidak membutuhkannya.”

“Aku akan laporkan transaksi itu sendiri.”

“Sudah terlambat.”

“Aku akan melakukan apa pun.”

“Kalau begitu tanda tangani penerimaan dokumen ini.”

Ratih keluar dari dalam rumah.

Dia membawa sebuah map cokelat.

Raka melihatnya dengan bingung.

Ratih menyerahkan map tersebut.

Permohonan perceraian.

Dokumentasi medis.

Salinan laporan polisi mengenai dugaan kekerasan.

Permintaan pemisahan aset yang sejak awal memang tercatat atas nama masing-masing berdasarkan perjanjian perkawinan kami.

Tangan Raka bergetar.

“Kamu serius?”

“Aku sangat serius.”

“Nadia, kita sudah bersama lima tahun.”

“Dan hanya butuh satu malam untuk memperlihatkan bagaimana kamu sebenarnya melihatku.”

Dia meremas map itu.

“Aku tidak pernah berniat menghancurkanmu.”

“Lucu.”

Aku memandang matanya.

“Karena kalimat itu juga bisa kupakai.”

Aku memang menarik fasilitas perusahaan.

Tetapi aku tidak menghancurkan ribuan pekerjaan di bawahnya.

Itulah yang tidak diketahui Raka.

Melalui negosiasi dengan bank dan komisaris, perusahaan operasional dipisahkan dari kendali langsung Raka.

Pendanaan sementara diberikan kembali hanya untuk gaji, bahan bakar, kontrak aktif, dan vendor penting.

Syaratnya satu.

Manajemen lama yang terlibat transaksi bermasalah tidak boleh memiliki akses terhadap dana tersebut.

Raka diberhentikan sementara sebagai Direktur Utama.

Dua bulan kemudian, hasil audit keluar.

Sebagian pembayaran kepada perusahaan Keisya ternyata tidak memiliki laporan pekerjaan yang memadai.

Ada tagihan perjalanan.

Biaya “konsultasi merek”.

Sewa apartemen di Jakarta.

Bahkan pembelian sebuah mobil yang dicatat sebagai kendaraan operasional konsultan.

Nama pengguna utamanya: Keisya.

Ketika dipanggil auditor, Keisya mengatakan semua transaksi dilakukan atas permintaan Raka.

Ketika penyidik meminta keterangan, dia membawa pengacara sendiri.

Ketika wartawan mulai menunggu di depan kantor, Keisya pergi ke Bali.

Dan ketika Raka mencoba meneleponnya…

nomornya diblokir.

Perempuan yang malam itu menangis di pelukannya bahkan tidak bertahan sampai perusahaan menghadapi pemeriksaan.

Tiga bulan berikutnya, pemegang saham mengadakan RUPS luar biasa.

Raka resmi diberhentikan.

Ayahnya tetap mempertahankan sebagian kecil saham keluarga, tetapi tidak lagi memiliki suara pengendali.

Bank dan investor menyetujui restrukturisasi.

Aku tidak mengambil alih perusahaan Raka untuk dijadikan milikku.

Aku tidak menginginkannya.

Aku hanya mengubah sebagian piutang menjadi instrumen kepemilikan sementara sebagai bagian restrukturisasi, kemudian menunjuk manajemen profesional untuk menstabilkan perusahaan.

Para karyawan tetap bekerja.

Vendor utama tetap dibayar.

Yang kehilangan kursi hanyalah orang-orang yang selama ini menganggap perusahaan sebagai dompet pribadi.

Setelah semuanya stabil, aku menjual sebagian kepemilikanku kepada investor institusi.

Modal awal kembali.

Keuntungan investasiku juga tetap aman.

Perceraianku dengan Raka selesai sembilan bulan kemudian.

Pada sidang terakhir, dia jauh lebih kurus.

Tidak ada jas mahal.

Tidak ada jam tangan yang biasa dia banggakan.

Sebelum keluar ruang sidang, dia menghampiriku.

“Nadia.”

Aku berhenti.

“Kalau malam itu aku percaya kamu… apa semuanya akan berbeda?”

Aku berpikir sebentar.

“Mungkin.”

“Kalau aku cuma marah tapi tidak menyuruh mereka memukulmu?”

“Mungkin.”

“Kalau aku meminta maaf setelah tamparan pertama?”

Aku tersenyum tipis.

“Masalahmu bukan enam tamparan, Raka.”

Dia menatapku.

“Masalahmu adalah kamu yakin aku tidak akan pernah pergi.”

Wajahnya runtuh.

Aku melangkah keluar.

Di tangga pengadilan, Ratih sudah menunggu.

Dia menyerahkan sebuah dokumen.

Aku membacanya.

Kesepakatan penjualan tahap terakhir saham restrukturisasi telah selesai.

Nilainya bahkan lebih tinggi daripada jumlah fasilitas yang dahulu kutanamkan.

Ratih tersenyum.

“Jadi, setelah ini?”

Aku memasukkan dokumen ke tas.

“Aku mau membangun sesuatu yang namanya benar-benar milikku.”

Setahun kemudian, PT Prameswari Kapital membuka program pendanaan untuk perusahaan logistik kecil yang dipimpin perempuan di Jawa Timur.

Aku tidak lagi memperkenalkan diri sebagai istri Raka Mahendra.

Namaku berdiri sendiri.

Pada suatu sore, setelah menghadiri pembukaan pusat distribusi pertama yang kubangun tanpa nama keluarga siapa pun di belakangku, aku melihat pantulan wajahku di kaca gedung.

Tidak ada memar.

Tidak ada bekas darah.

Tidak ada perempuan yang harus meminta izin untuk dihormati.

Aku teringat ucapan Raka malam itu.

Dua persen saham sebagai kompensasi.

Seolah harga diriku bisa dihitung.

Seolah enam tamparan bisa diselesaikan dengan selembar sertifikat.

Aku tersenyum.

Kalau harus ada harga untuk malam itu, akhirnya Raka memang membayarnya.

Bukan dengan enam tamparan balasan.

Bukan dengan dendam murahan.

Dia membayarnya dengan jabatan yang hilang, kepercayaan keluarganya yang runtuh, perempuan yang meninggalkannya saat uang berhenti mengalir, dan rumah tangga yang tidak akan pernah bisa dia beli kembali.

Sedangkan aku?

Aku mendapatkan kembali sesuatu yang jauh lebih mahal daripada Rp82 miliar.

Diriku sendiri.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *